
"Kapan kakak Gilang akan membawa perempuan itu keluar dari rumahku?" tanya Darren sembari memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.
Saat ini Darren bersama dengan kedua kakaknya di lapangan basket yang ada di luar.
Awalnya hanya Darren saja disana sembari menunggu kedatangan Brenda sang pujaan hatinya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para pujaan hati dari ketujuh sahabat-sahabatnya.
Ketika tengah asyik dengan dunianya, Gilang dan Darka datang mengganggu suasana santainya.
Mendengar pertanyaan dari adiknya, Gilang langsung menatap wajahnya.
"Apa nggak bisa kasih beberapa hari lagi perempuan itu tinggal disana? Kakak...." perkataan Gilang terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Kakak Gilang pikir rumahku itu tempat penampungan? Aku nggak kenal sama dia dan nggak akan pernah mau kenal sama dia. Kakak Gilang juga belum lama ini kenal sama dia. Baru beberapa hari. Dan parahnya lagi, kakak Gilang percaya begitu saja sama dia. Apa kakak Gilang nggak takut kejadian Valen terulang lagi?" Darren berbicara dengan penuh penekanan diakhir kalimat. Dan matanya yang menatap lekat mata Gilang.
"Pokoknya aku nggak mau tahu. Hari ini juga perempuan itu harus keluar dari rumahku. Kakak Gilang mau percaya sama dia atau sekali pun kakak Gilang mau marah sama aku. Aku nggak peduli dan masa bodoh. Itu urusan kakak Gilang. Yang aku mau perempuan itu keluar dari rumahku hari ini."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan kedua kakaknya menuju kelas. Dia benar-benar kesal terhadap kakaknya itu.
Melihat kepergian Darren membuat Gilang hanya menghela nafasnya kasar. Sedangkan Darka hanya diam dan menyimak perdebatan kedua saudaranya.
"Apa alasan kamu meminta Darren memberikan waktu pada agar perempuan itu tetap berada di rumah Darren?" tanya Darka.
"Aku hanya kasihan pada perempuan itu, Darka!" jawab Gilang.
"Tapi kamu tahu sendiri bagaimana wataknya Darren. Darren mana mau ada orang lain yang tidak dia kenal berada di dalam rumahnya," sahut Darka.
"Iya, Darka. Aku tahu dan sangat tahu akan watak Darren," ucap Gilang.
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih meminta apa yang tidak akan pernah Darren kasih. Seharusnya kamu ngertiin Darren juga, Gil!"
Mendengar ucapan dari Darka. Gilang hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya.
Melihat keterdiaman Gilang sembari menundukkan kepalanya membuat hati Darka sedih.
"Kamu, aku dan anggota keluarga kita sangat tahu bahwa rumah itu adalah rumah kedua Darren. Jika Darren merasa lelah, banyak pikiran dan ada masalah. Darren akan pulang kesana untuk menenangkan pikirannya. Jika rumah itu ada orang lain. Apalagi seorang perempuan, maka Darren nggak akan bisa pulang kesana."
__ADS_1
"Jika Darren tetap keras kepala dan bersikap egois. Dan memilih untuk tetap pulang ke rumahnya. Sementara di rumahnya itu ada seorang perempuan. Apa kata orang-orang jika Darren bersama dengan seorang perempuan dalam satu rumah."
"Kamu pasti memiliki alasannya? Sekarang katakan padaku apa alasan kamu meminta kepada Darren membiarkan perempuan itu untuk tetap berada di rumah Darren beberapa hari lagi?"
Gilang menatap wajah Darka. Setelah itu, Gilang mengalihkan pandangannya kearah depan.
"Perempuan itu ada masalah dengan Bibinya, Darka!"
Mendengar perkataan dari Gilang membuat Darka langsung menatap kearah Gilang.
"Maksud kamu?"
"Aku sudah menyelidiki latar belakang perempuan itu. Mungkin kamu, Darren, Papa, Mama dan yang lainnya beranggapan kalau aku bertemu dengan perempuan itu sama seperti ketika kita bertemu dengan Valen dimana Valen sengaja menabrakkan dirinya di depan mobilku."
Gilang menolehkan wajahnya untuk menatap wajah Darka. "Pertemuanku dengan perempuan itu tidak seperti pertemuanku dengan Valen." Gilang kembali menatap ke depan. "Seperti yang sudah aku ceritakan kepadamu, kepada Darren dan anggota keluarga kita bahwa aku menolong perempuan itu yang sedang dikejar oleh beberapa orang. Ditambah lagi perempuan itu dalam keadaan mabuk."
"Sekarang katakan padaku tentang perempuan itu," ucap Darka.
"Perempuan itu berasal dari keluarga kaya. Kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika perempuan itu berumur 7 tahun. Perempuan itu tinggal bersama Pamannya dari pihak ayahnya di rumahnya."
"Iya," jawab Gilang.
"Paman dari perempuan itu sudah menikah dan sudah punya anak. Anaknya perempuan. Hanya beda satu tahun dari perempuan yang aku tolong itu. Mereka satu keluarga tinggal di rumah perempuan itu."
"Tadi kau bilang kalau perempuan itu ada masalah dengan Bibinya? Apa masalahnya?"
"Bibinya itu terlilit hutang dan tidak bisa melunasinya. Jadi perempuan tua itu merencanakan niat jahat untuk menyingkirkan Kayana dari rumah yang mereka tempati itu."
"Jadi nama perempuan yang kau tolong itu Kayana?"
"Hm!" Gilang berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Kayana Madhavi! Ayahnya berasal dari keluarga Madhavi. Sementara ibunya berasal dari keluarga Swastika. Keluarga ibunya juga berasal dari keluarga kaya."
"Apa yang akan dilakukan oleh perempuan tua itu?"
__ADS_1
"Perempuan tua itu akan menjual Kayana kepada seorang laki-laki tua yang telah meminjamkan uang kepadanya," jawab Gilang.
"Apa?" Darka terkejut mendengar jawaban dari Gilang. "Gila tuh perempuan," sahut Darka yang tak habis pikir dengan jalan pikiran dari perempuan tua itu.
"Kenapa nggak anak gadisnya saja dijual? Kenapa harus keponakan dari suaminya?" tanya Darka kesal.
Mendengar perkataan dan nada kesal dari Darka membuat Gilang tersenyum. Gilang menatap wajah Darka lalu bertanya, "Apa kau sudah mulai simpati terhadap perempuan yang aku tolong itu?"
"Sedikit," jawab Darka.
Gilang tersenyum mendengar jawaban singkat dari Darka.
"Tujuan utama dari perempuan tua itu ingin menjual Kayana adalah ingin menguasai kekayaan milik kedua orang tua Kayana. Dengan menjual Kayana dan membuat Kayana menikah dengan laki-laki tua yang sudah memiliki istri tiga, Kayana akan pergi meninggalkan rumah besar itu.
"Sampai detik ini, Kayana tidak tahu jika rumah mewah itu adalah rumah orang tuanya. Dan perusahaan yang dipegang oleh Pamannya itu perusahaan ayahnya. Perusahaan itu akan diserahkan kepada Kayana setelah Kayana lulus kuliah dan meraih sarjana. Kayana berpikir jika dia tinggal di rumah Pamannya yang tak lain adalah adik laki-laki ayahnya."
"Alasan Kayana mabuk saat itu karena Kayana sudah mengetahui niat jahat Bibinya. Dia marah dan dendam akan sikap buruk istri Pamannya itu. Dia bisa terlepas dari laki-laki tua itu berkat keenam sahabatnya yang membantunya. Dia stres dan tertekan, makanya dia lari ke klub dan minum-minum disana. Dan kebetulan klub itu milik kekasih dari sahabat. Saat Kayana berada di klub itu, laki-laki tua itu juga ada disana."
Mata Darka membelalak ketika mendengar perkataan Gilang yang terakhir.
"Karena itulah kenapa aku menolongnya, Darka! Aku nggak bisa mikir apa-apa saat itu, makanya aku membawanya ke rumah Darren. Kalau aku punya rumah sendiri. Aku akan bawa dia ke rumahku."
Darka mengusap lembut punggung Gilang. "Kau sudah melakukan hal yang benar. Jika kau sudah mengetahui latar belakang dari Kayana. Teruslah kau bantu dia. Aku akan membantumu untuk melindungi Kayana."
"Bagaimana dengan Darren?"
"Kau tidak perlu khawatir. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini dengan Darren. Mungkin tadi kau terlalu memaksa. Sementara Darren sedikit terkejut karena rumahnya dimasuki perempuan," jawab Darka.
"Baiklah."
"Ya, sudah. Lebih baik kita ke kelas. Kau tidak berencana untuk memboloskan?" ucap dan tanya Darka.
"Aish! Nggaklah," jawab Gilang kesal.
Setelah itu, Gilang dan Darka pun memutuskan untuk pergi ke kelasnya. Dan tanpa mereka ketahui bahwa sejak tadi ada seseorang yang menguping dan mendengar semua pembicaraannya.
__ADS_1