
"Ren," ucap Brenda.
Yang datang itu adalah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya menatap marah kearah tiga gadis dan juga para pengunjung tersebut. Dan jangan lupakan tatapan tajam Darren ke pelayan toko itu.
"Kenapa kalian diam? Apa kalian semua tuli?" teriak Jerry.
"Tadi saja kalian berkoar-koar mengatakan para kekasih kami tidak memiliki uang. Tadi saja kalian semua berkoar-koar menyebut para kekasih kami hanya berlagak sok membeli semua barang-barang disini. Sekarang kenapa kalian semua diam!" teriak Willy.
"Jawab pertanyaan dari sahabat kami. Apa yang akan kalian berikan untuk kekasih kami jika para kekasih kami mampu membayar semua barang-barang belanjaan mereka?!" teriak Qenan.
"Dan apa yang akan kalian berikan untuk kekasih kami jika mereka mampu memborong semua barang-barang di toko ini?!" teriak Dylan.
"Dan apa yang akan kalian berikan untuk kekasih kami jika mereka benar-benar mampu membeli toko ini?!" teriak Rehan.
Mendengar pertanyaan dan teriakan dari beberapa pemuda yang ada di hadapannya membuat mereka semua telak bungkam. Tidak ada satu pun yang bersuara.
Sementara Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap jijik dan juga sinis kearah tiga gadis itu dan juga kepada pengunjung yang sudah menghina kekasihnya.
Darren menatap tajam kearah pelayan itu. Sedangkan pelayan itu ketakutan ketika mendapatkan tatapan mengerikan dari Darren.
"Kau!" ucap Darren sembari menunjuk kearah pelayan itu. "Kau hitung semua barang-barang yang ada di atas meja itu. Dan jangan lupa kau hitung juga semua barang-barang yang ada di dalam tokomu. Sekarang!" teriak Darren.
"Ba-baik, tuan!"
Pelayan toko itu langsung menghitung semua barang-barang belanjaan Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Beserta semua barang-barang yang ada di dalam toko.
Setelah beberapa menit pelayan itu menghitung semuanya. Pelayan itu pun memberitahukan jumlahnya.
"Berapa?" tanya Axel dengan menatap nyalang pelayan itu.
"Semuanya USD$150.000," jawab pelayan toko itu.
Axel tersenyum menyeringai. Begitu juga dengan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
"Ayo, para gadis. Buktikan kepada para sampah-sampah yang ada disini bahwa kalian bisa membayar semua barang-barang itu," ucap Darren dengan kejamnya sembari matanya menatap marah ketiga gadis itu dan para pengunjung tersebut.
"Untuk saat ini lupakan dulu masalah traktirannya. Harga diri kalian sudah diinjak-injak oleh para sampah ini. Sekarang, balas mereka semua. Tunjukan kepada mereka, siapa kalian yang sebenarnya!"
Darren berbicara dengan penuh amarah dengan tatapan mata yang mengerikan.
"Baiklah," jawab Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya bersamaan.
Setelah itu, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya mengeluarkan kartu mereka dari dalam dompetnya. Baik Brenda maupun ketujuh sahabat-sahabatnya mengeluarkan satu kartunya, lalu melemparkan tepat ke wajah pelayan toko itu.
"Kartu milikku berisi uang sebesar USD$1.400.000," ucap Brenda.
"Punyaku USD$1.200.000," ucap Elsa, Alice, Milly dan Vania.
"Punyaku USD$1.150.000," ucap Tania, Felisa dan Lenny.
Mendengar penuturan dari Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya membuat ketiga gadis itu dan para pengunjung melongo dan membelalakkan matanya. Mereka tidak menyangka jika orang-orang yang sudah mereka hina ternyata memiliki banyak uang.
"Sekarang kerjakan tugasmu. Jangan terlalu lama memegang kartu kami. Kalau kau terlalu lama memegangnya. Bisa-bisa kartu kami rusak," ucap Tania dengan kejamnya.
Pelayan toko itu pun langsung menyelesaikan tugasnya dengan menggesekkan kartu-kartu itu secara bergantian untuk membayar semua barang-barang yang telah dibeli oleh pelanggannya.
Setelah selesai, pelayan toko itu mengembalikan kartu-kartu itu kepada Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Pelayan toko itu memanggil rekan-rekan untuk mengosongkan barang-barang yang ada di dalam tokonya untuk dikirim ke alamat rumah pelanggannya.
"Maaf, nona!"
"Apa?" bentak Brenda.
"Mau dikirim kemana semua barang-barang belanjaannya?"
"Kirim saja ke alamat ini." Brenda berbicara sambil memberikan kartu namanya kepada salah satu pelayan laki-laki.
__ADS_1
"Baik, nona." pelayan laki-laki itu menerima kartu nama dari Brenda.
Darren menatap kearah pelayan toko laki-laki itu.
"Aku tidak mau tahu cara kerja kalian bagaimana. Pokoknya semua barang-barang itu sudah harus sampai ke alamat yang ada di kartu nama itu paling lambat." Darren menghentikan sejenak perkataannya, lalu matanya menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. "Sekarang pukul 11 siang. Berarti pukul 1 siang semua barang-barang itu sudah harus ada di alamat itu. Jika lewat dari waktu yang sudah ditentukan, maka aku akan buat kalian semua hancur." Darren berbicara dengan penuh penekanan dan juga ancaman.
Mendengar ucapan dari Darren membuat semua pelayan toko itu hanya menunduk takut.
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap kearah ketiga gadis itu dan para pengunjung yang sudah menghina kekasihnya.
"Bagaimana sekarang? Kalian sudah lihatkan kalau mereka semua bisa membayar barang-barang belanjaannya," ucap dan tanya Darren.
"Bahkan mereka semua memborong semua barang-barang yang ada di dalam toko ini," sela Darel.
"Jadi....." Qenan menghentikan ucapannya sejenak.
Qenan menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya yang juga menatap dirinya.
Setelah itu, mereka semua menatap orang-orang yang sudah menghina kekasihnya, termasuk pelayan toko itu.
"Dikarenakan kalian sudah menghina para kekasih kami. Maka bersiap-siaplah apa yang akan terjadi kepada kalian sebentar lagi," ucap Qenan.
"Dalam waktu dua jam dari sekarang. Kalian yang tadinya sudah menghina kekasih kami akan mendapatkan notifikasi dari ponsel kalian. Notifikasi itu dari sebuah internet. Siapa pun bisa melihatnya. Kalian semua akan melihat kejutannya di sana," ucap Dylan dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Ucapkan selamat tinggal dengan kemewahan dan kekayaan kalian. Dan ucapkan selamat datang kepada kemiskinan kalian," ucap Darren dengan menatap satu persatu wajah orang-orang yang sudah menghina kekasihnya dan kekasih dari sahabat-sahabatnya.
Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya pergi meninggalkan toko itu dengan menggandeng masing-masing tangan kekasih mereka. Dan tak lupa membawa barang-barang belanjaan yang telah mereka pilih dari awal mereka berbelanja.
Sementara untuk barang-barang yang lainnya akan diantar oleh pekerja toko itu ke alamat rumah Brenda.
Sedangkan untuk ketiga gadis itu, para pengunjung dan juga pelayan toko itu saat ini tengah ketakutan. Mereka takut menunggu kabar apa yang akan menghampiri mereka dua jam lagi di internet.
Rehan dan Darel diam-diam mengirimkan sebuah video kepada salah satu tangan kanannya Enzo yaitu Justin. Rehan dan Darel meminta kepada Justin untuk menghancurkan keluarga dari orang-orang yang sudah menghina kekasihnya dan juga kekasih sahabat-sahabatnya.
__ADS_1