KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Obrolan Kakak Dan Adik


__ADS_3

Di lokasi yang berbeda dan di waktu yang sama dimana tiga keluarga yaitu keluarga Visser, keluarga Hendriks dan keluarga Taylor kini tengah ribut besar. Para kepala keluarga atau para suami meluapkan kemarahannya kepada istrinya atas apa yang diperbuat oleh istrinya itu.


"Sekarang, pergi kamu! Tinggalkan rumah ini!"


"Kau boleh kembali ke rumah, jika perusahaanku kembali lagi padaku!"


"Selama perusahaanku belum kembali. Selama para ayah dari anak yang telah kau hina itu memberikan maaf. Jangan harap kau bisa kembali ke rumah ini!"


Itulah kata-kata kejam yang keluar dari mulut Tuan Visser, Tuan Hendriks dan Tuan Taylor untuk istrinya yang telah melakukan hal buruk diluar rumah.


"Tidak, Sayang."


"Jangan usir aku dari rumah ini."


"Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Nyonya Visser, Nyonya Hendriks dan Nyonya Taylor tersebut bersujud di hadapan suaminya sembari memohon pengampunan.


Sementara anak-anaknya yang menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya sudah dalam keadaan menangis.


"Papa, jangan usir Mama!"


"Papa, aku mohon. Biarkan Mama tetap di rumah ini."


"Papa... Hiks..."


Tuan Visser, Tuan Hendriks dan Tuan Taylor seketika melihat kearah anak bungsunya yang saat ini sudah dalam keadaan menangis.


"Masuk kamu ke dalam kamar, sekarang!"


"Ini juga semua salah kalian. Jika kalian berkelakuan baik selama diluar rumah, maka hal ini tidak akan terjadi!"


"Papa... Hiks...,"


"Masuk ke dalam kamar atau kalian pergi bersama ibu kalian!"


Mendengar ucapan sekaligus ancaman dari ayahnya membuat gadis kecil itu langsung berlari menuju kamarnya sembari menangis.


"Pergi!"


Tuan Visser, Tuan Hendriks dan Tuan Taylor berteriak di hadapan istrinya sembari menunjuk kearah pintu keluar.


Dan pada akhirnya Nyonya Visser, Nyonya Hendriks dan Nyonya Taylor pun pergi meninggalkan kediaman Hendriks, kediaman Taylor dan kediaman Visser.


***


[KEDIAMAN SMITH]


Darren saat ini tengah bersantai di ruang tengah sembari mengecek beberapa tugas kantornya. Dirinya tampak fokus menatap layar laptopnya tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya.


Disaat Darren sedang sibuk dengan dunianya, keenam kakak-kakaknya datang menghampirinya. Mereka tersenyum ketika melihat Darren yang begitu fokus menatap layar laptopnya sehingga tidak menyadari kehadirannya.

__ADS_1


Kini keenam kakak-kakaknya telah duduk di sofa dengan Gilang dan Darka duduk di samping adik kesayangannya.


Seketika Darka tersenyum evil sembari menatap kearah Darren yang saat ini masih fokus menatap layar laptopnya. Sedangkan Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Darka.


Darka berlahan mendekatkan tubuhnya kearah Darren, seolah-olah dirinya hendak ikut melihat kearah layar laptop milik Darren.


Detik kemudian...


"Lagi ngeliatin apa sih?" Darka seketika bersuara.


Seketika Darren terlonjak kaget ketika mendengar suara kakak keenamnya bersamaan dengan kata-kata indah yang keluar dari mulutnya.


"Sialan, bajingan, monyet, kampret!"


"Hahahaha."


Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan sekaligus umpatan dari Darren akibat terkejut karena ulah Darka.


Sementara Darka seketika membelalakkan matanya dengan menatap kearah Darren ketika mendengar ucapan indah yang keluar dari mulut adik kesayangannya itu.


Darren mengalihkan pandangannya dari layar laptop miliknya lalu menatap kakak aliennya itu. Darren menatap dengan tatapan mata yang tajam dan bibir yang mengeluarkan sumpah serapahnya.


Tak..


Darka seketika menjitak kening putih adiknya sehingga membuat adiknya itu meringis.


Darren kembali menatap kearah layar laptopnya bersamaan dengan ucapan kekesalannya.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang tersenyum mendengar ucapan Darren. Begitu juga dengan Darka.


"Ini hari Minggu loh, Ren! Masih kerja aja kamu," ucap Davin.


Darren melihat kearah kakak tertuanya yang juga tengah menatap dirinya sembari tersenyum.


"Cuma ngecek doang, kak. Ada beberapa email masuk dari Qenan dan Willy. Dan ada juga email dari sekertaris dan asistenku di perusahaan Accenture dan perusahaan Micro Sinopec," jawab Darren.


"Apa tidak bisa besok saja di cek nya? Bagaimana pun kamu butuh refreshing, Ren!" Kini Andra yang berbicara.


Darren tersenyum mendengar ucapan dari kakak pucatnya itu. "Takut kelupaan, kak. Dan juga aku tidak mau menumpuk pekerjaan. Bagi aku, jika bisa dikerjakan sekarang. Kenapa harus nunggu nanti-nanti?"


Andra tersenyum mendengar jawaban dari adik bungsunya itu. Dia benar-benar bangga akan adiknya itu. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


Davin berdiri dari duduknya lalu melangkah menghampiri adik kelincinya itu.


Melihat itu, Gilang langsung memberikan ruang untuk kakak tertuanya agar bisa duduk di samping adik kesayangannya.


Davin tersenyum menatap wajah tampan adik bungsunya bersamaan dengan tangannya mengusap lembut pipi putih dan berlanjut mengusap kepalanya.


"Kakak bangga sama kamu, Ren! Benar-benar bangga. Jika Mama kita masih hidup, maka Mama orang pertama menatap kamu dengan tatapan bangga. Mama akan memeluk kamu dan memberikan ciuman-ciuman sayang di kening dan di kedua pipi kamu."


"Aku merindukan Mama," ucap Darren dengan suara lirihnya.

__ADS_1


"Kakak juga merindukan Mama."


Davin menggenggam tangan adiknya lalu menciumi punggung tangan adiknya itu.


"Maafkan kakak yang masih belum sempurna menjadi kakak untuk kamu. Maafkan kakak yang dulu gagal jagain kamu sehingga membuat kamu berulang kali terluka."


"Jika waktu bisa diputar ulang, kakak akan melakukan tugas kakak dengan sangat baik untuk semua adik-adiknya kakak terutama untuk kamu. Kakak akan melakukan tugas kakak sebagai seorang kakak sekaligus seorang Mama untuk kamu. Dan kakak tidak akan melakukan kesalahan."


Davin seketika menangis ketika mengucapkan kata-kata itu di hadapan adiknya. Alasan Davin sampai mengatakan kata-kata itu di hadapan adiknya karena dirinya melihat bagaimana perjuangan adik bungsunya itu tanpa dirinya dan keluarganya ketika mendirikan sebuah perusahaan sehingga menjadi CEO yang sukses dan terkenal.


Seharusnya adiknya itu statusnya sama seperti Gilang, Darka dan kelima adiknya yang lain yaitu menikmati hasil kerja kerasnya, hasil kerja keras ayahnya dan hasil kerja keras dari Andra, Dzaky dan Adnan. Justru adiknya itu sudah memiliki uang sendiri. Bahkan memiliki kekayaan sendiri.


Darren yang melihat kakaknya yang menangis langsung memberikan pelukan hangatnya. Dia tahu apa penyebab kakaknya sampai menangis.


"Bagi aku kakak Davin adalah segalanya. Kakak tidak perlu melakukan apa pun hanya untuk menjadi kakak yang baik untukku."


"Jika kakak ingin menjadi kakak yang baik untukku. Cukup dengan kakak selalu ada di sampingku, selalu memberikan bahu kakak untuk aku bersandar ketika aku lelah, memberikan aku semangat dan dukungan ketika aku bekerja. Serta membelikan semua apa yang aku inginkan."


Seketika Davin membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan terakhir dari Darren yang mengatakan bahwa dia harus membelikan semua yang diinginkan adik bungsunya itu. Begitu juga dengan Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka tidak menyangka jika Darren akan menyelipkan kata-kata itu dibagian akhir.


Namun detik kemudian Davin tersenyum. Dirinya tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk membelikan apa yang diinginkan oleh adik manisnya ini. Bagi Davin, adik manisnya ini berhak atas uangnya.


Davin kemudian melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tampan adik bungsunya itu sembari tersenyum.


"Kakak akan melakukan semuanya demi kamu dan demi semua adik-adiknya kakak. Kakak juga akan mengabulkan semua keinginan kamu."


Darren seketika tersenyum. "Benarkah?"


"Hm!" Davin menganggukkan kepalanya sembari berdehem.


"Kakak nggak akan ingkar janji kan?"


"Nggak akan. Kakak akan melakukan apapun untuk kebahagiaan semua adik-adiknya kakak. Terutama kamu, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka."


"Kita juga akan melakukan apa pun untuk kamu, Ren!" seru Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.


Darren tersenyum ketika mendengar janji semua kakaknya bersamaan dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya itu.


"Tapi tetap utamakan kebahagiaan kalian pribadi karena itu adalah hak kalian," ucap Darren.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum mendengar ucapan dari Darren.


Tanpa diketahui oleh Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan Darren. Sejak tadi Erland mendengar ucapan demi ucapan dari ketujuh putranya dari mendiang istri tercintanya Belva. Erland menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari ketujuh putranya itu.


Erland baru selesai mengerjakan proposal untuk proyek lusa di ruang kerjanya. Selesai urusannya di ruang kerja, Erland memutuskan untuk keluar menemui istri dan semua putra-putranya.


Namun seketika langkah Erland terhenti ketika mendengar samar-samar suara beberapa orang mengobrol di ruang tengah. Dengan penuh penasaran, Erland pun melangkah menuju ruang tengah.


Erland melihat ketujuh putranya dari mendiang istri tercintanya tengah mengobrol kecil. Erland tidak langsung menghampiri ketujuh putranya itu, melainkan Erland menguping dan mendengarkan pembicaraan ketujuh putranya itu.


"Papa bangga kepada kalian semua. Papa menyayangi kalian. Tetaplah sehat, nak! Terutama kamu, Darren!"

__ADS_1


__ADS_2