KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Mall


__ADS_3

Setelah selesai dengan aktifitasnya di kampus. Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya memutuskan untuk mengajak para kekasihnya jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama.


Kini Darren dan Brenda berada di sebuah Mall yang terbesar dan terkenal di Jerman.


"Ren, mau itu ya. Kita kesana."


"Aduhh bagus banget sepatunya. Beli ini ya."


"Cantik banget tasnya."


"Ck! Buruan, Ren. Lelet banget sih. Kamu itu cowok apa cewek?"


Darren duduk di lantai mall yang terasa dingin. Dirinya lelah harus berputar mall sebesar ini dengan membawa banyak barang belanjaan.


Bukannya terlihat norak, malah para pengunjung mall berlalu lalang memekik takjub dengan pemandangan pemuda yang duduk di lantai itu.


Pesona yang begitu kuat!


"Oh, Tuhan! Brenda, apa kamu mau buat aku mati? Udah 6 jam kita muter-muter mall." keluh Darren menatap Brenda penuh mohon.


Kedua tangannya sudah penuh dengan paperbag berisi belanjaan. Sekitar sudah ada 20 lebih paperbag yang dibawa.


"Katanya kamu mau nurutin semua permintaanku," ucap Brenda sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ya, iya! Tapi Nggak harus sampai selama ini, Brenda! Ini belanjaan kamu udah banyak sekali," sahut Darren sambil menenteng paperbag itu yang sudah sangat berat.


"Terus kenapa kalau banyak? Nggak mau belanjain pacar sendiri?" tanya Brenda.


"Oh, Tuhan. Apa gue salah ngomong?" batin Darren.


"Brenda. Kamu lagi PMS ya?" tanya Brenda menebak.


"Kalo iya, emangnya kenapa?" tanya Brenda dengan menatap sinis Darren.


"Pantesan," ucap Darren di dalam hati.


"Ya, udah. Kita makan dulu ya. Nanti habis itu kita lanjut lagi," sahut Darren pasrah dari pada Denira nanti bisa berhari-hari diamnya.


"Ya, udah." Brenda menjawab perkataan Darren.


Dan setelah itu, Brenda langsung berjalan meninggalkan Darren.


"Dasar cewek kalau lagi PMS serem amat," batin Darren.


Disinilah mereka, di resto cepat saji yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


"Mau makan apa?" tanya Darren.


"Terserah aja," jawab Brenda.


"Ya, udah. Kalau gitu chicken katsu aja ya," ucap Darren.


Brenda menggeleng. "Nggak mau," jawab Brenda.


"Terus maunya makan apa?" tanya Brensa lagi.


"Terserah aja," jawab Brenda lagi.

__ADS_1


"Ya, udah. Kalau gitu mau steak atau salad? Kebetulan ada nih di menu," ucap Darren lagi dengan sabar.


Lagi-lagi Brenda menggeleng. "Gak mau."


Tanpa Brenda tahu. Darren sedang menahan emosinya di depan Brenda. Gadis yang sangat menyebalkan dengan menyandang status sebagai kekasihnya.


"Terus kamu mau makan apa?" tanya Darren sambil mengusap lembut kepala Brenda.


Hal itu sontak membuat para pengunjung kafe memekik melihat adegan itu yang menurut mereka sangatlah sweet, ditambah lagi sosok pemuda tampan yang mampu menarik perhatian mereka.


Sedangkan Brenda terlihat menahan sakit di perutnya. Hal itu terbukti saat ini dirinya terus memegangi perutnya sambil meletakkan dagunya menempel ke meja.


"Kamu kenapa?" tanya Brenda khawatir sambil mengusap rambut Brenda.


Brenda tetap menggeleng. Darren lalu menarik kursinya untuk lebih dekat dengan kekasihnya itu. Dirinya menyilakkan rambut Brenda ke belakang telinga. Dengan kepala Brenda masih menelungkup di atas meja.


Darren melihat raut kesakitan di wajah kekasihnya itu. Dan juga wajahnya yang sedikit pucat.


"Brenda, kamu nggak apa-apa? Kamu sakit?" tanya Brenda khawatir.


Darren kemudian mengangkat kepala Brenda yang masih menelungkup di meja dan menangkupnya.


"Oh, Tuhan! Kamu pucat banget, Brenda! Kita pulang ya," ajak Darren yang dibalas dengan anggukan lemah dari Brenda.


"Apa yang sakit?" tanya Darren khawatir.


Brenda masih memegang perutnya yang sangat terasa nyeri. Pandangan Darren turun ke bawah mengikuti arah tangan Brenda.


"Perut kamu sakit?" tanya Darren. Brenda mengangguk lemah.


"Ya, udah kita ke rumah sakit ya?" tanya Darren lembut yang di balas gelengan oleh Brenda.


"Cuma sakit perut biasa, Ren! Inilah yang dirasakan oleh seorang wanita setiap bulan," jawab Brenda lemah.


"Kamu lagi datang bulan?" tanya Darren.


"Iya," jawab Brenda.


"Pulang aja," ucap Brenda lemah.


"Ya, udah kita pulang. Sini naik ke punggungku," ucap Darren sambil mengambil tangan Brenda dan mengalungkannya di lehernya.


"Tapi aku berat, Ren!" ucap Brenda sambil menggeleng lemah.


"Badan segitu doang mah kecil buat seorang Darren," sahut Darren sambil terkekeh pelan.


Brenda mengangguk dan naik ke punggung Darren. Dirinya menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Darren membuat Darre lagi-lagi menahan nafsunya karena napas Brenda terasa menyapu lehernya hingga membangkitkan gairah yang selama ini ditahan.


Darren memanggil seseorang lalu memberinya beberapa lembar uang berwarna merah. Lalu orang itu membawa semua belanjaan Brenda dan berjalan di belakang Darren.


Melihat hal itu. Sontak semua orang yang melihat itu merasa baper.


[Ih. Perhatian banget sih sama ceweknya]


[Beruntung banget ya itu cewek]


[Iya. Yang satu tampan. Yang satunya cantik]

__ADS_1


[Pengen juga digendong]


***


Di kediaman keluarga Smith terlihat semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah.


Mereka berkumpul sembari bercerita tentang keseharian mereka selama diluar rumah.


Erland dan anggota keluarga lainnya sudah pulang ke kediaman keluarga Smith. Mereka sudah tidak berada di rumah Darren.


"Ini sudah pukul 4 sore. Apa Darren sudah pulang ya?" tanya Andra yang memikirkan adiknya.


Mendengar pertanyaan dari Andra, tiba-tiba mereka langsung kepikiran Darren. Secara mereka sudah tidak bersama Darren lagi. Jadi mereka tidak tahu apakah Darren sudah pulang atau belum.


Erland menatap wajah putra kelima dan putra keenamnya yaitu Gilang dan Darka.


"Gilang, Darka."


"Iya, Papa!" Gilang dan Darka menjawab secara bersamaan.


"Saat kalian selesai dengan kuliahnya. Apa kalian bertemu Darren?" tanya Erland.


"Tidak, Papa!"


"Ketika kuliah kami selesai. Kampus sudah terlihat sepi. Hanya tersisa beberapa mahasiswa dan mahasiswi saja," ucap Gilang.


"Aku akan menghubungi Darren!" seru Dzaky.


Setelah mengatakan itu, Dzaky mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya sudah berada di tangannya, Dzaky langsung menghubungi adik laki-lakinya itu.


"Dzaky. Loudspeaker panggilannya, sayang."


"Baik, Papa."


Dan beberapa detik kemudian...


"Hallo, kakak Dzaky."


"Hallo, Ren. Kamu dimana? Apa kamu sudah pulang ke rumah?"


"Astaga! Maafkan aku, kakak Dzaky. Aku lupa memberi kabar. Aku saat ini di rumah Brenda. Beberapa menit yang lalu aku dan Brenda pulang dari jalan-jalan."


Mendengar jawaban dan Darren membuat mereka semua seketika menghela nafas lega. Kesayangan mereka semuanya dalam keadaan baik-baik saja.


"Jam berapa kamu akan pulang, sayang?"


"Sekitar pukul 6 sore, aku sudah berada di rumah."


"Eemm... Kamu pulang....," perkataan Darka terpotong.


"Aku akan pulang ke kediaman Smith."


Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darren.


"Ya, sudah! Kamu hati-hati ya kalau bawa mobilnya."

__ADS_1


"Baik, Mama!"


Setelah mengatakan itu, baik Darren maupun Dzaky sama-sama mematikan panggilannya.


__ADS_2