KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rencana Licik Dzaky Dan Adnan


__ADS_3

Darren saat ini berada di kamarnya. Dirinya sudah dalam keadaan rapi. Dirinya hari ini akan ke perusahaan Accenture untuk mengecek karyawan-karyawannya serta beberapa pekerjaannya yang masih banyak yang belum diselesaikan.


Disisi lain dimana anggota keluarganya juga sama seperti dirinya sama-sama sudah dalam keadaan rapi. Ada yang berpakaian kantor, berpakaian mahasiswa dan ada berpakaian pelajar.


Mereka semua saat ini sudah berada di ruang makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama.


"Bagaimana keadaan kamu, Dito?" tanya Erland dengan menatap kearah Nandito.


"Aku sudah mendingan Paman," jawab Nandito.


"Yakin? Bagaimana luka di kepala kamu?" Kini Agneta yang bertanya kepada keponakannya itu.


"Yakin, Bibi! Luka di kepalaku sudah tidak apa-apa. Sudah kering. Hanya menunggu penyembuhan saja," jawab Nandito.


Mendengar jawaban dari Nandito membuat mereka semua tersenyum bahagia dan juga lega.


"Kamu tidak usah kuliah hari ini," ucap Gilang.


"Sembuhkan dulu luka kamu dan tubuh kamu. Setelah benar-benar sembuh, kamu boleh masuk kuliah." Darka juga ikut menasehati adik sepupunya itu.


"Iya, kak!" Nandito langsung menjawab perkataan dari kedua kakak sepupunya itu. Dirinya juga tidak ada niat untuk membantah karena apa yang dikatakan oleh kedua kakak sepupunya itu demi kebaikannya.


"Oh iya! Bagaimana dengan Darren? Apakah Darren masuk kuliah hari ini?" tanya Delia dengan menatap semua anggota keluarga.


Semuanya diam ketika mendengar pertanyaan dari Delia. Keterdiaman mereka karena mereka tidak tahu harus bicara apa. Secara mereka sangat tahu watak dan karakter Darren yang sesungguhnya.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Delia ketika melihat tidak ada jawaban apapun dari anggota keluarganya.


"Sepertinya Darren kuliah, Bibi Delia! Sekali pun kami ingin melarangnya, Darren akan tetap kuliah!" Davin menjawab perkataan dari bibinya itu.


"Sekeras apapun kita melarangnya, sekeras itu juga Darren tetap pada pendiriannya. Tidak bisa ditahan atau pun dibujuk," ucap Adnan.


"Nanti Paman akan coba!" seru Brian.


"Semoga berhasil!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.


Tap..


Tap..


Tap..


Seketika terdengar langkah kaki menuruni anak tangga. Mereka semua langsung bersamaan melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat Darren yang sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian kantornya sedang melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Darren ketika melihat semua anggota keluarganya menatap dirinya.


Mendengar pertanyaan dari Darren seketika membuat mereka semua tersenyum kikuk lalu kembali bersikap biasa. Sedangkan Darren langsung menduduki pantatnya di kursi sebelah Dzaky. Dan mereka semua pun memulai sarapan paginya.

__ADS_1


"Kakak Gilang!"


"Iya, Ren!"


"Izinkan aku saja Dosen ekonomi dan dosen sastra. Aku tidak masuk hari ini. Aku hari fokus sama perusahaan Accenture."


"Baiklah."


"Bagaimana dengan ketujuh sahabat-sahabat kamu? Apa mereka kuliah atau izin?" tanya Darka.


"Kayaknya mereka juga izin. Mereka akan mengecek perusahaan masing-masing."


"Berarti kamu sendirian hari ini di perusahaan?" tanya Davian.


"Kalau aku sendirian. Terus karyawan dan karyawati aku yang bekerja di perusahaanku mau kakak Davian kemanain?" tanya Darren.


"Hah!" Davian seketika menghela nafas pasrahnya bersamaan tangannya menepuk keningnya ketika mendengar balasan dari Darren.


"Yang kakak maksud itu kamu sendirian tanpa Qenan dan Willy, bodohh!" Davian berucap dengan nada kesal.


"Iya, iya! Terima kasih pujiannya tuan Davian."


"Terima kasih kembali, tuan Darren!"


"Hahahahahaha." mereka semua pun tertawa.


Drrtt..


Drrtt..


Dzaky langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, Dzaky melihat nama asistennya di perusahaan musik miliknya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dzaky kemudian langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Bos. Saya ingin memberitahu sesuatu."


"Apa? Katakan!"


"Begini, Bos! Kelima teman-teman Bos dan Bos Adnan selama ini tidak bersungguh-sungguh menjalin hubungan pertemanan dengan Bos dan Bos Adnan. Lebih tepatnya mereka memanfaatkan kepintaran dan kejeniusan Bos dan Bos Adnan untuk menaikkan derajat dan ketenaran perusahaan musik mereka di dunia intertaimant. Dan untuk hari Sabtu besok yang mana Bos dan Bos Adnan akan mengadakan makan malam bersama dengan mereka. Justru mereka akan membuat Bos dan Bos Adnan membayar semuanya. Mereka akan membawa pasangannya masing-masing karena mereka tahu bahwa Bos dan Bos Adnan belum memiliki pasangan."


Mendengar informasi dari asistennya itu membuat Dzaky tersenyum di sudut bibirnya. Dirinya memang sudah mencurigai keempat teman-temannya itu sejak dua bulan yang lalu, namun Dzaky berusaha untuk tidak peduli akan hal itu. Selama teman-temannya itu tidak melakukan kecurangan atau penipuan terhadap perusahaan musik miliknya, Dzaky akan bersikap biasa saja. Berbeda jika keempat teman-temannya itu yang juga teman-temannya Adnan melakukan kecurangan nyata. Barulah Dzaky akan membalas mereka.


"Kali ini mereka memesan hotel mana?" tanya Dzaky.


"Hotel yang terkenal dan ternama di kota Hamburg, Bos!"

__ADS_1


Dzaky kembali tersenyum mendengar asistennya itu mengatakan tentang jenis hotel yang dipesan oleh kelima teman-temannya itu.


"Hotel Grand Elysee."


"Benar, Bos!"


"Baiklah. Aku mau kau mengatur semuanya. Buat mereka tidak bisa meninggalkan hotel itu ketika Endingnya sudah ditentukan."


"Siap, Bos!"


Setelah mengatakan itu, Dzaky langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Kemudian Dzaky memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Erland, Agneta, Davin, Darren dan anggota keluarga lainnya menatap kearah Dzaky yang saat ini tengah tersenyum. Lebih tepatnya seringaian di bibirnya.


"Ada apa, Dzaky? Siapa yang menghubungi kamu?" tanya Andra.


Dzaky langsung melihat kearah kakak keduanya itu yang juga tengah menatap dirinya.


"Asistenku. Dia mengatakan bahwa aku dan Adnan selama ini hanya dimanfaatkan oleh kelima teman-teman kami."


Mendengar jawaban dari Dzaky membuat Andra terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Teman-teman yang kamu maksud itu Ferdy, Nando, Tio, Hengky dan Bima?" tanya Adnan.


"Iya, mereka! Mereka berteman dengan kita hanya untuk menaikkan ketenaran perusahaan musik mereka. Mereka tidak tulus berteman dengan kita selama ini. Dan mereka berencana untuk membuat kita mengeluarkan uang banyak disaat makan malam hari Sabtu besok. Mereka membawa pasangannya masing-masing."


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Dzaky membuat Adnan terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Mereka semua tidak menyangka jika kelima teman-temannya Dzaky dan Adnan memiliki sifat buruk seperti itu.


"Lalu apa yang kakak Dzaky lakukan untuk membuat mereka semua mati kutu dan kalah telak. Kakak Dzaky tidak membiarkan mereka menangkan?" ucap dan tanya Darren.


"Kamu tenang saja. Kalau soal balas membalas, kakak sudah mengatur semuanya. Selama kakak dan Adnan berteman dengan mereka, selama itu pula kakak dan Adnan tidak pernah mengatakan kalau keluarga Smith adalah keluarga kakak dan Adnan. Jadi mereka tidak tahu bahwa kita berdua keturunan keluarga Smith."


"Dan satu lagi. Mereka dengan bodohnya memesan hotel terkenal dan ternama. Kalian mau tahu hotel apa?" ucap dan tanya Dzaky dengan menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Hotel milik Mama. Hotel Grand Elysee! Kalian tahukan bagaimana cara kerja hotel Mama itu?"


"Siapa pun yang sudah masuk kesana. Jika berbuat masalah atau membuat keributan, maka pihak keamanan akan langsung bertindak. Bahkan orang-orang tersebut tidak diizinkan untuk meninggalkan hotel sebelum keadaan hotel kembali normal seperti sedia kala," ucap Gilang.


"Orang-orang yang bekerja di hotel itu adalah orang-orang yang berkualitas. Dengan kata lain, mereka tidak akan sembarangan menyerang orang jika belum mendapatkan bukti. Mereka juga tidak mempan hanya dengan ucapan-ucapan yang mengandung hasutan," ucap Davin.


"Dan semua itu tak lepas dari Mama. Dengan kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh Mama membuat hotel tersebut menjadi terkenal dan menjadi hotel nomor satu di kota Hamburg dan hotel terkenal di negara Jerman!" seru Darka.


"Di hotel itu akan ada kejutan untuk kelima manusia busuk itu," ucap Dzaky.


"Buat mereka menangis dan bertekuk lutut di hadapan kakak Dzaky dan kakak Adnan. Dan jangan memberikan kesempatan kedua untuk mereka." Darren berucap dengan penuh penekanan.


"Itu sudah pasti. Kamu tidak perlu khawatir masalah itu. Kakak dan Adnan tidak sudi lagi menjalin hubungan apapun dengan mereka," sahut Dzaky.

__ADS_1


"Kakak akan membatalkan semua kerjasama dengan mereka," sela Adnan dan langsung diangguki oleh Dzaky.


Mendengar jawaban yang sangat memuaskan dari kedua kakaknya itu membuat Darren tersenyum. Bagi Darren, seorang pengkhianat atau seorang penipu atau musuh dalam selimut tidak pantas dimaafkan, tidak pantas diberikan kesempatan kedua dan juga tidak pantas untuk diberikan kelimpahan rezeki dari orang yang dia khianati dan dia curangi. Jadi, orang-orang seperti harus diberikan hukuman yang sangat kejam yaitu memutuskan semua hubungan.


__ADS_2