KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kerinduan Elzaro


__ADS_3

Pagi hari baru saja Darren selesai sarapan bersama kedua kakaknya Gilang dan Darka. Di depan rumah Darren sudah berisik dengan suara teriakan dari ketujuh sahabat-sahabatnya yang super gila itu.


"Ya, udah! Kakak Gilang, kakak Darka, aku berangkat dulu. Di luar udah ada tujuh anak macan," ucap Darren yang berpamitan dengan kedua kakaknya.


Sementara Gilang dan Darka hanya tersenyum mendengar perkataan dari adiknya.


Gilang dan Darka hari masuk kuliah siang. Jadi mereka tidak bisa pergi barengan dengan Darren.


"Ya, udah sana pergi. Ntar ketujuh anak macan yang saat ini sedang teriak-teriak kayak orang gila diluar digebukin massal sama tetangga," jawab Gilang.


"Mungkin mereka sebelum kesini pada makan mercon dulu di rumah. Makanya mereka pada teriak-teriak diluar," ucap Darka.


"Mungkin! Ya, udah! Aku pergi dulu. Bye kakak Gilang, Bye kakak Darka."


Setelah berpamitan dengan kedua kakaknya, Darren pun langsung pergi meninggalkan meja makan dan menuju pintu keluar.


Setiba diluar ternyata ketujuh sahabatnya masih saja berteriak memanggil namanya.


"Kalian pada ngapain sih? Bukannya masuk malah bikin keributan diluar. Sakit lo," ucap Darren sembari menaiki motor sportnya.


Melihat Darren yang sudah duduk di atas motornya. Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan pun menaiki motornya masing-masing.


"Kita jadi jemput para cewek-cewek kita di rumah Brenda?" tanya Darel.


"Kita langsung ke kampus saja. Brenda barusan nelpon gue, katanya dia dan sahabat-sahabatnya akan langsung pergi ke kampus!" seru Darren.


"Oh, baiklah!" seru ketujuh sahabatnya Darren.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan rumah Darren.


***


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam setengah. Darren dan ketujuh sahabatnya telah sampai di kampus. Selang beberapa detik kemudian, Brenda dan ketujuh sahabatnya pun tiba.


Melihat kedatangan para gadis. Terukir senyuman manis di bibir Darren dan ketujuh sahabatnya. Brenda dan ketujuh sahabatnya menggunakan mobil ke kampus.


"Udah lama datangnya?" tanya Felisa.


"Baru aja," jawab Darren dan ketujuh sahabatnya kompak.


"Ya, sudah! Yuk, ke kelas." ajak Vania.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan parkiran untuk menuju ke kelas dengan berjalan berpasang-pasangan.


Para mahasiswa dan mahasiswi menatap dengan tatapan iri, tatapan kagum dan juga tatapan tak suka kearah Darren dan ketujuh sahabatnya berjalan bersama dengan kekasihnya.


Sedangkan Darren, ketujuh sahabatnya beserta para kekasihnya tak peduli dengan tatapan dari teman-teman kampusnya.


Bagi Darren dan ketujuh sahabatnya beserta para kekasihnya, selama teman-teman kampusnya tak mengusik dan tak membicarakan mereka. Selama itu pula mereka tak mempermasalahkan tatapan itu, sekali pun tatapan tak suka yang diberikan untuk mereka.


Kini Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda dan juga sahabatnya sudah berada di kelas masing-masing.


Ketika Darren dan ketujuh sahabatnya memasuki kelas mereka menatap syok kearah tempat duduknya dimana disana terlihat delapan pemuda yang sedang duduk santai di kursi miliknya.


Darren melangkahkan kakinya menghampiri kursinya dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya.


"Minggir kalian," usir Darren.


Sementara kedelapan pemuda itu tak menghiraukan ucapan dari Darren.


"Kalian ini budek ya? Minggir! Ini kursi kita!" bentak Axel.


Kedelapan pemuda itu saling lirik, lalu dengan kompaknya menatap kearah Darren dan ketujuh sahabatnya.


"Kalian siapa? Datang-datang langsung main ngusir kita-kita," jawab salah satu dari kedelapan pemuda itu.


Darren melihat kearah ketua yang bertanggung jawab di kelas.

__ADS_1


"Dirly," panggil Darren.


"Iya, Ren!"


"Siapa mereka?" tanya Darren sembari menunjuk kedelapan pemuda yang duduk di kursi miliknya dan ketujuh sahabatnya.


Dirly melihat kearah tunjuk Darren. Setelah itu, Dirly kembali menatap wajah Darren.


"Mereka mahasiswa baru, Ren! Mereka masuk ke kelas ini," jawab Dirly.


"Mahasiswa baru?" tanya Darren dan ketujuh sahabatnya bersamaan.


"Iya," jawab Dirly lagi.


Darren dan ketujuh sahabatnya menatap tajam kearah kedelapan pemuda itu.


"Mahasiswa baru aja belagu," ucap Rehan.


"Minggir kalian!" bentak Qenan.


"Kalau kami nggak mau. Kalian mau apa?" tanya pemuda yang duduk di kursi Darren.


Baik Darren maupun pemuda itu saling memberikan tatapan membunuh. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya dengan ketujuh teman-teman dari pemuda yang menatap Darren.


Sementara teman-teman sekelasnya menatap dengan tubuh merinding. Bahkan mereka berdoa agar tidak terjadi sesuatu dengan kedelapan mahasiswa baru itu.


"Itu kursi gue dan sahabat-sahabat gue. Jadi enyahlah dan cari tempat lain. Jangan mencuri milik orang lain. Itu tidak baik," ucap Darren dengan penuh penekanan.


Pemuda itu tersenyum menyeringai. "Tapi gue sudah sangat menyukai kursi itu. Dan lagian lo datang terlambat," sahut pemuda tersebut.


Mendengar perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat Darren benar-benar kehilangan kesabarannya.


Dan detik kemudian...


Bugh!


"Jangan coba-coba ingin menguasai kelas ini. Di dalam kelas ini semuanya sama rata. Tidak ada perbedaan apapun." Darren berbicara dengan penuh penekanan.


Setelah memberikan pukulan ke wajah pemuda di hadapannya itu, Darren kemudian menarik pemuda itu dan mendorongnya menjauh dari tempat duduknya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya. Mereka juga melakukan hal yang sama seperti Darren.


Selesai mengurus kedelapan pemuda curuk (itu menurut mereka). Darren dan ketujuh sahabatnya langsung menduduki pantatnya di kursi.


***


Di kediaman Radmilo terlihat anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah, termasuk Lino. Mereka mengobrol banyak disana sembari melepaskan rasa rindunya terhadap Lino.


Sedangkan Lino sedari tadi hanya diam. Pikirannya saat ini tertuju kepada adik perempuannya yang tak lain adalah saudari kembarnya.


Lino juga memikirkan untuk membalas kematian kakak laki-laki angkatnya. Dirinya tidak terima dan tidak akan membiarkan orang itu bebas berkeliaran.


"Alin, kamu dimana? Aku sangat merindukan kamu. Apa itu kamu yang bekerja di perusahaan ER'Land?" tanya Elzaro di dalam hatinya.


"Kakak Gavin, aku rindu kakak Gavin. Aku berjanji kepada kakak Gavin, aku akan membalas kematianmu. Kakak Gavin tenang saja. Dan doakan aku dari atas sana," batin Elzaro dan setetes air matanya mengalir membasahi pipinya.


Arkana yang sedari memperhatikan Elzaro seketika terkejut melihat adik sepupunya menangis. Di dalam hati Arkana berpikir bahwa Link sedang memikirkan sesuatu atau Lino lagi ada masalah.


"Lino, kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya Arkana.


Mendengar perkataan dari Arkana. Mereka semua melihat kearah Elzaro. Dan benar saja, Elzaro sedang menangis.


Mita yang kebetulan duduk di samping putra kembarnya langsung mengusap lembut air matanya sehingga membuat Lino tersadar.


"Mami," ucap Lino lembut.


Mita seketika tersenyum ketika mendengar panggilan dari putranya itu.


"Ada apa, hum? Apa mau cerita sama Mami?" tanya Mita.

__ADS_1


Elzaro menatap satu persatu anggota keluarga Radmilo. Setelah itu, Elzaro kembali menatap wajah ibunya.


"Lino rindu Alin. Maafkan Lino karena saat kejadian itu, Lino gagal melindungi Alin." Elzaro berbicara dengan nada bergetarnya.


Mendengar perkataan dari Elzaro membuat hati mereka sesak. Mereka semua tahu bagaimana sayangnya Elzaro terhadap Kathleen.


Mita yang melihat putranya sedih dikarenakan memikirkan putri kembarnya langsung menarik putranya itu ke dalam pelukannya.


Grep!


"Hiks... Hiks," isak tangis Lino pecah di pelukan ibunya.


Mita yang mendengar isak tangis putranya ikut merasakan kesedihan yang sama. Dirinya juga merasakan apa yang dirasakan oleh putranya itu.


"Kita akan menemukan Alin dan membawanya pulang. Kamu tidak perlu khawatir, oke!" Mita berusaha menghibur putra kembarnya.


"Mami benar, Lino! Kita akan membawa Alin pulang. Kakak tidak pernah berhenti untuk terus mencari Alin. Bahkan kamu juga," ucap Nuel, kakak kedua Elzaro.


Ketika mereka tengah menghibur Elzaro, tiba-tiba ponsel milik Elzaro berbunyi.


Elzaro melepaskan pelukan ibunya berlahan. Mita yang mengerti langsung melepaskan pelukannya itu.


Kini ponselnya sudah ada di tangannya. Terlihat nama 'Darren' di layar ponselnya.


Sejak pertemuan kedua Elzaro dengan Darren. Sejak itulah Elzaro menyimpan nomor Darren dengan menuliskan nama pemilik nomor tersebut kontak ponselnya.


Tanpa membuang waktu lagi, Lino langsung menjawab panggilan dari Darren.


Sementara anggota keluarga Radmilo fokus menatap dan mendengar pembicaraan Elzaro di telepon.


"Hallo, Darren."


"Hallo, Lino Aku mau memberitahu sesuatu padamu."


"Tentang apa?"


"Laki-laki itu."


"Apa rencananya kali ini?"


Mendengar pertanyaan dari Elzaro membuat keluarga Radmilo berpikir bahwa ada masalah yang tengah dihadapi oleh kesayangannya.


"Laki-laki itu ingin menyebarkan fitnah di kedua kubu."


"Maksud kamu bajingan itu ingin memfitnah geng motor kamu di depanku. Dan memfitnah geng motorku di depan kamu. Begitu?"


"Ya."


"Terus. Apa kau sudah memikirkan rencana untuk menjebak bajingan itu?"


"Sudah."


"Apa aku boleh tahu rencanamu itu?"


"Tentu. Begini, kita ikuti saja permainan bajingan itu dengan memperlihatkan amarah kita ketika bajingan itu memfitnah geng motor kita masing-masing, lalu kau minta kepada bajingan itu untuk membantumu melawan geng motormu jika kalah melawan geng motorku. Dan dari situlah kita...." perkataan Darren terpotong karena Elzaro langsung memotongnya karena sudah mengerti arah ucapan Darren.


"Geng motor kita akan menyerang atau membunuh anggota dari bajingan itu. Begitukan maksud kamu?"


"Yap! Kau benar sekali."


"Baiklah. Aku suka dengan rencanamu."


"Baguslah kalau kau suka. Ya, sudah kalau begitu! Aku tutup teleponnya. Kau rundingkanlah dengan anggotamu."


"Baiklah. Terima kasih memberitahuku."


"Sama-sama."

__ADS_1


Setelah itu, baik Darren maupun Elzaro sama-sama mematikan panggilannya.


__ADS_2