
[GT COMPANY]
Di sebuah ruangan yang luas terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di sofa elitnya. Pria itu adalah Gustavo Frederick.
Gustavo duduk dengan santai dengan segelas wine di tangannya. Pikirannya saat ini tengah memikirkan kerja sama dengan 15 perusahaan besar dan terkenal.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi delapan perusahaan itu akan berada di genggamanku. Dan sebentar lagi delapan perusahaan itu akan jatuh dan bertekuk lutut di hadapanku." ucap Gustavo
"Kakak Delon. Sebentar lagi para musuh-musuhmu akan hancur. Besok adalah hari kerja sama dan proyek besar kita dengan ke 15 perusahaan Company. Dan delapan perusahaan itu akan menjadi milik kita. Aku dan putramu sudah membuat rencana yang cukup matang dan sempurna untuk menghancurkan mereka semua." Gustavo berucap dengan penuh rasa percaya diri.
***
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Gilang dan Darka masih berada di rumah keluarganya, termasuk Darren. Mereka memutuskan untuk menginap. Saat ini mereka semua berada di ruang tengah.
"Apa Papa masih gugup untuk kerja sama dan proyek besok?" tanya Darren.
"Untuk saat ini tidak sayang. Tapi Papa tidak tahu kalau besok saat kerja sama itu terjadi," jawab Erland.
"Pa, dengarkan aku. Untuk kerja sama dan proyek besok semuanya sudah diatur oleh kelima kakak-kakak mafiaku. Bahkan mereka sudah memasukkan 10 anggota mereka kedalam perusahaan GT COMPANY dan menyamar sebagai karyawan disana."
"Jadi aku minta pada Papa. Cukup Papa ikuti saja permainan dari perusahaan GT. Jangan sampai perusahaan GT mengetahui jika rencananya sudah diketahui oleh kita. Rencana awalnya adalah perusahaan GT akan menjebak perusahaan kita, tapi malah berbalik ke perusahaan itu sendiri. Dengan kata lain perusahaan GT dan perusahaan SF lah yang akan masuk ke dalam rencana yang mereka buat sendiri."
"Jadi aku mohon pada Papa. Jangan buat kesalahan. Jangan perlihatkan kegugupan Papa didepan mereka. Bersikap seperti biasa saja. Anggap Papa tidak mengetahui apapun. Jangan kecewakan sahabat-sahabatku, Papa! Mereka diluar sana tengah berjuang untuk menyelamatkan perusahaan Papa dan juga perusahaan dari sahabat-sahabat Papa yang tak lain adalah Ayah dari sahabat-sahabatku."
Mendengar ucapan demi ucapan dari putra bungsunya, Erland akhirnya sadar. Tidak seharusnya dirinya menjadi gugup seperti ini. Tidak seharusnya dirinya menjadi pengecut seperti ini. Putra bungsunya benar. Jika dirinya gugup dan ketakutan, maka sesuatu yang tidak akan terjadi malah justru terjadi.
Setelah memikirkan perkataan dari putra bungsunya itu, Erland menatap wajah tampan putranya itu. Tangannya terangkat menyentuh wajah tampan sang putra.
"Kamu benar, Nak! Tidak seharusnya Papa menjadi gugup dan takut seperti ini. Papa berjanji padamu dan juga sahabat-sahabat kamu. Papa tidak akan menunjukkan sisi takut Papa pada mereka saat kerja sama dan proyek besok. Papa akan tunjukkan sikap Papa seperti biasanya," tutur Erland.
Mendengar ucapan dari Erland. Darren pun tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lainnya.
__ADS_1
"Percayalah padaku. Tidak akan terjadi apa-apa selama kerja sama dan proyek itu. Justru kedua perusahaan itu yang akan mendapatkan masalah. Papa bisa pegang kata-kataku," ucap Darren.
"Papa percaya. Terima kasih, sayang." Erland berucap sembari mengecup kening putranya.
Setelah berbicara dengan Ayahnya, Darren kini menatap wajah kedua kakaknya yaitu Gilang dan Darka.
"Kakak Darka, kakak Gilang."
"Ada apa, Ren?" tanya Darka dan Gilang bersamaan.
"Bagaimana dengan jadwal Baksosnya? Apa ada masalah?"
"Semuanya sudah kami selesaikan," jawab Darka dan Gilang.
"Benarkah?"
"Hm." Darka dan Gilang mengangguk mantap.
Darren tersenyum mendengar jawaban dari kedua kakak laki-lakinya itu.
"Terima kasih Kakak Darka, kakak Gilang."
"Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih pada kami. Kan itu juga sudah menjadi tugas kami berdua. Apa kamu lupa jika Darka Smith ini seorang wakil dari seorang Darrendra Smith...." seketika Darka langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari akan ucapannya itu.
Darren yang melihat reaksi Darka hanya menunjukkan senyumannya. Darren tahu bahwa kakaknya itu takut jika dirinya marah karena memakai marga Smit di belakang namanya.
"Da-darren. Ma-maafkan Kakak Darka ya. Kakak Darka tidak sengaja menye..." perkataan Darka terpotong.
"Tidak apa, Kakak Darka. Aku tidak marah sama kakak Darka. Lagiankan sekarang hubunganku dan Papa sudah membaik. Jika Kakak Darka ingin menyebut namaku lengkap dengan marga, aku tak masalah." Darren berbicara sembari memperlihatkan senyuman tulusnya kepada Darka.
"Benarkah, Ren?" tanya Darka.
"Iya, kakak." Darren menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Hanya saja ada satu yang berubah!" seru Darren.
Mereka semua melihat kearah Darren. Mereka semua panik saat mendengar ucapan Darren yang mengatakan hanya ada satu yang berubah.
"Kalau Bibi boleh tahu apa yang berubah itu, Darren sayang?" tanya Carissa.
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. "Kemungkinan aku tidak akan kembali menjadi Darren yang dulu. Dan aku juga tidak akan tinggal disini lagi karena aku sudah memiliki rumah sendiri."
Mereka semua terdiam saat mendengar ucapan dari Darren. Mereka semua sadar, kecuali Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian kalau Darren tidak akan pernah kembali menjadi Darren yang manja dan jahil. Kalau pun sifat manja dan jahilnya kembali, itu pun hanya ditunjukkan kepada Darka dan Gilang atau kepada Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian.
"Tapi kamu akan sering menginap dan main kesinikan, sayang?" tanya Erland yang menatap wajah tampan putra bungsunya.
"Iya, Papa. Papa tidak perlu khawatir. Bedanya disini aku tidak tinggal di rumah ini lagi," jawab Darren.
"Kalau kamu sendiri di rumah, Papa mohon kamu jangan terlalu malam tidurnya. Jangan kelelahan jangan telat makan. Dan ja..." perkataan Erland terpotong.
"Kan di rumahku ada dua kacung yang siap melayaniku selama 24 jam, Papa! Apa Papa lupa?" ucap dan tanya Darren sembari melirik kearah Gilang dan Darka.
Mereka yang mendengar ucapan dari Darren hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka tahu siapa yang dimaksud oleh Darren dua kacung di rumahnya.
Sementara Gilang dan Darka mendengus kesal akan ucapan adiknya. Keduanya kini tengah menatap horor kearah Darren.
"Enak ya kalau ngomong," kesal Darka.
"Sejak kapan status kita berubah menjadi kacung kamu, hah?!" kesal Gilang.
"Sejak kakak Darka dan kakak Gilang memutuskan untuk ikut tinggal bersama denganku. Bukankah kakak Darka dan kakak Gilang akan melakukan apapun untuk membuatku bahagia. Bukankah kakak Darka dan kakak Gilang sudah berjanji akan selalu menjagaku. Jadi aku tidak salahkan kalau aku mengatakan bahwa kalian berdua adalah kacungku." Darren berbicara dengan memperlihatkan senyuman manis di bibirnya.
Mendengar penuturan dari Darren membuat Gilang dan Darka menghela nafas pasrahnya.
"Hah!!"
Sementara Darren dan yang lainnya tersenyum melihat wajah pasrah Gilang dan Darka.
__ADS_1