
Di perusahaan Micro Sinopec terlihat sosok Rendra masih mencari bukti di ruang sistem keamanan dengan Steven yang menemaninya.
Setelah selesai berbicara dengan Dylan di telepon, Steven langsung kembali ke dalam ruangan sistem keamanan tersebut. Dirinya tidak ingin membuat Bos nya itu terlalu lama menunggu dirinya.
Beberapa detik kemudian..
"Akhirnya aku menemukan kalian," ucap Rendra dengan tersenyum jahat.
Setelah mengatakan itu, Rendra langsung berdiri dari kursi kebesarannya dengan tatapan matanya menatap kearah Steven.
"Kau kumpulkan semua karyawan dan karyawati di aula!"
"Ba-baik, Bos!"
Setelah menjawab perkataan dari Bos nya. Steven langsung pergi meninggalkan Rendra sendirian di ruang sistem keamanan tersebut.
"Tunggu kejutan dariku," ucap Rendra.
Rendra melangkahkan kakinya keluar meninggalkan ruangan sistem keamanan untuk menuju Aula.
***
Kathleen saat ini berada di sebuah Cafe. Dia tidak sendirian, melainkan bersama Bianca. Keduanya menghabiskan waktu istirahat di Cafe tersebut. Baik Kathleen maupun Bianca memesan beberapa makanan dan dua jenis minuman. Alasan mereka memesan lebih dari satu menu makanan adalah untuk menambah kekuatan karena pekerjaan mereka setelah istirahat ini membutuhkan waktu sekitar empat jam lamanya.
Ketika Kathleen dan Bianca tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba datang sang pengganggu yang menggangu makan siang mereka.
"Wah, lagi makan enak nih!" sindir seorang perempuan dengan menatap jijik kearah Kathleen.
Kathleen melihat sekilas kearah samping yang mana dua orang perempuan yang sudah membuat hidupnya tak baik-baik saja selama ini.
"Ngapain lagi sih mereka?" batin Kathleen.
Setelah itu, Kathleen kembali menatap makanannya dan kembali fokus melahap makanan itu. Begitu juga dengan Bianca.
Melihat reaksi yang diberikan Kathleen membuat Donita dan Safira mengepal kuat tangannya dan menatap penuh amarah kearah Kathleen.
Sementara beberapa pengunjung Cafe yang mendengar ucapan salah satu perempuan itu melihat kearah kearah Kathleen dan Bianca.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Melihat wajah kalian disini membuat nafsu makanku dan nafsu makan sahabatku hilang," ucap Kathleen dengan kejamnya.
Mendengar ucapan kejam dari Kathleen membuat Donita dan Safira menatap penuh amarah kearah Kathleen.
"Apa begini cara kamu membalas jasa-jasaku dalam merawat dan membesarkan kamu, hah?!" teriak Donita.
Donita sengaja mengatakan hal itu dengan suara keras agar semua pengunjung Cafe mendengarnya. Dia berharap agar para pengunjung Cafe beranggapan bahwa Kathleen perempuan tak tahu diri dan tak tahu terima kasih. Jadi dengan begitu, Kathleen akan memberikan apa yang dia dan keluarganya inginkan hari ini juga.
Kathleen seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Donita mantan Bibi angkatnya itu. Di dalam hatinya Kathleen mengatakan bahwa besar juga nyalinya mengatakan hal ini di hadapan semua orang.
Sementara beberapa pengunjung Cafe sudah termakan omongan dari Donita. Tatapan mereka menatap jijik kearah Kathleen dan Bianca.
[Hei, nona! Jangan menjadi manusia kacang lupa kulitnya]
[Anda sudah dijaga, dirawat dan dibesarkan oleh wanita itu dan keluarganya. Setidaknya anda tahu dirilah. Jangan lepas tangan begitu]
[Jangan menjadi wanita tak tahu diuntung anda]
Itulah ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut beberapa pengunjung Cafe.
Mendengar ucapan demi ucapan dari beberapa pengunjung Cafe membuat Donita dan Safira tersenyum kemenangan. Mereka benar-benar bahagia saat ini karena beberapa pengunjung telah terhasut.
Detik kemudian...
Braakkk..
Kathleen berdiri dari duduknya bersamaan dengan memukul meja dengan kerasnya. Kemudian Kathleen menatap dengan tatapan tajam kearah semua penghuni Cafe tersebut.
__ADS_1
"Kalian semua adalah manusia-manusia menjijikan, manusia-manusia rendah dan juga manusia-manusia hina!" Kathleen mengeluarkan amarahnya sembari tangannya menunjuk kearah semua pengunjung Cafe.
Sementara para pengunjung Cafe tidak terima akan perkataan kejam yang dilontarkan oleh Kathleen.
"Hei, nona! Jaga ucapanmu. Apa begini......?"
"Kenapa?!" bentak Kathleen dengan menatap nyalang kearah seorang pria yang menatap marah dirinya. "Apa kalian marah karena aku mengatakan perkataan yang menyakitkan untuk kalian? Lalu bagaimana denganku? Barusan kalian menyebutku perempuan kacang lupa kulitnya, barusan kalian menyebutku jangan jadi perempuan tidak tahu diuntung dan kalian juga barusan mengatakan padaku kalau aku tidak membalas semua kebaikan dari orang yang sudah menjaga dan merawatku dari kecil?!"
Seketika para pengunjung Cafe terdiam ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kathleen. Sementara Bianca yang sejak tadi hanya diam seketika ikut bersuara.
"Jangan mudah percaya dengan orang yang baru kalian lihat. Dan jangan terlalu percaya dengan apa yang kalian dengar sebelum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya," sindir Bianca.
"Jika kalian tidak tahu permasalahan yang sebenarnya, lebih baik tutup mulut kalian agar kalian tidak mendapatkan masalah di kemudian harinya." Bianca berucap kembali.
"Kamu benar-benar sudah berubah, Kathleen! Dulu kamu tidak seperti ini. Apa kesalahan kami padamu," ucap Safira yang beradegan menangis.
"Jika Bibi punya salah padamu. Tolong maafkan kesalahan bibi itu, nak! Jangan hukum Bibi, suami bibi dan anak-anak bibi dengan kau merebut rumah kamu."
Kathleen menatap penuh amarah kearah Donita. Di samping tubuhnya, kedua tangannya mengepal kuat.
Detik kemudian...
Sreekkk..
"Aakkhhh!" teriak Donita ketika merasakan sakit di lehernya.
"Ibu!" teriak Safira syok ketika melihat Kathleen yang tiba-tiba mencekik leher ibunya.
Yah! Kathleen dengan amarah membuncah langsung mencekik leher Donita. Dirinya tidak terima dituduh dan difitnah telah menjual rumah milik keluarga Johnson.
"Kathleen, lepaskan ibuku! Apa kau ingin membunuh ibuku, hah?!" bentak Safira bersamaan dengan tangannya hendak menarik rambut Kathleen.
Seketika Bianca menahan tangan Safira yang hendak menarik rambut Kathleen.
"Jangan ikut campur. Biarkan sahabatku menyelesaikan pekerjaannya," ucap Bianca dengan menatap tajam kearah Safira.
Tak hanya Safira saja yang terkejut dan juga syok ketika melihat aksi brutal Kathleen dan sikap pembelaan dari Bianca terhadap Kathleen. Para pengunjung Cafe juga sama seperti Safira. Mereka semua tidak menyangka jika Kathleen akan melakukan hal tersebut.
"Aku sudah cukup sabar melihat kelakuan kamu dan kedua anak kamu itu. Aku sudah berbaik hati tidak melaporkan kalian ke polisi atas sikap kalian yang selalu menganggu hidupku!" teriak Kathleen.
Sreekkk..
Kathleen makin mengeratkan cekikannya di leher Donita sehingga membuat Donita berteriak kesakitan.
"Aaakkkhhhh!"
"Ibu!"
"Kamu dan suami kamu memang yang telah merawatku dan membesarkanku dari aku berusia 6 tahun (maaf kalau berbeda di bab sebelumnya tentang usia Kathleen), tapi jangan pernah kau lupa satu fakta nyonya Donita Johnson!" teriak Kathleen dengan tatapan matanya yang penuh amarah.
"Selama aku tinggal bersama keluarga Johnson. Aku lah yang menjadi tulang punggung untuk keluarga Johnson! Setengah gajiku, aku berikan kepada keluarga Johnson untuk membayar sewa rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membelikan pakaian mewah. Aku yang membiayai semua kebutuhan keluarga Johnson!" teriak Kathleen.
"Uang sewa yang aku berikan padamu setiap bulan tidak kau gunakan untuk membayar sewa rumah. Justru uang itu kau gunakan untuk membayar pengacara. Kau dan kedua anakmu ingin memindahkan kepemilikan rumah tersebut atas namamu. Dengan kata lain, rumah keluarga Johnson adalah rumah milikku. Aku dan keluargamu telah menipuku selama ini!" teriak Kathleen bersamaan dengan Kathleen mendorong kuat tubuh Donita sehingga tersungkur di lantai.
"Uhukk!"
"Ibu!"
Safira mendekati ibunya lalu memeluk ibunya. Dirinya saat ini benar-benar takut.
Sementara untuk para pengunjung Cafe seketika terkejut dan bungkam ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Kathleen. Dan seketika mereka merasakan ketakutan ketika melihat wajah Kathleen.
"Aku menjual rumah yang kalian tepati selama ini. karena aku berhak melakukan hal itu. Rumah itu adalah rumahku, rumah yang diwariskan oleh seorang pria yang mana pria itu adalah Bos dari suamimu, tuan Nino! Pria itu mengatakan kepada suamimu bahwa pria itu mengizinkan suamimu, kau dan kedua anakmu untuk tinggal di rumah itu dengan syarat kalian harus merawatku dan menjagaku dengan baik! Namun sayangnya, kalian melanggar amanah tersebut!"
Kathleen menatap penuh amarah kearah Donita dan Safira bersamaan dengan kedua tangannya mengepal kuat.
__ADS_1
"Sekarang katakan padaku dimana letaknya aku tidak berbaik hati dengan kalian?! Katakan padaku dimana letaknya aku tidak membalas semua jasa kalian yang sudah merawatku?! Dimana letak kesalahanku, hah?! Yang aku ingat selama aku tinggal bersama kalian, hanya hinaan yang kalian berikan padaku. Sementara aku memberikan kalian uang dan makanan enak setiap hari dan setiap bulan! Bahkan setelah aku pergi meninggalkan kalian dan memutuskan hubungan dengan kalian. Kalian masih saja mengganggu kehidupanku!"
"Kalian benar-benar menjijikan!"
"Aku peringatkan sekali kepada kalian jika kalian masih ingin menghirup udara bebas. Menjauhlah dariku. Jangan mencari masalah lagi denganku. Kalian tidak tahu siapa aku dan siapa saja yang ada di belakangku. Jika kalian masih mencari masalah denganku, maka ucapkan selamat tinggal pada dunia ini."
Setelah mengatakan itu, Kathleen pergi meninggalkan Cafe tersebut dengan menarik tangan Bianca. Tapi sebelumnya, Kathleen menatap nyalang kepada para pengunjung Cafe yang tadi menghinanya sehingga membuat para pengunjung Cafe tersebut menundukkan kepalanya karena takut akan tatapan mata Kathleen yang mengerikan.
***
Duagh.. Duagh..
Duagh..
Bruukkk.. Bruukkk..
Bruukkk..
Darren memberikan masing-masing satu tendangan kepada tiga karyawannya tepat di hadapan semua karyawan dan karyawati yang berkumpul di Aula sehingga membuat ketiganya tersungkur di lantai dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Bos nya membuat para karyawan dan karyawati lainnya seketika ketakutan. Bagi mereka, ini adalah untuk pertama kalinya Bos nya dalam keadaan marah besar.
"Kalian bertiga benar-benar sudah berani mencari masalah denganku! Apa kalian pikir aku akan diam saja ketika mengetahui dua ruangan rahasia yaitu ruang penyimpanan data dan ruangan sistem keamanan dibobol?! Apa kalian pikir aku tidak akan bisa mencari siapa pelaku pembobolan dua ruangan tersebut?! Kalian salah besar kalau berpikir seperti itu. Aku Darrendra Smith bukanlah laki-laki bodoh yang tidak bisa mendapatkan si pengkhianat itu. Cara kerjaku berbeda dengan cara kerja orang-orang diluar sana. Jika orang-orang diluar sana tidak bisa mencari tahu dalang yang sudah membobol perusahaannya. Sementara aku akan dengan sangat mudahnya mengetahuinya. Jadi, kalian sudah salah mencari masalah denganku!"
Duagh.. Duagh..
Duagh..
"Aakkhhh!" teriak ketiga karyawan itu akibat tendangan tak main-main dari Darren.
Para karyawan dan karyawati yang melihat dan mendengar teriakkan tersebut membeku di tempat Tubuh mereka bergetar hebat. Begitu juga dengan Steven.
Kreettt..
"Aaakkkhhhh!" teriak salah satu karyawan tersebut ketika merasakan sakit di tengkuknya akibat injakan kaki Darren.
"Apa kau sudah tidak ingin hidup lagi sehingga kau dan kedua manusia busuk itu memilih mengkhianatiku, hum?! Oh, salah! Kau dan kedua manusia busuk itu bukanlah karyawanku, melainkan mata-mata yang dikirim oleh orang yang tak menyukaiku. Tapi sayangnya, orang yang telah mengirim kalian untuk menjadi mata-mata disini tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Jika dia tahu siapa aku, maka dia akan berpikir seribu kali untuk mengirim kalian kesini."
Sreekkk..
"Aakkhhh!" teriak laki-laki itu lagi karena Darren makin menguatkan injakan di tengkuk laki-laki itu.
"Darren!" teriak Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan dengan berlari kearah Darren.
Qenan dan Willy langsung memeluk tubuh Darren dengan erat. Keduanya mengatakan kata-kata penenang di telinga Darren agar Darren mau melepaskan injakan.
"Ren, sadarlah!" ucap Willy.
"Jika mereka mati, maka kita akan kesulitan untuk mengetahui dalangnya. Jadi, biarkan mereka hidup." Qenan berucap dengan mengeratkan pelukannya.
"Iya, Ren! Biarkan mereka hidup. Kita akan membawa mereka ke markas milik kakak Ziggy," sahut Axel.
"Kami mohon!" seru Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.
Berlahan Darren menjauhkan kakinya dari tengkuk laki-laki itu.
"Qenan, Willy! Bawa Darren menjauh," sahut Jerry.
Qenan dan Willy langsung membawa tubuh Darren menjauh dari ketiga laki-laki itu agar Darren tidak lagi mengeluarkan amarahnya. Qenan dan Willy membawa Darren ke ruang kerjanya.
"Fito," panggil Rehan
"Iya, Bos!"
"Bawa mereka bertiga ke markas The Crips."
__ADS_1
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Fito memerintahkan masing-masing dua anggotanya untuk membawa ketiga mata-mata itu ke Markas The Crips milik Ziggy.