KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Surat Ancaman


__ADS_3

Melihat kedatangan Gilang, Darka dan Darren membuat hati mereka semua bahagia. Apalagi saat melihat kedatangan Darren.


"Ivan. Panggilkan Papa dan Mama kalian!" seru Carissa.


"Baik, Bibi." Ivan langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar kedua orang tuanya.


Darka, Gilang dan Darren telah duduk di sofa ruang tengah. Darren hanya memperlihatkan wajah datar dan dinginnya.


"Darren, sayang." Carissa menyapa keponakan manisnya itu.


Darren langsung melihat kearah Bibinya. Darren memperlihatkan senyumannya pada Bibi kesayangannya itu.


"Iya, Bibi."


Carissa bahagia mendengar suara keponakan manisnya. Bagaimana pun sikapnya, tapi keponakannya itu masih bersikap manis padanya.


"Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya Carissa.


"Aku baik, Bibi. Seperti yang Bibi lihat saat ini," jawab Darren.


"Ach, syukurlah! Bibi senang mendengarnya. Jangan sakit-sakit lagi, oke!" ucap Carissa.


"Hm." Darren menjawab dengan deheman.


"Darren, sayang!" seru Erland yang sedang melangkah menuju ruang tengah bersama Agneta dan Ivan.


Mereka semua yang ada di ruang tengah melihat kearah Erland, Agneta dan Ivan.


GREP


Erland langsung memeluk tubuh putra bungsunya saat dirinya sudah duduk di samping putra bungsunya itu.


"Darren," lirih Erland.


"Papa," ucap Darren.


Saat Darren ingin melepaskan pelukan Ayahnya, Erland bersuara. "Biarkan seperti ini untuk beberapa menit, sayang. Papa benar-benar takut."


Darren pun mengiyakan keinginan Ayahnya itu. "Kenapa Papa seperti ini? Apa terjadi sesuatu?" batin Darren.


Setelah puas memeluk putra bungsunya, Erland kemudian melepaskan pelukannya.


Mereka semua menatap Erland. Mereka dapat melihat ada kelegaan yang tersirat di kedua matanya.


"Ada apa, Pa? Kak Darka bilang kalau Papa tengah gelisah dan juga ketakutan?" tanya Darren.


"Apa Papa memikirkan kerja sama dan proyek besar besok pagi? Kan aku udah bilang di telepon kemarin. Papa tidak perlu khawatir dan memikirkan hal-hal lain. Papa cukup fokus aja sama kerja sama dan proyek itu. Semuanya sudah diatur oleh kakak-kakak mafiaku. Mereka sudah mengurus semuanya. Kenapa Papa jadi gini sih?" ucap dan tanya Darren yang sedikit kecewa akan sikap Ayahnya.


Mendengar perkataan Darren dan melihat wajah kecewa putranya, Erland jadi merasa bersalah. Kalau boleh jujur, dirinya tidak ingin seperti ini. Tapi Erland masih memikirkan kejadian saat di ruang kerja kantornya.


"Hah." Darren menghela nafas saat melihat wajah sedih dan wajah menyesal Ayahnya. Darren pun menjadi tidak tega.


Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum bahagia melihat bagaimana Darren yang berusaha berbicara lembut dan berusaha menenangkan Ayahnya.


"Maafkan aku, Pa! Aku tidak bermaksud menyalahkan Papa. Sekarang katakan padaku. Ada apa? Kenapa Papa jadi begini?" tanya Darren lembut.


Erland memberanikan menatap kedua mata putra bungsunya itu. Ketika Erland ingin membuka suara, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.


"Sebentar, Pa." Darren mengambil ponselnya di dalam saku celananya.


Saat ponsel itu sudah berada di tangannya. Darren melihat nama 'Willy' di layar ponsel miliknya itu. Tanpa membuang-buang waktu, Darren langsung menjawab panggilan dari Willy.


"Hallo, Willy."


"Hallo, Ren. Apa kau sudah tidur?"


"Kalau aku sudah tidur. Lalu siapa yang sedang berbicara denganmu saat ini, kampret."


Mendengar ucapan dari Darren. Anggota keluarganya tersenyum.


"Sensi amat jadi cewek."


"Willyyyy" teriak Darren.


Baik Willy maupun anggota keluarganya menutup telinganya saat mendengar teriakan dari Darren.


"Oke.. oke! Maafkan aku. Aku serius. Apa kau sudah mau tidur? Itu maksudku tadi."


"Awalnya aku sudah tidur, tapi aku dibangunkan oleh dua makhluk aneh yang saat ini menumpang di rumahku." Darren menjawab pertanyaan dari Willy sembari menjahili kedua kakaknya yaitu Darka dan Gilang.

__ADS_1


Gilang dan Darka yang mendengar perkataan Darren seketika membelalakkan kedua matanya. Mereka menatap horor Darren. Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum melihat ketiganya.


"Inilah yang kami rindukan selama setahun ini," batin mereka semua, kecuali Gilang, Darka dan Darren.


"Ada apa?"


"Begini, Ren. Papa barusan bercerita padaku. Saat di kantor Papa mendapatkan sebuah surat yang dituliskan dengan darah. Surat itu diletakkan di depan mobil Papa."


"Apa?" teriak Darren saat mendengar penuturan dari Willy.


"Iya, Ren. Bahkan kau akan lebih terkejut lagi saat aku mengatakan ini."


"Apa? Katakan?"


"Bukan Papaku saja yang mendapatkan surat itu, Ren. Tapi semuanya, termasuk Paman Erland. Lebih baik kau pulanglah ke rumah. Mungkin saat ini Paman Erland membutuhkanmu."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Willy membuat Darren geram. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Samuel sudah berani bermain-main dengan anggota keluarganya. Darren melirik sekilas Ayahnya, lalu kembali menatap ke depan.


"Aku sekarang di rumah Papa. Bagaimana keadaan mereka saat mendapatkan surat itu?"


"Yang jelas mereka semua shock, Ren. Tapi sekarang mereka sudah baik-baik saja. Bahkan Qenan, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel juga sudah menenangkan Ayah mereka."


"Sekarang bagaimana, Ren?"


"Kita tunggu kabar dari salah satu kakak-kakak mafia kita. Aku yakin mereka pasti tahu masalah ini dan mereka pasti akan menghubungi salah satu dari kita."


"Ya. Sudah kalau begitu, Ren! Aku tutup teleponnya. Kau bicaralah pada Papamu."


"Hm."


Setelah mengatakan hal itu, baik Darren maupun Willy sama-sama mematikan teleponnya.


Darren langsung menatap wajah Ayahnya. "Sekarang katakan padaku. Apa Papa mendapatkan sebuah surat yang bertuliskan dengan darah?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat anggota keluarga lainnya terkejut. Sementara Erland masih diam. Dirinya benar-benar takut saat ini. Erland mengingat saat dirinya mendapatkan surat tersebut.


Flasback On


Erland saat ini tengah berjalan menuju ruang kerjanya. Saat sudah tiba di depan ruang kerjanya, Erland langsung membuka pintu ruang kerjanya itu.


CKLEK


Erland melangkah menuju meja kerjanya, namun seketika matanya melihat sebuah amplop di atas meja kerjanya itu.


Erland mengambil amplop itu lalu membukanya.


SREEKK


Erland merobek bagian atas amplop itu. Setelah itu Erland mengeluarkan isinya. Erland pun membacanya.


Seketika Erland membelalakkan matanya ketika membaca isi surat itu. Tiba-tiba tubuh Erland merosot ke lantai. Dirinya benar-benar shock akan isi surat itu.


Flasback Off


Melihat Ayahnya yang masih diam membuat Darren menghela nafasnya.


"Papa," panggil Darren dengan sedikit berteriak.


Mendengar panggilan dari Darren yang begitu keras membuat Erland tersadar.


"Sa-yang," lirih Erland dengan suara bergetarnya.


"Maafkan aku." Darren benar-benar menyesal telah berteriak di depan Ayahnya. Darren melakukan hal itu semata-mata hanya ingin menyadarkan Ayahnya. Tidak lebih.


"Papa. Katakan padaku. Apa Papa mendapatkan surat yang bertuliskan dengan darah?" Darren bertanya dengan sedikit lembut. Darren tahu saat ini Ayahnya masih shock akan surat itu.


Erland menatap wajah putra bungsunya dengan tatapan sendunya. Erland benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya benar-benar takut saat ini. Bukan takut akan kehilangan Perusahaannya, namun takut akan hal lain.


"Ya, sudah kalau begitu. Jika Papa tidak mau memberitahuku untuk apa aku ada disini. Lebih baik aku pulang," ucap Darren.


Darren langsung berdiri dari duduknya. Mereka yang melihat hal itu terkejut.


"Darren," lirih mereka.


Saat Darren ingin melangkah, Erland sudah terlebih dahulu memegang tangannya.


"Jangan sayang.. hiks." mohon Erland disertai isakannya.


"Papa."

__ADS_1


"Sayang."


"Kakak Erland."


"Paman Erland."


Mereka semua berucap dengan lirih ketika melihat keadaan Erland saat ini.


Darren kembali menduduki pantatnya dan menatap wajah Ayahnya itu.


"Sekarang jawab pertanyaanku yang tadi!"


"Iya. Papa mendapatkan surat yang bertulis dengan darah," jawab Erland.


Mereka yang mendengar pengakuan Erland terkejut. Sekarang mereka tahu alasan Erland yang ketakutan, gelisah, serta memiliki perasaan yang tidak enak.


"Mana suratnya? Berikan padaku. Aku mau tahu isinya apa," ucap dan tanya Darren. 


Erland menatap wajah tampan putra bungsunya itu dengan air mata yang mengalir membasahi wajah tampannya. Mereka yang melihatnya menangis menjadi tidak tega.


"Papa," lirih Darren.


GREP


Erland kembali memeluk tubuh putra bungsunya. Kali ini pelukannya begitu erat.


Darren yang mendapatkan pelukan yang kedua kalinya dari Ayahnya membuatnya benar-benar khawatir. Pasti akan terjadi sesuatu. Itulah yang dipikirkan oleh Darren.


Gilang dan Darka yang melihat perubahan raut wajah adiknya dan Ayahnya menjadi khawatir.


"Ada yang tidak beres," batin Gilang.


"Kenapa sikap Papa seperti ini pada Darren? Ada apa sebenarnya?" batin Darka.


Darren melepaskan pelukan Ayahnya. Dan menatap wajah Ayahnya itu. "Mana suratnya. Berikan padaku," tanya Darren.


"Suratnya ada di ruang kerja Papa. Papa menyimpannya di laci."


"Baiklah. Aku akan mengambilnya."


Darren langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerja Ayahnya.


^^^


Darren sudah berada di ruang kerja Ayahnya. Darren langsung membuka laci meja kerja sang Ayah.


Ketika laci itu terbuka, Darren melihat ada sebuah amplop. "Apa ini suratnya?" tanya Darren pada dirinya sendiri. Darren pun mengambil surat itu, lalu membacanya.


'Hai Tuan Erland. Apa kabar, hum? Besok Perusahaanmu dan Perusahaan sahabat-sahabatmu akan melakukan kerja sama dan proyek besar-besaran dengan Perusahaan GT COMPANY. Bersiap-siaplah kau akan kehilangan semuanya. Ucapkan selamat tinggal untuk Perusahaan besarmu itu, Tuan. Dan satu lagi! Aku juga akan melenyapkan putra kesayanganmu itu. Darrendra Smith! Aku akan membunuhnya. Putramu harus mati ditanganku'


Setelah membaca surat tersebut, Darren langsung merobek-robek surat itu dengan penuh amarah.


SREEKK


SREEKK


SREEKK


"Kau tidak akan bisa membunuhku, Samuel Frederick. Aku tidak akan mati sebelum kau mati. Kita lihat siapa diantara kita yang akan mati. Dan kita lihat siapa yang akan kehilangan Perusahaan," ucap Darren dengan raut amarahnya.


Setelah puas melampiaskan amarahnya. Darren pun kembali keluar menemui anggota keluarganya.


^^^


Darren sudah berada di ruang tengah bersama anggota keluarga lainnya. Mereka semua menatap khawatir Erland.


GREP


Kini Darren yang memeluk tubuh Ayahnya. Darren memeluknya dengan erat.


"Papa tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang pergi. Aku janji. Aku akan selalu berada di samping Papa," ucap Darren di telinga Ayahnya.


Erland yang mendengar ucapan putra bungsunya di telinganya sedikit lega. Setidaknya putranya telah berjanji akan selalu bersamanya.


Erland mengeratkan pelukannya. Dirinya benar-benar nyaman saat memeluk putra bungsunya.


"Papa percaya," jawab Erland di telinga putra bungsunya.


Mereka yang melihat momen antara Ayah dan anak yang sedang berpelukan menjadi membuat mereka tersenyum bahagia. Mereka semua benar-benar bahagia dan bersyukur melihat keduanya. Setidaknya satu kebahagiaan telah hadir dikeluarga Smith. Tinggal kebahagiaan yang lainnya yang akan menyusul yaitu kebahagiaan Agneta dengan Darren, dan kebahagiaan Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin dengan Darren. Mereka menunggu momen-momen itu.

__ADS_1


__ADS_2