KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ucapan Dan Ancaman Jonathan


__ADS_3

Di kediaman keluarga Smith tampak ramai dimana semua orang berkumpul. Mereka adalah keluarga Radmilo, keluarga ketujuh sahabatnya Darren, keluarga Brenda dan keluarga ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda, keluarga Mendez dan kelima ketua mafia lengkap para tangan kanannya.


"Bagaimana ini nak Ziggy? Ini adalah hari kelima putra dan putri kami tidak ada kabar apapun?" tanya Eric.


"Kita tidak bisa berdiam seperti ini. Kita harus bergerak untuk mencari putra dan putri kita. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang ikut dalam kegiatan Touring itu." Dario berucap sembari menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.


"Aku begitu mengkhawatirkan mereka semua. Yang paling aku khawatirkan disini adalah Darren." Celsea tiba-tiba bersuara.


Semuanya langsung melihat kearah Celsea ketika mendengar ucapannya. Terlihat raut kekhawatiran dan ketakutan di masing-masing wajah dan tatapan mata mereka semua, terutama anggota keluarga Smith.


"Apa maksud kamu, Celsea?" tanya Erland dengan nada bergetarnya.


Celsea melihat kearah Erland. Dan dapat dilihat oleh Celsea ada ketakutan di tatapan matanya Erland. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Garcia yaitu Brian dan keluarganya.


[Disini keluarga Radmilo sudah mengetahui tentang Brian. Dan mereka juga sudah saling berpelukan melepaskan rasa rindu selama ini]


"Aku khawatir akan kesehatan jantungnya," jawab Celsea.


"Tapi bukannya kak Celsea mengatakan saat itu di rumah sakit bahwa jantungnya Darren sudah sembuh. Dengan kata lain Darren tidak lagi merasakan kesakitan atau sesak di jantungnya," ucap Agneta.


"Iya. Aku memang mengatakan itu ketika di rumah sakit. Tapi bisa saja hal itu terjadi lagi. Bagaimana pun Darren beda dengan kita semua. Apalagi kalau sudah menyangkut kesehatannya. Darren itu juga mudah jatuh sakit. Jika Darren kelelahan dalam bekerja. Secara otomatis tubuhnya langsung bereaksi," ucap Celsea menjelaskan tentang Darren.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Celsea membuat Erland, Agneta, serta anggota keluarga lainnya terkejut dan syok. Begitu juga dengan yang lainnya.


Ketika mereka sedang memikirkan keberadaan anak-anaknya, para mahasiswa dan mahasiswi yang tengah melakukan kegiatan Touring serta juga memikirkan kesehatan Darren. Seketika mereka dikejutkan dengan suara bunyi bell.


Ting..


Tong..


Seorang pelayan wanita berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Dan selang beberapa detik kemudian..


"Tuan, Nyonya!"


"Siapa yang datang?" tanya Carissa.


"Itu... itu tamu yang datang adalah tamunya tuan muda Andra._


Mendengar jawaban dari pelayan wanita itu membuat anggota keluarga Smith seketika terkejut. Mereka tidak menyangka jika keluarga tersebut datang disaat mereka dalam keadaan bersedih.


"Brengsek!" Andra seketika marah.


Mendengar ucapan dari Andra dan ditambah lagi ketika melihat wajah tak bersahabat Andra dan anggota keluarga Smith kecuali Brian, Delia dan kedua anaknya yaitu Risya dan Mishel. Mereka tidak tahu permasalahan yang dialami oleh Andra.


"Usir mereka. Aku tidak mau bertemu dengan mereka. Yang ada di pikiranku saat ini adalah adik-adikku," sahut Andra.


"Ba-baik tuan muda."


Pelayan wanita itu pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang tamu.


Brian menatap lekat kearah Andra, kemudian Brian mengalihkan tatapan matanya kearah kakak iparnya.

__ADS_1


"Andra! Kak Erland! Ada apa? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku? Apa yang tidak aku ketahui?" ucap dan tanya Brian.


"Ayolah, kak! Kita ini keluarga. Jangan merahasiakan masalah kalian kepada kami," sela Delia.


Erland melihat kearah putra keduanya yang saat ini tatapan matanya tertuju ke bawah dengan kedua tangannya mengepal kuat.


Setelah itu, Erland melihat kearah adik iparnya, adik dari kedua wanita yang menjadi pendamping hidupnya.


"Andra di....."


"Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab, saudara Andra!" seru seseorang dengan lantangnya.


Mendengar suara seseorang dan ucapan dari orang tersebut membuat semua yang ada di ruang tengah tersebut langsung melihat keasal suara. Mereka dapat melihat ada tiga orang yang melangkah menuju ruang tengah dengan tatapan amarahnya masing-masing.


"Maaf sebelumnya. Kalian siapa? Dan kenapa kalian datang kesini dengan cara seperti ini?" tanya kakek Robert lembut.


"Diam kau tua bangka! Jangan ikut campur!" bentak pria itu.


Damian, Gerald, Atalarik dan anak-anaknya seketika mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan dari pria tersebut untuk ayahnya/kakeknya.


"Jaga ucapan anda itu tuan!" bentak Arkana.


"Peduli setan!" bentak pria itu dengan menatap nyalang kearah Arkana.


"Kau....!" Arkana berucap sembari menunjuk kearah pria itu.


"Arkana!" tegur Robert.


Semua yang ada di ruang tengah saat ini berdiri dengan menatap jijik kearah tiga orang yang datang tanpa diundang.


"Apa maksud kamu dengan menyuruh pelayan untuk mengusir kami, hah?!" tanya pria itu dengan menatap tajam kearah Andra dan anggota keluarga Smith lainnya.


"Apa urusan anda? Ini rumah saya dan saya punya hak untuk mengusir manusia menjijikan seperti kalian!" bentak Andra.


"Kedatangan kami kesini karena salah satu anggota keluarga kamu yang memintanya," ucap wanita itu.


"Adikku juga terpaksa mengatakan itu kepada kalian. Jika tidak seperti itu, maka kalian tidak akan pergi dari sini!" bentak Dzaky.


"Tidak bisa seperti itu Andra! Bagaimana pun kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan padaku. Aku hamil dan itu perbuatanmu," ucap perempuan yang mengaku hamil anak Andra.


Deg..


Semua yang ada di ruang tengah seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari wanita muda yang mengatakan bahwa dirinya sedang hamil. Dan ayah dari bayinya itu adalah Andra.


"Andra!" seru Brian.


"Itu tidak benar Paman Brian! Andra dijebak oleh perempuan ular itu. Paman jangan percaya," sahut Davin seketika.


Mereka semua menatap sepasang suami istri dan satu anak perempuannya dengan tatapan hina, meremehkan, tatapan jijik dan tatapan amarah.


"Jadi kalian masih meragukan kehamilan anak perempuan saya, hah?!"

__ADS_1


"Iya!" Davin, Dzaky dan Adnan menjawab bersamaan.


"Bahkan kami tidak mempercayai jika putri anda benar-benar hamil. Atau jika pun hamil. Ayahnya sudah pasti bukan kakak saya," ucap Adnan.


"Kami sudah memperlihatkan bukti-bukti itu kepada kalian," ucap perempuan itu.


"Bukankah salah satu adik kalian langsung mempercayai bukti tersebut. Bahkan dia yang meminta kami untuk datang kesini membicarakan masalah pernikahan," ucap wanita paruh baya itu.


"Berarti urusan kalian bersama adikku. Bukan denganku, apalagi dengan keluargaku." Andra langsung menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya itu.


"Tapi aku butuhnya denganmu dan kedua orang tuamu. Bukan adikmu yang sialan itu!" bentak pria itu.


Mendengar ucapan kejam dari pria itu membuat Davin, Andra, Dzaky dan Adnan menatap penuh amarah kearah pria itu. Mereka tidak terima pria itu menghina adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kau....!"


"Davin!"


Erland langsung mencekal pergelangan tangan kanan putra sulungnya ketika putranya itu hendak menghampiri pria tersebut.


Ketika pria itu hendak berbicara lagi, tiba-tiba Jonathan datang.


"Lebih baik tuan dan nyonya pergi dari sini. Bawa sekalian putri kalian," ucap Jonathan.


Mendengar ucapan dari pria yang ada di hadapannya membuat sepasang suami istri itu menatap marah.


"Siapa kau? Lebih baik urusi saja pekerjaanmu!" bentak pria itu.


"Justru saya sedang bekerja saat ini. Pekerjaan saya saat ini adalah mengusir kalian dari kediaman Smith," sahut Jonathan.


Mendengar jawaban dari Jonathan membuat semua orang yang ada di ruang tengah tersebut tersenyum mengejek dengan tatapan matanya menatap kearah sepasang suami istri itu dan anak perempuannya.


Sementara sepasang suami istri itu dan anak perempuannya mengepal kuat kedua tangannya. Dan jangan lupa tatapan matanya yang tajam.


"Saran saya. Jika kalian masih ingin diadakan pernikahan antara anak perempuan kalian dengan tuan muda Andra. Ada baiknya untuk saat ini kalian pulang dulu. Orang yang menyuruh kalian datang kesini sedang tidak ada di rumah. Tuan muda Darren sedang ada tugas Kampus bersama sahabat-sahabatnya dan teman-teman Kampusnya. Bukankah tuan muda Darren yang berjanji kepada kalian? Jadi tunggulah beliau kembali."


"Namun jika kalian masih bersikeras untuk tetap disini dan tetap dengan rencana kalian, maka tidak akan ada pernikahan. Saya melakukan ini juga atas perintah dari tuan muda Darren."


Mendengar ucapan demi ucapan dari pria di hadapannya membuat sepasang suami istri itu dan anak perempuannya seketika terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing saat ini sedang takut. Bagaimana pun mereka tidak ingin pernikahan tersebut sampai gagal.


"Pa, Ma! Apa yang dikatakan pria ini ada benarnya. Kita kesini karena disuruh sama orang yang bernama Darren. Sementara orang tersebut tidak ada. Lebih baik kita pulang. Aku tidak ingin gagal menikah dengan Andra. Hanya Darren yang bisa membuatku menikah dengan Andra karena dia mempercayaiku," ucap perempuan itu kepada kedua orang tuanya.


"Baiklah. Kita pulang," sahut pria itu.


Pria itu kemudian menatap kearah Jonathan. "Ini kartu nama saya. Hubungi saya jika saudara Darren telah kembali."


Jonathan langsung mengambil kartu nama tersebut. "Baiklah. Saya akan langsung menghubungi tuan ketika tuan muda Darren sudah kembali. Tunggu saja kabar dari saya. Dan jangan coba-coba untuk datang lagi kesini," sahut Jonathan.


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, sepasang suami istri itu dan anak perempuannya langsung pergi meninggalkan kediaman keluarga Smith.

__ADS_1


__ADS_2