KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kabar Mengejutkan Dari Jerry Dan Tania


__ADS_3

Seorang mahasiswi sedang berjalan di koridor menuju kelasnya selepas selesai mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Mahasiswi itu bernama Arianna Giyatsa, fakultas ekonomi.


Di tengah perjalanan menuju kelas Arianna melihat sosok pemuda tampan yang selama ini disukainya. Pemuda itu adalah Aron Jerry Antonius.


Arianna tersenyum menatap wajah tampan Jerry. Dan seketika terlintas ide di otaknya untuk bisa dengan pujaan hatinya.


Arianna berjalan tepat kearah Jerry dan dengan sengaja Arianna menabrak Jerry.


BRUUKK!


Arianna sengaja menjatuhkan tubuhnya setelah berhasil menabrak tubuh Jerry.


Jerry yang tadi fokus berjalan sembari bersenandung riang mendengarkan musik menggunakan earphone miliknya terkejut dikarenakan seseorang menabraknya.


Jerry melihat seorang mahasiswi tengah kesakitan terduduk di lapangan. Melihat itu, Jerry langsung berjongkok untuk melihat keadaannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Jerry.


Arianna tertawa bahagia di dalam hatinya ketika pujaan hatinya menatap dirinya khawatir. Dirinya tidak menyangka jika rencananya membuahkan hasil.


"Ini langkah pertama untukku mendapatkanmu, Jerry! Aku akan membuatmu menjadi milikku. Hanya aku yang boleh menjadi kekasihmu. Aku tidak akan membiarkan cewek manapun mendekati kamu," batin Arianna.


Tidak mendapatkan respon dari gadis di hadapannya. Jerry kembali bertanya dengan telapak tangannya bergerak di depan wajah gadis itu.


"Hey," sapa Jerry.


"Ach, iya! Maaf," jawab Arianna.


"Apa ada yang sakit?" tanya Jerry.


"Ada sih. Hanya sedikit."


"Yang mananya yang sakit?"


"Pergelangan kaki kiriku kayaknya terkilir."


"Mau aku antar?" tawar Jerry.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Arianna.


"Tidak sama sekali."


"Baiklah. Tolong antarkan aku ke kelasku."


"Baiklah. Mari."


Jerry pun membantu Arianna untuk berdiri. Setelah itu, Jerry memapah Arianna sampai ke kelasnya.


^^^


[Di Kelas]


Darren dan ketujuh sahabatnya berada di dalam kelasnya, kecuali Jerry. Kelasnya Darren saat sedang mengikuti materi kuliah bahasa inggris.


Dosen bahasa inggris itu tengah menjelaskan materinya kepada para mahasiswa dan mahasiswinya.


"Jerry kemana sih? Kenapa belum nyampe juga?" tanya Dylan berbisik.


"Apa Jerry ada bilang dia mau pergi kemana?" tanya Darren.


"Jerry cuma ngomong mau ke toilet. Itu doang," jawab Darel.


"Kalau cuma ke toilet doang, masa udah jam segini Jerry belum juga nongol. Udah ada lima belas menit Jerry ketinggalan materi kuliah bahasa inggris," sahut Willy.


Ketika Dosen bahasa inggris tengah menjelaskan materinya, matanya tak sengaja melirik kearah tiga mahasiswanya.


"Darel, Willy, Dylan. Is there any question?"


Mendengar pertanyaan dari Dosen bahasa inggrisnya. Seketika Willy, Darel dan Dylan langsung melihat kearah Dosen tersebut. Dan dapat mereka lihat sang Dosen tengah menatapnya.


"Nothing, Madam!" jawab Willy, Dylan dan Darel.


"Do you understand my explanation?"


"Yes, Madam!"

__ADS_1


"Okey."


Setelah itu, Dosen bahasa inggris itu kembali menjelaskan materinya.


Sementara Willy, Dylan dan Darel seketika menghela nafasnya. Sementara yang lainnya tersenyum ketika melihat wajah Darel, Dylan dan Willy yang ketahuan mengobrol oleh Dosen.


Ketika para mahasiswa dan mahasiswi di dalam kelas kembali fokus dengan menatap ke depan, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


TOK!


TOK!


TOK!


"Maaf, madam!"


Dosen bahasa inggris itu langsung melihat kearah pemuda yang memasuki kelasnya.


"Aaron Jerry Anthony! Where have you been. Why did you just come in? My lesson has been running for twenty minutes." tanya Dosen bahasa inggris itu.


"I'm sorry, madam! I just came from the Chancellor's office," jawab Jerry berbohong.


Mendengar jawaban dari Jerry membuat Dosen itu langsung memberikan maaf. Dan melupakan kesalahan mahasiswanya itu.


"Okay.  Go back to your seat.  You're twenty minutes behind my material."


""Thank you Madam!" jawab Jerry.


Setelah itu, Jerry melangkah menuju mejanya untuk mengikuti materi bahasa inggris.


^^^


Setelah mengikuti dua materi kuliahnya, Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini sudah berada di kantin.


Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya memesan banyak makanan dan beberapa minuman.


"Lo ngapain ke ruangan rektor?" tanya Darren sambil menyeruput jus jeruknya.


"Gue bohong sama Madam ketika di kelas tadi," jawab Jerry.


"Gue terpaksa. Kalau gue jujur, mana diperbolehkan gue masuk sama Madam. Kalian tahu sendirilah bagaimana ketatnya Madam jika ada mahasiswa atau mahasiswi nya telat," ucap Jerry sembari memasuki sepotong Nugget goreng.


"Emangnya lo kelayapan kemana? Apa lo nggak ingat kalau materi pertama itu bahasa inggris?" tanya Rehan.


"Iya, ingatlah. Ini gara-gara gue habis nolongin Arianna," jawab Jerry.


"Arianna!" seru Darren, Dylan, Axel, Willy, Qenan, Rehan dan Darel  bersamaan.


"Maksud lo Arianna anak fakultas ekonomi?" tanya Axel.


"Hm." Jerry berdehem sembari memasukkan potongan nugget yang kelima.


"Kok bisa? Bukannya lo izinnya mau ke toilet?" tanya Darel.


"Jangan-jangan lo bohong lagi," celetuk Rehan.


"Bisa jadi. Bilangnya mau ke toilet. Tapi malah nyasar ke tempat lain," sindir Dylan.


Mendengar sindiran dari Dylan membuat Jerry mendengus. Jerry mengambil satu potong nugget, lalu melemparinya kearah Dylan.


"Sebenarnya gua nggak izin mau ke toilet. Tapi gue ingin menemui seseorang," jawab Jerry.


Mendengar jawaban dari Jerry. Darren, Dylan, Axel, Willy, Qenan, Rehan dan Darel langsung melihat kearah Jerry.


"Seseorang?" tanya Willy.


"Siapa?" tanya Qenan.


"Laki-laki?" tanya Axel.


"Perempuan?" tanya Darel.


"Jangan bilang seseorang itu adalah Tania," sahut Darren.


Mendengar sahutan dari Darren. Dylan, Axel, Willy, Qenan, Rehan dan Darel langsung melihat kearah Darren, termasuk Jerry.

__ADS_1


Di dalam hati Jerry berkata 'dari mana Darren tahu jika aku menemui Tania?'.


"Ren, lo...."


Perkataan Jerry terpotong karena Darren langsung mengangguk.


"Jadi lo dan Tania udah resmi jadian?" tanya Dylan.


"I-iya," jawab Jerry sedikit gugup.


"Kenapa lo diam aja, monyet! Kenapa lo nggak bilang ke kita-kita?" tanya Darel kesal.


"Gue nggak kasih tahu masalah ini kerena...." Jerry sengaja menghentikan perkataan dengan matanya menatap satu persatu wajah sahabatnya, kecuali Darren.


"Jawab aja keles. Nggak usah pake ngeliatin kita seperti itu," kesal Qenan.


"Gue ngelakuin ini demi menjaga perasaan kejomblonan kalian. Gue nggak mau kejombloan kalian meronta-ronta ketika melihat kemesraan kami berdua. Ditambah lagi ketika melihat kemesraan Darren dan Brenda. Diantara kita hanya kalian yang masih jomblo. Sedangkan gue dan Darren sudah punya kekasih."


Mendengar perkataan dari Jerry membuat Qenan, Willy, Dylan, Axel, Rehan dan Darel mendengus. Sementara Darren tersenyum menatap wajah kesal Dylan, Axel, Willy, Qenan, Rehan dan Darel.


^^^


Brenda dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di kelas seni. Hanya ada mereka saja. Sedangkan teman-teman sekelas mereka sudah berhamburan menuju kantin.


Baik Brenda, Alice, Elsa maupun Vania, Milly, Lenny dan Felisa kini tengah menatap penuh selidik kearah Tania.


Sementara Tania hanya bisa pasrah melihat ketujuh sahabatnya menatap penuh selidik dirinya.


"Jadi benar, lo udah jadian sama sikelek itu?" tanya Vania.


"Sikelek? Namanya Jerry. J-E-R-R-Y. Bukankah sikelek," jawab Tania dengan mendikte satu persatu nama Jerry.


"Iya, iya! Namanya Jerry! Aron Jerry Antonius," sahut Vania menatap wajah Tania yang sedang tersenyum.


Tania yang tahu jika Vania menatapnya, seketika mendapatkan ide untuk mengerjai sahabatnya itu. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain.


Tania melihat kearah Vania, "Kok gitu mukanya. Masam amat. Nggak enak banget liatnya. Nggak senang ya kalau aku jadian sama Jerry?" Tania berbicara sembari memperlihatkan wajah sedihnya. Padahal di dalam hatinya, Tania sedang menahan tawanya.


Mendengar perkataan dari Tania, hal itu sukses membuat Brenda, Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania dan Felisa terkejut. Mereka semua menatap wajah Tania yang kini tampak sedih.


"Hey, apa yang lo katakan barusan. Tentu kami semua senang mendengar kabar lo udah jadian sama Jerry. Gue orang pertama yang merasakan kebahagiaan ketika mendengar lo udah jadian sama Jerry."


Brenda berusaha menghibur Tania bahwa dirinya dan yang lainnya benar-benar bahagia mendengar kabar Tania yang sudah jadian dengan Jerry.


"Gue kan dari awal memang ingin kalian menjalin hubungan dengan sahabat-sahabatnya Darren. Kita udah lama kenal dengan Darren dan ketujuh sahabatnya. Bahkan kita juga sudah mengetahui dan hafal sifat dan karakter mereka masing-masing."


Brenda menatap satu persatu wajah sahabatnya, kecuali Tania. Brenda sangat yakin jika sahabat-sahabatnya itu juga sama seperti dirinya. Menyimpan perasaan kepada sahabat-sahabatnya Darren. Hanya saja mereka tidak tahu harus bertindak seperti apa. Secara mereka selama ini dikenal dan dijuluki sebagai anjing dan kucing setiap kali bertemu.


Dan saat ini Brenda merasakan kebahagiaan dikarenakan satu sahabatnya sudah resmi pacaran dengan salah satu sahabatnya Darren yaitu Jerry. Tinggal enam sahabatnya yang lain. Brenda berharap keenam sahabatnya yang lain segera menyusul dirinya dan Tania.


Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania dan Felisa seketika memeluk tubuh Tania. Mereka benar-benar bahagia dengan kabar bahagia dari Tania.


"Kita bahagia lo jadian sama Jerry, Tan!" seru Alice.


"Jangan berantem lagi. Hubungan kalian bukan lagi kayak dulu. Kalian udah pacaran. Jadi kurang-kurangi adu mulutnya," ucap Vania.


"Semoga awet sampai tua," ucap Elsa.


"Semoga nggak ada yang namanya kata perpisahan. Bersama selamanya," ucap Milly.


"Kita sayang lo," ucap Lenny dan Felisa bersamaan.


"Terima kasih. Kalian sahabat-sahabat terbaikku," jawab Tania.


Setelah puas memeluk Tania. Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania dan Felisa melepaskan pekukan mereka.


"Dan satu lagi yang paling penting dalam sebuah hubungan!" seru Brenda.


Mendengar perkataan dari Brenda. Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania dan Felisa melihat kearah Brenda.


"Kepercayaan," jawab Alice, Elsa, Lenny, Tania, Milly, Vania dan Felisa bersamaan.


"Iya. Kepercayaan! Jika kepercayaan itu tidak ada dalam diri kita. Maka hubungan yang sudah kita jalin akan hancur," ucap Brenda.


"Jadi, jika kalian sudah memutuskan untuk pacaran. Maka kalian harus percaya dengan pasangan kalian," ucap Brenda.

__ADS_1


"Hm." Tania, Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania dan Felisa mengangguk paham.


__ADS_2