
[Kediaman Wilson]
Brenda saat ini berada di kamarnya. Dirinya saat ini duduk di sofa yang ada di kamarnya.
Brenda tak henti-hentinya tersenyum setiap membayangkan momen dimana Darren yang mengatakan cinta padanya. Bahkan Darren juga langsung melamarnya didepan keluarganya dan juga didepan ketujuh yang.
FLASHBACK ON
Darren melepaskan pelukannya. Dan setelah itu, Darren menatap wajah cantik Brenda.
"Mumpung disini ada keluargaku dan ketujuh sahabat-sahabatku dan juga sahabat-sahabat kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku, menjadi tunanganku, menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku?"
FLASHBACK OFF
"Aku mencintaimu, Ren! Selamanya!"
"Aku akan selalu ada di samping kamu. Dan aku nggak akan ninggalin kami," ucap Brenda tulus.
Brenda mengambil ponselnya, lalu membuka galeri fotonya. Setelah terlihat begitu banyak foto di dalamnya. Brenda memilih satu.
Foto yang Brenda pilih adalah foto dimana dirinya yang dipeluk oleh Darren.
Foto itu diambil diam-diam oleh Carissa, Bibi kesayangannya Darren. Setelah mendapatkan foto itu, Carissa memperlihatkannya kepada Brenda.
Ketika Brenda melihat foto itu, seketika wajah Brenda memerah menahan malu akan ulah Carissa.
Carissa meminta nomor Brenda. Setelah mendapatkan nomor dari calon keponakannya itu, Carissa mengirim foto tersebut kepada Brenda.
"Sempat-sempatnya Bibi Carissa mengambil fotoku dan Darren. Padahal saat itu momennya lagi sedih banget," ucap Brenda tersenyum.
Dan detik kemudian, terlinta ide di kepalanya. Brenda langsung membuka media sosialnya yaitu Instagram. Brenda berniat untuk memposting foto itu.
@B.rda
Lokasi : Berlin
(Send picture)
Calon pendamping hidupku @Darren.Smith.
Like 2098 || Komentar 100
DylN : norak lu, nyet!
Q.nan : 2
W.lly : 3
A.xl : 4
Jrry_ : 5
Drel_ : 6
R.han : 7
B.rda : sirik aja lu pada mbing @Qenan @Willy @Rehan @Jerry @Darel @Axel @Dylan
Jrry_ : kampret lu
Drel_ : sok lo
R.han : dasar nenek lampir tukang pamer
Q.nan : jaga perasaan yang jomblo disini
W.lly : jaga perasaan yang jomblo disini
A.xl : kapan tu foto diambil. Sempat-sempatnya motoin dalam keadaan genting.
DylN : kalau nggak pamer bukan nenek lampir namanya @Rehan
R.han : eemm.. benar tuh. kan cuma nenek lampir yang tukang pamer.
B.rda : inilah calon-calon para jomblo yang iri gak ketulungan... hahahaha.
DylN : banyak minum air comberan gini nih jadinya
Q.nan : 2
W.lly : 3
R.han : 4
Drel_ : 5
Jrry_ : 6
A.xl : 7
Drrn_ : selamat pagi wahai para jomblo
Q.nan : pawangnya keluar tuh
W.lly : 2
R.han : 3
Drel_ : 4
__ADS_1
Jrry_ : 5
A.xl : 6
DylN : 7
B.rda : bebebku nongol juga
Drrn_ : ya bebeb, ada apa? Kangen ya? baru kemarin kita habis berdua-duan. masa udah kangen aja
B.rda : iya, kangen kamu..
Q.nan : pamer terus
W.lly : 2
R.han : 3
Drel_ : 4
Jrry_ : 5
A.xl : 6
DylN : 7
Drrn_ : iri bilang bos
B.rda : 2
***
Di tempat lain di lokasi yang berbeda dimana tujuh gadis cantik berada di kamar masing-masing. Ketujuh gadis itu awalnya hanya ingin melihat email melalui ponsel mereka masing-masing. Dan tak tahunya mereka mendapatkan notifikasi dari instagram.
Mendapatkan notifikasi tersebut, ketujuh gadis itu pun membuka instagram tersebut.
Ketika ketujuh gadis cantik itu membuka instagram. Ketujuh gadis cantik itu terkejut saat melihat postingan di instagram.
Di dalam postingan instagram tersebut terlihat sepasang remaja cantik dan tampan tangan berpelukan.
"Itukan Brenda?"
"Brenda!"
"Tengil!"
"Si toa!"
"Enda!
"Enda!"
"Enda!"
Karena rasa penasarannya, salah satu dari ketujuh gadis cantik itu memberikan komentar di postingan Brenda.
Q.nan : bacot lu berdua
W.lly : 2
R.han : 3
Drel_ : 4
Jrry_ : 5
A.xl : 6
DylN : 7
_AliCe : Brenda... lu Brenda kan?
_AliCe : gue kangen lu. lu di Jerman sekarang?
***
DUA HARI KEMUDIAN..
[Kampus]
Darren sudah masuk kuliah hari ini. Hari ini kuliah pertamanya setelah sembuh dari sakitnya beberapa hari yang lalu. Bisa dibilang 8 hari Darren mengistirahatkan dirinya di rumah sakit plus di rumahnya.
Darren pergi ke Kampusnya bersama dengan kedua kakaknya dengan menggunakan mobil milik Darka. Baik Gilang dan Darka maupun anggota keluarganya tidak mengizinkan Darren untuk membawa mobil atau motor untuk empat hari ke depan.
Ketika Darren melangkahkan kakinya memasuki halaman Kampus. Para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kedatangannya tersenyum bahagia. Mereka semua bahagia karena Darren telah sembuh. Dan dengan penuh semangatnya tanpa menghilangkan senyuman di bibir mereka. Mereka semua menyambut kedatangan Darren.
Mendapatkan sambutan hangat dari semua mahasiswa dan mahasiswi membuat Darren tersenyum bahagia. Dan Darren tak lupa mengucap terima kasih kepada semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di hadapannya.
Kini Darren bersama ketujuh sahabat-sahabatnya berada di kantin. Sementara kedua kakak langsung menuju kelasnya.
"Bagaimana luka tembak di lengan dan di pinggang kamu, Ren?" tanya Qenan.
"Sudah mengering," jawab Darren sembari memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ach, syukurlah!" seru Qenan dan juga yang lainnya.
"Oh iya! Apa kalian dapat kabar dari ibunya Samuel?" tanya Darren.
"Ada, Ren. Kita dapat kabar dari kakak Zee," jawab Darel.
__ADS_1
"Apa kata kakak Zee?" tanya Darren.
"Kakak Zee mengatakan bahwa ibunya Samuel sudah sadar dari komanya setelah kepulangan kamu ke rumah," jawab Darel.
"Syukurlah. Aku turut bahagia," ucap Darren.
"Ren," panggil Darel.
"Hm." Darren berdehem.
"Begini, Ren! Kemarin ada lima pengusaha terkenal dari kota Hamburg menghubungiku dan Rehan. Kelima pengusaha itu minta di buatkan lukisan dengan konsep pemandangan pegunungan," ujar Darel.
"Berapa yang mereka butuhkan?" tanya Darren dengan menatap wajah Rehan dan Darel.
"Masing-masing dari mereka ingin dibuatkan dua lukisan, Ren!" seru Rehan.
"Berarti 10 lukisan. Baiklah. Kalian atur saja. Seperti biasanya. Bayar dimuka lima puluh persen. Sisanya setelah lukisan selesai. Lama pengerjaannya adalah satu bulan untuk 10 lukisan.
"Tapi, Ren! Kamu kan...." perkataan Darel dan Rehan terpotong.
Darren tersenyum menatap wajah Darel dan Rehan. Darren tahu bahwa kedua sahabatnya itu mengkhawatirkan dirinya.
"Kalian tidak perlu khawatir. Satu lukisan aku butuh satu hari penuh untuk mengerjakannya plus aku akan mengambil dua hari untuk aku istirahat. Bukankah barusan aku mengatakan bahwa lama pengerjaannya satu bulan."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Rehan dan Darel sedikit merasakan kelegaan. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Dylan, Axel dan Jerry.
"Oh iya, Ren! Kita bertiga mau kasih tahu sesuatu sama kamu!" seru Jerry.
"Apa? Katakan!" seru Darren.
"Ini mengenai mobil rakitan terbaru kita," sahut Axel.
"Bagaimana? Apa kalian sudah membuatnya?" tanya Darren dengan wajah yang penuh semangat.
Melihat hal itu membuat Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel tersenyum bahagia. Mereka tahu bagaimana antusias Darren jika sudah membahas masalah merakit mobil.
"Kami membagi tugas. Kelompok pertama membuat bagian mesinnya dan kelompok kedua membuat bagian kerangka mobilnya," sahut Dylan.
"Sebelum bagian mesin dan bagian kerangkanya disatukan sehingga menjadi sebuah mobil. Lebih kamu yang alih mesinnya dan juga alih dalam memasang aksesoris di dalam mobil langsung turun tangan," ujar Axel.
"Baiklah. Pulang dari kampus kita akan langsung ke bengkel," tutur Darren.
"Hm." Dylan, Axel dan Jerry menganggukkan kepalanya.
"Qenan, Willy, Rehan Darel. Kalian langsung saja ke tempat kalian masing-masing," sahut Darren.
"Siap, Boss!" seru Qenan, Willy, Rehan dan Darel.
"Ach, tunggu sebentar!" seru Darren sembari mengambil ponselnya di saku celananya.
Darren membuka sebuah aplikasi mobil banking. Setelah aplikasi itu terbuka, Darren langsung masuk ke menu transfer. Disana terdapat beberapa nomor rekening yang sudah tersimpan. Nomor rekening itu adalah nomor rekening ketujuh sahabat-sahabatnya.
Beberapa detik kemudian...
"Selesai!" seru Darren.
Setelah itu, Darren kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Bertepatan Darren memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Bertepatan pula terdengar notifikasi dari ponsel ketujuh sahabat-sahabatnya.
Dan dengan kompak Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah itu dengan kompaknya mereka membaca notifikasi yang tertera di layar ponselnya.
Dan lagi-lagi mereka dengan kompak membelalakkan matanya ketika mereka melihat jumlah nominal yang begitu besar dari biasanya masuk ke rekening mereka masing-masing.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry menatap wajah Darren. Sementara Darren hanya memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Ren, ini!" Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry bersamaan.
"Kalian berhak mendapatkannya. Kalian sudah bekerja keras beberapa bulan ini," jawab Darren.
"Tapi ini terlalu banyak, Ren!" ucap Dylan.
"Uang itu tak seberapa bagiku. Dibandingkan kebersamaan kita selama 15 tahun. Selama 15 tahun kalian selalu ada di sampingku. Susah, senang, sedih bahkan bahagia kalian selalu menemaniku. Kalian tidak pernah meninggalkanku sedikit pun."
"Ketika aku butuh kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuaku, aku mendapatkannya dari kedua orang tua kalian. Ketika aku butuh bahu kakak-kakakku untuk aku bersandar, aku mendapatkannya dari kakak-kakak kalian. Jadi nggak ada salahnya kan jika aku ingin membahagiakan kalian?"
Darren berbicara dengan ketulusan hatinya dengan menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry tersenyum bahagia mendengar ucapan demi ucapan dari Darren.
"Kami semua menyayangimu, Ren!" Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry berucap dengan tulus di dalam hatinya.
"Aku akan selalu ada untukmu. Sampai kapan pun. Sekali pun nanti aku sudah menikah dan punya anak. Begitu juga dengan kalian," batin Axel.
"Sekali pun nanti aku sudah menikah dan memiliki kehidupan sendiri. Aku akan selalu ada disamping kamu, Ren! Begitu juga dengan kalian. Kalian adalah saudaraku. Selamanya akan menjadi saudaraku," batin Jerry.
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu, Ren! Begitu juga dengan kalian. Susah senang kita akan selalu bersama-sama," batin Qenan.
"Kau sahabatku sekaligus saudaraku, Darrendra Smith! Aku akan selalu ada buat kamu. Dan untuk kalian juga. Kalian sahabat-sahabat terbaikku," batin Willy.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Darren! Begitu juga dengan kalian. Kita akan terus bersama-sama sampai kita tua nanti," batin Darel.
"Apapun yang terjadi kita akan tetap bersama-sama. Kau adalah saudaraku, Ren! Begitu juga dengan kalian," batin Dylan.
"Kau sahabat terbaikku. Aku akan selalu bersamamu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu. Kau, aku, Qenan, Willy, Darel, Dylan, Axel dan Jerry. Kita akan selalu bersama-sama sampai tua," batin Rehan.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry berbicara di dalam hatinya sembari menatap teduh wajah Darren. Begitu juga dengan Darren. Mereka semua saling menatap satu sama lainnya.
"Aku menyayangi kalian. Tetaplah sehat. Dan tetaplah bersamaku. Selamanya! Kalian sahabat-sahabat terbaik yang aku punya," batin Darren.
__ADS_1