KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Merencanakan Penjagaan Ketat Untuk Erica


__ADS_3

Suasana ruang tengah rumah Darren saat ini sangat menegangkan. Semuanya tatapan mata menatap kearah perempuan yang tak lain adalah pelayan yang bekerja di kediaman keluarga Smith.


Sementara perempuan yang bernama Lani itu menatap bingung orang-orang yang kini tengah menatap dirinya.


"Siapa yang membayarmu?!" tanya Darren dengan tatapan matanya yang menajam.


"A-apa maksud tuan muda Darren?" tanya Lani.


"Aku tanya sekali lagi. Siapa yang membayarmu?!" bentak Darren.


Gilang dan Darka yang berdiri di samping adiknya mengusap-usap punggungnya.


"Saya tidak mengerti apa yang tuan muda Darren tanyakan?"


Darren menggeram marah mendengar jawaban dari Lani. Begitu juga dengan yang lainnya. Hanya saja mereka berusaha untuk tidak meluapkan kemarahan mereka.


"Jawab!" teriak Darren dengan tatapan nyalangnya.


"Bibi Lani, tolong kerjasamanya. Katakan siapa yang membayar Bibi Lani menjadi mata-mata di keluarga kami?" ucap dan tanya Agneta lembut.


Mereka semua sudah tahu siapa orang yang telah membayar Lani sebagai mata-mata atau pengkhianat di dalam keluarganya. Hanya saja saat ini mereka ingin mendengar langsung dari mulut Lani. Serta alasannya.


"Sa-saya benar-benar tidak mengerti, nyonya."


Emosi Darren saat ini sudah diujung batas kesabarannya. Dirinya sudah berusia untuk tidak melakukan hal buruk terhadap pelayan yang sudah lama bekerja pada keluarganya.


"Aku bertanya sekali lagi padamu. Siapa yang membayarmu? Dan apa alasan kamu mau menerima bayaran dari orang lain dan memilih mengkhianati keluarga yang sudah baik padamu?!" bentak Darren.


Mendengar pertanyaan dan perkataan dari Darren membuat Lani terkejut dan juga ketakutan.


Darren tidak bisa lagi mengendalikan emosi terhadap perempuan yang ada di hadapannya ini. Darren dengan tatapan amarahnya seketika menarik kuat rambut perempuan itu sehingga menimbulkan suara teriakan kesakitan dari perempuan tersebut.


"Aakkhhh!"


"Darren!"


Melihat apa yang dilakukan oleh Darren membuat anggota keluarganya dan orang-orang yang ada di rumahnya itu seketika terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren akan kelepasan.


"Ren," panggil Davin dan Andra.


Keduanya ingin adiknya itu melepaskan rambut Lani.


Darren menarik kuat rambut pelayan Lani menuju pintu keluar. Dia tidak peduli teriakan kesakitan dan tangisan dari perempuan tersebut.


Melihat Darren yang tiba-tiba menarik pelayan Lani menuju pintu keluar membuat mereka semua ketakutan. Mereka takut jika Darren nekat menyakiti pelayan Lani itu.


"Darren! Papa mohon jangan sakiti dia. Kita bicarakan masalah ini baik-baik, sayang!"


"Darren," panggil mereka secara bersamaan.


Sedangkan Darren tidak menghiraukan teriakan dan panggilan-panggilan dari orang-orang yang ada di dalam rumahnya. Saat ini hati dan pikirannya sudah dikuasai oleh amarah. Darren tidak bisa berpikir jernih lagi.


^^^


Setiba diluar rumah, Darren membuka pintu mobilnya. Setelah itu, Darren mendorong kuat tubuh pelayan Lani masuk ke dalam mobil miliknya.


Setelah berada di dalam mobilnya. Darren langsung menghidupkan mesin mobilnya. Dan melajukan mobilnya dalam kecepatan penuh.


Melihat Darren yang membawa mobilnya dalam kecepatan penuh membuat semuanya menatap khawatir dan takut.


"Lebih baik kita susul Darren, sekarang! Kondisi Darren saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja," sahut Qenan.


Qenan langsung masuk ke dalam mobilnya dan diikuti oleh Willy, Jerry, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.


Qenan, Willy dan Darel satu mobil menggunakan mobil Qenan. Sementara Axel, Dylan, Jerry dan Rehan satu mobil menggunakan mobil Axel.


Setelah itu, dua mobil pun pergi meninggalkan rumah mewah milik Darren.


"Kalian masuklah ke rumah. Jaga Erica. Nyawa Erica dalam bahaya saat ini," ucap Ziggy.


"Jangan jauh-jauh dari Erica," ucap Chico menambahkan.


Ziggy melihat kearah Devian, Enzo dan Noe. "Kalian tetaplah disini. Biarkan aku dan Chico menyusul Darren dan ketujuh sahabatnya.


"Baiklah," jawab Noe, Enzo dan Devian bersamaan.


"Dan untuk kalian!" seru Chico menatap para tangan kanannya. "Perketat penjagaan disini dan juga di kediaman Smith.

__ADS_1


"Baik, King!"


"Kalian juga," sela Ziggy kepada para tangan kanannya.


"Baik, King!"


Setelah itu, Ziggy dan Chico pergi meninggalkan rumah mewah Darren menyusul Darren dan ketujuh sahabatnya.


***


Di perjalanan, Darren membawa mobil dalam kecepatan penuh. Dia tidak peduli dengan rambut-rambut lalu lintas dan juga pengendara lainnya. Bahkan dia juga tidak peduli akan keselamatan dirinya.


Darren saat ini hanya memikirkan satu hal yaitu Lusiana Migael. Perempuan yang sudah membuat putri angkatnya dalam bahaya. Perempuan yang sudah membuat putri angkatnya ketakutan. Perempuan yang sudah membuat putri angkatnya menjadi incaran dari saudara tiri ibunya.


Satu hal yang akan Darren lakukan jika bertemu dengan perempuan itu. Dia akan membuat perempuan itu membayar atas apa yang telah diperbuat olehnya terhadap putri angkatnya.


Sementara pelayan Lani saat ini sudah sangat ketakutan. Kondisinya saat ini benar-benar tidak baik. Dia menangis. Dia menyesal telah mengkhianati keluarga Smith yang telah baik padanya selama ini.


***


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Darren tiba di sebuah rumah. Rumah itu adalah milik keluarga Migael.


Selama dalam perjalanan, Darren menghubungi Andrean dan meminta Andrean untuk datang menemuinya. Bahkan sebelumnya, Darren sudah meminta alamat kediaman keluarga Migael kepada Andrean.


Sementara suasana di kediaman keluarga Migael terlihat beberapa anggota keluarga duduk santai di ruang tengah termasuk Lusiana dan ibunya Carol.


Ketika mereka tengah mengobrol kecil, tiba-tiba salah satu pelayan datang.


"Maaf tuan, nyonya!"


"Iya, ada apa!"


"Itu diluar ada tamu."


"Siapa?"


"Dia perempuan, nyonya. Katanya mau bertemu dengan nona Lusiana."


"Namanya siapa, Bibi?"


"Katanya namanya adalah Lani."


Seketika Lusiana terkejut ketika pelayannya itu menyebut nama Lani. Dia juga tidak menyangka jika pembantu dari keluarga Smith akan mendatanginya.


"Ach, baiklah. Aku akan menemuinya!" seru Lusiana.


Setelah itu, Lusiana berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju pintu utama untuk menemui tamunya itu.


Lusiana tidak tahu bahwa Lani sang pembantu rumah tangga di kediaman keluarga Smith datang bersama Darren. Bahkan diluar rumahnya itu sudah ada ketujuh sahabatnya, kedua kakak mafianya yaitu Ziggy dan Chico dan Andrean.


Mereka datang lima menit setelah Darren dan Lani tiba di kediaman keluarga Migael.


"Kenapa kau kemari?!" tanya Lusiana ketika sudah berada di luar.


Lusiana menatap tajam Lani karena wanita itu berani menemuinya di kediaman keluarga Migael.


Lusiana dan Carol masih tinggal di kediaman keluarga Migael karena saudara dan saudari dari Carol Migael memberikan kesempatan kedua untuk Carol dan Lusiana.


Baik kakak laki-laki Carol maupun kakak perempuan Carol sudah sangat malu akan perbuatan buruknya selama menjadi istri dari Manaf Archey dan ibu untuk April.


Jika mereka kedapatan melakukan hal buruk lagi terhadap orang lain sehingga membuat hidup orang itu menderita, maka tidak akan ada kata maaf lagi dari keluarga Migael. Mereka tidak akan mau lagi untuk membantu keduanya jika keduanya kembali berulah.


"Aku butuh uang. Uang yang kemarin kamu kasih sudah habis. Uang gajiku bekerja di keluarga Smith sudah menipis," ucap Lani.


Saat ini hanya Lani dan Lusiana yang berinteraksi. Sementara Darren, ketujuh sahabatnya, Ziggy, Chico dan Andrean berdiri tak jauh dari keduanya. Mereka sedang mengawasi dan mendengar pembicaraan keduanya.


"Bukankah dua hari yang lalu aku baru mengirimkan kamu uang? Kenapa sekarang kamu minta lagi?" tanya Lusiana kesal.


"Kan kau sendiri yang berjanji kepadaku. Jika aku mau membantu untuk memberikan setiap informasi tentang putri angkatnya tuan Darren. Kau akan mengabulkan setiap permintaanku. Kenapa justru sekarang kau kesal padaku?"


"Iya, aku memang berjanji seperti itu padamu. Tapi bukan berarti kau memintanya setiap hari. Dua hari lalu kau baru saja meminta uang padaku sebesar $250. Dan sekarang kau minta lagi?"


Mendengar ucapan dari wanita yang ada di hadapannya itu membuat Lani kesal.


"Jadi kau tidak mau memberikanku uang?"


"Bukan tidak mau. Tapi hari ini aku tidak punya uang. Jika kau memintanya bulan depan. Aku akan usahakan."

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya hari ini aku harus mendapatkan uang itu. Selama kita bekerjasama. Aku tidak pernah mengecewakanmu. Informasi apapun yang kau minta, selalu tepat waktu aku berikan. Apa kau lupa? Kalau bukan informasi dariku, kau dan kedua pria itu tidak akan tahu identitas asli dari putri angkatnya tuan muda Darren. Aku juga yang memberitahumu, jam berapa putri angkatnya tuan muda Darren pulang sekolah. Asal kau tahu saja. Selama ini yang antar jemput putri angkatnya tuan muda Darren bukan hanya pengasuhnya saja. Melainkan nyonya Agneta dan nyonya Carissa. Dan kebetulan kemarin itu Nyonya Agneta dan Nyonya Carissa tidak bisa, makan hanya pengasuhnya saja bersama sopir. Dan aku juga tahu kau mendapatkan uang banyak dari kedua pria itu."


Mendengar perkataan dari Lani membuat Lusiana terkejut. Dia tidak menyangka jika Lani bisa tahu semuanya.


"Kedua pria itu mengetahui permasalahanmu dan ibumu. Dan juga alasan kau dan ibumu diusir dari keluarga Archey. Setelah mengetahui hal itu, kedua pria itu mengajakmu kerjasama dengan diiming-imingi bayaran besar. Kau langsung menyetujuinya. Dan keesokannya, kau mulai mencari alamat kediaman keluarga Smith dan berakhir bertemu denganku. Sama halnya dengan dua pria itu mengajakmu kerjasama. Kau juga melakukan hal itu padaku."


Darren, ketujuh sahabatnya, Ziggy, Chico dan Andrean terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Lani, terutama Darren.


"Brengsek kau, Lusiana! Tunggu apa yang akan menimpamu kali ini. Aku bersumpah akan membiarkanmu hidupmu menderita," batin Darren.


"Sekarang berikan aku uang. Atau aku akan bongkar tentang semua ini di hadapan keluarga Migael. Aku tahu bahwa keluarga Migael memberikan kesempatan kedua untukmu dan ibumu. Keluarga Migael akan melakukan sesuatu padamu dan ibumu jika kalian melakukan kesalahan buruk lagi," ucap Lani dengan nada mengancam.


"Kau mengancamku?"


"Menurutmu?"


"Kau tidak akan bisa melakukan itu. Jika kau melakukan itu, maka aku juga akan membongkar siapa kamu di hadapan keluarga Smith!"


"Sebelum kau melakukan itu, maka aku yang terlebih dahulu mengakuinya," balas Lani.


"Setidaknya, aku merasa bahagia karena telah mengakui kesalahanku walau nyatanya mereka tidak akan memberikan maaf untukku. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang aku pikirkan adalah kau. Kau dan ibumu terbiasa hidup mewah dan terbiasa memegang uang banyak. Jika keluarga Migael tahu kelakuanmu diluar rumah. Kau pikir sendiri saja apa yang akan mereka lakukan padamu dan ibumu."


Mendengar ucapan dari Lani membuat Lusiana terdiam. Di dalam hatinya, Lusiana membenarkan apa yang dikatakan oleh Lani. Dia dan ibuku selalu hidup mewah. Dia dan ibunya selalu memegang uang banyak.


"Baiklah," sahut Lusiana.


Mendengar ucapan dari Lusiana membuat Lani tersenyum bahagia.


Lani melakukan hal itu hanya untuk memancing Lusiana untuk masuk ke dalam rumah. Jadi, ketika Lusiana melangkah masuk ke dalam rumah. Darren dan yang lainnya akan langsung menyergap Lusiana dari belakang. Setelah itu, Darren dan yang lainnya akan membawa Lusiana.


Dan bertepatan Lusiana membalikkan badannya dan baru dua langkah memasuki rumahnya, Qenan dan Axel langsung memukul tengkuk Lusiana sehingga membuat Lusiana tak sadarkan diri.


Setelah itu, mereka membawa Lusiana pergi meninggalkan rumah mewah milik keluarga Migael. Begitu juga dengan Lani.


Lani dibawa paksa oleh Darren. Bahkan Darren menatap penuh amarah kearah Lani.


"Bersiap-siaplah mendapatkan hukuman dariku atas pengkhianatanmu itu," ucap Darren dingin.


Mendengar ucapan ketus dan wajah dingin Darren. Lani hanya bisa pasrah. Disini dia yang salah. Dan sudah sewajarnya dia mendapatkan hukumannya.


***


Di kediaman Darren masih terlihat ramai. Semua orang tengah berkumpul di ruang tengah dengan Erika berada di pangkuan Andra.


"Erland," panggil Hendy.


"Iya, Hendy. Ada apa?"


"Bukankah kamu pernah bilang bahwa tangan kanan kamu yang bernama Ibra memiliki markas?"


"Iya, kenapa?"


"Bukankah markas milik Ibra itu jauh dari jangkauan. Susah untuk dilacak dan ditembus oleh siapa pun dan dengan sistem apapun. Dengan kata lain, tidak akan ada yang bisa menemukan keberadaan Marka tersebut," ucap Hendy.


"Iya, itu benar. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu kepadaku, Hendy?"


"Begini?"


Hendy menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya itu. Begitu juga dengan mereka semua.


"Kita bawa Erica kesana. Dan biarkan Erica berada disana sampai masalah selesai," usul Hendy.


Mendengar usulan dari Hendy membuat mereka semua saling memberikan tatapan.


"Usulan dari Paman Hendy cukup menarik," sahut Daniel, kakak laki-laki kedua Dylan.


"Aku juga setujui dengan usulan Paman Hendy," sela Cakra, kakak laki-laki tertua Rehan.


"Misalkan semuanya setuju dengan usulan Paman Hendy. Kita akan memilih tiga orang yang akan mendampingi Erica. Ntah itu Bibi Agneta, Bibi Carissa atau Bibi-bibi yang lainnya. Selama mereka berada di markas, usahakan jangan pergi kemana-mana. Tetap di dalam markas lengkap dengan penjagaan ketat." Radeva berbicara sambil menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.


"Jadi maksud kamu. Jika misalkan yang menjaga Erica adalah Carissa, Emma dan Yocelyn. Mereka dilarang keluar meninggalkan markas, sekali pun untuk pulang ke rumah dan bergantian dengan yang lainnya. Begitukah sayang?" tanya Dario.


"Benar sekali, Papa! Jadi dengan begitu, para musuh tidak curiga. Apalagi sampai memata-matai kita. Takutnya nanti jika seandainya Bibi Carissa atau Bibi Yocelyn keluar dari markas lalu digantikan dengan Mama atau Bibi Evelyn. Bisa-bisa musuh-musuh kita akan tahu markas tersebut. Yang seperti yang dikatakan Paman Erland jika selama ini Paman Ibra dan para anggotanya jika berada di luar selalu menyamar. Tidak seperti tangan kanannya dan anggotanya Paman Erland. Bahkan mereka selalu memakai topeng setiap melakukan misi."


"Jadi dengan begitu kita bisa fokus dengan tugas kita masing-masing."


Radeva berbicara panjang lebar sembari memperjelas setiap ucapannya itu.

__ADS_1


Mendengar ucapan dan juga penjelasan dari Radeva membuat mereka semua setuju akan perkataan dan usulan dari Radeva.


__ADS_2