
Keesokkan harinya di kediaman keluarga Smith terlihat semua orang sudah dalam keadaan rapi. Dan akan bersiap-siap untuk melaksanakan sarapan pagi.
Sedangkan Darren masih di dalam kamarnya. Darren pulang ke rumah sekitar pukul 3 pagi. Dan keadaan sudah sangat lelah.
Anggota keluarga Smith sudah berada di ruang makan. Dan mereka akan segera memulai sarapan paginya. Hanya Darren yang belum bergabung. Dan mereka pun setia menunggu Darren untuk turun.
Ketika mereka tengah menunggu Darren dengan sela-sela menikmati makanan pembuka sebelum sarapan pagi dimulai, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara benda jatuh. Dan mereka meyakini bahwa suara itu berasal dari kamarnya Darren.
Prang!
"Itu suara apa?" tanya Evan.
"Sepertinya suara itu berasal dari kamarnya Darren," ucap Daffa.
Mendengar ucapan dari Daffa. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka langsung berdiri dari duduknya dan berlari menuju kamar Darren yang berada di lantai dua. Dan diikuti oleh Erland, Agneta serta yang lainnya.
^^^
Darren yang saat ini tengah menahan sakit di kepalanya. Tiba-tiba saja rasa sakit tersebut menyerang kepala Darren ketika Darren sudah bersiap-siap untuk turun ke bawah.
Rasa sakit yang Darren rasakan saat ini benar-benar kuat. Rasa sakit yang luar biasa dari yang sebelumnya. Tangannya meremat kuat rambutnya. Bahkan ada beberapa rambutnya yang rontok akibat rematannya yang terlalu kuat.
"Aakkhh!" Darren berteriak kesakitan. "Ke-kenapa sakit sekali?"
Terdengar suara dobrakan pintu kamar Darren sehingga membuat pintu kamar itu terbuka dengan sangat keras.
Setelah itu, masuklah semua anggota keluarga Smith ke dalam kamar Darren.
"Darren!" teriak mereka semua saat melihat Darren yang tengah kesakitan dengan tangan meremat kuat rambutnya.
Darren saat ini duduk di lantai dengan punggungnya bersandar di dinding. Serta kedua tangannya meremat kuat rambutnya.
Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menghampiri Darren dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Hari mereka sakit dan sesak melihat kondisi Darren saat ini.
"Sayang, ini Papa. Lepaskan tanganmu. Jangan ditarik rambutnya," ucap Erland sembari melepaskan tangan Darren dari rambutnya.
Darren tidak mempedulikan perkataan ayahnya. Saat ini yang dipikirkan olehnya adalah bagaimana rasa sakit di kepalanya ini segera berakhir.
"Aakkhh!"
Darren berteriak sekeras mungkin dengan sesekali membentur-benturkan kepala belakangnya ke dinding.
"Kenapa kau biarkan aku hidup jika aku diberi rasa sakit seperti ini! Lebih baik kau cabut nyawaku, sekarang! Aku benar-benar lelah. Aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang kau berikan kepadaku!" teriak Darren dengan berlinang air mata.
"Darren!" teriak Erland dan yang lainnya secara bersamaan.
Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bahkan yang lainnya sudah menangis terisak melihat keadaan Darren saat ini. Apalagi ketika mendengar perkataan Darren yang bagi mereka begitu menyakitkan.
"Darren," ucap mereka terisak.
"Kakak Darren." Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menangi terisak.
Darren makin berteriak kencang akibat sakit yang dirasakan di kepalanya. Bahkan dia semakin membenturkan kepalanya ke belakang. Ditambah dengan kedua tangannya menarik dengan sangat kuat rambutnya.
Darren tidak peduli jika kepala belakang terluka. Dia tidak peduli jika rambutnya banyak yang rontok akibat tarikannya. Yang dia inginkan sekarang adalah rasa sakit itu segera hilang.
"Darren, berhenti! Jangan membentur-benturkan kepalamu," ucap Davin yang menahan kepala adik laki-lakinya itu.
Dzaky dan Adnan memegang kuat tangan Darren, lalu berusaha untuk melepaskan kedua tangan adiknya itu dari rambutnya.
"Pergi! Biarkan aku sendirian! Aku ingin mati! Aku ingin mati!" teriak Darren.
"Darren!" bentak Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.
Mereka semua marah mendengar perkataan Darren yang mengatakan bahwa dirinya ingin mati.
Agneta dan Carissa sudah menangis terisak melihat kondisi Darren saat ini. Bagi mereka berdua. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat kondisi Darren yang benar-benar tidak ada semangat hidup lagi. Begitu juga dengan Evan dan ketiga putranya. Mereka juga menangis terisak melihat keadaan Darren saat ini.
Erland hendak memeluk tubuh putranya, namun usahanya gagal karena Darren tiba-tiba mendorongnya dengan kuat.
"Aku bilang pergi!" teriak Darren dengan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.
Keadaan Darren benar-benar kacau. Mata yang memerah, wajah yang basah karena air matanya dan rambut yang berantakan akibat ditarik olehnya.
Darka berdiri dari posisi duduknya lalu tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Setelah ponselnya ada di tangannya, Darka mencari nama Ibunya Axel. Darka benar-benar tidak kuat melihat kondisi adiknya saat ini.
Setelah mendapatkan nama Ibunya Axek. Darka pun langsung menekan tombol hijau.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Darka."
__ADS_1
"Hallo, Bibi."
Celsea yang mendengar nada bicara Darka seketika terkejut. Pikiran Celsea langsung tertuju kepada Darren.
"Ada apa, sayang?"
"Bibi, bisa tidak datang ke rumah keluarga Smith. Darren.... Darren....,"
Mendengar isakan dari Darka sambil menyebut nama Darren. Celsea yang berada di seberang telepon langsung berdiri dari duduknya.
***
Saat ini Celsea dan anggota keluarganya tengah menikmati sarapan pagi bersama.
"Mama, kenapa?" tanya Axel.
Celsea tidak menjawab pertanyaan dari putra ketiganya itu. Dia masih fokus berbicara dengan Darka.
"Katakan kepada Bibi, Darka? Kenapa dengan Darren? Apa jantungnya kambuh lagi?"
"Bibi, ini bukan masalah jantungnya. Ini... Ini masalah sakit di kepala Darren. Dan sakitnya kali ini benar-benar luar biasa. Darren tidak bisa menahannya. Bahkan Darren berulang kali membentur-benturkan kepalanya ke dinding dan menarik-narik kuat rambutnya sehingga beberapa rambutnya ada yang rontok."
Mendengar pengakuan dari Darka membuat Celsea terkejut. Dan tanpa diminta air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Sayang."
"Mama."
"Bibi, aku mohon. Buruan kemari. Kami sudah berusaha membujuk Darren. Tapi kami tidak berhasil. Darren terus berteriak. Bahkan Darren mengusir kami."
"Baiklah, sayang. Bibi akan segera kesana. Sebelum Bibi tiba disana. Berusahalah terus untuk membujuk Darren. Buat Darren tenang."
"Baik, Bibi!"
Setelah mengatakan itu, baik Darka maupun Celsea sama-sama mematikan panggilannya.
"Mama, ada apa? Kenapa dengan Darren?" tanya Axel yang terlihat khawatir.
"Darren sakit sayang. Darka bilang Darren merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Bahkan Darren membentur-benturkan kepalanya ke dinding dan menarik-narik kuat rambutnya."
"Apa?!" teriak Axel.
Seketika Axek menangis ketika mendengar kondisi Darren yang saat ini sedang tak baik-baik saja.
"Lebih baik kamu beritahu sahabat-sahabat kamu yang lainnya tentang kondisi Darren," suruh Dario.
"Baik, Papa!"
Setelah itu, Axel pun menghubungi keenam sahabatnya dan memberitahu kondisi Darren yang sebenarnya.
***
"Mama!" teriak Darren memanggil ibunya. "Mama, aku nggak kuat. Aku mohon, jemput aku!" teriak Darren dengan berlinang air mata.
Erland, Agneta serta yang lainnya menangis terisak mendengar Darren yang berteriak memanggil ibu kandungnya. Dan ditambah dengan perkataan yang begitu memilukan di telinga mereka.
"Darren, sayang!"
Erland berusaha kembali untuk memeluk tubuh putranya. Namun lagi-lagi dirinya gagal. Putranya sama sekali tidak mau disentuh.
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka juga berusaha untuk menggapai tubuh adiknya dan mencoba memberikan pelukan terhadap adiknya itu. Hasilnya tetap sama seperti ayahnya. Darren tidak bisa disentuh. Darren mendorong kuat tubuh mereka disaat mereka ingin memeluknya.
"Mama, ini benar-benar sakit. Aku nggak kuat. Tolong aku, Mama!" teriak Darren dengan membentur-benturkan kepalanya ke dinding.
Namun untungnya Davin dan Andra meletakkan tangannya di belakang kepala adiknya itu agar kepala adiknya itu tidak menyentuh dinding.
Baik Davin maupun Andra tidak peduli rasa sakit di telapak tangannya itu. Bagi mereka berdua, rasa sakit yang mereka rasakan tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh adiknya.
Agneta yang sejak tadi hanya berdiri dengan kondisinya yang juga tak baik-baik saja. Berulang kali Agneta hampir pingsan ketika mendengar teriakan-teriakan dari Darren yang memanggil nama kakak perempuannya.
Agneta berlahan mendekati putranya itu. Dia berjongkok di hadapan sang putra.
"Sayang. Lihatlah Mama, Nak! Jangan seperti ini, sayang! Mama tidak kuat melihatnya," ucap Agneta lembut sembari berlahan tangannya menyentuh pipi putih putranya itu.
Seketika Darren berhenti berteriak dan juga berhenti membentur-benturkan kepalanya. Tatapan matanya menatap kearah Agneta. Air matanya masih terus mengalir membasahi wajahnya.
Agneta masih menyentuh pipi putranya dan mengusapnya lembut. Sama seperti Darren, air mata Agneta masih terus mengalir membasahi wajahnya.
"Ini Mama, sayang! Mama disini. Datanglah dan peluk Mama. Berbagilah rasa sakitmu pada Mama. Jangan menanggungnya sendirian," ucap Agneta.
Darren masih terus menatap wajah Agneta dengan sesekali merasakan sakit di kepalanya.
"Mama ada untuk kamu, Nak! Jangan siksa diri kamu. Mama benar-benar nggak kuat melihatnya."
__ADS_1
Agneta berucap dengan suara bergetar dan air matanya yang masih mengalir.
Darren sudah sedikit tenang. Hal itu membuat Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, dan Davian merasakan kelegaan. Begitu juga dengan kelima adik laki-lakinya.
Darren meremat rambutnya karena rasa sakit itu masih ada, walau sudah tak separah beberapa menit yang lalu.
Berlahan tubuh Darren jatuh ke samping. Melihat hal itu membuat Davin dan Andra langsung menahan bobot tubuh adiknya sehingga tidak tersungkur di lantai.
"Darren!" teriak mereka semua.
"Sepertinya Darren pingsan," sahut Tristan.
"Segera angkat Darren. Dan baringkan di tempat tidur," ucap Evan.
Dikarenakan Davin yang memeluk tubuh Darren. Daffa, Andra dan Dzaky mengangkat tubuh Darren secara berlahan lalu membawanya ke tempat tidur.
Dan beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu kamar Darren yang dibuka.
Cklek!
Semua yang ada di dalam kamarnya Darren langsung melihat keasal suara. Dan mereka semua tersenyum ketika melihat kedatangan Celsea dan yang lainnya.
Celsea datang bersama ketujuh sahabatnya Darren dan para anggota keluarga masing-masing.
"Bagaimana?" tanya Celsea yang sudah berdiri di samping ranjang Darren.
"Darren baru bisa tenang ketika mendengar suara dan perkataan dari Mama, walau Darren tidak memberi respon apapun berupa ucapan atau pelukan. Hanya tatapan matanya saja sebagai perwakilan. Dan beberapa detik kemudian, Darren pun jatuh pingsan," ucap Adnan menjelaskan.
Mereka semua menatap kearah Darren dengan tatapan khawatirnya terutama Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Mereka menangis melihat kondisi Darren saat ini. Wajah Darren terlihat pucat.
"Bagaimana Celsea?" tanya Erland setelah melihat Celsea yang sudah selesai memeriksa Darren.
"Untuk saat ini aku belum bisa mengatakan apa sebab dari rasa sakit di kepala Darren," jawab Celsea.
"Lalu apa tindakan selanjutnya agar kita tahu penyebab sakit kepala yang Darren alami?" tanya Yocelyn.
"Melakukan pemeriksaan di rumah sakit secara intensif. Dan melakukan tes CT Scan. Dari hasil itulah baru kita tahu penyebabnya," sahut Celsea.
"Apa Darren mau dibawa ke rumah sakit? Dia itu keras kepala dan anti dengan namanya rumah sakit," ucap dan tanya Revina yang tahu sifat Darren.
"Kita bujuk Darren baik-baik. Jika bujukan pertama gagal. Biarkan saja dulu. Lalu ulangi lagi yang kedua. Pokoknya kita harus bisa membawa Darren ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut agar bisa melakukan pemeriksaan tersebut," ucap Celsea.
"Ingat! Ketika kita berusaha mencoba untuk membujuk Darren ke rumah sakit. Pasti akan banyak drama yang akan dimainkan oleh Darren. Semoga kalian berhasil melawan setiap drama yang dimainkan oleh Darren."
"Baik!" jawab mereka secara bersamaan.
"Bibi Celsea," panggil Melvin.
Celsea melihat kearah Melvin. "Iya, sayang! Ada apa?"
"Tolong periksa telapak tangan kakak Davin dan kakak Andra. Mereka berdua menjadikan tangannya untuk menahan kepalanya kakak Darren ketika kakak Darren hendak membenturkan kepalanya ke dinding. Pasti itu sakit sekali," ucap Melvin.
Mendengar perkataan dari Melvin membuat Davin dan Andra tersenyum bangga akan adik laki-lakinya itu.
"Baiklah, sayang."
Setelah itu, Celsea pun memeriksa tangan Davin dan Andra secara bergantian.
"Tidak apa-apa. Satu dua hari sudah sembuh. Kompres pakai air hangat. Untuk saat ini biarkan seperti ini dulu. Jangan dibuka perbannya," ucap Celsea.
"Baik, Bibi Celsea!" jawab Davin dan Andra.
"Apa yang terjadi Celsea?" tanya Erland.
"Telapak tangan Davin dan Andra sedikit bengkak dan terlihat kebiruan disana. Tapi tidak apa-apa. Besok juga sudah sembuh."
"Lalu bagaimana dengan kondisi Darren untuk saat ini, Bibi Celsea?" tanya Darka.
"Untuk saat ini kondisi Darren sudah tidak apa-apa. Bibi sudah memberikan suntikan untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Dan ini untuk jaga-jaga jika sakit itu kembali datang," ucap Celsea sembari memberikn satu botol kecil berisi beberapa butir obat.
Erland menerima botol obat itu dari Celsea. "Terima kasih, Celsea!"
"Sama-sama, Erland."
Celsea menatap wajah lelap Darren. "Kalian semua harus lebih memberikan perhatian kepada Darren. Jangan lengah. Kita tidak tahu kapan rasa sakit itu datang."
"Bagaimana kita bisa mengetahui jika Darren sedang kesakitan, Bibi! Darren saja tidak pernah berkata jujur kepada kita setiap dia kesakitan," ucap Gilang.
Mendengar ucapan dari Gilang membuat mereka semua kecuali Celsea menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Mudah saja. Kalian cukup perhatikan mimik wajah dan matanya. Jika ekspresi wajahnya tak mengenakkan. Dan jika dia berulang kali memejamkan matanya dengan kuat disertai gelengan kepala. Itu tandanya bahwa Darren tengah menahan rasa sakitnya," jawab Celsea.
"Baiklah, kami mengerti!"
__ADS_1