
Anggota keluarganya yang melihat Darren yang berteriak serta menangis menjadi tidak tega. Hati mereka benar-benar sakit, terutama Erland dan keenam kakak-kakaknya.
"Apa kesalahanku pada kalian? Aku sudah memberikan semuanya pada kalian. Aku menyayangi kalian dengan tulus. Aku juga selalu membantu kalian disetiap kalian mendapatkan masalah. Lalu apa yang sudah kalian berikan padaku. Tidak ada. Tidak ada satu pun balasan yang kalian berikan padaku. Kalian hanya memberikan luka padaku. Kalian hanya memberikan kesedihan untukku. Bahkan Ibu kalian memberikan luka yang begitu besar di hatiku!" teriak Darren dengan air matanya yang masih mengalir.
Baik Agneta, Adrian, dan keempat adiknya hanya bisa diam. Mereka tidak bisa berkomentar apapun saat ini. Mereka takut jika mereka kembali menyakiti kesayangannya. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka semua diam dan membiarkan Darren untuk mengeluarkan semua kekesalan dan amarahnya.
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jika kalian masih ingin aku menginap di rumah ini. Jika kalian masih ingin aku sering main ke rumah ini. Aku minta pada kalian untuk tidak mencampuri urusan pribadiku. Selama aku berada di rumah ini, tolong hargai privasiku. Terutama saat aku berada di dalam kamar. Jika kalian melanggar, maka selamanya aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini." Darren berbicara dengan penuh ancaman dan juga penuh penekanan disetiap kata.
Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu.
"Darren," lirih Darka dan Gilang.
Darren melihat kearah Darka dan Gilang, kedua kakak kesayangannya itu. Darren dapat melihat kesedihan di mata kedua kakaknya itu. Darren seketika tersenyum.
"Maafkan aku kak Darka, kak Gilang. Untuk kali ini, tolong kabulkan keinginanku itu." Darren berbicara dengan wajah memohonnya.
Darren menatap tajam kearah Agneta. Dirinya benar-benar marah dan tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Yang ada di pikirannya saat ini adalah mengeluarkan semua kekesalan dan kekecewaan serta amarahnya.
"Kau..." tunjuk Darren kearah Agneta. "Menjauhlah dari kehidupanku. Bagaimana pun kau hanya Bibiku, bukan Mamaku. Kasih sayang dan rasa hormatku padamu sudah hilang sejak kejadian itu. Jadi mulai detik ini, kau bukanlah Mamaku. Jangan bersikap seolah-olah kau adalah Mama kandungku. Kesempatanmu menjadi Mamaku sudah habis. Kau sudah menyia-nyiakan statusmu dengan menyakitiku. Apa kau tahu alasanku mau memaafkan kesalahan Papa? Itu karena dia adalah Papa kandungku. Seburuk apapun perlakuannya padaku, dia tetap Papaku. Dan aku berusaha untuk menjadi putra yang baik untuknya. Sementara kau... kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau hanya adik dari Mamaku. Sekalipun aku memutuskan hubungan denganmu, itu tidak akan jadi masalah." Darren berucap dengan kejamnya.
Seketika Agneta menangis saat mendengar penuturan dari Darren yang begitu kejam. Dirinya tidak menyangka bahwa putranya itu akan berbicara seperti itu padanya.
"Darren!" bentak Davin dan Andra.
Mendengar bentakkan dari Davin dan Andra. Darren tersenyum di sudut bibirnya. Darren lalu menatap tajam kearah Davin dan Andra.
"Kenapa? Apa kalian berdua tidak suka aku bersikap kasar pada Mama kesayangan kalian itu, hah?!" bentak Darren balik.
"Darren, bagaimana pun Mama Agneta adalah Mama kita. Mama Agneta yang sudah merawat kita dari kecil," sahut Andra yang berusaha berbicara lembut pada adik bungsunya.
"Terus, kau mau apa?" tanya Darren menatap nyalang Andra.
Andra yang mendengar adik laki-lakinya yang tidak menyebutnya dengan kata kakak untuk dirinya merasakan sesak di dadanya. Bahkan adiknya juga berbicara kasar padanya.
"Setidaknya, hargai dan hormati Mama Agneta. Dia adalah Mama kita, Darren!" jawab Andra.
"Apa kau tidak dengar barusan? Aku mengatakan bahwa dia bukan Mamaku. Dia adalah Bibiku. Jadi aku hanya akan memanggilnya dengan sebutan Bibi Agneta. Di hatiku hanya ada satu ibu yaitu Mama Belva," jawab Darren dengan menatap wajah Andra dengan penuh amarah. "Kalau aku mau hari ini juga aku bisa menghapus namamu dalam kehidupanku. Dengan kata lain, aku akan memutuskan hubungan persaudaraan denganmu, Diandra Smith!" Darren berbicara dengan tatapan mata yang menajam.
Seketika tubuh Andra terhuyung ke belakang saat mendengar ucapan dari Darren. Air matanya jatuh membasahi wajah tampannya. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika adik bungsunya tega mengatakan kata-kata itu untuknya.
__ADS_1
Sementara anggota keluarga yang lainnya benar-benar terkejut akan ucapan Darren yang begitu kejam. Mereka tidak menyangka jika Darren akan mengatakan hal itu pada Agneta dan Andra.
"Darren, kau benar-benar keterlaluan. Tidak sepantasnya kau berbicara seperti itu pada Mama dan juga Andra. Mereka adalah Mama dan kakakmu, Darren!" bentak Davin.
"Aku tidak peduli. Kalau kau tidak suka akan sikapku, kau bisa memutuskan hubungan persaudaraan denganku. Kau pikir aku akan sedih jika kehilangan saudara sepertimu dan juga saudara-saudaramu yang lainnya, hah!" bentak Darren.
"Darren!" bentak Davin.
Davin menghampiri Darren dan hendak menampar adiknya itu. Dirinya melakukan hal ini hanya untuk menyadari akan sikap adiknya yang tidak sopan pada ibunya dan juga kakaknya.
Saat Davin ingin melayangkan tangannya ke wajah Darren. Gilang sudah terlebih dahulu berdiri di depan Darren menjadi tameng untuk adik bungsunya itu.
"Jika kau berani menyentuh adikku, maka kau akan bermusuhan denganku, Davin Aldan Smith!" seru Gilang dengan penuh penekanan.
Seketika Davin langsung menurunkan tangannya dan menatap Gilang taj percaya.
"Gil," ucap Davin lirih.
"Aku tahu Darren tidak seharusnya berbicara seperti itu terhadap Mama dan kak Andra. Tapi kak Davin juga tidak seharusnya membalas semua ucapan Darren dengan cara ingin menamparnya. Jika Kak Davin melakukannya, itu sama saja kak Davin akan memperpanjang masalah ini. Kak Davin seharusnya mengerti kondisi Darren saat ini. Tidak semua permasalahan diselesaikan dengan kekerasan. Pikirkan juga kesehatan Darren, kak! Emosi Darren sering berubah-ubah, tergantung moodnya. Jika mood Darren baik, Darren akan bersikap baik pada kita semua. Jika mood Darren lagi buruk, bukan kalian saja. Aku dan Darka terkena imbasnya juga." Gilang berbicara sembari menatap kecewa kakak laki-laki tertuanya itu.
"Apa yang dikatakan Gilang benar. Kita seharusnya bisa memahami kondisi Darren saat ini. Hubungan kalian belum membaik dan jangan menambah masalah lagi. Buang semua ego kalian. Dan mengalahlah. Tidak ada ruginya jika kalian mengalah. Ini juga untuk kebaikan kita semua," sela Evan.
Darren yang berada di belakang Gilang hanya bisa diam. Dirinya saat ini merasakan sedikit sesak di dadanya. Darren terlalu banyak mengeluarkan energi ketika berbicara dengan emosinya yang meledak-ledak. Darka yang melihat keanehan dari adik kesayangannya itu langsung menghampirinya. Tangannya langsung mengusap lembut punggung adiknya itu.
Mendengar pertanyaan dari Darka. Seketika anggota keluarganya, termasuk Davin, Andra dan Gilang mengalihkan pandangannya melihat kearah Darren. Mereka semua khawatir. Dapat mereka lihat, Darren yang berusaha menahan rasa sesak di dadanya dengan berulang kali memejamkan kedua matanya.
"Darren," lirih Davin.
Davin mendekati Darren dan ingin mengelus rambutnya, namun saat tangan Davin ingin menyentuh kepalanya. Darren langsung menepis tangan Davin dengan kasar.
"Jangan menyentuhku," lirih Darren.
Darren menatap tajam kearah Davin. Sementara Davin yang melihat tatapan mata adiknya mengerti bahwa adiknya saat ini tengah marah padanya.
"Kau dengar aku baik-baik, Davin Aldan Smith. Kau masih ada di dunia ini karena aku. Apa kau lupa tentang kejadian pengeroyokan atas dirimu saat itu? Apa kau lupa tentang orang yang sudah menyelamatkan nyawamu ketika kau hampir mati ditangan salah satu preman itu? Aku ingatkan sekali lagi padamu, Davin Aldan Smith! Aku Darrendra orang yang sudah menyelamatkan nyawamu ketika itu. Jika kau masih berani melawanku. Jika kau masih berniat menyakitiku. Jika kau masih berniat untuk memukulku atau menamparku. Maka aku tidak akan segan-segan untuk mengambil nyawamu kembali. Anggap saja aku mengambil nyawamu sebagai ganti karena aku pernah menolongmu." Darren berucap dengan ucapan yang begitu kejam dan begitu menyakitkan.
Davin seketika terkejut saat mendapatkan penolakan dari adik bungsunya. Bahkan Davin lebih terkejut lagi ketika mendengar ucapan kejam dari adik bungsunya. Hatinya terasa sakit akan sikap dan ucapan adiknya.
"Darren, sayang! Kamu tidak apa-apa. Katakan pada Kak Gilang,." ucap Gilang dengan menatap khawatir adiknya.
Gilang saat ini benar-benar khawatir. Tangannya mengelus lembut wajah adik laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kak Gilang, kak Darka. Kalian berdua tidak perlu khawatir," jawab Darren.
"Apa kamu yakin, Nak? Kita ke rumah sakit ya." kini Erland yang bersuara.
"Tidak, Papa! Aku tidak mau kesana. Aku baik-baik saja," jawab Darren lagi.
Saat Darren sedang berusaha untuk melawan rasa sesaknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darren yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
Saat melihat nama 'Qenan' Darren langsung menjawabnya.
"Hallo, Nan."
"Hallo, Ren. Kami sedang di jalan menuju ke rumah keluargamu."
"Baiklah. Aku akan menunggu kalian."
"Kita jadikan pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi dari wanita murahan itu."
"Tentu. Bukankah memang itu rencana kita hari ini. Lagian aku sudah tidak sabar saat wanita murahan itu melihat kedatanganmu, Willy, Rehan dan Darel ketika mengunjunginya. Aku ingin melihat wajah terkejutnya."
"Baiklah. Lima belas menit kami sampai di rumah keluargamu."
"Hm."
Setelah mengatakan hal itu, Darren pun langsung mematikan panggilannya.
"Bagaimana?" tanya Gilang.
"Sudah tidak apa-apa, Kak Gilang. Sesaknya sudah hilang," jawab Darren.
"Kamu tidak bohongkan?" tanya Darka yang masih khawatir terhadap adik laki-lakinya itu.
"Yakin kak Darka. Aku sudah tidak apa-apa," jawab Darren jujur.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara klason mobil di luar.
TIN
TIN
TIN
__ADS_1
"Itu siapa yang datang?" tanya Daffa.
"Mereka sahabat-sahabatku, kak Daffa. Mereka datang untuk menjemputku karena aku dan sahabat-sahabatku akan ke rumah sakit," jawab Darren.