
Di kediaman keluarga Smith tampak ramai dimana semua berkumpul disana.
Mulai dari anggota keluarga ketujuh sahabatnya Darren, anggota keluarga Radmilo, Brenda dan ketujuh sahabatnya.
Seperti yang dikatakan oleh Celsea bahwa Darren tidak perlu dirawat di rumah sakit. Darren boleh pulang ke rumah.
Namun Darren harus banyak istirahat. Tidak boleh tertekan. Apalagi kembali stres.
Untuk semua tugas-tugasnya, baik tugas kantor, galeri, showroom sampai tugas kampus. Semua itu akan diambil alih oleh Gilang, Darka dan ketujuh sahabatnya. Dan dibantu oleh Elzaro, Brenda dan ketujuh sahabatnya.
Sementara Darren hanya bisa pasrah dan menurut akan perintah dari anggota keluarganya dan orang-orang terdekatnya itu.
Jika boleh jujur, Darren memang sangat membutuhkan istirahat. Dirinya benar-benar lelah beberapa hari ini. Begitu banyak masalah yang menghampirinya.
Semuanya saat ini berada di ruang tengah. Sementara Darren berada di dalam kamarnya sedang beristirahat.
"Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan kembali ke perusahaan Accenture. Aku benar-benar tidak tega melihat Darren sendirian mengurus perusahaannya," ucap Qenan dengan penuh keyakinan.
"Aku juga sama seperti Qenan. Aku juga akan kembali ke perusahaan Accenture," sela Willy.
"Kami juga akan kembali ke Galeri!" seru Darel dan Rehan.
"Masalah perusahaan kami. Kami akan kembali memberikan kepercayaan kepada empat tangan kanan kami," ucap Rehan.
Qenan, Willy, Rehan dan Darel sudah bertekad untuk kembali bekerja di perusahaan Accenture dan Galeri Lukisan Darren. Mereka benar-benar tidak tega membiarkan Darren bekerja sendirian.
"Alasan kami kembali karena kami sudah 10 tahun bekerja di perusahaan Accenture dan juga di Darren Galery Of Art. Selama ini pekerjaan Darren sedikit ringan. Dengan kata lain, Darren bisa fokus ke perusahaan Accenture bersama Qenan dan Willy. Sementara untuk urusan Galeri dan Showroom. Kedua usaha itu tidak terlalu banyak menyita waktu. Dan juga sedikit santai. Sibuk dan fokus ketika ada pesanan dari para pelanggan." Darel mengungkapkan alasannya kembali ke Darren Galery Of Art.
"Sejak ulang tahun perusahaan Accenture beberapa bulan yang lalu. Sejak itulah Darren meminta kami semua untuk fokus sama perusahaan kami masing-masing. Dia meminta kami untuk bertanggung jawab disana," ucap Qenan.
__ADS_1
"Awalnya kami berat meninggalkan Darren dan membiarkan Darren mengurus perusahaan Accenture dan Galeri Lukisannya sendiri. Tapi Darren terus meyakinkan kami sehingga membuat kami mau tidak mau mengabulkan keinginannya itu," pungkas Willy.
"Setelah tidak adanya kami di perusahaan Accenture dan juga di Darren Galery Of Art membuat tubuh Darren seketika terkejut. Yang biasanya Darren berbagi tugas dengan kami. Sekarang Darren harus melakukannya sendiri sampai Darren memforsir semua tenaganya demi tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan Accenture dan pemilik Darren Galeri Of Art." Rehan berbicara dengan mimik wajah yang sedih ketika membayangkan bagaimana pucatnya sahabatnya itu ketika masuk ke rumah sakit kemarin.
"Dan ditambah lagi masalah bermunculan secara bertubi-tubi sehingga membuat Darren benar-benar lelah, tertekan, jantungnya kambuh dan berakhir pingsan," sela Jerry.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel membuat semua anggota keluarga tersenyum bahagia dan juga bangga akan perhatian dan kepedulian Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terhadap Darren.
"Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel. Kakak Davin sebagai kakak laki-laki tertua Darren mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepedulian kalian terhadap Darren. Kakak benar-benar bahagia dan bangga kepada kalian. Terima kasih kalian selamat 16 tahun selalu ada untuk Darren." Davin seketika menangis ketika mengatakan hal itu di hadapan ketujuh sahabat adik laki-lakinya.
Mendengar ucapan terima kasih dan melihat Davin menangis membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel ikut merasakan kesedihan yang sama. Mereka semua paham akan perasaan Davin selama ini.
"Kakak Davin tidak perlu mengatakan itu kepada kami. Kami semua tulus melakukan semua itu terhadap Darren," ucap Darel.
"Kalau kami boleh jujur. Diantara kami, Darren lah yang banyak berkorban. Selama 16 tahun persahabatan kami, Darren banyak membantu kami. Baik itu langsung maupun tidak langsung," ujar Dylan.
"Jika ada yang menghina kami dan keluarga kami. Darren lah orang pertama yang akan bertindak," ucap Qenan.
Axel mengungkapkan semua sifat dan karakter Darren yang sesungguhnya. Dan tanpa diminta, air mata Axel jatuh membasahi wajahnya ketika mengatakan semua sifat dari sahabatnya itu.
"Moto hidup kami adalah saling berbagi, saling merangkul, saling memberikan kekuatan dan semangat. Baik suka, duka, sedih dan bahagia. Kami akan selalu bersama-sama," ucap Jerry.
"Jika satu sakit, maka kami semua juga ikut sakit. Jika satu bahagia, kami juga ikut bahagia. Dan jika salah satu dari kami mendapatkan masalah, maka kami semua dibuat gila. Kenapa? Karena masalah yang dihadapinya itu bukan masalah besar. Tapi seolah-olah masalah itu adalah masalah besar dan harus segera ditangani."
Rehan berbicara sembari tersenyum membayangkan ketika mengingat bagaimana dulu Darren pernah mengerjai dirinya dan yang lainnya tentang permasalahan yang dihadapinya.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel membuat mereka semua tersenyum. Bahkan mereka semua paham arti dari senyuman Rehan. Mereka meyakini bahwa Rehan tengah mengingat momen dimana dirinya dan ketujuh sahabatnya tengah menyelesaikan masalah dari salah satu sahabatnya.
Tanpa mereka semua sadari bahwa pembicaraan mereka didengar oleh seseorang. Orang itu adalah Darren.
__ADS_1
Ketika mereka asyik bercerita. Adrian tak sengaja melihat sosok Darren yang berdiri di salah satu anak tangga. Posisi Darren berada di tengah-tengah anak tangga.
"Kakak Darren," panggil Adrian.
Deg..
Mereka semua terkejut ketika mendengar Adrian menyebut nama Darren. Mereka takut jika Darren mendengar semuanya.
Secara bersamaan mereka semua menatap kearah dimana Darren berada. Dan dapat mereka lihat bahwa Darren berdiri di tengah-tengah anak tangga dengan tatapan matanya menatap kearah ruang tengah.
"Darren!" seru mereka semua, termasuk ketujuh sahabatnya.
Darren menatap dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya ketika mendengar perkataan dan keputusan yang dibuat oleh Qenan, Willy, Rehan dan Darel yang akan kembali bekerja di perusahaan Accenture dan Darren Galery Of Art.
Yang membuat Darren menangis adalah bahwa keempat sahabatnya itu tidak tega melihat dirinya bekerja sendirian mengurus perusahaan Accenture dan juga mengurus Darren Galery Of Art sendirian.
"Terima kasih kalian selalu ada untukku. Terima kasih kalian selalu memikirkan dan peduli akan kondisi kesehatanku. Aku bersyukur memiliki kalian. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian," batin Darren yang tatapan matanya menatap kearah ketujuh sahabatnya itu.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel seketika berdiri. Tatapan mata mereka menatap kearah Darren.
"Ren," panggil panggil Axel.
Sementara Darren tetap di posisinya dengan tatapan matanya masih fokus menatap kearah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Setelah puas menatap wajah ketujuh sahabatnya. Darren pun kembali menuju kamarnya. Dirinya tidak jadi menghampiri anggota keluarga dan yang lainnya di ruang tengah.
Melihat Darren yang tiba-tiba pergi membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel merasakan kesedihan di dalam hatinya. Mereka memahami kondisi Darren saat ini. Mereka berpikir bahwa Darren menyalahkan dirinya atas keputusan yang mereka buat.
"Ren!" seru mereka bersamaan.
__ADS_1
Setelah itu, mereka berlari menyusul Darren ke kamarnya. Mereka akan berusaha memberikan keyakinan kepada Darren akan keputusan yang mereka buat.