
Tiga hari Darka di rawat dan lima hari Darren di rawat di rumah sakit. Kini keduanya sudah pulang ke rumah. Selama keduanya di rumah sakit, anggota keluarganya, para sahabatnya dan kekasihnya selalu menemani di rumah sakit. Tidak ada yang absen sama sekali.
Kini Darren dan Darka berada di ruang tengah. Keduanya ditemani anggota keluarganya.
"Mama bahagia kedua putra Mama yang tampan bak pangeran sudah sehat dan sudah kembali pulang ke rumah. Jangan sakit-sakit lagi ya!" Agneta berseru dengan raut wajah bahagia.
"Mama sayang kamu... Muaacchh!"
Agneta memberikan ciuman di kedua pipi Darren. Sedangkan yang dicium hanya senyum-senyum. Mereka yang melihat tingkah ibunya/istrinya tersenyum bahagia. Apalagi ketika melihat Darren yang senyum-senyum mendapatkan ciuman dari ibunya.
"Aku mau juga dicium sama Mama. Disini kan bukan Darren saja yang sakit. Aku juga sakit. Berarti aku dapat ciuman juga dong," ucap Darka yang sengaja menjahili adik kesayangannya.
Mendengar ucapan dari Darka membuat mereka semua langsung melihat kearah Darka. Begitu juga dengan Agneta dan Darren. Dapat mereka lihat wajah Darka yang sedih. Padahal Darka hanya berpura-pura saja.
Agneta yang melihat wajah sedih Darka hanya tersenyum, lalu Agneta berdiri dari duduknya hendak menghampiri putranya itu.
Sementara Darren menatap intens wajah kakak kesayangannya itu. Dan detik kemudian, Darren tersenyum.
Ketika Agneta ingin melangkah, Darren langsung mencekal tangan ibunya sehingga membuat Agneta langsung melihat kearahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Agneta.
"Mama disini saja. Jangan kemana-mana," mohon Darren.
"Mama nggak kemana-mana sayang. Mama hanya ke tempat kakakmu yang aneh itu," jawab Agneta.
Darka yang mendengar ucapan dari ibumu hanya memperlihatkan wajah kesalnya. Bisa-bisanya ibunya mengatakan hal itu.
"Udah Mama disini saja. Mama itu milik aku khusus untuk hari ini. Dan aku tidak ingin berbagi dengan siapa pun," ucap Darren.
Mendengar ucapan dari Darren membuat Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung menatap wajah Darren. Mereka menatap Darren tak percaya, terutama Darka.
Darren yang merasa ditatap hanya bersikap biasa saja. Bahkan Darren sesekali melirik kearah Darka yang sedang kesal. Darren tertawa di dalam hatinya.
"Mama itu Mama kita bersama Darren. Kamu jangan serakah dong jadi adek," ucap Darka menatap kesal Darren.
"Yey! Terserah aku dong. Kenapa kakak Darka yang marah dan tidak terima. Mama saja tidak masalah dan tidak nolak juga," jawab Darren.
Darka seketika melotot mendengar jawaban yang seenaknya dari Darren. "Untung sayang. Kalau tidak, sudah aku ceburkan ke kolam ikan." Darka membatin sambil matanya menatap wajah adiknya yang menyebalkan itu.
Sementara Erland, Agneta dan putra-putranya yang lain hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat perang mulut Darka dan Darren.
"Mama tega padaku. Aku kan putra Mama juga. Tapi kenapa Mama hanya mihak sama anak kelinci itu?" ucap Darka yang berpura-pura menangis.
"Putra Mama itu banyak. Bukan hanya anak kelinci itu saja," ucap Darka lagi.
Mendengar ucapan kejam dari kakak kesayangannya itu membuat Darren menatapnya dengan mata bulatnya dan jangan lupakan mulutnya yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah untuk kakaknya itu.
Anggota keluarganya, kecuali Darka tersenyum gemas melihat wajah Darren yang sedang kesal akan perkataan Darka. Wajahnya seperti anak usia 5 tahun.
Darren hendak membalas perkataan dari kakak laki-lakinya itu, namun terhenti ketika mendengar ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
Darren yang mendengar itu langsung mengambil ponselnya yang kebetulan terletak diatas meja.
Darren melihat nama 'Fito' di layar ponselnya. Darren pun langsung menjawab panggilan dari Fito.
"Hallo, Fito?"
"Hallo, Bos. Ada masalah di rumah."
"Masalah apa?"
__ADS_1
"Ada beberapa orang datang ke rumah dan membuat keributan."
"Apa?!"
Darren seketika berteriak ketika mendengar jika ada beberapa orang datang ke rumahnya.
Melihat keterkejutan dan mendengar teriakan dari Darren membuat anggota keluarganya menatapnya khawatir.
"Ada berapa jumlah mereka?"
"Sekitar 20 orang, Bos!"
"Baiklah. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah. Oh iya! Bagaimana dengan perempuan itu?"
"Perempuan itu berada di dalam rumah Bos! Awalnya perempuan itu mau pergi. Katanya ingin membeli sesuatu. Namun ketika tiba diluar, datang orang-orang itu. Dan saya langsung menyuruh perempuan itu masuk ke dalam rumah."
"Baiklah, Fito. Kamu bisa mengatasi para manusia-manusia menjijikkan itu?"
"Bisa Bos. Kebetulan disini ada beberapa anggota saya. Dan jumlah lumayan banyak dari para manusia-manusia menjijikkan itu."
"Bagus. Habisi mereka semua. Jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah."
"Baik, Bos!"
Pip!
Darren langsung mematikan panggilannya. Setelah itu, Darren menatap wajah kakak kesayangannya yaitu Gilang.
"Kakak Gilang," panggil Darren.
"Ya, Ren!"
"Sudah waktunya kakak Gilang bertindak," ucap Darren.
"Apa kakak Gilang tidak ingin menolong menyelesaikan masalah masa depan kakak Gilang?"
"Masa depan kakak? Maksud kamu apa sih Darren?"
"Aish, perempuan itu."
Gilang lagi tidak fokus saat ini sehingga tidak paham akan ucapan dari Darren.
Melihat keterdiaman Gilang. Ditambah lagi wajah bingung Gilang membuat Darren menatap kesal.
"Perempuan yang ada di rumahku itu bantet sialan!" teriak Darren.
Mendengar teriakan dari Darren membuat mereka semua menutup telinganya. Sementara Gilang yang mendengar ucapan dari adiknya itu langsung tersadar.
Gilang melihat kearah Darren. Sementara Darren menatap dengan wajah super kesalnya.
"Maksud kamu, Kayana?" tanya Gilang.
"Memangnya ada berapa Kayana di rumahku? Atau kakak Gilang membawa Kayana kedua, Kayana ketiga..."
"Apa yang terjadi?"
"Ada sekitar 20 orang yang datang ke rumahku. Kemungkinan orang-orang itu ingin mencari Kayana."
"Apa?!"
Gilang terkejut. Seketika Gilang berdiri dari duduknya dan hendak pergi.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Darren.
"Mau nolongin Kayana," jawab Gilang.
"Dengan cara apa? Apa kakak Gilang mau mati cepat?"
"Apa maksud kamu, Ren?"
"Orang-orang itu bawa senjata tajam. Sementara kakak Gilang belum mempersiapkan apapun."
"Kakak Gilang datang kesana mau nolongin calon istri atau mau nyerahin nyawa?" ucap dan tanya Darren.
Mendengar ucapan dari Darren membuat Gilang salah tingkah. Seketika wajahnya memerah akan ulah adiknya.
Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Darka tersenyum. Begitu juga dengan Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Cie! Mau nolongin calon istri," ledek Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
"Ada yang lagi jatuh cintah nih," sahut Melvin.
"Kakak Darren sudah punya pacar. Kakak Darka juga sudah punya pacar. Sekarang nyusul kakak Gilang," ucap Ivan.
"Tinggal para kakak-kakak tertua kita!" seru Adrian, Mathew dan Nathan bersamaan.
"Berisik!" ucap Gilang.
"Hahahaha." Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tertawa.
Gilang melihat kearah Darren. "Terus apa yang harus kakak lakukan sekarang, Ren?"
Darren tidak menjawab pertanyaan dari Darren. Justru Darren saat ini tengah mengotak-atik ponselnya dengan jari-jarinya.
Ting!
Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Gilang.
Gilang mengambil ponselnya. Setelah itu, Gilang melihat ada sebuah notifikasi tertera di layar ponselnya.
Gilang membukanya, lalu membaca isi dari pesan itu.
To: Darren
Pergilah ke alamat ini.
Jalan : Komplek Anyelir nomor 12.
Setelah membaca pesan dari adiknya. Gilang langsung melihat kearah adik laki-lakinya itu.
"Itu tempat tinggal pria tua yang akan menikah dengan Kayana. Orang-orang yang datang ke rumahku adalah orang-orang dari pria itu."
Mendengar perkataan dari Darren. Seketika Gilang langsung mengerti akan apa yang harus dilakukannya.
"Dan bawa ini." Darren memberikan sebuah DVD kepada Gilang.
"DVD?" tanya Gilang.
"Di dalam DVD ini terdapat banyak kecurangan pria tua itu. Kakak Gilang bisa gunakan itu untuk membuat pria tua itu melepaskan Kayana."
Mendengar ucapan dari Darren. Gilang langsung mengambil DVD itu. Seketika Gilang tersenyum.
"Terima kasih, Ren!"
__ADS_1
Setelah itu, Gilang pun pergi meninggalkan kediaman Smith untuk menuju rumah milik pria tua itu.