KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Sikap Cuek Darren Terhadap Keempat kakaknya


__ADS_3

Darren masih berada di rumah keluarganya. Saat ini Darren tengah berada di ruang tengah dan ditemani dengan sebuah laptop di pangkuannya. Darren memulai aksi untuk membalas kejahatan Samuel dengan cara memanipulasi media sosial dan internet.


Darren menggunakan 2 akun palsunya. 2 akun tersebut Darren namai Samuel Frederick dan Gustavo Frederick. Dia mengirim sebuah kabar berita disana. Kabar berita yang akan membuat heboh dikalangan pebisnis. Dia juga membuat berita mengenai kecurangan dan penipuan yang telah dilakukan oleh Perusahaan SF Corp dan Perusahaan GT Company.


KLIK


Darren menekan tombol kirim. Postingan tersebut sukses terkirim ke media sosial.


"Kita lihat apa yang akan terjadi setelah ini, Samuel Frederick." Darren tersenyum dengan hasil kerjanya.


Beberapa menit kemudian, terlihat beberapa komentar yang memenuhi statusnya tersebut. Komentar-komentar tersebut datang dari beberapa perusahaan yang menjalin kerja sama dengan perusahaan SF Corp dan GT Company.


{Sialan. Berani sekali kau melakukan hal itu pada perusahaanku}


{Dasar brengsek. Aku sudah mempercayakan perusahaanku dengan bekerja sama dengan perusahaanmu. Tapi ini yang kau berikan}


{Aku akan memutuskan kerja sama perusahaanku dengan perusahaanmu. Aku tidak sudah tidak berminat untuk melanjutkannya}


{Aku perusahaanku juga akan menarik semua saham-saham yang ada di perusahaanmu itu}


Darren tersenyum membaca komentar-komentar tersebut. Untuk mempercantik rencananya. Darren membalas komentar-komentar tersebut dengan kata-kata yang sangat kejam.


{Silahkan. Aku tidak peduli. Silahkan kalau kalian ingin memutuskan kerja sama ini. Aku sudah tidak membutuhkan kalian lagi}


{Kalian terlalu bodoh karena telah mempercayaiku}


{Kalian tahu tidak, hah? Aku bekerja sama dengan Direktur perusahaan GT Company untuk menipu kalian semua}


{Kalian itu orang-orang bodoh}


{Aku beritahu kalian bahwa perusahaan GT Company telah mendapatkan apa yang diincar dari perusahaan kalian itu. Coba kalian cek diakun miliknya}


Darren tersenyum puas ketika mengirimkan komentar-komentar tersebut. Dan ditambah lagi beberapa perusahaan tersebut membalas komentar-komentar darinya tak kalah kejam.


Ketika Darren tengah berbahagia, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan kedatangan keempat kakak-kakaknya. Mereka adalah Davin, Andra, Dzaky dan Adnan. Sementara Gilang dan Darka berada diluar karena ada urusan.


Darren melirik sekilas, lalu kembali menatap layar laptopnya. Darren tidak mempedulikan keempat kakak-kakaknya itu. Baginya, menatap layar laptopnya lebih menarik dari pada menatap keempat kakak-kakaknya.


Davin, Andra, Dzaky dan Adnan menatap wajah adik bungsunya dengan senyuman tulus di bibirnya. Hati mereka menghangat ketika melihat Darren yang sedang tersenyum sembari matanya fokus menatap layar laptopnya.


"Darren. Kakak Dzaky rindu kamu. Kakak Dzaky ingin sekali memelukmu. Mau sampai kapan kamu acuh terhadap kakak," batin Dzaky.


"Darren. Jika kakak Adnan diberikan kesempatan untuk bisa berbaikan lagi denganmu. Kakak Adnan berjanji akan melakukan tugas kakak Adnan dengan baik. Kakak Adnan akan menjadi kakak yang baik untukmu," batin Adnan.


"Darren," batin Davin dan Andra.

__ADS_1


"Darren," panggil Davin.


Darren melirik sekilas, lalu kembali menatap layar laptopnya. Sementara Davin hanya bisa menghela nafas pasrah akan sikap acuh dan diamnya adik bungsunya. Namun Davin tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat adiknya itu mau menatapnya dan mau berbicara dengannya lagi. Yang membuat adiknya menjadi seperti ini itu karena ulahnya sendiri. Dirinya yang membuat adiknya menjauh darinya.


"Darren." kini Andra yang memanggil adiknya itu.


Sama halnya dengan Davin. Darren juga mengabaikan panggilan dari Andra. Darren terlihat asyik menatap layar laptopnya.


Ketika Darren terlihat asyik melihat hasil kerjaannya di layar ponselnya, tiba-tiba terdengar suara ponselnya.


Darren mengambil ponsel, lalu melihat tertera nama 'Ramon' salah satu tangan kanannya. Tanpa pikir panjang lagi, Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Ramon. Ada apa?"


"Hallo, Bos. Bos ada dimana?"


"Aku di rumah keluargaku. Kenapa Ramon?"


"Begini, Bos. Aku mendapatkan informasi mengenai Perusahaan SF CORP. Besok Perusahaan SF CORP akan mengadakan kerja sama dengan lima Perusahaan besar. Dalam kerja sama itu bajingan itu akan memberikan berkas kerja sama palsu."


"Jadi maksudmu bajingan itu ingin mengambil alih kelima Perusahaan itu dan menjadikan miliknya. Begitu?"


"Benar sekali, Bos. Lalu apa yang akan kita lakukan, Bos? Kelima perusahaan itu juga rekan kerja Perusahaan ACCENTURE, Bos! Dan pelanggan di SHOWROOM BMWX milikmu, Bos."


"Siapa mereka? Apa Qenan dan Willy tahu? Karena itu tugas mereka."


"Saya belum sempat memberitahu Bos Willy dan Bos Qenan, Bos. Ketika saya mendapatkan informasi ini, saya langsung memberitahu Bos. Bagaimana pun Bos adalah pemilik Perusahaan ACCENTURE. Jadi, Bos adalah orang pertama yang saya beritahu."


Mendengar penuturan dari Ramon. Darren tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bahagia memiliki tangan kanan yang setia. Bukan hanya memiliki tangan kanan yang Darren juga memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada untuknya.


"Semoga kalian selalu baik-baik saja," batin Darren.


"Untuk kelima Perusahaan itu mereka adalah Perusahaan HYUNDAI MOTOR COMPANY, Perusahaan CJ INVERTISING, Perusahaan LG ELECTRONIC, Perusahaan BNK CORP, dan Perusahaan POSCO."


"Baiklah. Sekarang kau kerahkan beberapa orang untuk mendatangi kelima Perusahaan itu. Beritahu mereka tentang rencana Perusahaan SF CORP yang akan menjebak mereka. Dan katakan kepada mereka untuk tetap melanjutkan kerja sama itu agar bajingan itu tidak curiga."


"Baik, Bos. Aku akan melakukan yang terbaik."


"Aku percaya. Kau adalah tangan kananku yang paling bisa aku andalkan, Ramon."


"Terima kasih, Bos. Kalau begitu aku tutup teleponnya, Bos agar aku bisa melakukan pekerjaanku."


"Baiklah."


Setelah itu, baik Darren maupun Ramon sama-sama mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Lihat saja, Samuel. Kejutan besar menunggumu dan juga Pamanmu," batin Darren.


Darren mematikan laptopnya, lalu menutup laptop tersebut. Setelah itu, Darren pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya. Darren tidak mempedulikan keempat kakaknya yang masih setia duduk di sofa yang tengah menatapnya.


Melihat kepergian Darren. Davin, Andra, Dzaky dan Adnan hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Mereka ingin marah dan juga ingin protes, tapi mereka tidak memiliki kuasa apapun. Disini merekalah yang bersalah. Mereka yang sudah membuat adik bungsunya menjauhi mereka dan juga mengabaikan mereka. Jadi mereka harus terima dengan lapang dada resikonya.


"Mau sampai kapan Darren akan membenci kita kak Davin?" tanya Adnan yang menangis melihat kepergian adiknya.


"Kakak juga tidak tahu, Adnan!" Davin menjawab dengan wajah sedihnya. Davin juga menangis ketika melihat sifat acuh adiknya.


^^^


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Para anggota keluarga Smith, termasuk Darka dan Gilang. Mereka saat ini berada di ruang tengah.


Ketika Erland, Agneta dan yang lainnya menuju ruang tengah. Mereka semua melihat Davin, Andra, Dzaky dan Adnan tampak sedih. Melihat kesedihan di wajah keempat putranya, membuat hati Erland sakit.


"Kalian kenapa, hum?" tanya Erland yang menatap wajah keempat putra-putranya itu.


"Darren," lirih mereka berempat kompak.


"Darren? Kenapa dengan Darren? Darren baik-baik saja kan, Davin?" tanya Carissa.


"Darren nya baik-baik saja, Bibi. Darren nya tidak kenapa-kenapa. Kami nya yang tidak baik-baik saja," jawab Adnan dengan wajah ditekuk.


Mendengar perkataan dari Adnan. Mereka semua pun langsung paham.


"Apa adik bungsu kalian masih belum memberikan maafnya untuk kalian?" tanya Erland.


"Belum, Papa." Andra menjawab pertanyaan dari ayahnya dengan wajah sedihnya.


"Bukankah kalian sudah berjam-jam duduk bersama dengan siluman kelinci itu? Lama lagi!" seru Evan.


"Kalian tidak ajak siluman kelinci itu mengobrol?" tanya Carissa.


"Aish! Paman, Bibi! Kita memang duduk bersama dengan siluman kelinci itu berjam-jam. Tapi kami..." perkataan Dzaky.


"Tapi apa?" tanya Evan, Carissa bersamaan.


"Kami dikacangin oleh si kelinci nakal itu," jawab Davin.


"Bahkan si kelinci nakal itu lebih bahagia menatap layar laptopnya dari pada kami para kakak-kakaknya yang tampan ini," jawab Andra.


"Ih, sombongnya!" Carissa berucap dengan nada ledekannya.


Mendengar ledekan dari sang bibi. Andra hanya acuh dan cuek. Dirinya tidak peduli dengan ledekan bibinya.

__ADS_1


__ADS_2