
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Keesokannya paginya, anggota keluarga Smith akan sarapan pagi bersama. Semuanya sudah berkumpul di meja makan, kecuali Darren yang masih berada di kamarnya.
Darren masih berada di rumah keluarganya. Niat awalnya Darren ingin kembali pulang ke rumahnya, namun saat melihat Ayahnya tiba-tiba demam saat malam hari. Akhirnya Darren pun memutuskan untuk menginap selama 1 minggu di rumah keluarganya.
"Kalian sarapanlah dulu. Mama akan ke kamar Darren untuk menyuruhnya sarapan," ucap Agneta.
Ketika Agneta ingin melangkah, tiba-tiba Melvin menahannya.
"Mama."
Agneta melihat kearah putra bungsunya itu. "Ada apa, sayang?"
"Biar aku saja yang manggil, kakak Darren."
Agneta tersenyum mendengar ucapan dari putranya itu. "Apa kamu yakin, hum?"
"Aku yakin, Ma."
"Baiklah. Sekarang panggilkan kakakmu itu. Buat kakakmu itu ikut sarapan pagi bersama kita," ucap Agneta.
"Baiklah."
Setelah mengatakan hal itu, Melvin berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamar Darren yang berada di lantai dua.
Mereka yang melihat betapa semangatnya Melvin ingin memanggil Darren untuk sarapan tersenyum bahagia.
"Semoga Melvin berhasil membujuk Darren untuk sarapan," ucap Davian.
"Iya, semoga." mereka semua menjawab bersamaan.
^^^
Melvin sudah berada di depan pintu kamar Darren, lalu kemudian dirinya memberanikan untuk mengetuk pintu tersebut.
TOK!
TOK!
TOK!
Melvin mengetuk pintu kamar Darren tiga kali, namun tidak ada jawaban dari siempunya kamar.
Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari kakaknya, Melvin pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kakaknya itu.
CKLEK!
Pintu telah terbuka, Melvin pun melangkah masuk ke dalam kamar kakaknya itu.
Saat tiba di dalam kamar, Melvin melihat kakaknya sedang duduk di sofa sambil memangku sebuah laptop.
__ADS_1
"Kakak Darren," panggil Melvin.
Darren yang mendengar namanya dipanggil langsung menolehkan keasal suara. Dapat dilihat olehnya, adik bungsunya yang sudah berada di dalam kamarnya. Setelah itu, Darren kembali menatap laptopnya.
"Kalau masuk ke kamar seseorang itu ketuk pintu dulu. Jangan nyelonong begitu saja. Apa ibumu tidak memberitahumu jika masuk ke kamar seseorang itu harus ketuk pintu terlebih dahulu," ucap Darren sinis.
Mendengar penuturan dari Darren. Melvin seketika menangis. Kepalanya menunduk. Darren sekilas melirik kearah adiknya dan dilihat olehnya adiknya itu tengah menangis.
"Cih!" Darren berdecih.
"Maaf kakak Darren. Aku tadi sudah ketuk pintunya berulang kali. Tapi kakak Darren tidak dengar. Jadi aku langsung masuk saja," lirih Melvin.
Mendengar ucapan dari Melvin. Darren hanya diam saja tanpa berkomentar apapun.
Darren melihat kearah Melvin. Sejujurnya dirinya juga tidak tega bersikap seperti ini terhadap Melvin dan adik-adiknya yang lain. Hanya saja Darren masih merasakan sakit di hatinya saat mengingat kelima adik-adik telah merebut kasih sayang dan perhatian keenam kakak-kakaknya dan juga Ayahnya.
"Sekarang kau keluar dari kamarku. Dan jangan pernah lagi kau berani memasuki kamarku tanpa seizinku. Kau mengerti!" bentak Darren.
Melvin yang mendapatkan bentakkan dari kakak kesayangannya itu menjadi semakin terisak. Dirinya tidak ingin dibenci oleh kakak kesayangannya. Dirinya benar-benar sangat menyayangi kakaknya itu.
"Hiks... kakak Darren... maafin aku. Aku datang ke kamar kakak Darren hanya ingin mengajak kakak Darren untuk sarapan. Papa, Mama dan yang lainnya sudah berada di meja makan."
"Aku bilang keluar dari kamarku. Apa kau tidak dengar, hah!?" bentak Darren lagi.
"Hiks... kakak Darren," isak Melvin.
"Baiklah, jika itu maumu. Biar aku yang keluar dan kembali pulang ke rumahku," sahut Darren.
Darren mematikan laptopnya dan menutupnya. Setelah itu, Darren beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kamarnya.
"Kakak Darren, tunggu! Maafin aku!" teriak Melvin.
^^^
Di meja makan, anggota keluarga sedang menunggu kedatangan Darren dan Melvin. Mereka semua tidak sabaran saat melihat Melvin yang berhasil membujuk Darren untuk sarapan bersama.
"Iih, lama sekali mereka turun. Memangnya mereka berdua ngapain didalam kamar?" seru Tristan.
"Iya, nih. Lama sekali," sela Davian.
"Sabar kenapa, sih. Kalian pikir gampang membujuk anak kelinci yang keras kepala itu," saut Carissa.
"Membujuk sikelinci keras kepala itu harus memiliki seribu ekstra kesabaran. Dan seribu cara untuk bisa membujuknya. Apalagi kalau moodnya lagi buruk. Akan lebih susah lagi membujuknya," sela Evan.
"Hahahaha."
Mereka semua tertawa saat mendengar penuturan dari Carissa dan Evan.
Saat mereka semua tengah membahas Darren dan Melvin, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Melvin yang memanggil Darren.
"Kakak Darren. Tunggu!" teriak Melvin.
__ADS_1
Mereka yang mendengar teriakan Melvin yang sedang memanggil Darren langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan.
^^^
Darren kini sudah berada di bawah. Kakinya terus melangkah menuju pintu utama, namun langkahnya terhenti saat mendengar teriakan dari Melvin.
"Kakak Darren, jangan pergi. Maafin aku karena sudah lancang memasuki kamarnya kakak Darren. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, kak!"
Melihat adiknya yang menangis. Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan menghampiri adik laki-laki mereka itu.
"Kakak Darren. Mau sampai kapan kakak Darren membenci kami? Setidaknya beri kami kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya!" seru Adrian.
"Kakak Darren. Saat kejadian itu, aku dan adik-adikku hanya diam. Kami tidak ikut menyakitimu seperti kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan dan kakak Gilang. Tapi kenapa kami juga ikut dibenci?" ucap dan tanya Mathew.
"Kakak Darren, kami mohon. Maafkan kami," lirih Nathan.
"Kakak Darren saja bisa memaafkan kak Darka dan kak Gilang. Tapi kenapa Kak Darren tidak bisa memaafkan kami. Seperti yang dikatakan oleh Kak Mathew, kami tidak menyakiti kak Darren seperti kak Davin, kak Andra, kak Dzaky, kak Adnan dan kak Gilang," sahut Ivan.
Darren yang mendengar penuturan-penuturan dari kelima adik-adiknya mengepalkan kuat tangannya.
Darren membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Adrian dan adik-adik. Mereka yang melihat tatapan mata Darren merasakan ketakutan. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu antara Darren dan adik-adiknya.
Darren melangkah menghampiri kelima adiknya itu dengan tatapan matanya yang tajam. Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin merasakan ketakutan saat melihat tatapan mata Darren. Mereka menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap Darren.
"Apa aku tidak salah dengar, hah!? Kalian mengatakan bahwa kalian tidak memiliki kesalahan padaku seperti kesalahan kakak-kakak kalian padaku. Apa kalian yakin jika kalian tidak memiliki kesalahan!?" bentak Darren.
"Maafkan aku, kak Darren. Tapi kami... kami benar-benar tidak memiliki kesalahan pada kak Darren," saut Adrian gugup.
Mendengar jawab dari Adrian. Darren menatap penuh amarah pada kearah Adrian.
"Kau..." Darren mengangkat tangannya ingin menampar Adrian.
"Darren, jangan!" teriak anggota keluarganya.
Seketika Darren menghentikan tangannya saat dirinya melihat ibunya berdiri tepat di hadapannya.
Agneta tiba-tiba menghampiri kelima putranya dan menghalangi kelima putranya itu dari amukan putranya yang lainnya.
Darren menurunkan tangannya dan menatap tajam kearah Agneta.
"Aarrggghhh!"
PRAANNGG!
"Darren!" teriak mereka semua.
Darren berteriak sembari meninju guci yang besar milik Agneta.
"Brengsek!" teriak Darren.
"Anda benar-benar pilih kasih padaku. Dulu ketika aku diserang oleh kelima putramu. Anda diam saja. Tidak ada niat sedikit pun di hati anda untuk membelaku. Sekarang anda melakukannya lagi ketika aku hendak menampar putra kandung anda."
__ADS_1
Darren menatap wajah kelima adiknya. "Kalian sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Kalian sudah merebut kasih sayang dan perhatian Papa dariku. Kalian juga merebut kasih sayang dan perhatian keenam kakak-kakakku. Sekarang kalian seenaknya mengatakan bahwa kalian tidak memiliki kesalahan apapun padaku. Kalianlah yang sudah membuatku menderita selama ini. Disini, bukan kalian saja yang punya hak untuk disayang dan diperhatikan. Tapi aku juga punya hak yang sama seperti kalian. Kalian sudah menghancurkan semua kebahagiaanku. Gara-gara ulah kalian semua, keenam kakak-kakak membatalkan janji mereka padaku hanya untuk memberikan perhatian untuk kalian. Padahal kalian bukanlah adik kandung mereka. Akulah yang adik kandung mereka!" teriak Darren disertai dengan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.
Anggota keluarganya yang melihat Darren yang berteriak serta menangis menjadi tidak tega. Hati mereka benar-benar sakit, terutama Erland dan keenam kakak-kakaknya.