KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menceritakan Tentang Laporan Zee


__ADS_3

Kini semuanya sudah berada di ruang rawat Darren. Mereka menatap wajah pucat Darren yang di tutupi oleh masker oksigen, tangan yang di pasang jarum infus dan tubuhnya di pasang beberapa alat medis untuk menunjang hidupnya.


Air mata mereka berlomba-lomba jatuh membasahi wajahnya ketika menatap kondisi Darren yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit.


Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka berad di samping ranjang Darren. Jika Erland dan Agneta berada di samping kanan. Sementara Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka berada di samping kiri. Mereka secara bergantian memberikan kecupan sayang di kening kesayangannya itu. Dan tak lupa mengucapkan kata-kata semangat di telinganya.


Setelah puas memberikan kecupan sayang, elusan lembut di wajah dan di kepala Darren. Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka memberikan ruang untuk ketujuh sahabat-sahabat Darren, Brenda, kelima kakak-kakak mafianya dan yang lainnya.


Melihat anggota keluarga Smith memberikan ruang. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung mendekati ranjang Darren. Dan diikuti oleh kelima kakak-kakak mafianya


Baik Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel maupun Ziggy, Noe, Devian, Enzo dan Chico bergantian membisikkan kata-kata penyemangat di telinga Darren. Mereka juga membisikkan ke telinga Darren bahwa mereka begitu merindukan dirinya.


Setelah membisikkan kata-kata penyemangat dan kata-kata rindu terhadap Darren. Mereka secara bergantian memberikan ucapan lembut di kepala lalu memberikan kecupan sayang di kening Darren.


"Cepat bangun!"


Itulah kata terakhir yang mereka ucapkan setelah selesai memberikan kecupan di kening Darren.


Setelah itu, mereka melangkahkan kakinya menuju sofa dan duduk disana. Begitu juga dengan para anggota keluarga dari ketujuh sahabat Darren.


Brenda yang masih menangis di pelukan sang kakak laki-laki tertuanya dengan tatapan matanya menatap kearah Darren. Berlahan Rangga menuntut adik perempuannya untuk mendekati ranjang Darren. Begitu juga dengan Barra.


Kini Brenda, Rangga dan Barra sudah berada di samping ranjang Darren. Brenda menduduki pantatnya di kursi. Dan seketika tangis Brenda pecah.


"Darren," ucap Brenda teriak dengan tangannya menggenggam erat tangan Darren.


Brenda mengusap-usap lembut kepala Darren lalu memberikan kecupan sayang di kening Darren cukup lama. Air matanya jatuh membasahi pipi Darren.


Setelah itu, Brenda menempel keningnya di kening Darren. Tangannya masih terus menggenggam erat tangan Darren.


"Ren, maafkan aku kalau aku sempat kecewa dan marah sama kamu ketika kamu nggak ingat sama aku. Bahkan aku berusaha untuk tidak memperlihatkan wajahku di hadapan kamu selama di kampus. Aku takut melihat tatapan mata kamu yang menatapku seperti orang asing. Ditambah lagi Chintia yang selalu nempelin kamu terus."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Brenda membuat semua orang yang ada di ruang rawat Darren sedih. Rangga mengusap-usap lembut punggung adik perempuannya.


Setelah puas menatap wajah Darren, berbicara dengan Darren dan memberikan kecupan di pipi dan di kening Darren. Brenda pun memilih untuk menghampiri anggota keluarga Darren dan yang lainnya yang saat ini berada di sofa bersama dengan kedua kakak laki-lakinya.


Melihat semuanya sudah berkumpul. Enzo pun mulai menceritakan tentang informasi yang diberikan oleh Zee, tangan kanannya.


"Baiklah. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua!" seru Enzo.


Mendengar seruan dari Enzo. Mereka semua menatap kearah Enzo. Terlihat dari tatapan mata Enzo jika ada hal yang buruk terjadi.


"Apa itu, Nak Enzo?" tanya Aldez.


"Aku mendapatkan laporan dari Zee. Dia mengatakan bahwa nyawa Darren dalam bahaya."

__ADS_1


"Maksud kamu ada orang yang sedang mengincar nyawa Darren?" tanya Noe.


"Iya. Seperti itu yang dikatakan oleh Zee padaku."


Mendengar perkataan dan jawaban dari Enzo membuat mereka semua membelalakkan matanya terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika nyawa Darren dalam incaran seseorang.


"Jadi itu alasan kamu meminta kepada Bibi Celsea meminta ruangan khusus untuk Darren. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk kesana?" tanya Devian.


"Hm." Enzo menggumam sembari menganggukkan kepalanya.


"Siapa orangnya dan dari kelompok mana, Enzo?" tanya Davin.


"Zee mengatakan kepadaku bahwa dalangnya berasal dari salah satu anggota keluarga Mendez."


"Mendez?" tanya Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Iya," jawab Enzo.


"Apa kakak Enzo yakin jika dalangnya salah satu anggota keluarga Mendez?" tanya Jerry.


"Bukankah keluarga Mendez itu adalah keluarga yang menyelamatkan Darren? Nama Darren saat ini adalah Askara Eleon Mendez. Dengan kata lain, Darren bagian dari keluarga itu." Willy berbicara sembari menatap semua orang yang ada di hadapannya.


"Apa Zee ada mengatakan kepada kamu tentang ciri-ciri dalang tersebut?" tanya Ziggy.


"Eemm... Ada! Zee mengatakan jika dalangnya salah satu menantu keluarga Mendez."


"Menantu laki-laki."


Mereka semua diam ketika mendengar perkataan dari Enzo. Di dalam hati mereka masing-masing berkata apa alasan orang itu ingin melenyapkan nyawa Darren.


"Terus kamu juga menyebutkan lima kelompok mafia yang berada dinomor enam, tujuh, delapan, sembilan dan sepuluh. Apa dalang itu ada hubungannya dengan kelima kelompok mafia tersebut?" tanya Noe.


"Iya. Orang itu membayar lima kelompok mafia tersebut untuk melenyapkan nyawa Darren disaat mereka ada kesempatan dan ketika melihat Darren lengah."


"Tapi apa sebenarnya alasan orang itu ingin melenyapkan nyawa Darren? Apa Darren melakukan kesalahan? Tapi aku rasa Darren tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun," sahut Rehan.


"Hanya satu alasan orang itu," ucap Axel.


Mereka semua melihat kearah Axel. Mereka dapat melihat wajah Axel yang tampak begitu marah dan dendam.


"Apa itu sayang?" tanya Dario.


"Kemungkinan Darren tahu siapa dia. Dan apa rencananya. Aku sangat tahu tipikal Darren seperti apa. Darren itu orang serba ingin tahu. Apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar. Darren akan langsung menyelidikinya," ucap Axel.


Mendengar ucapan dari Axel membuat mereka semua mengangguk-angguk kepalanya. Mereka semua setuju apa yang dikatakan oleh Axel tentang sifat dan karakter Darren.

__ADS_1


"Dan satu lagi. Darren suka menolong orang lain yang dalam kesulitan. Salah satunya adalah Darren paling tidak suka jika melihat ada orang yang dikeroyok tepat di hadapannya. Darren akan langsung menolong orang tersebut. Salah atau tidaknya, itu urusan belakangan." Darel juga ikut membeberkan sifat baik Darren.


Lagi-lagi mereka menganggukkan kepalanya ketika mendengar perkataan dari Darel tentang sifat Darren.


"Baiklah. Untuk saat ini yang perlu kita lakukan adalah mengerahkan beberapa anggota mafia kita untuk berjaga-jaga di depan rumah sakit. Minta pihak rumah sakit untuk merahasiakan keberadaan Darren atau yang sekarang ini menjadi Askara!" seru Ziggy.


"Masalah itu biarkan Bibi yang mengurusnya," sahut Celsea.


"Hm." Ziggy, Noe, Enzo, Devian, dan Chico menganggukkan kepalanya.


"Jangan lupa kerahkan juga sekitar 20 anggota untuk berjaga-jaga di sekitaran ruangan Darren," ucap Devian.


"Hm."


"Masalah Dokter, itu juga tugas Bibi. Hanya Bibi yang akan memeriksa Darren. Tidak ada Dokter lain. Jika nanti ada Dokter lain yang mengaku-ngaku kalau Bibi yang memintanya, maka itu tidak benar. Jika hal itu terjadi. Segera hubungi Bibi."


"Baik." mereka menjawab secara bersamaan.


***


"Mau ngapain kalian kemari?! Apa kalian ingin menyakitiku lagi? Apa kalian ingin memakiku dan menghinaku lagi? Apa kalian ingin membangga-banggakan anak perempuan kalian di hadapanku, hah?!" bentak seorang gadis


Mendengar pertanyaan dan bentakkan dari sang anak membuat sepasang suami istri tersebut seketika menangis. Mereka menatap anak perempuan dengan tatapan menyesal. Sementara anak perempuannya menatap penuh kebencian.


Suami istri itu adalah Anthony dan Emily, kedua orang tua kandung dari gadis yang ada di hadapan mereka.


Sementara nama gadis tersebut adalah Bianca, putri kedua yang tidak pernah mereka anggap.


Saat ini Anthony dan Emily berada di depan Apartemen milik Bianca. Mereka mengetahui alamat Apartemen milik Bianca dengan cara mereka secara diam-diam memata-matai dan mengawasi pergerakan Bianca. Dan dari situlah mereka mengetahui alamat Apartemen milik Bianca.


"Bianca, Mama mohon padamu. Tolong maafkan kesalahan Mama selama ini. Mama benar-benar menyesal, Nak!"


"Bianca, Papa tahu. Kesalahan Papa dan Mama sangatlah besar padamu. Tapi apakah tidak ada kesempatan kedua untuk Papa dan Mama, Nak?"


"Kesempatan kalian sudah habis sejak aku masih tinggal bersama kalian. Dulu aku sudah memberikan kesempatan kalian untuk menjadi orang tua yang adil, bijak dan penuh perhatian terhadap kedua anak perempuan kalian, termasuk kepadaku."


"Aku menunggu kalian untuk datang memelukku dan menciumku. Tapi kalian sama sekali tidak datang kepadaku. Bahkan terakhir ketika aku pulang malam. Dan aku mengatakan kepada kalian bahwa aku sedang lembur di kantor, tapi kalian tidak mempercayaiku. Kalian mengusirku. Sejak itulah aku sudah tidak menganggap kalian sebagai orang tuaku lagi. Aku sudah anggap kalian mati!"


Mendengar ucapan dari Bianca membuat Anthony dan Emily makin terisak. Hati mereka benar-benar hancur saat melihat kebencian di mata putrinya.


Baik Anthony maupun Emily, keduanya sama-sama menyesal atas apa yang telah mereka perbuat terhadap putri keduanya. Mereka selama ini tidak pernah bersikap menjadi orang tua yang baik untuk Bianca, tidak pernah ada untuk Bianca, tidak pernah menganggap Bianca sebagai putrinya. Mereka sering membanding-bandingkan Bianca dengan Zora sang kakak perempuannya. Bahkan mereka menganggap Bianca anak pembawa sial.


"Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum aku teriaki kalian sebagai penjahat yang ingin menculikku."


Setelah mengatakan itu, Bianca masuk ke dalam lalu menutup pintu Apartemennya dengan cara dibanting sehingga membuat kedua orang tuanya terkejut.

__ADS_1


Melihat penolakan dari putri keduanya membuat Anthony dan Emily memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Dan mereka berharap setibanya di rumah, putri sulung mereka tidak marah karena gagal mendapatkan kata maaf dari sang adik perempuannya.


__ADS_2