
Gilang, Darka dan yang lainnya sudah sampai di depan rumah Darren. Gilang terlebih dahulu keluar dari mobilnya. Setelah itu, Gilang membukakan pintu belakang dimana Darka dan Darren berada.
Setelah berada di luar. Gilang dan Darka memapah tubuh adiknya untuk masuk ke dalam rumah. Dan disusul oleh Brenda, sahabat-sahabat Darren dan sahabat-sahabat Brenda.
Sementara yang ada di dalam rumah Darren adalah kedua orang tuanya, keempat kakak-kakaknya, kelima adik-adiknya, ketiga kakak sepupunya, Paman dan Bibinya. Mereka semua sudah berada di rumah sejak pukul 1 siang.
Ketika Gilang dan Darka tengah memapah Darren menuju ruang tengah. Melvin yang baru saja kembali dari dapur melihat kedatangan ketiga kakaknya. Melvin seketika berteriak ketika melihat kakak laki-laki kesayangannya pulang dalam keadaan dipapah.
"Kakak Darren!" teriak Melvin.
Mendengar teriakan dari Melvin. Erland, Agneta dan yang lainnya langsung melihat kearah Darren.
Seketika mereka semua berdiri dari duduknya ketika melihat Darren yang dipapah oleh Gilang dan Darka.
"Oh, Tuhan! Darren!"
Mereka semua langsung menghampiri Gilang, Darka dan Darren. Dan menatap Darren dengan raut wajah penuh kekhawatiran, terutama Erland.
"Sayang. Kamu kenapa, Nak?" Erland seketika menangis melihat putranya kembali merasakan kesakitan.
"Gilang, Darka. Kenapa dengan Darren?" tanya Davin yang juga menangis melihat kondisi adiknya.
Ketika Gilang ingin menjawab, tiba-tiba Darren melepaskan tangan Gilang dan Darka yang masih memegang tubuhnya.
Setelah tangan kedua kakaknya itu terlepas. Darren pergi begitu saja menuju kamarnya di lantai dua dengan tangan kanannya masih memegang dada kirinya.
"Darren."
Mereka menatap punggung Darren yang pergi meninggalkan mereka semua. Mereka menangis.
Darren berjalan sedikit tertatih karena masih merasakan sakit di bagian dada kirinya.
Erland melangkah ingin menyusul putranya. Namun tangannya langsung ditahan oleh Gilang.
"Gilang, Papa mau...."
"Aku tahu Papa khawatir terhadap Darren. Aku juga merasakan hal yang sama seperti Papa. Tapi untuk saat ini biarkan Darren sendiri dulu. Mungkin itu yang dibutuhkan Darren saat ini," ucap Gilang sembari memberikan penjelasan pada ayahnya.
Agneta mengusap-ngusap lembut lengan suaminya. "Apa yang dikatakan Gilang benar, sayang! Kita berikan waktu sendiri untuk Darren. Setelah itu, baru kita ke kamarnya dan berbicara dengannya," ucap Agneta.
^^^
Kini mereka semua sudah duduk di sofa. Erland menatap Darka dan Gilang untuk meminta penjelasan terkait Darren. Begitu juga dengan keempat kakak-kakaknya.
"Sekarang jelaskan kepada Papa. Apa yang terjadi terhadap Darren? Kenapa Darren kembali kambuh?"
Gilang dan Darka saling memberikan tatapan. Setelah itu, Gilang dan Darka kembali menatap wajah ayahnya.
"Rektor mencabut status Darren sebagai ketua organisasi," sahut Gilang.
Mendengar penuturan dari Gilang membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian terkejut.
"Maksud kamu, Darren sudah tidak lagi menjabat sebagai ketua organisasi di kampusnya?" tanya Dzaky.
"Iya," jawab Gilang.
"Rektor sialan itu menendang Darren secara sepihak," sela Darka.
"Tapi kenapa? Apa alasan rektor itu mencabut status Darren sebagai ketua organisasi di kampus?" tanya Agneta.
"Kami tidak tahu alasan rektor sialan itu melakukan hal itu terhadap Darren," jawab Darka.
"Ya, Tuhan. Kasihan Darren. Ini pasti berat buat Darren. Darren pernah cerita kepada Bibi bahwa dirinya benar-benar bahagia diberikan kepercayaan oleh rektornya untuk menjadi ketua organisasi di kampus. Darren juga cerita kepada Bibi, Rektornya itu memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk mengurus semua kegiatan di kampus. Pokoknya yang berhubungan dengan kampus, rektor itu memberikan wewenangnya kepadanya."
"Bukan itu saja. Darren juga cerita kepada Bibi, sejak dirinya menjabat sebagai ketua organisasi di kampus. Darren banyak melakukan kegiatan sosial. Salah satunya membantu orang-orang miskin. Bahkan Bibi pernah lihat dan memergoki Darren yang sedang menghitung uang, lalu uang-uang itu Darren masukkan ke dalam amplop putih. Jumlah amplop itu ada sekitar 500 buah. Dan setiap amplop itu Darren memasukkan uang sebanyak $126,48."
"Apa Bibi Carissa pernah bertanya kepada Darren tentang uang itu dan untuk apa?" tanya Axel.
__ADS_1
"Pernah. Bibi pernah bertanya kepada Darren tentang uang itu dan digunakan untuk apa," jawab Carissa.
"Uang siapa, Bibi Carissa?" tanya Gilang.
"Dan digunakan untuk apa uangnya?" tanya Darka.
"Aku sangat yakin jika semua uang itu adalah uang pribadi Darren. Kalau uang sumbangan dari para mahasiswa dan mahasiswi tidak mungkin sebanyak itu. Rata-rata mahasiswa dan mahasiswi menyumbang paling besar $12,65. Sekali pun ditambah dengan sumbangan dari rektor, dekan dan para dosen. Belum sebanyak itu. Palingan hanya mentok di $22.135," sahut Rehan.
"Apalagi tadi Bibi Carissa mengatakan bahwa ada 500 amplop putih. Dan Darren memasukkan sekitar $126,48 di setiap amplop. Jika ditotalin semuanya ada sekitar $63.240," tutur Darel.
"Kalian benar. Semua uang itu memang uang pribadinya Darren. Dan uang itu akan Darren sumbangkan untuk orang-orang yang tidak mampu ketika acara Baksos di kampusnya diadakan. Yang membuat Bibi bangga terhadap Darren adalah Darren tidak menyertakan namanya untuk semua uang-uang itu. Melainkan Darren mengatas namakan nama Kampus untuk uang-uangnya itu."
Mendengar cerita dari Carissa membuat Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya menangis. Mereka semua menyumpahi kelakuan tak manusiawi si pemilik kampus. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan. Mereka mengutuk rektor mereka yang sudah menyakiti sahabatnya.
"Dasar rektor sialan. Manusia tidak tahu terima kasih," ucap penuh amarah dari Axel.
Mendengar ucapan dan nada amarah dari Axel membuat anggota keluarga Smith menatap kearahnya. Baik Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tahu bagaimana sayang dan pedulinya Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan terhadap Darren. Terutama Axel. Axel adalah orang yang akan berada paling depan jika Darren merasakan kesakitan.
Ketika mereka semua tengah membahas masalah Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel.
"Itu ponselnya Darren!" seru Jerry sembari menunjuk kearah tasnya Darren.
Tas milik Darren masih berada di ruang tengah dan belum dibawa ke kamar Darren.
Willy yang kebetulan di dekat tasnya Darren langsung membuka tasnya Darren. Setelah itu, Willy mengambil ponsel Darren dan melihat nama 'Andrean' di layar ponsel Darren.
"Siapa, Will?" tanya Axel.
"Andrean," jawab Willy.
"Ya, sudah. Angkat," ucap Qenan.
"Jangan lupa di loundspeaker panggilannya biar kita semua dengar," ujar Jerry.
"Hm."
"Hallo, Ren."
"Maaf, Andrean."
"Willy."
"Iya, ini aku."
"Darren mana? Darren baik-baik sajakan?"
"Darren baik-baik saja. Hanya saja tubuhnya sedikit lelah dan sekarang ini dia sedang istirahat. Ada apa?"
"Apa Darren ada cerita kekamu dan yang lainnya masalah keluarga Brenda?"
Brenda yang mendengar seseorang di telepon menyebut nama keluarganya terkejut.
"Belum. Masalah yang mana?" tanya Willy.
"Masalah mengenai berkas kepemilikan perusahaan dan rumah mewah keluarga Brenda."
Willy menatap sahabat-sahabatnya, dan setelah itu mereka dengan kompak melihat kearah Brenda. Begitu juga dengan Brenda. Brenda juga menatap Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan.
"Aku benar-benar tidak mengerti. Bisa kau jelaskan?"
"Ach, baiklah. Begini, ibunya Brenda telah menandatangani berkas kerja sama dengan sebuah perusahaan. Namun perusahaan itu ternyata telah menipu ibunya Brenda dengan memberikan berkas kerja sama palsu. Isi dari berkas kerja sama itu ditulis dengan tinta yang bisa hilang. Setelah mendapatkan tanda tangan ibunya Brenda, isi dari berkas itu akan diganti dengan pengalihan kepemilikan perusahaan dan rumah mewah milik keluarga AMORA."
Mendengar penuturan dari Andrean membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith.
Bagaimana dengan Brenda? Brenda dua kali lebih terkejut ketika mendengar perkataan dari Andrean.
"Terus sekarang bagaimana?"
__ADS_1
"Untuk sekarang sudah aman. Anak buahku sudah berhasil mencuri berkas itu dan berkas itu sudah ada pada Darren."
Mendengar jawaban dari Andrean membuat mereka semua bernafas lega. Begitu juga dengan Brenda.
"Aku menghubungi Darren dan ingin menanyakan padanya apakah Darren sudah memberitahu ibunya Brenda untuk berhati-hati ketika menandatangani berkas kerja sama. Bahkan aku sudah mengatakan kepada Darren untuk menyampaikan kepada ibunya Brenda ketika ingin menandatangani berkas, baik itu berkas kerja sama maupun berkas dari karyawannya. Ada baiknya tunggu sekitar dua jam. Setelah dua jam dan tidak ada yang aneh. Barulah ibunya Brenda bisa menandatangani berkas-berkas itu."
Mendengar penuturan dari Andrean membuat Brenda langsung mengambil ponselnya. Brenda berdiri dari duduknya. Dan pergi meninggalkan ruang tengah untuk menghubungi ibunya.
"Kebetulan Brenda ada disini. Setelah mendengar perkataanmu tadi. Brenda sekarang sedang menghubungi ibunya."
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya! Akhir bulan ini, sepupu dari ibunya Brenda akan keluar dari sarangnya. Bajingan itu bersama istri dan anak-anaknya akan menampakkan diri di hadapan keluarga Brenda."
Mendengar penuturan dari Andrean membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan terkejut.
"Benarkah?" tanya Darel.
"Iya, Rel! Itu benar."
"Lebih baik kalian mempersiapkan kejutan untuk menyambut kedatangan dari pamannya Brenda. Kalian bantulah keluarga Brenda."
"Itu sudah pasti. Kami tidak akan tinggal diam melihat salah satu sahabat kami dalam masalah," jawab Rehan.
"Ya, sudah. Aku tutup teleponnya. Usahakan ibunya Brenda jangan sampai kecolongan lagi dengan memberikan tanda tangannya."
"Baiklah."
Tutt!
Tutt!
Andrean pun langsung mematikan panggilannya setelah memperingati ketujuh teman-temannya.
Ponsel Darren kembali berdering. Dan kali ini yang menghubunginya adalah salah satu tangan kanannya Noe.
"Siapa, Will?" tanya Qenan.
"Kakak Zoya," jawab Willy.
"Ya, udah. Angkat lagi!"
"Hallo, kakak Zoya."
"Eh, Willy. Kenapa kamu yang angkat? Darren nya mana?"
"Darren di kamarnya, kakak Zoya. Dan kebetulan ponselnya Darren ada di dalam tas. Dan tasnya ada di ruang tengah."
"Oh, begitu. Tapi Darren baik-baik sajakan?"
"Iya. Darren baik-baik saja. Ada apa, kakak Zoya?"
"Ah, iya. Hampir lupa. Gini Willy ini masalah keluarga Brenda. Darren meminta kakak dan beberapa mafioso untuk berjaga-jaga di sekitaran rumah Brenda jika sewaktu-waktu Pamannya Brenda berubah pikiran dan datang lebih awal. Darren sudah memberikan akses masuk ke rumah Brenda. Dan sekarang ini kakak dan ke 30 mafioso kakak sudah berada di paviliun keluarga Brenda. Tapi untuk keluarga Brenda. Mereka belum tahu keberadaan kakak dan mafioso kakak. Takutnya keluarga Brenda salah paham."
"Kalau masalah itu, kakak Zoya tenang saja. Kebetulan Brenda ada disini. Nanti aku sampaikan kepada Brenda."
"Ah, baiklah. Ya, sudah kalau begitu! Kakak menghubungi Darren hanya ingin menyampaikan hal itu saja."
"Iya, kakak Zoya. Baiklah."
Setelah itu, baik Willy maupun Zoya sama-sama mematikan panggilannya.
"Ternyata Darren sudah mengatur semuanya," ucap Jerry.
"Darren memang seperti itu," ucap Axel.
"Mulut bungkam, tapi otaknya bekerja cepat," ucap Qenan.
"Iya. Kau benar sekali, Qenan!" seru Darel.
__ADS_1