KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pergilah Kau Ke Neraka


__ADS_3

Bagh.. Bugh..


Duagh..


Sreekk..


Kreettt..


Brukk.. Brukk..


Brukk..


Terdengar pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, sayatan demi sayatan dan pelintiran demi pelintiran yang dilakukan oleh Darren, Qenan dan Willy kepada para anak buah Nicko Dilbara sehingga membuat sekitar lima belas anak buahnya tersungkur di aspal dengan keadaan tubuh tidak baik-baik saja.


Darren, Qenan dan Willy masih terus bertarung melawan sisa anak buahnya Nicko Dilbara. Sementara para anak buah Nicko Dilbara begitu bersemangat menghajarnya Darren, Qenan dan Willy. Mereka menyerang tanpa hentinya sehingga membuat Darren, Qenan dan Willy kewalahan.


Jleb..


"Aakkhh!" teriak Willy.


Mendengar teriakkan Willy membuat Darren dan Qenan langsung melihat kearah Willy. Mereka terkejut ketika melihat salah satu anak buahnya Nicko Dilbara menyerang Willy dari belakang dan berhasil melukai bahu kanan Willy.


"Wil!" teriak Darren dan Qenan bersamaan.


Willy melihat kearah belakang dimana laki-laki yang sudah melukai bahu kanannya tersenyum menyeringai dengan tangannya menekan kuat pisau tersebut hingga dalam.


"Sshhh!" ringis Willy merasakan sakit di bahunya.


Willy kemudian tangannya memegang kuat tangan laki-laki yang melukai bahunya sehingga membuat laki-laki itu meringis.


Setelah itu, Willy berlahan mencengkram kuat tangan laki-laki itu hingga tangan laki-laki itu terlepas dari pisau tersebut.


Duagh..


Willy kemudian memberikan tendangan kuat tepat di perut laki-laki itu sehingga membuat tubuh laki-laki itu tersungkur di aspal dengan perut yang terlebih dahulu menghantam aspal.


Bruukkk..


Laki-laki itu memuntahkan cairan darah segar dari mulutnya.


Willy kemudian menyentuh pisau yang masih menancap di bahunya. Berlahan dan pasti, Willy menarik pisau itu. Willy seketika berteriak merasakan sakit ketika pisau itu tercabut.


"Aakkhhh!"


"Wil!" teriak Qenan. Sementara Darren menatap khawatir kearah Willy.


"Gue nggak apa-apa. Kalian jangan lengah!" sahut Willy.


Darren menatap tajam kearah Nicko Dilbara yang saat ini hanya berdiri menyaksikan dirinya dan dua sahabatnya bertarung. Darren mengepal kuat kedua tangannya di samping tubuhnya.


"Dasar banci! Lawan aku jika kau berani! Jangan hanya jadi penonton saja kau!" teriak Darren.


"Hahahaha. Kenapa? Apa kau sudah tidak sabaran untuk melawanku, hah?!" teriak Nicko Dilbara.


"Sekali pecundang tetaplah pecundang!" teriak Darren.


Dor..


"Aakkhh!" teriak Darren memegang perutnya.


"Darren!" teriak Qenan dan Willy.


Nicko Dilbara memberikan satu tembakan tepat di perut Darren sehingga membuat Darren terhuyung ke belakang.


Beberapa detik kemudian..


"Hahahaha!" Darren seketika tertawa keras. "Apa kau berpikir dengan kau berhasil melukaiku, aku akan mati secepat itu? Jawabannya adalah tidak. Kau salah besar tuan Nicko Dilbara. Sebelum kau mati, maka aku tidak akan mati semudah itu!" Darren berucap dengan penuh amarah dan tatapan mata yang begitu mengerikan.


"Kau sudah berani melukai Darren!"

__ADS_1


"Aku berusaha melindunginya, namun kau berani menyakitinya."


Qenan dan Willy yang mendengar perubahan suara Darren seketika berhenti bertarung. Keduanya langsung memberikan tendangan kuat kearah tiga laki-laki yang menyerangnya sehingga membuat ketiga laki-laki itu tersungkur dan tak sadarkan diri di aspal.


"Rendra," ucap Qenan dan Willy bersamaan.


"Aku paling benci jika ada orang yang menyakiti Darren. Aku paling benci jika ada orang yang selalu mengusik hidupnya."


Deg..


Nicko Dilbara terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren. Yang dilihat saat ini adalah Darren, laki-laki yang sudah menjadikan keponakannya sebagai putri angkatnya.


Namun dari suaranya, Nicko Dilbara yakin jika itu bukan suara dari Darren. Tetapi suara orang lain. Bahkan Nicko Dilbara bisa melihat perubahan warna mata Darren. Nicko Dilbara yakin jika tadi warna mata Darren berwarna coklat, tapi sekarang berubah menjadi warna abu-abu.


"Siapa kau?!" bentak Nicko Dilbara.


"Siapa aku? Hahahahahaha. Kenapa? Apa kau takut padaku sekarang, hum?"


"Brengsek! Jawab saja pertanyaanku. Siapa kau?!"


"Aku adalah malaikat kematianmu. Sebentar lagi kau akan mati di tanganku!"


"Jangan mimpi. Kau yang akan mati di tanganku. Kau tidak memiliki senjata. Sementara aku memiliki senjata. Dengan senjata yang aku miliki, kau bisa langsung pergi dari dunia ini!"


"Benarkah? Ayolah lakukan. Aku ingin membuktikannya jika aku akan mati di tanganmu."


"Rendra!" teriak Qenan dan Willy bersamaan. Mereka tidak ingin Rendra nekat melakukan hal itu.


Rendra berlahan melangkahkan kakinya menghampiri Nicko Dilbara yang saat ini tengah mengarahkan senjatanya kearah Darren.


"Jangan memancingku, Darren!"


"Kenapa? Beberapa menit yang lalu kau sudah melakukannya. Kenapa sekarang menjadi takut. Ayolah! Jangan membuatku tertawa melihat kelakuanmu."


"Brengsek!"


"Rendra, berhenti!" teriak Qenan.


"Rendra, jangan sakiti Darren. Tolong berhenti!" teriak Willy.


Rendra tidak mempedulikan teriakan dari dua sahabat Darren. Yang dia pedulikan saat ini adalah untuk segera mengakhiri kejahatan dari seorang Nicko Dilbara.


"Aku yang mati di tanganmu atau kau yang mati di tanganku."


Dor.. Dor..


Dor.. Dor..


Nicko Dilbara memberikan beberapa tembakan tepat di perut dan di dada Darren sehingga darah keluar dari luka tembak itu.


"Tidak, Darren!" teriak Qenan dan Willy.


Brukk..


Seketika tubuh Qenan dan Willy jatuh terduduk di aspal ketika melihat tubuh Darren mendapat banyak tembakan.


Ketika Nicko Dilbara hendak menembakkan Rendra kembali dikarenakan Rendra sudah mendekati dirinya, namun peluru yang ada di dalam senjatanya itu sudah habis. Nicko Dilbara terkejut. Seketika rasa takut menggerogoti dirinya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Rendra ketika melihat Nicko Dilbara yang kehabisan peluru.


"Kenapa? Kehabisan peluru, hum!"


Rendra kini sudah dekat di hadapan Nicko Dilbara. Sementara Nicko Dilbara berlahan melangkah mundur.


Dengan gerakan cepat, Rendra langsung mencekik leher Nicko Dilbara dengan sangat kuat sehingga membuat Nicko Dilbara kesulitan bernafas.


"Aku sudah katakan padamu bahwa kau yang akan mati terlebih dahulu di tanganku. Setelah itu, barulah aku yang akan mati. Kau sudah banyak melakukan kejahatan salah satunya adalah kau telah membunuh kedua orang tua kandungnya Anin Mondella. Kau benar-benar manusia busuk dan juga manusia keji, Nicko Dilbara!"


"Aakkhhh!" teriak Nicko Dilbara ketika merasakan sakit luar biasa di lehernya.

__ADS_1


Yah! Rendra makin menguatkan cekikannya di leher Nicko Dilbara sehingga membuat laki-laki itu kesulitan bernafas.


Di sisi lain dimana tangan kanan Enzo dan tangan kanannya Ziggy beserta para anggota mafianya tengah bertarung melawan beberapa anak buahnya Nicko Dilbara.


Ternyata Nicko Dilbara membagi dua kelompok anak buahnya. Kelompok pertama dia bawa untuk menyerang Darren, Qenan dan Willy. Sementara kelompok kedua akan muncul ketika kelompok pertama kalah.


Ketika kelompok kedua hendak membantu kelompok pertama. Zee, Lian, Tory dan Billy beserta anggotanya langsung menyerang dan membunuh kelompok kedua itu sehingga mereka gagal melindungi dan membantu Darren, Qenan dan Willy ketika sedang bertarung.


"Pergilah kau ke neraka!"


Rendra menguatkan cekikannya. Kuku-kukunya yang tajam menembus kulit leher Nicko Dilbara sehingga membuat kulit leher Nicko Dilbara terluka.


"Aakkhh!" teriak Nicko Dilbara.


Mendengar teriakkan dari Bos nya. Beberapa anak buahnya yang tersisa berlari hendak menolong Bos nya itu, namun terdengar suara bunyi senjata yang mengarah kearah para anak buahnya Nicko Dilbara yang tersisa itu.


Dor.. Dor..


Dor..


Bruukk.. Bruukk..


Bruukk..


Seketika semuan anak buahnya Nicko Dilbara mati seketika akibat tembakan yang diberikan oleh para anggota mafia The Crips dan Almight Black.


Sreekk..


Kulit leher Nicko Dilbara lepas sehingga darah menyembur keluar dan mengotori pakaian dan wajah Darren.


Duagh..


Rendra memberikan tendangan kuat tepat di perut Nicko Dilbara sehingga tubuh Nicko Dilbara tersungkur di aspal dengan menggeliat-menggeliat sembari tangannya memegang lehernya.


Bruukkk..


Rendra memejamkan kedua matanya. Detik kemudian...


"Darren!"


Enzo dan Ziggy berlari menghampiri Darren dan keduanya langsung menahan tubuh Darren hingga tidak terjatuh di aspal.


Sementara Zee, Lian, Tory dan Billy membantu Qenan dan Willy. Keduanya tampak tak baik-baik saja ketika melihat apa yang dilakukan oleh Rendra.


Bruukk..


Tubuh Darren jatuh tepat di pangkuan Enzo dan Ziggy. Dengan tatapan mata yang sayu, Rendra menatap wajah Enzo dan Ziggy.


"Maafkan aku karena sudah membuat Darren terluka."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Enzo dan Ziggy baru menyadari bahwa saat ini yang bersamanya adalah Rendra bukan Darren.


"Kau tidak salah, Rendra! Kau melakukan ini demi melindungi Darren," ucap Enzo.


"Tetaplah bersama Darren. Jangan pernah pergi meninggalkan Darren," ucap Ziggy.


"Darren, maafkan aku yang sudah membuatmu terluka."


Setelah mengatakan itu, kedua mata Rendra tertutup sempurna.


"Tidak, Darren/Rendra!" teriak Enzo dan Ziggy bersamaan.


"Angkat tubuh Darren dan angkat ke punggungku," pinta Ziggy.


"Darren!" teriak Qenan dan Willy ketika melihat kondisi Darren.


"Kalian tenang, oke! Kita ke rumah sakit sekarang!"


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan lokasi untuk segera ke rumah sakit. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darren jika terlalu lama dibiarkan.

__ADS_1


__ADS_2