
Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di kampus. Mereka saat ini berjalan menyusuri halaman kampus untuk menuju kelasnya.
Namun ketika Darren dan ketujuh sahabatnya tengah melangkahkan kakinya. Telinga mereka tak sengaja mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari beberapa mahasiswa. Ada sekitar enam mahasiswa yang tengah membicarakan mereka.
[Aku benar-benar muak melihat Darren dan ketujuh sahabatnya itu.]
[Iya, aku juga. Apalagi ketika mereka sibuk mengurus organisasi. Tampang mereka benar-benar menjijikkan]
[Apa kita akan tetap membiarkan mereka menguasai kampus ini?]
[Mau sampai kapan para manusia menjijikan itu berlagak jadi penguasa di kampus ini?]
[Jangan-jangan mereka memang benar memakan uang sumbangan dari kita semua]
[Kita harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau mereka terlalu lama menjawab sebagai ketua dan anggota organisasi kampus. Makin besar kepala mereka]
Mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari enam mahasiswa itu membuat Darren dan ketujuh sahabatnya mengepalkan kuat tangannya. Tatapan mata mereka mengisyaratkan amarah yang membuncah.
"Oh, begitu yah!" seru Darren sembari melangkahkan kakinya menghampiri keenam mahasiswa yang sedang membicarakannya dan ketujuh sahabatnya.
Deg!
Keenam mahasiswa itu seketika terkejut ketika mendengar seruan dan suara Darren. Mereka dengan kompak langsung membalikkan badannya untuk melihat kearah Darren dan ketujuh sahabatnya.
Sedangkan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang memang kebetulan berada di sekitarnya melihat dan mendengar ucapan demi ucapan dari Darren, ketujuh sahabatnya dan keenam mahasiswa yang tak menyukai Darren serta ketujuh sahabatnya.
"Kenapa, hum?" ejek Qenan.
"Segitu rendahkah kami di mata kalian sehingga kalian jijik melihat keberadaan kami di kampus ini?" tanya Willy.
"Kami tidak pernah mengganggu dan mengusik kalian?" tanya Dylan.
"Selama kami menjadi ketua maupun anggota organisasi di kampus. Kami tidak pernah memaksa kalian bahkan kami juga tidak pernah memaksa mahasiswa dan mahasiswi lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan di kampus ini. Kami juga tidak memaksa kalian semua untuk menyumbang." Axel berbicara sambil menatap tajam satu persatu wajah keenam mahasiswa itu.
Darren dan ketujuh sahabatnya menatap penuh amarah keenam mahasiswa itu. Bahkan tatapan mata mereka benar-benar mengerikan sehingga membuat keenam mahasiswa itu seketika menelan ludahnya kasar.
Bukan hanya keenam mahasiswa itu saja yang takut ketika melihat tatapan mata Darren dan ketujuh sahabatnya. Semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada disana juga takut melihat tatapan mata Darren dan ketujuh sahabatnya.
"Jadi kalian mau apa?" tanya Darren langsung pada inti permasalahan dengan masih menatap tajam keenam mahasiswa itu.
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat keenam mahasiswa itu saling melirik. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menjawab pertanyaan dari Darren.
"Tadi ketika nggak ada orangnya. Ngomongnya pedas banget," ejek Darel.
"Giliran ditantang sama orangnya langsung. Nyali ciut seketika. Dasar banci," ucap Rehan dengan nada ketusnya.
"Sekali pecundang tetaplah pecundang," ejek Jerry.
__ADS_1
Darren dan ketujuh sahabatnya menatap keenam mahasiswa itu dengan tatapan mengerikan mereka masing-masing.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak mempermasalahkan kalian yang tidak menyukaiku dan ketujuh sahabatku. Kalian mau membenciku dan ketujuh sahabatku, itu urusan kalian. Tapi aku tidak terima atas tuduhan kalian yang mengatakan bahwa aku dan ketujuh sahabatku telah memakan uang sumbangan dari para mahasiswa dan mahasiswi untuk membeli mobil dan motor mewah. Itu adalah tuduhan yang sangat keji yang kalian tujukan untukku dan ketujuh sahabatku."
"Kalian tidak tahu siapa aku dan siapa ketujuh sahabatku. Kalian juga tidak tahu apa yang kami kerjakan selama ini sehingga kami bisa membeli apapun yang kami mau."
"Asal kalian tahu. Pantang bagi kami untuk mengambil atau pun memakan yang bukan milik kami."
"Dikarenakan kalian sudah memberikan kesan tak baik padaku dan ketujuh sahabatku dan kalian juga sudah memfitnah kami. Maka bersiaplah kalian untuk menerima balasan dari kami semua."
Darren menatap para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sekelilingnya.
"Akhir bulan ini kalian semua akan menyaksikan secara live di internet dan di televisi acara ulang tahun sebuah perusahaan besar dan terkenal nomor 1 di dunia dan di Jerman. Bukan hanya 1 perusahaan, melainkan 8 perusahaan. Dari sana nanti kalian semua akan tahu siapa aku dan ketujuh sahabatku yang sebenarnya!"
Darren kembali menatap wajah keenam mahasiswa itu dengan tatapan meremehkan.
"Setelah kalian mengetahui kebenaran tentang latar belakangku dan ketujuh sahabatku. Aku Darrendra Smith bersumpah akan membuat perhitungan dengan kalian. Aku pastikan hidup kalian akan menderita setelah menyaksikan acara live itu."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan lapangan kampus untuk menuju kelasnya.
"Tunggu saja," ucap Darel, Rehan dan Axel.
"Persiapkan mental kalian," ucap Jerry, Qenan, Willy dan Dylan.
Seketika Darren menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya. Kemudian Darren membalikkan badannya dan menatap semua teman kampusnya.
"Dan aku menjamin seratus persen. Seratus lima puluh orang anggotaku disini kemungkinan besar tidak akan mau membantu kalian. Karena apa? Karena mereka sudah merasakan sakitnya ketika mereka bertugas memungut sumbangan dari kalian, menyebarkan brosur kepada kalian yang hasilnya kalian membuang brosur-brosur itu, mereka mendatangi kelas kalian satu persatu dan memberikan pengumuman. Namun tidak ada satu pun dari kalian yang mendengar pengumuman yang diberikan oleh anggota-anggotaku. Bahkan hadir di lapangan pun tidak."
"Jadi bersiap-siaplah ketika kalian membutuhkan bantuan dari teman-teman kampus kalian. Carilah teman-teman kampus kalian yang lain. Jangan pernah kalian mencari anggota-anggotaku karena kami tidak sudi membantu kalian!"
Setelah mengatakan itu, Darren kembali melangkahkan kakinya dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya.
Sementara keenam mahasiswa itu hanya diam di posisi masing-masing. Tubuh mereka seketika menegang. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Mereka semua juga ikut merasakan ketakutan ketika melihat tatapan mata Darren dan ketujuh sahabatnya. Apalagi ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren barusan.
***
Di Markas milik Ziggy tampak ramai. Mereka saat ini tengah mempersiapkan untuk menyerang musuh-musuh yang telah mengusik kedelapan adik laki-laki mereka. Bahkan para musuh-musuh itu juga berani mengusik anggota keluarganya.
Ziggy, Noe, Chico, Devian dan Enzo beserta para tangan kanannya serta masing-masing 1000 anggota mafiosonya telah berkumpul di Aula.
"Baiklah. Kita mulai saja pembagian tugas untuk membantai habis musuh-musuh dari kedelapan adik laki-laki kita," sahut Devian.
"Hm." mereka semua mengangguk.
"Untuk menyerang markas kelompok mafia BLACK COBRA. Kelompok mafiaku sendiri yang akan turun tangan," sahut Noe.
"Untuk penyerangan terhadap kelompok mafia BLOODY LION. Aku dan kelompok mafiaku," ucap Chico.
__ADS_1
"Aku yang akan menyerang kediaman bajingan yang bernama Brendan Armando," ucap Devian.
"Dan aku yang akan menyerang kediaman Bruno Emmerick," sela Enzo.
"Untuk dalang pembunuhan keluarga Mondella akan menjadi urusanku. Robert Dilbara, dia targetku." Ziggy berucap dengan wajah dinginnya.
"Dan sisanya seperti dalang yang sudah mengadu domba geng motor adik laki-laki kita dengan geng motor Vagos, kita serahkan langsung kepada mereka," sahut Ziggy.
"Kenapa tidak sekalian jalan saja. Kita habisi saja semuanya?" tanya Chico.
"Aku maunya juga seperti itu, Chico! Tapi aku dengar dari dua anggota mafiosoku bahwa Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel telah membuat rencana untuk menjebak geng motor yang sudah mengeroyok Rehan. Bahkan kedelapan adik laki-laki kita itu sudah berdamai dengan geng motor Vagos. Dan mereka sedang melakukan kerja sama."
Mendengar perkataan dari Ziggy membuat Chico, Enzo, Devian dan Noe terkejut. Mereka tidak menyangka jika kedelapan adik laki-laki mereka sudah mulai bergerak. Mereka semua tersenyum bangga.
"Kita akan memberitahu adik laki-laki kita bahwa Nirvan Sheehan adalah dalang dalam pengeroyokan Rehan dan juga yang telah memfitnah geng motor Bruiser sehingga membuat geng motor Vagos kembali," sahut Noe.
"Hm." mereka semua mengangguk.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Darren," ucap Devian.
Setelah mengatakan itu, Devian mengambil ponselnya, lalu menekan nomor Darren.
Dan beberapa detik kemudian terdengar suara seseorang berbicara. 'Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif'.
"Ach, sial!"
"Kenapa?" tanya Noe.
"Ponsel anak kelinci itu tidak aktif," jawab Devian.
Mendengar jawaban kejam dari Devian membuat Chico, Ziggy, Enzo dan Noe tersenyum. Begitu juga para tangan kanan mereka.
"Yang lain hubungi," ucap Enzo.
Para ketua mafia tersebut mencoba menghubungi ketujuh sahabat-sahabat Darren, kecuali Ziggy.
Namum tidak ada satu pun dari ketujuh sahabatnya Darren yang menjawabnya.
"Aish! Pada kompak banget mereka!" seru Noe.
"Masa tidak ada satu pun dari mereka yang ponselnya aktif," kesal Enzo.
"Dasar para adik laki-laki laknat," kesal Chico.
"Kenapa kalian pada kesal? Siapa tahu mereka saat ini berada di kelas? Jadi mereka tidak bisa menjawab panggilan dari kita," sahut Ziggy.
Mendengar perkataan dari Ziggy membuat Chico, Noe, Enzo dan Devian pun langsung mengerti.
__ADS_1
"Benar juga," sahut mereka kompak.