
"Sekarang katakan pada kita. Kenapa dengan wajah kalian?" tanya Axel dengan menatap wajah Elzaro dan kelima sahabatnya.
Elzaro dan kelima sahabatnya yaitu Diego, Derry, Glen, Allan dan Melky sudah berada di rumah keluarga Smith.
Sesampainya di kediaman keluarga Smith, Elzaro dan kelima sahabatnya langsung diserang dengan banyak pertanyaan dari ketujuh sahabatnya Darren.
Sementara Darren hanya diam sembari tatapan matanya menatap wajah Elzaro, Diego, Derry, Glen, Allan dan Melky bergantian dan telinganya mendengar jawaban-jawaban dari mereka berenam.
"Kita dijegat dan diserang oleh beberapa orang berkendara motor," jawab Melky.
Mendengar jawaban dari Melky membuat semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka jika kelompok bermotor itu akan menyerang Elzaro dan kelima sahabatnya.
"Apa kelompok yang menyerang kalian itu kelompok yang sama yang menyerang Darren?" tanya Qenan.
"Seperti yang sudah Darren ceritakan ketika di rumah sakit. Kelompok yang menyerang kita memang kelompok bermotor yang sama," ujar Glen.
"Bahkan cara mereka menyerang juga. Menyerang secara bertahap. Tapi bedanya, mereka menggunakan senjata tajam. Jika kita nggak hati-hati, habislah kita semua!" seru Diego.
"Terus, bagaimana caranya kalian bisa selamat?" tanya Rehan.
"Kakak Zaky dan kakak Razky beserta anggota mafianya datang disaat kita sudah benar-benar kelelahan dan sudah nggak mampu lagi untuk melawan kelompok bermotor itu," jawab Elzaro.
Mendengar jawaban dari Elzaro membuat mereka semua benar-benar tidak habis pikir akan orang-orang tersebut.
Darren yang mendengar jawaban demi jawaban dari Elzaro, Glen, Allan, Melky, Derry dan Diego masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Sedangkan anggota keluarganya, anggota keluarga Mendez, Brenda, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Brenda menatap dirinya yang diam sejak kedatangan Elzaro dan kelima sahabatnya. Mereka semua tampak khawatir terhadap Darren.
"Benar-benar rencana yang sempurna. Gagal melenyapkan nyawaku. Kini bajingan itu mengalihkan rencananya dengan menyerang orang-orang terdekatku. Jika semua orang-orang terdekatku lenyap dari dunia ini, maka dia akan dengan mudah melenyapkanku karena aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi." Darren berbicara di dalam hatinya.
Darren saat ini benar-benar sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia benar-benar ingin segera menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapinya. Dia tidak bisa melihat orang-orang terdekatnya menjadi korban.
Drtt!
Terdengar suara bunyi ponsel. Dan ponsel tersebut adalah milik Erland.
Mendengar bunyi ponselnya, Erland langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah di tangannya. Erland melihat nama tangan kanannya 'Ibran' di layar ponselnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Erland pun langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, Ibran. Informasi apa yang sudah kamu dapatkan?"
Mendengar Erland yang menyebut nama Ibran. Semuanya melihat kearah Erland, termasuk Darren.
"Informasi yang saya dapatkan adalah bahwa keluarga dari dua teman sekolahnya tuan Adrian dan tuan Mathew bekerja sama dengan dalang yang ingin membunuh tuan Darren."
"Apa?!"
Seketika Erland berdiri sembari berteriak karena terkejut ketika mendengar informasi dari Ibran.
Mendengar teriakkan dan juga keterkejutan Erland membuat semuanya juga ikut berdiri dengan tatapan matanya menatap khawatir Erland, terutama anggota keluarga Smith.
"Apa tangan kanannya Papa mengetahui sesuatu?" batin Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan Darren.
"Dan tuan pasti akan lebih terkejut lagi mendengar hal ini."
"Cepat katakan!"
"Seperti yang sudah tuan ketahui dari tuan Darren bahwa dua teman sekolahnya tuan Adrian dan tuan Mathew meninggal dunia akibat kecelakaan. Dan kedua putra tuan sebagai pelakunya."
"Iya, benar. Lalu?"
"Sebenarnya kedua teman sekolahnya tuan Adrian dan tuan Mathew sama sekali tidak meninggal. Memang benar kalau mereka kecelakaan. Tapi tidak sampai meninggal. Keduanya dalam keadaan baik-baik saja dan berada di sebuah rumah kecil. Kedua keluarga itu menempatkan anak-anaknya di tempat yang sepi dan jauh dari jangkauan."
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari tangan kanannya membuat Erland benar-benar marah.
"Brengsek! Apa alasan mereka melakukan hal itu kepada kedua putraku?"
"Sederhana saja tuan. Balas dendam."
"Balas dendam?"
"Iya, tuan. Lima pasangan suami istri yang dalam keadaan marah besar ketika mendatangi rumah tuan Darren beberapa bulan yang lalu, hanya dua pasangan suami istri saja yang tak terima anaknya disakiti oleh tuan Adrian dan tuan Mathew. Kedua pasangan suami istri itu sudah merencanakan niat balas dendamnya sejak diusir oleh tuan Darren."
"Rencana yang bagus. Pantas saja terlihat tenang beberapa bulan ini. Ternyata sedang menyusun rencana pembalasan," ucap Erland.
"Terus apa rencana tuan untuk membalas mereka?"
"Sekarang kau ada dimana?"
__ADS_1
"Kebetulan aku masih berada di sekitar tempat tinggal kedua anak itu, tuan."
"Jadi mereka tinggal bersama?"
"Iya, tuan."
"Kebetulan sekali. Ini waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan."
"Apa yang ingin tuan lakukan?"
"Bawa kedua anak itu ke rumahku."
"Sekarang tuan?"
"Iya."
"Baik, tuan."
Setelah mengatakan itu, Erland langsung mematikan panggilannya. Dan kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ada apa, Papa?" tanya Davin.
Erland tidak langsung menjawab pertanyaan dari putra sulungnya itu, justru tatapan matanya menatap kearah putra ketujuhnya yaitu Darren.
Mereka yang melihat tatapan mata Erland tertuju pada Darren juga ikut melihat kearah Darren.
"Darren, Papa mendapatkan kabar terbaru dari Ibran. Dan kabar ini akan membuat kamu terkejut. Bahkan kamu akan langsung ingin menyelesaikan semuanya dengan satu tindakan."
"Apa itu, Papa?" tanya Darren dengan menatap wajah ayahnya.
"Kedua teman sekolahnya Adrian dan Mathew masih hidup. Dengan kata lain, keduanya sama sekali tidak meninggal dalam kecelakaan mobil. Keduanya hanya mengalami luka ringan. Dan berada di sebuah rumah kecil."
Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Darren mengepalkan kuat kedua tangannya. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith lainnya.
"Kedua orang tua dari kedua anak itu bekerja sama dengan dalang yang ingin membunuh kamu," ucap Erland.
"Apa tujuan kedua pasangan menjijikkan itu melakukan hal tersebut?" tanya Darren.
Seketika aura wajah Darren berubah tak mengenakkan. Sorot matanya sedikit lagi berubah. Namun mereka bisa melihat bahwa Darren berusaha untuk menahan emosinya.
"Balas dendam. Mereka tidak terima atas apa yang dilakukan oleh Adrian dan Mathew terhadap anak mereka. Balas dendam ini sudah mereka rencanakan sejak pengusiran itu," jawab Erland.
"Lalu rencana Papa apa?" tanya Darren yang sudah bisa membaca dari tatapan mata ayahnya.
Mendengar pertanyaan dari putranya, seketika Erland tersenyum. "Papa meminta Ibran untuk membawa kedua anak itu kesini."
Mendengar jawaban dari ayahnya. Darren menatap tepat di manik hitam ayahnya. Dan detik kemudian, terukir senyuman di sudut bibirnya.
"Rencana yang bagus. Aku suka dengan rencana Papa. Selanjutnya biarkan aku yang mengaturnya."
"Dengan senang hati," jawab Erland.
Darren mengalihkan perhatian melihat kearah Elzaro dan kelima sahabatnya. "Lino, aku butuh bantuan kamu dan kelima sahabat-sahabat kamu."
"Katakan!" seru Elzaro, Diego, Derry, Glen, Melky dan Allan bersamaan.
"Nanti akan datang Paman Ibran kesini. Paman Ibran membawa dua pemuda yang tak lain adalah teman sekolahnya Adrian dan Mathew. Setiba mereka disini, bawa mereka ke Paviliun belakang. Kalian bisa bermain-main terlebih dahulu dengan mereka, karena kedua orang mereka bekerja sama dengan Bos dari kelompok bermotor tersebut. Anggap saja kalian melepaskan sakit hati kalian kepada kedua anak itu."
Mendengar ucapan sekaligus penawaran dari Darren membuat Elzaro, Diego, Derry, Glen, Melky dan Allan tersenyum di sudut bibirnya.
"Eem. Tidak terlalu buruk," sahut Glen.
"Oke," ucap Allan.
Darren mengambil ponselnya di saku celananya. Kemudian Darren membuka Aplikasi WhatsApp. Setelah itu, Darren menuliskan sesuatu disana untuk dikirimkan kepada Zeroun, ayahnya Ziggy.
Selesai mengirimkan pesan itu kepada ayahnya Ziggy. Darren kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Namun ketika ponselnya itu sudah masuk setengah, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Darren mengeluarkannya kembali dan melihat kearah layar ponselnya. Dan terlihat nama 'Andrean' tertera disana. Darren langsung menjawabnya.
"Hallo, Darren." terdengar suara sapaan dari di seberang telepon.
"Hallo, Andrean. Apa kau ingin memberikan informasi lagi untukku?"
Mendengar nama Andrean yang disebut oleh Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung paham. Mereka meyakini bahwa Andrean memberikan informasi penting kepada Darren.
"Sepertinya kau sudah bisa langsung menebak tujuanku menghubungimu?"
"Bukankah memang itu pekerjaanmu, memberikan informasi penting kepadaku dan ketujuh sahabat-sahabatku."
__ADS_1
"Aish! Kau selalu saja bisa membalas pertanyaanku dengan kembali memberikan pertanyaan."
"Jika kau sudah tahu sifatku. Kenapa masih saja melawanku?"
"Darrendra Smith!"
"Hahahaha!"
Darren seketika tertawa ketika mendengar nada kesal dari Andrean.
Melihat Darren yang tertawa lepas membuat mereka semua merasakan kehangatan di hatinya, terutama anggota keluarga Smith.
"Oke... Oke! Maafkan aku. Untuk hari ini kau sudah dua kali menghubungiku. Dan kali ini kau mau memberikan informasi apa padaku?"
"Intinya adalah siap tidak siap. Mau tidak mau. Hari ini juga kau dan keluargamu harus segera menyelesaikan masalah ini. Kau harus segera mengambil tindakan."
"Maksudmu?"
"Dalam waktu lima jam dari sekarang. Dalang itu akan datang ke kediaman keluarga kamu. Dia datang dengan membawa beberapa kelompok. Dia juga tahu bahwa anggota keluarga Mendez ada di rumah keluarga kamu. Dia akan menyelesaikan semuanya."
"Oh, ternyata bajingan itu sudah tidak sabaran untuk bertemu denganku ya? Apa dia sudah sangat merindukanku hingga dia datang berkunjung kemari?"
Deg!
Anggota keluarga Smith, ketujuh sahabatnya Darren, Brenda serta ketujuh sahabatnya terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren. Begitu juga dengan anggota keluarga Mendez.
Sementara Andrean yang di seberang telepon hanya bisa menghela nafas pasrahnya ketika mendengar perkataan dari Darren.
"Kau bisa serius tidak sih?!"
"Hei, kenapa kamu kesal seperti itu?
"Aku kesal karena telah salah berbicara dengan seseorang."
"Salah berbicara? Maksud kamu apa?"
"Seharusnya aku berbicara dengan orang yang waras. Tapi ternyata aku berbicara dengan orang yang tidak waras."
Mendengar perkataan dari Andrean membuat Darren seketika membelalakkan matanya.
"Gue nggak gila, Andrean sialan!" teriak Darren melengking sehigga membuat Andrean di seberang telepon langsung menjauhkan ponselnya.
"Yang bilang lo gila, siapa? Gua hanya bilang kalau gue salah bicara dengan orang yang nggak waras."
"Itu sama saja, bodoh!"
"Beda oon."
"Kalau tujuan lo menghubungi gue buat ngajak ribut. Gue matiin nih!"
"Silahkan. Lo sendiri bakalan nyesal karena nggak akan tahu informasi selanjutnya dari gue."
Mendengar jawaban dari Andrean membuat Darren menggeram kesal.
Anggota keluarganya, anggota keluarga Mendez, Brenda, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Brenda tersenyum geli melihat wajah kesal Darren.
Sementara Andrean di seberang telepon berusaha untuk tidak tertawa. Bahkan saat ini Andrean berusaha menahan tawanya.
"Lo benar-benar menyebalkan ya Andrean. Sejak kapan lo jadi pria menyebalkan, hah?!"
"Sejak hari ini. Itu pun karena lo."
"Terserah pada anda, tuan Andrean! Sekarang katakan padaku. Informasi apa lagi yang tuan Andrean ketahui dari bajingan itu?"
"Eeemm... Apa ya?"
"Andrean!"
"Eemm... Maafkan saya, tuan Darren. Tidak ada informasi lagi. Semuanya sudah saya sampaikan kepada anda. Kalau begitu saya pamit undur dulu. Selamat bertarung!"
Tutt! Tutt!
Setelah mengatakan itu, Andrean langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Sedangkan Darren seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Andrean.
Dan detik kemudian...
"Andrean setan!"
Mendengar teriakkan dari Darren membuat mereka semua langsung menutup telinganya. Bahkan mereka menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar umpatan dari Darren.
Sementara Darren, dirinya benar-benar kesal akan kelakuan Andrean. Dia sudah mati-matian untuk serius agar segera mengetahui informasi selanjutnya dari Andrean. Namun ternyata Andrean hanya mengerjainya.
__ADS_1