
[MANSION DARREN]
Darka berada di kamarnya bersama Gilang. Mereka berdua sedang menyelesaikan tugas kuliah. Sementara Darren sudah tertidur di dalam kamarnya.
Setelah makan malam, Darka dan Gilang meminta adiknya itu untuk langsung masuk ke dalam kamar dan menyuruh adiknya itu untuk langsung tidur.
"Hooaaamm." Darka menguap karena mengantuk.
Gilang yang melihat Darka yang telah mengantuk tersenyum gemas. "Jika sudah mengantuk, tidur saja. Jangan dipaksakan!" seru Gilang.
"Nanggung," jawab Darka.
Lalu detik kemudian, ponsel milik Darka berbunyi. Darka yang mendengar nada panggilan dari ponselnya langsung mengambil ponselnya itu. Darka melihat nama 'Kakak Davin' kakak laki-laki tertuanya di layar ponsel miliknya.
"Siapa?" tanya Gilang.
"Kakak Davin," jawab Darka tanpa melihat kearah Gilang.
"Ya, sudah angkat! Siapa tahu penting," Ucap Gilang. Darka pun mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo."
Darka menjawab dengan nada ketus. Gilang yang mendengar nada ketus Darka hanya diam dan geleng-geleng kepala.
Sementara Davin di seberang telepon yang mendengar nada ketus Darka hanya bisa pasrah. Dirinya tahu jika Darka masih belum memaafkan kesalahan atas apa yang terjadi pada adik bungsunya tempo lalu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Hallo, Darka. Apa kau, Gilang dan Darren sudah tidur?"
"Belum. Ada apa?"
"Darka. Bisa tidak kau dan Gilang pulang. Dan bawa Darren bersama kalian malam ini."
"Untuk apa? Apa kau dan saudaramu itu berencana ingin menyakiti adikku lagi, hah?!"
"Darka. Kenapa kau bicara seperti itu pada kakak? Apa kau masih marah? Darka, tolong jangan benci kakak. Melihat kebencian Darren pada kakak sudah membuat hidup Kakak menderita. Hidup kakak akan lebih menderita lagi jika kau dan Gilang ikut membenci Kakak juga. Darka, maafkan kakak. Kakak mohon."
Darka terdiam saat mendengar penuturan dari Davin. Sejujurnya, Darka juga tidak ingin membenci Davin. Namun salahkan sifat egonya yang sudah kecewa akan perlakuan buruk Davin dan Andra terhadap adik laki-laki kesayangannya.
"Apa alasanmu memintaku, Gilang dan Darren untuk pulang malam ini?"
Gilang yang mendengar pertanyaan Darka menjadi terkejut. Gilang menatap Darka.
"Ini masalah Papa."
"Papa? Kenapa dengan Papa? Papa baik-baik sajakan, kakak Davin?"
Gilang makin terkejut saat mendengar Darka menyebut Ayahnya. Ditambah lagi dengan raut wajah Darka.
"Papa baik-baik saja. Tapi sepulang Papa dari Perusahaan, Papa terlihat murung. Papa seperti ketakutan dan juga cemas. Makan malam saja Papa hanya sedikit."
"Apa Kakak Davin sudah bertanya pada Papa?"
"Sudah, Darka. Tapi Papa hanya mengatakan bahwa Papa baik-baik saja. Kakak mengira kalau Papa hanya gugup atau takut akan kerja sama dan proyek besok. Mungkin dengan kau, Gilang dan Darren pulang. Bisa membuat Papa mau bercerita. Apalagi kalau Darren yang bertanya."
"Baiklah. Aku akan bicarakan hal ini pada Darren. Dan semoga saja Darren mau ikut pulang malam ini. Tapi ingat! Jika Kakak Davin berani menyakiti adikku lagi. Maka seumur hidup aku tidak akan pernah menganggap Kakak sebagai kakak laki-lakiku lagi."
"Kakak bersumpah. Kakak berkata jujur. Oke! Kakak akan terima apa yang kau ucapkan itu."
"Baiklah," jawab Darka.
Setelah mengatakan hal itu, Darka langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1
"Ada apa, Darka?"
"Kakak Davin meminta kita untuk pulang bersama Darren."
"Apa?"
"Kakak Davin bilang ini demi Papa. Kakak Davin berpikir jika ada sesuatu yang disembunyikan Papa."
"Maksudmu Papa ada masalah gitu."
"Ya seperti itu. Tapi Papa tidak mau cerita. Makanya kakak Davin meminta kita untuk pulang malam ini bersama Darren. Kakak Davin berpikir jika ada Darren pasti Papa akan terbuka."
"Kalau begitu kita ke kamar Darren sekarang!" seru Gilang.
Dan mereka pun memutuskan untuk menuju kamar Darren.
^^^
Kini Darka dan Gilang sudah berada di depan pintu kamar Darren. Darka menyentuh knop pintu, lalu kemudian membukanya.
CKLEK
Pintu kamar Darren terbuka. Darka dan Gilang melangkah memasuki kamar Darren.
"Gil, lihatlah! Darren tidurnya pulas sekali." Darka mengelus lembut rambut Darren, lalu mencium keningnya sayang.
"Gil. Apa kita akan tetap membangunkan Darren? Aku tidak tega membangunkannya."
"Biar aku yang membangunkannya," ucap Gilang.
Gilang menduduki pantatnya di samping adik laki-lakinya, kemudian tangannya mengusap lembut rambutnya.
"Darren. Bangunlah, sayang!" ucap Gilang lembut. Sedangkan Darren hanya menggeliat dalam tidurnya.
Berlahan Darren membuka kedua matanya. "Ka-kakak."
Gilang dan Darka tersenyum melihat wajah bantal Darren.
"Ayo, duduk dulu!" Gilang menarik pelan kedua tangan adik laki-lakinya.
"Ada apa, kak Gilang?"
"Begini, Ren! Kamu mau tidak ikut dengan kakak dan kakak Darka pulang ke rumah malam ini?"
"Pu-pulang?" tanya Darren.
"Iya, sayang!" Darka menjawabnya dengan lembut.
"Tidak. Aku tidak mau. Kalau kakak Darka dan kakak Gilang ingin pulang, silahkan. Tapi aku tidak mau ikut bersama kalian!"
Darka menduduki pantatnya tepat di samping adik laki-lakinya itu. Lalu Darka menggenggam tangannya.
"Awalnya kakak juga tidak mau. Tapi Kakak Davin bilang ini demi Papa. Sepulang Papa dari kantor, Papa banyak melamun. Bahkan Papa juga sedikit saat makan malam. Kakak Davin berpikir ada sesuatu yang disembunyikan Papa, tapi Papa tidak mau menceritakannya. Mungkin dengan adanya kamu. Papa mau bercerita," ucap Darka lembut. Darka berharap adik laki-lakinya mau ikut pulang malan ini.
Mendengar penjelasan dari Darka membuat Darren langsung memikirkan keadaan Ayahnya.
"Darren," panggil Darka dan Gilang saat melihat adik laki-lakinya hanya diam.
"Baiklah. Aku mau ikut pulang ke rumah bersama kalian. Ini aku lakukan demi kalian dan Papa."
Gilang dan Darka tersenyum mendengar ucapan dari Darren.
__ADS_1
Darka memberikan ciuman di pipi adiknya itu. "Terima kasih ya. Kak Darka janji tidak akan terjadi apa-apa saat kamu pulang ke rumah," janji Darka.
"Kak Gilang akan selalu ada di samping kamu. Kak Gilang tidak akan jauh-jauh dari kamu," kata Gilang.
"Ya, sudah! Lebih baik kita bersiap-siap!" seru Darka.
Dan ketiganya pun bersiap-siap untuk pulang kerumah keluarga mereka.
***
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Erland berada di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Namun Erland benar-benar tidak bisa tidur, walau hanya sekedar untuk memejamkan kedua matanya.
"Sayang," ucap Agneta.
Agneta benar-benar mengkhawatirkan suaminya. Dari pulang kantor suaminya tampak gelisah, takut dan tidak bersemangat sama sekali. Bahkan suami banyak melamun.
Erland melihat kearah istrinya, lalu memperlihatkan senyuman. "Aku tidak apa-apa, sayang! Lebih baik kau tidur."
"Bagaimana aku bisa tidur. Sementara suamiku gelisah dan takut seperti ini," ucap Agneta.
Disisi lain, para putra-putranya, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian masih berada di ruang tengah.
"Aku benar-benar khawatir dengan Papa, kak Davin!" seru Adrian.
"Tidak biasanya Papa seperti ini. Menghadapi kerja sama dan proyek besar besok bukan pertama kalinya bagi Papa. Ini adalah yang kesekian kalinya. Tapi melihat kegelisahan dan ketakutan Papa yang tidak biasanya membuatku benar-benar takut," kata Mathew.
"Aku tidak mau hal-hal buruk menimpa keluarga kita. Dan aku tidak mau terjadi sesuatu pada Papa. Apalagi sampai jatuh sakit," sela Nathan.
Mereka semua terdiam. Mereka saat ini memikirkan keadaan Erland, Ayahnya, Pamannya, serta kakak laki-lakinya. Mereka semua takut dan khawatir jika kesehatan Erland terganggu.
Saat mereka tengah berperang dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi.
TING
TONG
"Itu pasti Gilang, Darka dan Darren!" seru Carissa.
"Kalau begitu, biarkan aku yang membukakan pintunya!" seru Andra.
Andra pun langsung melangkah menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
^^^
Andra sudah berada di ruang tamu, lalu kemudian Andra langsung memutar kunci tersebut. Setelah itu, Andra pun membuka pintu itu.
CKLEK
Pintu terbuka dan Andra dapat melihat ketiga adik laki-lakinya berdiri di depan pintu.
"Akhirnya kalian pulang juga!" seru Andra.
Andra menatap satu persatu wajah ketiga adik laki-lakinya. Dan kini tatapan matanya menatap wajah tampan, manis dan sekaligus cantik adik bungsunya.
Darren yang merasa ditatap oleh Andra hanya bersikap biasa saja, acuh, dingin dan datar.
Tanpa mengucapkan kata apapun, Darren langsung melangkah masuk ke dalam rumah dan meninggalkan ketiga kakak laki-lakinya itu.
Melihat adiknya telah melangkah masuk, Gilang dan Darka pun ikut menyusul.
__ADS_1
Sementara Andra hanya bisa menghela nafasnya akan sikap acuh dan dingin ketiga adiknya. Melihat ketiga adiknya telah masuk, Andra pun menutup pintu itu kembali.