KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Informasi Dari Enzo


__ADS_3

Darka sudah dipindahkan ke ruang rawat inap beberapa menit yang lalu. Erland, Agneta dan putra-putranya masih setia menemani Darka.


Sementara Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya sudan pulang setelah memastikan Darka yang sudah berada di ruang rawatnya dan kondisinya sudah stabil.


"Darka," lirih Erland sembari tangannya mengusap pucuk kepala putra keenamnya.


"Darka." Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang menatap sedih Darka.


Sementara Darren hanya diam berdiri di samping ranjang Darka dengan tatapan matanya menatap wajah pucat kakak kesayangannya itu. Seketika air matanya jatuh begitu saja membasahi wajahnya.


"Kenapa jadi begini?" batin Darren.


Gilang yang kebetulan berdiri tak jauh dari Darren terkejut ketika melihat adik kesayangannya menangis.


Seketika Gilang merangkul bahunya dan berusaha menenangkan adiknya. Tangannya kemudian terangkat untuk menghapus air matanya.


"Sudah jangan nangis ya. Darka sudah tidak apa-apa. Bukankah Dokter bilang kalau Darka sudah dalam keadaan baik-baik saja," hibur Gilang.


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan melihat kearah Darren yang melihat Darren menangis merasakan sesak di dada masing-masing.


Darren tidak terlalu mendengarkan perkataan Gilang. Pikirannya saat ini bercampur aduk. Terlalu banyak masalah menghampirinya sehingga membuat dirinya tak sanggup untuk memikulnya.


Darren melepaskan tangan Gilang dari bahunya. Setelah terlepas, Darren pergi begitu saja meninggalkan ruang rawat Darka.


Melihat kepergian Darren yang tiba-tiba membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang seketika merasakan ketakutan. Mereka meyakini bahwa Darren tampak terpukul dengan kejadian ini.


"Gilang, susul Darren sekarang. Papa benar-benar mengkhawatirkan adikmu itu."


"Baik, Papa!"


"Gilang," panggil Andra ketika Gilang hendak pergi.


"Ada apa, kakak Andra?"


"Kamu awasi saja dulu dia dari jauh. Jangan langsung mendekatinya," ucap Andra.


"Andra benar. Kamu berikan waktu Darren untuk sendiri agar dia bisa menenangkan pikirannya. Kakak Davin yakin jika Darren saat ini benar-benar lelah. Bukan hanya lelah tubuhnya, tapi juga lelah pikiran."


"Baik kakak Davin, kakak Andra!" jawab Gilang.


Setelah itu, Gilang pun pergi meninggalkan ruang rawat Darka untuk menyusul adik kesayangannya itu.


^^^


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saat ini Darren duduk di sebuah bangku di depan rumah sakit.


"Kenapa musibah datang menimpa salah satu kakakku disaat acara ulang tahun perusahaan Accenture akan digelar. Ulang tahun perusahaan Accenture tiga hari lagi. Dan semuanya sudah dipersiapkan."


"Kenapa musibah dan masalah selalu mendatangiku dan anggota keluargaku? Belum selesai masalah yang satu. Justru datang masalah lain. Tidak bisakah aku dan anggota keluargaku hidup tenang dan hidup bahagia tanpa ada masalah?"


Mendengar ucapan dan kesedihan Darren. Gilang yang sedari melihat dan mendengarnya seketika menangis. Dia benar-benar tidak tega melihat kesayangannya rapuh seperti saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi. Darren langsung mengambilnya di dalam saku celananya.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Darren meliha nama 'Kakak Enzo' di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren pun langsung menjawab panggilan dari Enzo.


"Hallo kakak Enzo."


"Hallo Ren. Bagaimana keadaan kakak kamu Darka?"


"Kondisi kakak Darka sudah dalam keadaan baik-baik saja, walau sempat kritis karena kehabisan darah "


"Ach, syukurlah. Kakak senang mendengarnya. Oh iya! Kakak ada kabar terbaru untuk kamu."


"Apa kakak Enzo?"


"Pertama, kamu pasti sudah tahu dari Elzaro pelaku yang sudah melukai Darka kan?"


"Iya, kakak. Elzaro sudah menceritakan semuanya padaku. Kathleen juga."


"Apa kau mau tahu siapa yang menyuruh pria-pria itu untuk melukai Darka ketika di Mall?"


"Siapa?"


"Ayah dan dua kakak laki-lakinya Kathy."


"Apa?" teriak Darren sembari berdiri dari duduknya.


"Apa alasan mereka melakukan hal keji itu kakak Enzo?"


"Brengsek! Kalau perempuan murahan itu tidak mengusik Willy. Kita juga nggak bakal mendatangi keluarga sialan itu!"


"Mereka juga mengincar salah satu kakak laki-laki dari ketujuh sahabat-sahabat kamu."


Mendengar perkataan dari Enzo membuat Darren benar-benar marah dan dendam.


"Kakak Enzo. Jangan...."


"Kamu tidak perlu khawatir, Ren! Kakak dan kakak-kakak kamu yang lainnya sudah kecolongan sehingga membuat Darka terluka. Dan kami tidak akan kecolongan untuk yang kedua kali. Kita sudah mengerahkan para mafioso untuk menjaga dan melindungi keluarga kamu dan keluarga sahabat-sahabat kamu."


Mendengar perkataan dari Enzo. Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren.


"Terima kasih kakak Enzo."


"Sama-sama. Terus apa yang ingin kau lakukan untuk membalas keluarga Kathy?"


"Eeemm. Aku mau kakak Enzo membawa mereka semua ke markas milik kakak. Di markas itu aku dan ketujuh sahabat-sahabatku akan bermain-main dengan mereka."


"Ide yang bagus. Dengan senang hati kakak akan melakukannya."


"Terima kasih kakak Enzo."

__ADS_1


"Ya, sudah kalau begitu. Kakak tutup teleponnya."


Setelah itu, Enzo mematika panggilannya.


Darren memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Kalian sudah berani melukai kakakku. Tunggu saja pembalasan dariku."


Setelah duduk dibangku depan rumah sakit selama beberapa menit. Darren pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Dia tidak ingin membuat anggota keluarganya mengkhawatirkannya.


Ketika Darren hendak berdiri, tiba-tiba Darren merasakan nyeri di dada kirinya. Darren meremat dada kirinya itu.


"Sshhh," rintih Darren.


Gilang seketika langsung keluar dari persembunyian dan menghampiri adiknya yang sedang kesakitan sembari meremat dada kirinya. Gilang benar-benar khawatir terhadap adiknya itu.


"Darren!" seru Gilang.


Darren terkejut ketika melihat kedatangan kakaknya.


"Ka-kakak Gilang," lirih Darren.


"Apa sesak?" tanya Gilang panik.


Mendengar pertanyaan dari kakak laki-lakinya. Dan ditambah lagi melihat wajah panik sang kakak membuat Darren berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa sakitnya.


"Nggak, kakak Gilang. Hanya sedikit nyeri saja."


"Yakin? Kamu lagi nggak bohongkan?"


"Nggak kakak Gilang."


"Kakak Gilang percaya sama kamu. Ya, sudah! Lebih baik kita kembali ke ruang rawat Darka. Sampai disana kamu langsung istirahat. Mengerti!"


"Baiklah."


^^^


Di ruang rawat Darka. Erland tampak mengkhawatirkan Darren. Sejak kepergian Gilang. Matanya tak pernah lepas melihat kearah pintu. Putranya itu pergi sudah lama. Dan bahkan kondisi putranya dalam keadaan tak baik-baik saja.


Davin yang menyadari kegelisahan dan kekhawatiran ayahnya terhadap Darren menjadi tidak tega. Davin menghampiri ayahnya dan menenangkannya.


"Papa, duduklah. Jangan seperti ini. Percayalah, Darren pasti baik-baik saja. Bukankah Gilang pergi menyusul Darren?"


"Papa tidak tenang, Davin! Papa benar-benar mengkhawatirkan adik bungsumu."


"Iya, Papa. Aku mengerti. Bukan hanya Papa saja yang mengkhawatirkan Darren. Kita juga mengkhawatirkan Darren."


"Percayalah, Papa! Darren pasti baik-baik saja. Semoga saja Gilang sudah bersama Darren," ucap Dzaky.


Dan benar saja. Setelah Dzaky mengatakan itu, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.

__ADS_1


Cklek!


"Gilang! Darren!"


__ADS_2