KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rencana Licik Rolando


__ADS_3

Di kediaman Radmilo terlihat seorang pemuda tampan sedang duduk di sofa ruang tengah. Pemuda itu sedari tadi melamun memikirkan sesuatu. Lebih tepatnya memikirkan seseorang. Terlihat sesekali pemuda itu tersenyum.


Pemuda itu adalah Elzaro Adelino Radmilo. Putra kembar dari Atalaric Radmilo dan Mita Adelia Radmilo.


Radmilo tengah memikirkan gadis yang sudah menabraknya tadi pagi di kampus. Dan seketika bayangan-bayangan wajah gadis itu berputar-putar di kepalanya.


"Gue dari rumah sampai di kampus ini, jalannya sudah menggunakan mata," ucap Saski ketus sembari berdiri dari jatuhnya dan tangannya menepuk-nepuk debu yang ada di celananya."


"Lo-lo mau ngapain? Jangan macam-macam!"


"Maaf! Gue harus pergi!"


Seketika terukir senyuman manis di bibir Elzaro ketika melihat wajah takut dan juga lucu gadis itu.


"Benar-benar cantik. Imut dan menggemaskan," ucap Elzaro tanpa sadar.


Ketika Elzaro masih betah dengan dunianya. Sementara anggota keluarganya yang sedari tadi memperhatikan Elzaro yang sejak tadi melamun bahkan tersenyum. Dan jangan lupa ucapannya tersebut.


Setelah puas memperhatikan Elzaro. Atalaric, Mita dan anggota keluarga lainnya melangkah menuju ruang tengah. Mereka semua tersenyum ketika melihat wajah bahagia Elzaro, terutama Kathleen.


"Ayo! Lagi mikirin siapa!"


Tiba-tiba Kathleen langsung mengejutkan Elzaro yang masih memikirkan gadis yang menabraknya tadi pagi sehingga membuat Elzaro terkejut dan tersadar dari aksi lamunannya.


Elzaro menatap sekitarnya. Dan dapat dilihat olehnya semua anggota keluarganya telah duduk santai di sofa dengan tatapan matanya menatap dirinya.


Sementara Kathleen telah duduk di sampingnya dengan masih menatap wajahnya penuh penasaran.


Elzaro balik menatap saudari kembarnya itu. "Kenapa menatap kakak seperti itu?"


Kathleen tersenyum. "Siapa dia? Apa dia pacar kakak? Cantik nggak? Apa dia juga cinta sama kakak? Siapa namanya? Boleh aku kenal sama dia?"


Elzaro seketika membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan beruntun dari Kathleen. Saudari kembarnya itu memberikan banyak pertanyaan padanya tanpa jeda sama sekali.


Sementara kedua orang tuanya, kedua kakak laki-lakinya dan anggota keluarga lainnya hanya tersenyum melihat Elzaro dan Kathleen.


"Mau tahu atau mau tahu banget?" tanya Elzaro sembari tersenyum.


Mendapatkan pertanyaan balik dari saudara kembarnya membuat Kathleen merengut kesal.


"Apa susahnya sih tinggal jawab," ucap Kathleen kesal.


Elzaro tersenyum gemas melihat wajah merengut saudari kembarnya itu. Dan tangannya terangkat mencubit pelan hidung mancungnya.


"Ih. Apaan sih!"


Kathleen berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping Danesh kakak laki-laki tertuanya. Lalu kemudian langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.


Danesh yang melihat adik perempuannya yang menyandarkan kepalanya di bahunya tersenyum. Dia tidak keberatan kapan pun adik perempuannya itu bermanja-manja dengannya.


***


Di kediaman keluarga Smith semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, kecuali Darren, Gilang, Darka, Dzaky dan Adnan.


"Erica, sini sayang. Ini pake baju dinginnya dulu. Hari ini cuaca dingin. Oma tidak mau kamu sampai jatuh sakit!"


"Iya, Oma. Bentar, Oma! Erica mau isi botol minum dulu untuk dibawa ke kamar!"


Mendengar jawaban dari Erica membuat Agneta dan yang lainnya tersenyum, kecuali si Darren palsu.


Setelah beberapa menit, Erica pun datang sembari membawa botol minuman yang sudah terisi penuh di tangannya.


"Kemarilah!"


Erica langsung mendekati Agneta dan berdiri di hadapan Agneta. Setelah itu, Agneta langsung memakai baju dingin ke tubuh Erica.


"Terima kasih, Oma!"


Erica langsung mengucapkan terima kasih kepada Agneta ketika Agneta telah selesai memakaikan baju dingin ke tubuhnya.


"Sama-sama, sayang!"


"Mari duduk sini dekat Paman!" seru Andra sambil menepuk-nepuk pahanya.


"Nggak ah. Erica duduk dengan Paman Daffa saja," tolak Erica.


"Hahahaha."


Nathan, Ivan dan Melvin langsung tertawa ketika mendengar penolakan dari Erica serta wajah terkejut Andra.


"Dasar adik-adik kurang aja," ucap Andra kesal.


Sementara Daffa sudah sangat bahagia karena keponakan cantiknya lebih memilih duduk bersama dengan dirinya.


"Apa istimewanya anak kecil itu? Lagian dia juga bukan siapa-siapa di keluarga Smith!" tiba-tiba Darren palsu bersuara.


Mendengar ucapan dari pemuda yang mengaku sebagai Darren membuat Davin, Andra dan yang lainnya menatap marah kearahnya.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau bagian dari keluarga Smith?" sindir Andra.


Merasa tersindir membuat pemuda itu menatap tak suka Andra.


Pemuda itu menatap Erland. Dia ingin segera melancarkan aksinya dengan mempengaruhi ayah palsunya itu.


Pemuda itu berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping Erland. Setelah itu, pemuda itu langsung memeluk tubuh Erland.


"Papa, kenapa anak kecil itu ada disini? Dimana orang tuanya?" tanya Darren palsu itu.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Darren palsu membuat Davin, Andra, Daffa, Tristan, Davian dan yang lainnya menatap marah kearahnya.


"Bukankah dia putri angkatmu!" seru Erland.


"Kenapa Papa bisa bicara seperti itu? Kapan aku mengadopsi anak?" tanya Darren palsu bingung.


"Davin yang memberitahu Papa bahwa kau mengadopsi seorang anak perempuan," jawab Erland dengan ekspresi wajah biasa.


Mendengar jawaban dari Erland membuat Darren palsu tak terima. Sementara Davin, Andra dan anggota keluarga lainnya tersenyum kemenangan.


"Papa," panggil Davin.


"Iya, sayang!"


"Lebih baik Papa istirahat di kamar. Jika Papa lama-lama disini. Bisa-bisa otak Papa tercemar."


"Baiklah."


Erland langsung berdiri dari duduknya. Setelah itu, Erland langsung melangkah menuju kamarnya.


"Lebih baik Mama temani Papa," ucap Andra.


"Baiklah, sayang!"


Agneta pun berdiri dan menyusul suaminya.


Davin, Andra, Daffa, Tristan dan Davian menatap tajam kearah Darren palsu.


"Kau pikir bisa mempengaruhi Papaku, hah?!" bentak Davin.


"Jangan harap kau bisa mempengaruhi otak Papaku. Sekali pun Papa tidak mengingat Darren, putra kesayangannya. Dan menganggap kamu adalah putranya. Kami tidak akan diam saja melihatmu berusaha untuk mempengaruhi Papa. Kami semua sudah menceritakan semua kebiasaan yang dilakukan Darren. Kami juga menceritakan apa yang disukai dan tidak disukai Darren. Jadi...." Andra menghentikan perkataannya sejenak lalu tatapan matanya menatap kearah Davin kakak laki-lakinya itu.


"Jadi, berhati-hatilah setiap melakukan sesuatu. Jika kau salah melangkah dan jika kau salah berucap, maka kebohonganmu akan terbongkar di depan Papa." Davin melanjutkan perkataan Andra yang terhenti.


Ketika mereka sedang menyidang Darren palsu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara bell.


Mendengar suara bell itu, Melvin langsung berdiri dan melangkah menuju ruang tamu.


Dan beberapa detik kemudian, Melvin datang bersama dengan Darren dan ketujuh sahabatnya.


"Apa kedatanganku mengganggu?!"


Mendengar pertanyaan dari Darren, mereka semua melihat kearah Darren. Dan seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing.


"Darren!" seru mereka semua, kecuali Darren palsu.


"Papa!"


Erica langsung berlari memeluk Darren. Dia benar-benar merindukan ayah angkatnya itu.


"Erica rindu Papa!"


"Sudah, Papa! Paman Davin sudah cerita semuanya sama Erica. Dan Erica nggak keberatan," jawab Erica.


Mendengar jawaban dari Erica membuat Darren tersenyum bangga. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ehem... Ehem!"


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel berdehem bersamaan. Mereka melakukan hal itu untuk menyadarkan Erica bahwa ada mereka juga yang berstatus sebagai ayah angkatnya.


Erica yang mengerti akan suara deheman tersebut langsung melepaskan pelukannya. Lalu matanya menatap satu persatu wajah ayah angkatnya yang lain.


"Hehehehe."


Erica seketika terkekeh ketika melihat wajah ketujuh ayah angkatnya yang saat ini menatap kesal dirinya.


"Maafkan Erica, Papa-Papa Erica yang tampan.


Setelah mengatakan itu, Erica langsung memeluk para ayah angkatnya itu secara bergantian.


"Darren," panggil Davin.


"Iya, kakak Davin. Ada apa?" tanya Darren.


"Kenapa hanya kamu yang pulang? Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian dan Mathew mana?" tanya Davin.


"Mereka di rumah. Aku dan ketujuh sahabatku langsung kesini setelah selesai dengan kuliah," jawab Darren.


"Jadi kamu belum pulang ke rumah kamu sama sekali?" tanya Evan.


"Belum Paman."


"Terus bagaimana dengan Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian dan Mathew? Mereka pasti khawatir karena kamu belum pulang," sahut Carissa.


Darren tersenyum mendengar perkataan dari sang Bibi. "Bibi tidak perlu khawatir. Aku sudah mengabari kakak Dzaky. Aku mengatakan kepada kakak Dzaky kalau aku akan kesini dulu sebelum pulang ke rumah."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Carissa menghela nafas lega. Begitu juga dengan yang lainnya.


Darren melihat kearah pemuda yang mengaku sebagai dirinya. Seketika terukir senyuman di bibirnya.


"Hei, kita bertemu disini! Bagaimana? Enak ya menjadi diriku?" tanya Darren menyindir.


Davin, Andra dan yang lainnya tersenyum mengejek kearah Darren palsu.


"Siapa kau? Aku tidak mengenalimu. Lebih baik kau pergi dari sini!" bentak Darren palsu itu.


Darren seketika tersenyum mendengar perkataan dan bentakkan dari pemuda yang mengaku sebagai dirinya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya dan anggota keluarganya.

__ADS_1


"Sudahlah. Tidak usah berpura-pura. Saat ini Papaku tidak ada. Jadi, kau bisa menggunakan identitasmu sendiri," ucap Darren tersenyum.


"Oh iya! Namamu adalah Rogert, bukan? Sayangnya aku tidak tahu nama Margamu. Tapi kamu nggak perlu khawatir. Sebentar lagi aku akan mendapatkan nama dari Margamu itu," sahut Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Darren palsu itu mengumpat kesal.


"Udah sana. Masuk ke kamar lalu tidur. Kamu tidak dibutuhkan disini. Lagian kami ingin bernostalgia bersama. Jika ada kau disini, maka hancurlah semuanya." Dylan berucap dengan sangat kejamnya. Dan tatapan matanya menatap jijik kearah Darren palsu.


Mendengar ucapan kejam dari Dylan membuat Darren palsu itu menatap marah kearah Dylan.


"Awas kau. Tunggu pembalasanku," batin Darren palsu.


Sementara Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel. Serta anggota keluarganya tersebut mendengar perkataan pedas dari Darren. Mereka semua sangat puas ketika melihat wajah marah dari Darren palsu itu.


"Sudah sana! Ngapain masih disini," usir Jerry dengan mengibas-ngibaskan tangannya.


Dengan wajah penuh amarah, Darren palsu itu pun akhirnya pergi menuju kamarnya.


"Hahahaha!"


Tawa Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel akhirnya pecah ketika melihat wajah marah dari Darren palsu.


"Kamu ini Dylan. Udah seperti perempuan saja kalau ngomongnya. Pedas banget," ucap Carissa tersenyum.


"Bibi Carissa baru tahu ya," sela Qenan.


"Diantara kita, sikurus ini yang ngomong nggak pernah disaring. Asal keluar aja," sindir Willy.


Mendengar ucapan dari Willy membuat Dylan menatap kesal kearah Willy.


"Dasar jangkung sialan," umpat Dylan.


Darren melihat kearah kakak laki-laki tertuanya itu.


"Kakak Davin," panggil Darren.


"Iya, Ren!" Davin menjawab panggilan dari Darren.


"Bagaimana kondisi Papa?" tanya Darren.


"Kamu tidak perlu khawatir. Papa baik-baik saja," jawab Davin.


"Kita nggak akan ninggalin Papa sedikit pun. Bahkan kita menjaga Papa secara bergantian," ucap Andra.


"Baguslah kalau begitu. Selama Papa Amnesia. Dan selama aku tidak tinggal disini. Aku titip Papa kepada kalian," ucap Darren dengan menatap semua anggota keluarganya.


"Pasti, Ren!" seru Daffa, Tristan dan Davian bersamaan.


"Kita akan jagain Papa. Kita tidak akan membiarkan hal yang buruk menimpa Papa," ucap Nathan.


"Selama kakak Darren tidak disini. Papa akan jadi tanggung jawab kita semua," sahut Ivan.


"Kita akan jagain Papa dengan baik," ucap Melvin.


Darren tersenyum mendengar jawaban-jawaban dari anggota keluarganya.


***


Di kediaman Santa, di sebuah ruangan terlihat seorang pemuda tengah duduk di kursi kebesarannya sembari memegang sebuah gelas yang berisi wine. Pemuda itu adalah Rolando Santa.


Ronaldo saat ini tengah memikirkan rencana selanjutnya untuk menghancurkan Darren, ketujuh sahabatnya dan semua anggota keluarganya.


Namun terlebih dahulu, Rolando akan bermain-main dengan salah satunya yaitu Darrendra Smith.


Diantara Darren dan ketujuh sahabatnya. Rolando berpikir bahwa Darren adalah musuh terkuatnya. Bukan hanya pintar dalam segala hal, namun Darren terkenal dengan otak liciknya. Salah satunya adalah Darren sangat memahami keadaan sekitarnya sehingga dengan mudah mengetahui siapa saja musuhnya dan apa yang dilakukan oleh musuhnya itu.


Maka dari itu, Rolando berusaha untuk tidak sampai termakan dengan rencananya sendiri. Dia menyiapkan rencananya dengan sangat hati-hati.


"Darren, tunggu saja kejutan-kejutan kecil dariku."


Ketika Rolando sedang memikirkan rencana selanjutnya untuk Darren, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Rolando melihat kearah layar ponselnya. Dan terlihat nomor seseorang yang begitu dia sayangi.


Tanpa membuang waktu lagi, Rolando langsung menjawab panggilan tersebut.


"....."


"Ada apa, hum?"


"....."


"Apa yang mereka lakukan padamu?"


"....."


Mendengar jawaban dari seseorang di seberang telepon membuat Rolando marah.


"....."


"Kau tenang saja. Dan bersabarlah. Sebentar lagi mereka semua akan hancur. Tetap jalanin rencana yang sudah kakak atur."


"....."


"Ya, sudah. Lebih baik sekarang kau matikan panggilannya. Jangan sampai mereka mengetahuinya."


"....."

__ADS_1


Setelah itu, seseorang di seberang telepon langsung mematikan panggilannya.


__ADS_2