KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekecewaan Qenan


__ADS_3

Setelah selesai berurusan dengan wakil rektor, Darren dan ketujuh sahabatnya kini mulai memberikan hukuman kepada teman-teman kampusnya yang terlibat dalam pembullyan.


Darren dan ketujuh sahabatnya juga sudah memberikan surat panggilan untuk para orang tua dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melakukan pembullyan itu.


Saat ini Darren dan ketujuh sahabatnya tengah berjalan menuju parkiran. Mereka memutuskan untuk pulang.


Dan saat tiba di persimpangan belok kiri. Dari arah berlawanan terlihat Brenda dan ketujuh sahabatnya juga hendak menuju ke parkiran.


Kini mereka sudah berada di parkiran. Dan saat ini mereka saling berhadapan. Qenan yang berdiri di hadapan Elsa menatap lekat wajah Elsa.


Sedangkan Elsa yang menyadari bahwa Qenan tengah menatap dirinya sedikit gugup. Namun Elsa berusaha untuk tidak memperlihatkan kegugupannya.


Brenda, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa yang melihat tatapan mata Qenan yang tertuju kepada Elsa seketika merasakan hawa yang tak mengenakkan. Begitu juga dengan Darren, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.


"Kamu kenapa?" tanya Qenan langsung.


Mendapatkan pertanyaan dari Qenan. Elsa seketika menatap wajah Qenan. Ketika menatap wajah Qenan. Elsa sedikit takut karena tatapan mata Qenan mengisyaratkan kemarahan disana.


"Aku? Aku baik-baik saja," jawab Elsa.


Setelah itu, Elsa membuang wajahnya kearah lain. Sedangkan Qenan masih menatap wajah Elsa, sekali pun Elsa tak melihat kearahnya.


"Kamu punya masalah?" tanya Qenan lagi.


"Tidak. Aku tidak punya masalah apa-apa. Seperti yang aku katakan barusan. Aku baik-baik saja," jawab Elsa.


"Yakin?" tanya Qenan


"Iya. Sangat yakin," jawab Elsa.


Sementara Darren, Brenda dan sahabat yang lain masih terus memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Qenan dan Elsa.


"Kalau kamu baik-baik saja. Dan tidak ada masalah apapun. Kenapa kamu tidak membalas chat dariku semalam?" tanya Qenan.


Qenan masih berusah untuk sabar. Dia sudah berjanji kepada ibunya untuk tidak emosi. Apalagi berhadapan dengan perempuan.


"Itu... Itu aku sudah tidur. Jadi aku tidak tahu kalau ada pesan masuk dari kamu," jawab Elsa bohong. Suaranya juga sedikit gugup.


"Oh, sudah tidur ya? Eemm... Memang bisa ya orang yang sudah tidur, tapi chat WhatsApp nya sudah centang biru. Bahkan semua chat dariku sudah berubah menjadi centang biru." Qenan berucap dengan tatapan matanya menatap marah kearah Elsa.


"Jika kamu sudah tidur, maka centang itu akan tetap berwarna abu-abu dan hanya satu. Atau centang dua abu-abu. Sementara saat aku mengirimimu pesan, saat itu juga statusnya berubah. Hanya jarak waktunya saja berubah. Hanya beberapa detik saja."


Mendengar perkataan dari Qenan membuat Elsa gugup. Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Bahkan aku menghubungi kamu melalui telepon biasa. Dan dengan teganya kamu langsung mematikan panggilan dariku," ucap Qenan.


Mendengar perkataan dari Qenan membuat Brenda, Alice, Vania, Milly, Felisa, Vania dan Lenny terkejut.


"Apa kamu mau bilang kalau kamu salah tekan, hum?" sindir Qenan.

__ADS_1


Elsa hanya menundukkan kepalanya dan kedua tangannya mengepal di ujung bajunya.


"Biasanya kamu setiap hari menerorku dengan menelponku berulang kali. Bahkan kamu mengirim banyak emoticon melalui pesan WhatsApp jika tidak ada kabar dariku. Tapi malam tadi aku mengirimimu chat bermaksud untuk menanyakan keadaan kamu karena seharian kemarin sepulang dari kampus aku langsung ke perusahaanku karena ada sedikit masalah disana. Dan aku tidak sempat mengabarimu."


"Bukan kamu saja. Ketujuh sahabat-sahabatku juga. Aku tidak sempat memberikan kabar kepada mereka."


Qenan menatap tajam Elsa. Dia benar-benar kecewa saat ini.


"Kamu tahu Elsa! Seharian kemarin aku benar-benar lelah. Bukan tubuhku saja yang lelah. Tapi pikiranku juga lelah. Aku berharap ketika aku mengirimimu chat agar rasa lelahku hilang, rasa rinduku terbayarkan. Tapi apa yang aku dapatkan! Kamu sama sekali tidak membalas chat dariku. Padahal kamu membacanya. Dan bukan itu saja, kamu bahkan menolak panggilan dariku!" bentak Qenan di hadapan Elsa.


Mendengar perkataan dan juga bentakkan dari Qenan. Seketika tubuh Elsa bergetar dengan kepala menunduk.


"Qenan," tegur Darren.


Willy dan Jerry mengusap-usap punggung Qenan dan memberikan ketenangan kepada sahabatnya itu.


Sementara Brenda dan Lenny memberikan ketenangan kepada Elsa.


"Kenapa Elsa? Apa... Apa kamu sudah bosan sama aku? Apa kamu sudah tidak nyaman menjadi kekasihku?" tanya Qenan.


Sementara Elsa masih setia menunduk. Dia benar-benar takut saat ini.


"Lihat gue dan jawab pertanyaan gue, Elsa!" bentak Qenan untuk yang kedua kalinya.


Tubuh Elsa tersentak ketika mendapatkan bentakkan kedua dari Qenan.


"Qenan, tahan emosi lo!" bentak Darren.


"Elsa," panggil seseorang.


Mendengar seseorang memanggil Elsa. Seketika Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa.


Mereka melihat seorang pemuda berjalan menghampiri mereka semua.


"Elsa, kamu disini rupanya. Dari tadi aku mencari kamu," ucap pemuda itu.


Qenan menatap tajam kearah pemuda itu yang tersenyum menatap wajah Elsa. Qenan melirik kearah Elsa, lalu kembali menatap wajah pemuda itu.


"Siapa lo?!" bentak Qenan.


Mendengar pertanyaan dan bentakkan dari Qenan. Pemuda itu pun langsung melihat kearah Qenan.


"Lo sendiri siapa?" tanya balik pemuda itu.


"Gue pacar dari perempuan yang lo panggil barusan," jawab Qenan ketus.


"Oh, jadi dia yang bernama Qenan." pemuda itu membatin.


"Kebetulan. Kenalkan, namaku Divo Adisty Yosefh. Aku kekasihnya Elsa."

__ADS_1


Qenan seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya. Dia benar-benar terkejut berita yang didengarnya.


Bukan hanya Qenan yang terkejut. Darren, Brenda dan para sahabat-sahabatnya juga terkejut. Begitu juga dengan Elsa.


Namun Elsa hanya diam saja dan tak berniat untuk menjelaskannya.


"Elsa," ucap Brenda.


Sedangkan Elsa masih diam dan tidak bersuara sama sekali.


Qenan menatap tajam kearah Elsa. "Jadi ini alasan lo yang mengabaikan chat dan juga menolak panggilan dari gue? Jadi lo sudah mendapatkan pengganti gue," ucap Qenan tersenyum menyeringai.


"Gue nggak nyangka sama lo, Sa!" Qenan berucap lirih.


Dan pada akhirnya, air mata Qenan jatuh membasahi pipinya setelah mengetahui alasan Elsa yang tak membalas chat dan panggilan darinya.


Setelah mengatakan itu, Qenan pergi meninggalkan Elsa dan yang lainnya. Dan diikuti oleh Willy, Axel, Dylan dan Jerry.


Sementara Darren, Darel dan Rehan tetap tinggal.


Darren menatap wajah Elsa. Begitu juga dengan Brenda dan sahabatnya yang lain.


"Elsa," panggil Darren.


Elsa langsung melihat wajah Darren. Dan seketika air mata Elsa jatuh membasahi wajahnya.


"Katakan sama gue. Apa benar dia?" Darren melihat kearah pemuda bernama Rivo. Setelah itu, Darren kembali menatap wajah Elsa. "Pacar lo."


"Dia bukan kekasih gue. Tapi dia saudara sepupu gue yang baru datang dari Belanda," jawab Elsa disela isakannya.


Mendengar jawaban dari Elsa membuat mereka semua terkejut.


"Iya, itu benar. Gue adalah saudara sepupunya Elsa. Gue datang kesini untuk menjemput Elsa," sahut Rivo.


"Kalau lo benaran saudara sepupunya Elsa. Kenapa lo tadi mengatakan di depan sahabat gue kalau lo itu kekasihnya Elsa?!" bentak Darel.


"Rel," tegur Rehan.


"Karena sahabat lo itu laki-laki brengsek," jawab Rivo santai.


"Apa maksud lo, hah?!"


Rehan dan Darel secara bersamaan menyerang Rivo. Namun segera di hadang oleh Darren.


"Rehan, Darel. Tahan emosi kalian."


"Tapi dia sudah menghina Qenan, Ren!" jawab Rehan tak terima.


"Iya, aku tahu. Tapi nggak gini juga caranya. Kita tanya baik-baik," jawab Darren.

__ADS_1


Darren menatap wajah Rehan dan Darel bergantian."Bukannya kalian yang selalu mengajarkanku untuk bersabar dan tidak mudah terpancing. Kenapa sekarang malah kalian yang terpancing akan perkataan Rivo," ucap Darren.


Mendengar perkataan dari Darren. Seketika Rehan dan Darel sedikit tenang.


__ADS_2