KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Perdebatan Darren Dan Para Orang Tua


__ADS_3

Ketika ketujuh sahabatnya Darren, Gilang dan Darka, Brenda serta ketujuh sahabatnya tengah mengkhawatirkan Darren yang belum juga hadir di kampus, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara keributan di halaman kampus.


Darren telah sampai di kampus sejak lima menit yang lalu. Ketika Darren sampai di kampus, ada beberapa orang baik laki-laki maupun perempuan menghampirinya dan menghalangi jalannya.


"Siapa kalian? Mau apa kalian kemari?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap orang-orang yang ada di hadapannya.


"Apa anda bernama Darren?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Darren. Justru salah satu orang-orang itu balik memberikan pertanyaan kepada Darren.


Mendengar hal itu, Darren tersenyum di sudut bibirnya.


"Cih! Dasar para orang tua tidak ada sopan santunnya. Ditanya bukannya menjawab. Ini malah memberikan pertanyaan lain," sindir Darren.


Mendengar perkataan dan sindiran dari Darren membuat orang-orang yang berdiri di hadapan Darren menatap tajam Darren.


"Apa begini cara orang tua anda mendidik anak seperti anda? Seharusnya jika ada yang bertanya, maka harus dijawab. Bukan melontarkan pertanyaan lain."


"Beginikah cara berbicara terhadap orang yang lebih tua?"


"Hahahaha."


Darren seketika tertawa keras ketika mendengar aksi protes dari orang-orang yang ada di hadapannya itu.


"Hei! Bukankah aku yang terlebih dahulu memberikan pertanyaan kepada kalian semua. Seharusnya kalianlah yang harus menjawab pertanyaanku. Setelah itu, barulah kalian boleh memberikan pertanyaan kepadaku. Jadi, disini siapa yang tidak sopan, hum?" Darren berbicara dengan senyuman manisnya dan tatapan matanya yang menatap meremehkan untuk orang-orang yang ada di hadapannya itu.


Mendengar perkataan dari Darren membuat orang-orang itu marah. Mereka semua menatap tajam kearah Darren.


"Sudahlah. Saya sedang banyak kesibukan. Jadi, kalian pergi saja dari kampus ini jika kalian tidak ingin berurusan dengan pihak kepolisian."


Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan orang-orang yang sudah mengganggunya.


Ketika baru beberapa langkah, Darren seketika menghentikan langkahnya akibat teriakan seseorang.


"Berikan hak anak-anak kami!"


"Biarkan anak-anak kami tetap kuliah di kampus ini!"


"Dan kau tidak berhak untuk Drop Out anak-anak kami dari kampus ini!"

__ADS_1


Mendengar perkataan demi perkataan dari orang-orang yang telah mengganggunya membuat Darren seketika membalikkan badannya.


Darren menatap tajam wajah-wajah orang yang berdiri di depannya yang juga tengah menatapnya.


"Eemm... Jadi, kalian semua adalah para orang tua yang anak-anaknya saya keluarkan dari kampus ini?" tanya Darren dengan tersenyum menyeringai.


"Iya. Kami adalah para orang tua dari anaknya yang telah kau keluarkan dari kampus ini!"


"Bukan itu saja. Kau juga sudah membuatnya anak-anak kami tidak diterima di kampus manapun!"


Darren kembali tersenyum ketika salah satu dari mereka mengatakan bahwa mantan teman-teman kampusnya tidak diterima di kampus lain.


"Wah! Benarkah? Kasihan sekali jika anak-anak kalian tidak bisa kuliah lagi," ucap Darren yang berakting seolah-olah dia benar-benar peduli dan kasihan terhadap mantan teman-teman kampusnya itu.


"Tapi saya minta maaf karena tidak bisa membantu anak-anak kalian untuk kuliah lagi disini."


"Brengsek! Anda tidak bisa melakukan hal itu kepada anak-anak kami!"


Mendengar perkataan dan teriakan dari pria itu membuat Darren seketika menatap dengan tatapan matanya yang tajam kearah pria itu.


"Anda lucu sekali, tuan! Anda mengatakan kepada saya bahwa saya tidak berhak melakukan hal itu kepada anak anda dan anak-anak kalian semua. Lalu bagaimana dengan anak-anak kalian yang seenaknya membully teman-teman kampusnya?"


"Nah, sekarang saya katakan kepada kalian semua. Anak-anak kalian itu juga tidak punya hak melakukan hal keji itu di kampus ini. Dikarenakan anak-anak kalian itu bersalah. Di tambah lagi mereka semua telah melanggar peraturan di kampus ini. Maka saya mengambil tindakan dengan cara mengeluarkan semua anak-anak kalian dari kampus ini."


"Dan satu lagi, anak-anak kalian itu sudah berani mencari masalah denganku dan ketujuh sahabatku. Mereka dengan keji memfitnah dan menuduhku dan ketujuh sahabatku."


Darren menatap orang-orang yang ada di depannya dengan senyuman di sudut bibirnya.


Sementara para orang tua dari anak-anaknya yang dikeluarkan dari kampus seketika terdiam mendengar perkataan dari Darren.


Ketika Darren tengah berperang dengan para orang tua yang anak-anaknya dikeluarkan oleh dirinya, tiba-tiba ketujuh sahabatnya, kedua kakaknya, Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda datang.


"Ren!"


Mendengar namanya dipanggil, Darren langsung melihat keasal suara. Dan dapat dilihat oleh Darren ketujuh sahabatnya, kekasihnya, kedua kakaknya dan para kekasih dari ketujuh sahabatnya datang.


"Apa yang terjadi?" tanya Axel.


"Siapa mereka, Ren?" tanya Dylan.

__ADS_1


Darren tersenyum dengan tatapan matanya menatap orang-orang itu.


"Mereka para orang tua dari anak-anaknya yang sudah kita Drop Out," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Gilang, Darka, Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda terkejut dengan tatapan matanya menatap orang-orang itu.


"Mau ngapain mereka kemari?" tanya Darka.


"Mereka marah dan tidak terima anak-anaknya dikeluarkan dari kampus ini. Dan mereka ingin anak-anaknya kuliah lagi disini," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan juga terkejut. Mereka menatap wajah orang-orang yang ada di hadapannya itu dengan tajam.


"Wah! Berani sekali mereka. Dimana otak mereka sehingga mereka bisa meminta hal itu," sahut Dylan.


Darren menatap tajam wajah para orang tua dari teman-teman kampusnya yang telah dia keluarkan.


"Lebih baik kalian semua pergi dari sini. Dan jangan pernah lagi mendatangi kampus ini. Berhentilah mencari pembenaran, pembelaan dan keadilan untuk anak-anak kalian. Bagaimana pun anak-anak kalian itu bersalah."


Mendengar perkataan dari Darren membuat para orang tua itu menatap marah kearah Darren. Mereka tidak terima anak-anak mereka sampai putus kuliah.


"Aku peringatkan kepada kalian semua. Aku memiliki bukti tentang apa yang kalian lakukan selama ini, termasuk kerjasama kalian dengan wakil Rektor. Bukti tentang pekerjaan kalian, bukti kerjasama kalian dengan wakil Rektor. Aku juga memiliki bukti lain tentang kalian. Begitu juga bukti kelakuan buruk anak-anak kalian. Jangan memancing amarahku sehingga membuat aku mengekspos semua bukti-bukti ke media dan internet. Jika sampai semua bukti-bukti itu terekspos ke media dan internet, maka hancurlah kehidupan mewah kalian."


Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan para orang tua itu dengan menggandeng tangan Brenda.


Setelah kepergian Darren. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Gilang, Darka dan ketujuh sahabatnya Brenda.


"Saran dari kami. Berhentilah mengusik kami. Terima saja apa yang terjadi terhadap anak-anak kalian. Bagaimana pun disini anak-anak kalian yang bersalah," ucap Qenan.


"Kesalahan anak-anak kalian bukan hanya kepada mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Tetapi kepada kami juga. Anak-anak kalian sedikit banyaknya ikut dalam memfitnah dan menuduh kamu yang tidak-tidak," ucap Rehan.


"Seharusnya kalian semua berterima kasih kepada kami dan sahabat kami karena kami tidak membawa masalah ini ke polisi. Jika sampai masalah ini jatuh ke tangan polisi. Bukan hanya anak-anak kalian terkena kasus. Kalian sebagai orang tua juga akan ikut terseret." Darel berbicara sambil menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.


"Jika kalian ingin hidup aman dan damai. Menjauhlah dari kami dan sahabat kami. Jika kalian ingin hancur, silahkan lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Salah satunya jika kalian ingin balas dendam kepada kami. Tapi jangan salahkan kami jika hidup kalian semua benar-benar hancur!" ucap Jerry.


"Apa kalian kenal dengan keluarga Adalrich dan keluarga Raimund? Jika kalian kenal dengan dua keluarga tersebut. Kalian pasti tahu apa yang terjadi terhadap dua keluarga itu. Tidak mungkin kalian tidak mengetahuinya," ucap Axel.


"Pikirkanlah!" seru Willy.


Setelah mengatakan itu, mereka semua pun pergi meninggalkan para orang tua itu untuk menuju kelas. Ketika dalam perjalanan hendak pergi ke kelas. Gilang dan Darka meminta ketujuh sahabatnya Darren untuk selalu memantau Darren. Keduanya ingin Darren selalu dalam pengawasan karena Darren beberapa hari ini selalu melamun dan menyendiri.

__ADS_1


__ADS_2