
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Di ruang tengah masih berkumpul Erland dan anggota keluarganya, kecuali Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Mereka sudah berada di kamar masing-masing. Mereka semua disuruh tidur karena besok pagi mereka harus berangkat ke sekolah.
Disaat mereka semua masih dalam keadaan pikiran yang kalut akan kerja sama besok, Dzaky dan Adnan sedari tadi memperhatikan wajah adik bungsunya. Mereka menatap wajah adiknya itu dengan tatapan khawatir.
"Kenapa wajah Darren terlihat pucat?" batin Dzaky dan Adnan.
"Darren," panggil Adnan.
Darren yang merasa dipanggil lalu mengalihkan pandangannya melihat kearah Adnan dengan wajah dingin dan datarnya.
"Apa?" jawab Darren nada sedikit ketus.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Adnan.
Darren mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari kakak keempatnya itu.
"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" tanya Darren balik.
"Tapi wajah kamu pucat," sela Dzaky.
Mendengar ucapan dari Dzaky, mereka semua menatap lekat wajah Darren. Dan benar saja, wajah Darren memang sedikit pucat. Hal itu sukses membuat mereka semua khawatir.
Erland yang duduk di samping putra bungsunya langsung menghadap kearah putra bungsunya itu.
Erland menyentuh kening putra bungsunya. Dan dapat Erland rasakan kening putra bungsunya itu sedikit hangat.
"Sayang. Kepala kamu sedikit hangat. Kamu istirahat ya. Papa tidak ingin kamu kembali down."
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Papa tidak perlu khawatir," jawab Darren.
Darren memang sedari tadi menahan rasa sakit di kepala dan juga di dada kirinya. Namun Darren memilih diam dan tidak mengatakan apapun kepada anggota keluarganya karena menurut Darren rasa sakit yang dirasakan olehnya tidak terlalu parah.
Namun beberapa detik kemudian, Darren tanpa sadar mengerang kesakitan sembari memegang dada kirinya.
"Aarrgghhh."
Mendengar erangan dari Darren membuat Erland, Agneta dan yang lainnya menjadi khawatir. Mereka semua menghampiri Darren.
"Sayang," ucap Erland dan Agneta khawatir.
"Darren," lirih para kakak-kakaknya.
"Darren," lirih Daffa, Tristan dan Davian.
"Darren, sayang!" Carissan dan Evan menatap khawatir Darren.
Darka menggenggam tangan kiri Darren dan jangan lupa air matanya yang sudah membasahi wajah tampannya. Darka benar-benar takut setiap kali melihat adiknya kambuh.
Darren memejamkan kedua matanya kuat dan tangannya menggenggam kuat tangan Darka. Darka dapat merasakan hal itu. Nafas Darren mulai tidak teratur.
Agneta langsung berpindah duduk di samping putranya itu, lalu kemudian menarik tubuh putranya itu ke dalam pelukannya. Agneta meletakkan tapak tangannya tepat diatas tapak tangan Darren yang saat ini memegang dada kirinya.
"Sayang. Kamu dengar Mama, nak? Kalau kamu dengar Mama. Sekarang lakukan apa yang Mama suruh. Tarik nafas pelan-pelan sampai kamu tidak bisa menariknya lagi, lalu buanglah pelan-pelan." Agneta berbicara sembari memberikan instruksi kepada Darren.
Darren pun langsung melakukan apa yang dikatakan oleh ibunya. Melihat Darren yang langsung menurut membuat Agneta dan yang lainnya tersenyum bahagia.
"Lakukan sekal lagi, sayang! Lakukan sampai kamu tidak merasakan sakit atau sesak di dada kamu."
__ADS_1
Darren pun melakukan apa yang dikatakan oleh Ibunya sehingga Darren dapat merasakan rasa sakit dan sesak itu hilang.
Agneta, Erland dan yang lainnya tersenyum bahagia saat melihat Darren yang sudah bernafas dengan normal kembali. Erland membelai lembut rambut putra bungsunya dan mengusap keringat yang membasahi wajah tampan putranya itu.
Sementara Agneta masih memeluk tubuh putranya itu. Agneta menjauhkan tangan putranya dari dadanya, lalu menggantikan dengan tangannya. Agneta mengusap-usap pelan dada putranya itu.
"Bagaimana, sayang? Apa masih sakit? Apa masih sesak?" tanya Agneta.
Darren menggelengkan kepalanya pelan dengan mata yang masih terpejam. Mereka yang melihat reaksi Darren tersenyum bahagia.
Disaat Agneta ingin melepaskan pelukannya, tiba-tiba terdengar lirihan dari mulut Darren.
"Mama. Jangan lepaskan. Biarkan seperti ini dulu. Nyaman," ucap Darren.
Seketika air mata Agneta jatuh membasahi wajah cantiknya saat mendengar ucapan dari Darren. Agneta benar-benar bahagia ketika putranya merasakan kenyamanan di pelukannya. Agneta makin mengeratkan pelukannya dan memberikan ciuman di kening dan di pipi putranya itu.
Beberapa detik kemudian, mereka dapat mendengar suara dengkuran halus dari mulut Darren. Dan dapat mereka pastikan Darren tertidur.
"Sepertinya Darren tertidur!" seru Tristan.
"Lebih baik pindahkan Darren ke kamarnya. Kasihan tidur dengan posisi seperti itu," usul Carissa.
Disaat Andra dan Adnan ingin mengangkat tubuh Darren untuk dinaikkan ke punggung Davin, tiba-tiba ponsel Darren berbunyi. Dan hal itu membuat Darren langsung membuka kedua matanya.
Darren langsung mengambil ponsel yang ada di saku celananya dengan posisi masih bersandar di pelukan Agneta. Darren melihat panggilan video dari ketujuh sahabatnya.
Darren memposisikan tubuhnya untuk duduk lalu kemudian menjawab panggilan video dari ketujuh sahabatnya itu.
"Hallo, para kutu kupret."
"Yak, Ren! Ada saja jawaban darimu setiap menjawab panggilan dari kami," kesal Qenan.
"Tidak usah protes. Mau apa kalian menelponku. Kalian semua itu mengganggu tahu. Dan kau Willy. Baru beberapa menit yang lalu kau menghubungiku dan sekarang kau muncul lagi. Aku bosan mendengar suara cemprengmu, asal kau tahu itu."
"Sialan kau kelinci set*n," kesal Willy.
"Dan kau adalah sahabatnya set*n tampan ini."
"Hahahaha."
Qenan, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry tertawa.
"Sudah, sudah. Ren," panggil Darel.
"Ada apa, Darel? Kenapa wajahmu sepet begitu? Apa ada masalah?"
"Ach, begini. Aku sengaja menghubungi kalian semua untuk membahas masalah kerja sama dan proyek besar yang akan dilakukan oleh Ayah-ayah kita," sahut Darel.
Sementara anggota keluarga, baik anggota keluarga Darren maupun anggota keluarga sahabat-sahabat Darren menyimak apa yang dibicarakan oleh Darren dan sahabat-sahabatnya.
"Memangnya ada apa, Darel?"
"Iya, Darel. Ada apa? Semuanya baik-baik sajakan?" tanya Axel.
"Katakan Darel," kata Dylan.
"Darel!" seru Rehan, Jerry, Qenan dan Willy.
"Begini.. Papa memutuskan untuk membatalkan kerja sama dan proyek besok dengan perusahaan GT. Jadi besok Papa tidak akan datang ke perusahaan itu."
__ADS_1
"Apa kau yakin, Rel?"
"Ya, Ren! Papa sendiri yang bilang padaku. Papa benar-benar tidak yakin akan kerja sama dan proyek besok. Walaupun Aku sudah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan aku juga sudah mengatakan semuanya sudah diatur oleh kelima kakak-kakak mafia kita. Tapi Papa tetap pada pendiriannya. Aku sebagai putranya memilih untuk menghargai keputusan Papaku. Lagian saat mendengar ucapan dari Papa, aku sebenarnya juga memiliki perasaan yang was-was, Ren! Maka dari itulah aku menghubungimu dan yang lainnya."
"Bagaimana denganmu, Ren?" tanya Dylan.
Saat mendengar pertanyaan dari Dylan dan mendengar penuturan dari Darel. Darren melihat kearah Ayahnya.
Erland yang menyadari akan tatapan putranya itu bingung harus berkata apa.
"Bagaimana dengan Papa? Paman Dellano memilih mundur," ucap dan tanya Darren.
"Seperti yang sudah kamu ketahui sebelumnya. Dari awal Papa juga sama seperti Dellano, Papanya Darel. Tapi Papa masih belum berani mengambil keputusan," jawab Erland jujur.
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Papa mundur," jawab Erland mantap.
Mendengar jawaban mantap dari Erland membuat Darren, anggota keluarganya bahkan anggota keluarga dari sahabat-sahabat Darren yang masih setia mendengar pembicaraan para putra dan adik mereka, maka dari itu Ayah dari Dylan, Willy, Rehan, Qenan, Jerry dan Axel juga memutuskan untuk mundur.
"Ren. Papa juga memutuskan untuk mundur setelah mendengar Paman Dellano dan Paman Erland untuk mundur!" seru Axel.
"Papa kami juga, Ren!" seru Qenan, Willy, Jerry, Rehan dan Dylan bersamaan.
"Baiklah," jawab Darren.
"Oh iya, Ren! Aku perhatikan wajahmu pucat. Apa kau sakit?" tanya Axel yang menyadari wajah Darren yang sedikit pucat.
"Aku baik-baik saja. Tadi beberapa menit yang lalu sempat kambuh. Tapi sudah tidak apa-apa."
"Kau yakin, Ren?" tanya Jerry.
"100% yakin, Jerry."
"Oh iya. Urusan kita dengan wanita murah*n itu sudah selesai. Jadi besok kalian sudah bisa terbebas dari kurungan kalian," celetuk Darren sambil tersenyum.
"Yak, Darren! Kau pikir kami ini apa, hah?!" terik mereka semua.
Darren langsung menjauhkan ponselnya saat mendengar teriakan dari ketujuh sahabatnya itu.
"Tidak usah pake teriak segala kampret," kesal Darren.
"Apa kau tidak ingin memberikan kejutan untuk mantanmu itu, hum?" ledek Rehan.
"Masih mending aku punya mantan. Setidaknya aku pernah merasakan bagaimana rasanya punya kekasih. Walaupun wanita yang menjadi kekasihku wanita yang menjijikan dan tidak tahu diri. Sementara kau kurus. Masih jomblo sampai sekarang."
"Sialan kau, Ren!" kesal Rehan.
"Satu sama!" seru Willy, Jerry, Axel, Qenan, Dylan dan Darel.
"Ya, sudah. Aku tunggu kalian besok pagi di rumah keluargaku. Pukul delapan pas kalian semua sudah harus ada di rumahku. Tidak boleh telat. Aku tidak menerima alasan apapun dari kalian," ucap Darren.
Saat Qenan ingin protes, Darren pun langsung mematikan panggilan videonya.
PIP!
"Maaf Mingtem. Aku tidak ingin menerima komplain darimu," ucap Darren dengan senyuman manisnya.
Anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat dan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya saat sedang berbicara dengan ketujuh sahabatnya.
__ADS_1