KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menolong Camila


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Mobil mewah berwarna hitam itu adalah milik Darren.


Darren saat ini mengendarai mobilnya sembari berbicara dengan seseorang di telepon. Baik Darren maupun seseorang di telepon tersebut sedang membahas masalah pekerjaan.


"Setengah jam lagi saya sampai di perusahaan Micro Sinopec."


"...."


"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?"


"...."


"Bagus. Kamu handle dulu sampai saya datang. Katakan pada Steven untuk memulai rapatnya jika saya datang terlambat."


"...."


Setelah mengatakan itu, baik Darren maupun seseorang di telepon sama-sama mematikan panggilannya. Darren kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dan kembali membawa mobilnya dengan sedikit ngebut, tapi tidak terlalu ngebut.


***


"Lepas!" bentak seorang gadis terhadap seorang Pemuda yang sejak tadi memegang tangannya dengan kuat.


Pemuda itu tidak sendirian, melainkan bersama tiga temannya. Pemuda yang memegang tangan seorang gadis adalah pemuda yang menaruh perasaan terhadap gadis tersebut. Lebih tepatnya adalah pemuda itu menjadikan gadis tersebut sebagai barang taruhan bersama teman-temannya.


"Gue nggak akan lepasin lo sebelum lo nerima cinta gue."


"Memangnya lo siapa? Lo nggak berhak maksa gue buat nerima cinta busuk lo itu. Dari pada gue nerima cinta lo dan jadi pacar lo. Mending gue jomblo seumur hidup."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari gadis di hadapannya membuat pemuda tersebut marah. Pemuda itu menatap begitu tajam gadis tersebut.


"Wah! Lo ternyata berani juga ya, Mil!" seru teman pertama dari pemuda yang memegang tangan gadis yang bernama Camila itu.


Nama gadis itu adalah Camila. Lebih tepatnya Camila Harahap. Berasal dari keluarga Harahap dan Carlo. Harahap marga dari ayahnya, sedangkan Carlo berasal dari ibunya.


Mendengar ucapan dari salah satu teman dari pemuda busuk, itulah penilaian Camila akan pemuda di depannya ini seketika menatap kearah pemuda di sampingnya. Seketika Camila tersenyum di sudut bibirnya.


"Sejak kapan gue takut sama pemuda-pemuda busuk seperti kalian, hah?! Keluarga gue mengajarkan gue untuk tidak takut dengan siapa pun di dunia ini. Selama gue tidak salah, keluarga gue mendukung gue untuk melawan."


Mendengar ucapan gadis di depannya membuat keempat pemuda itu tertawa.


Pemuda yang memegang kuat tangan Camila menatap tajam kearah Camila sehingga membuat Camila sedikit ketakutan.


Pemuda itu hendak menyentuh pipi putih Camila. Bahkan pemuda itu juga hendak menggerayangi tubuh Camila dengan tangannya.


Namun ketika tangannya hendak menyentuh pipi dan tubuh Camila, tiba-tiba terdengar suara seseorang sehingga membuat pemuda itu menurunkan kembali tangannya.


"Menjauhlah dari gadis itu!"


Baik pemuda yang mqemegang tangan Camila maupun ketiga temannya langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Camila.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Camila ketika melihat wajah pemuda yang berteriak tersebut.


"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih kau telah mengirim seseorang untuk menolongku," batin Camila.


Pemuda yang berteriak tersebut melangkahkan kakinya menghampiri empat pemuda yang sedang menyudutkan satu gadis.


Tatapan mata pemuda itu langsung menatap kearah gadis tersebut yang mana gadis itu juga menatap dirinya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja, Camila?"


"Aku baik-baik, Ren!'


Ya! Pemuda yang datang menolong Camila adalah Darren.


Ketika Darren fokus menatap jalan raya, tiba-tiba tatapan matanya tak sengaja melihat adegan dimana empat pemuda tengah menyudutkan seorang gadis.


Yang membuat Darren terkejut adalah bahwa gadis yang menjadi korban itu adalah sepupu dari salah satu sahabatnya yaitu Dylan.


Darren menatap tajam kearah pemuda yang saat ini masih memegang tangan Camila. Pemuda itu tidak berniat melepaskannya.


"Lepaskan tanganmu dari tangan Camila! Biarkan dia pergi." Darren berucap dengan tatapan matanya yang tajam serta wajah yang dingin.


"Hahahaha. Memangnya lo siapa memerintah gue. Lo bukan siapa-siapa gue. Mending lo pergi dari sini dan tidak usah ikut campur!" bentak pemuda itu.


"Sekali lagi gue katakan. Lepaskan tanganmu dari tangannya Camila." Darren masih berusaha untuk tidak terpancing.


"Kalau gue tidak mau, lo mau apa?!" bentak pemuda itu dengan menatap tajam Darren.


"Oh, jangan-jangan lo adalah sugar Daddy dari gadis murahan ini ya!"


Seketika Darren mengepal kuat ketika mendengar ucapan dari pemuda di depannya.


Detik kemudian..


"Aakkhh!" pemuda itu seketika berteriak kesakitan di bagian pergelangan tangannya.


Yah! Darren memegang kuat tangan pemuda itu sehingga membuat pemuda itu kesakitan.


***


Elzaro sudah mempersiapkan semua alat untuk menyingkirkan para benalu yang menempati rumah mewah milik keluarga Egger. Rumah mewah tersebut, termasuk semua kekayaan keluarga Egger seharusnya menjadi milik kekasihnya yaitu Saskia Alexa Egger dan sang Bibi yaitu Samantha Egger.


"Saya dengar dari pengacara keluarga Egger katanya Nyonya Samantha sudah berada di kota ini. Sekarang beliau berada di Hotel," ucap Reiki sang pengacara.


Mendengar ucapan dari sang pengacara membuat Elzaro terkejut sekaligus bahagia.


"Benarkah?"


"Itu benar."


"Kenapa Bibi Samantha tidak langsung pulang ke rumahnya?"


"Informasi yang saya dengar dari pengacara tersebut bahwa Nyonya Samantha telah mempersiapkan sesuatu untuk membuat para benalu itu syok dan juga terkejut. Rencana Nyonya Samantha sama seperti rencana Tuan Lino."


Elzaro tersenyum mendengar ucapan sekaligus jawaban dari pengacaranya itu.


"Baguslah kalau begitu. Apa Bibi Samantha akan datang sendiri?"


"Tentu tidak. Nyonya Samantha akan datang bersama dengan pengacara itu."


"Ini sangat sempurna. Akan ada dua pengacara terhebat dan terkenal datang ke kediaman Egger. Aku semakin tidak sabar melihat ekspresi wajah dari manusia-manusia serakah itu." Elzaro berbicara dengan wajah yang dingin.


"Saya akan berusaha sekuat saya untuk membuat mereka pergi tidak membawa apapun dari rumah tersebut. Dan saya pastikan semua kekayaan milik keluarga Egger tetap pada pemiliknya."


Elzaro tersenyum ketika mendengar ucapan serta janji Reiki. Dia sangat yakin jika Reiki akan mampu melainkan hal tersebut. Begitu juga dengan pengacara keluarga Egger yang saat ini mendampingi Samantha.

__ADS_1


***


Braak..


Pintu ruang rapat seketika dibuka paksa oleh seseorang sehingga membuat orang-orang di dalam ruang rapat tersebut terkejut.


"Bos!"


"Tuan Darren!"


Steven dan orang-orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut menyapa Darren.


Yah! Orang yang membuka pintu ruang rapat tersebut dengan paksa adalah Darren. Hal itu Darren lakukan karena dirinya terlambat menghadiri rapat tersebut sehingga ketika tiba di perusahaan Micro Sinopec, Darren langsung berlari memasuki perusahaan miliknya itu dan langsung membuka paksa pintu ruang rapat setelah tiba di depan pintu itu.


"Maaf saya terlambat. Ada kejadian kecil di tengah perjalanan menuju kesini."


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Darren membuat mereka semua paham. Bahkan mereka juga tidak ada niat untuk mengajukan protes atau kecewa akan keterlambatan dirinya.


"Tidak apa-apa, tuan Darren. Saya memakluminya. Kita tidak bisa memaksa kehendak kita untuk segera sampai di perusahaan." salah satu rekan kerjanya menjawab dengan bijak.


"Iya, itu benar. Tuan Darren jangan merasa bersalah atas keterlambatannya. Steven selaku Direktur sekaligus orang kepercayaan Tuan Darren sudah menjelaskan secara detail kerja sama perusahaan kita." rekan kerja lainnya ikut bersuara.


Mendengar ucapan dari dua rekan kerjanya membuat Darren seketika menghela nafas leganya.


"Terima kasih!"


Darren melangkah mendekati kursi. Disana sudah berdiri Steven dan asistennya.


"Bagaimana?" tanya Darren kepada Steven.


"Sesuai keinginan anda, Bos! Mereka semua setuju untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan kita," jawab Steven.


"Benarkah?"


"Benar, Bos!"


"Ach, syukurlah!" Darren tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari Steven sekaligus kepercayaan di perusahaan Micro Sinopec.


Ada sekitar 15 laki-laki atau rekan kerja di dalam ruang rapat tersebut. Kelima rekan kerja kerja tersebut berasal dari perusahaan yang terkenal di beberapa daerah, kota dan negara. Mereka sejak awal memang sudah berniat untuk menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan Micro Sinopec milik Darren. Alasannya adalah bahwa mereka begitu menyukai cara kerja pimpinan dari perusahaan tersebut.


Detik kemudian...


Kelima belas rekan kerja tersebut berdiri bersamaan dengan tatapan matanya menatap kearah Darren dan Steven secara bergantian.


"Kami semua sepakat ingin menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan Micro Sinopec milik Tuan Darren!" seru rekan kerja pertama.


"Direktur Steven sudah menjelaskan materi, misi, visi dan keuntungan-keuntungan yang akan didapat kedua belah pihak." rekan kerja kedua juga ikut bersuara.


"Kami sangat-sangat puas dari hasil yang disampaikan oleh Direktur anda, Tuan Darren!" seru rekan kerja keempat dan diangguki oleh semua rekan kerja lainnya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari tiga rekan kerjanya membuat Darren tersenyum. Dirinya benar-benar bahagia saat ini.


Bagaimana tidak bahagia. Setiap dia dan orang-orang yang dia percaya selalu berhasil mendapatkan rekan kerja baru.  Baik dia yang merekrut maupun orang-orang yang ingin menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan miliknya.


"Semoga kerjasama kita berjalan lancar," ucap Darren.


"Aamiin!" seru semua rekan kerja tersebut.

__ADS_1


__ADS_2