
Darren saat ini berada di ruangan komputer bersama dengan ketujuh sahabatnya. Mereka tengah fokus dengan komputer masing-masing yang ada di hadapannya.
Darren dan ketujuh sahabatnya tengah mempersiapkan jadwal kegiatan organisasi kampus dalam rangka olimpiade cabang olahraga.
Ketika Darren dan ketujuh tengah fokus dengan layar komputer, tiba-tiba pintu ruangan komputer dibuka dari luar.
Mendengar suara pintu dibuka dari luar. Darren dan ketujuh sahabatnya dengan kompak melihat kearah pintu tersebut.
Mereka semua melihat Brenda dan ketujuh sahabatnya memasuki ruangan komputer dengan menenteng beberapa kantong makanan dan minuman.
"Ini kita bawain cemilan untuk kalian," ucap Elsa.
Mendengar perkataan dari Elsa. Darren dan ketujuh sahabatnya menghentikan aktifitas mereka dan bergabung dengan para kekasih yang sudah duduk di sofa yang ada di ruangan komputer itu.
"Tumben kalian kesini?" tanya Dylan.
"Biasanya kalian pergi ke perpustakaan," ucap Rehan.
"Pengen aja," jawab Brenda dan ketujuh sahabatnya bersamaan.
Mendengar jawaban kompak dari ketujuh sahabatnya Brenda membuat Darren beserta sahabatnya menatap wajah para kekasihnya.
"Kompak benar," celetuk Willy.
Disaat Darren, ketujuh sahabatnya beserta para kekasihnya tengah menikmati kebersamaannya di ruangan komputer. Darren tiba-tiba dikejutkan dengan suara ponselnya.
Darren yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah ponselnya berada di tangannya, Darren melihat nama 'Ketua Vagos' di layar ponselnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Bisa kita bertemu."
"Kapan?"
"Kalau bisa sekarang. Di cafe biasa."
"Kalau sekarang, aku tidak bisa. Aku masih ada kuliah sampai pukul 11 siang."
"Kalau begitu kita bertemu setelah kuliahmu selesai."
"Baiklah. Setelah selesai kuliah aku akan langsung ke cafe."
"Baiklah."
Setelah selesai berbicara di telepon, baik Darren maupun orang yang di seberang telepon sama-sama mematikan panggilannya.
"Siapa, Ren?" tanya Axel.
"Elzaro," jawab Darren.
"Ada apa? Kenapa dia menghubungi kamu?" tanya Rehan.
"Dia ngajak ketemuan di cafe biasa," balas Darren.
"Bagaimana dengan kamu? Apa kamu akan datang ke cafe itu?" tanya Jerry.
"Iya. Aku akan datang menemuinya. Kalian juga," jawab Darren.
"Baiklah," jawab kompak ketujuh sahabatnya.
***
__ADS_1
Lino saat ini berada di bengkel miliknya. Setelah beberapa menit yang lalu, Lino menghubungi Darren sang ketua dari geng motor Bruiser.
Setelah selesai berbicara dengan Darren dan memintanya ketemuan. Lino memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya yaitu memperbaiki lima mobil pelanggannya. Lino tidak sendirian, melainkan bersama tujuh karyawannya.
Ketika Lino sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ada mobil mewah memasuki bengkelnya. Dari mobil mewah itu, keluarlah seorang pria paruh baya dan seorang pemuda tampan.
Pria paruh baya dan pemuda tampan itu melihat kearah sosok pemuda yang saat ini tengah fokus dengan pekerjaannya yang sedang membenarkan sebuah mobil. Wajah pemuda itu bisa terlihat jelas oleh paruh baya dan pemuda tampan itu.
"Lino," batin keduanya.
Salah satu pemuda yang tak lain adalah karyawan dari Elzaro Adelino. Pemuda itu menghampiri sang Bos.
"Maaf, Bos!"
Merasa dipanggil, Lino langsung melihat kearah karyawannya itu.
"Iya. Ada apa?"
"Itu di depan ada dua orang yang mencari Bos."
"Siapa?"
"Saya tidak tahu Bos. Dan kelihatannya mereka baru pertama kali datang ke bengkel ini."
Setelah karyawan itu mengatakan perkataannya, Lino langsung menghentikan pekerjaannya. Lino berdiri lalu menemui kedua orang yang dimaksud oleh karyawannya itu.
^^^
"Maaf, kalian siapa? Ada keperluan apa kalian mencariku?" tanya Lino.
Kedua orang itu langsung melihat kearah Lino
Ketika melihat kedua wajah orang yang ada di hadapannya, seketika membuat Lino terkejut. Lino menatap lekat pria paruh baya yang juga tengah menatapnya dengan senyuman.
"Papi, Mami, Kakak Danesh, KakakĀ Nuel. Lino takut. Tolongin Lino dan Alin," ucap Lino sembari menangis.
Brak!
Lino yang saat ini tengah menangis sembari menyebut nama kedua orang tuanya, kedua kakaknya seketika terkejut mendengar dobrakkan pintu.
"Ricko, dimana kedua anak kembar ku!" teriak Atalaric.
Lino yang saat ini sedang menangis di sebuah gudang penyekapan mendengar suara dari ayahnya.
"Papi, tolongin Lino." Elzaro berucap lirih di dalam gudang penyekapan.
"Akhirnya kau datang juga Atalaric Radmilo!" seru seseorang yang keluar dari sebuah ruangan.
Atalaric menatap nyalang kearah orang itu. Atalaric datang bersama dengan istirnya Mita dan beberapa pasukannya.
"Kenapa? Apa kau sudah merindukan kedua anak kembarmu itu, hum?"
"Jangan basa basi, brengsek! Dimana kedua anak kembarku kau sekap?"
"Sebelum aku memberitahu dimana anak kembarmu. Terlebih dahulu kau harus memenuhi keinginanku, Atalaric!"
"Jangan membuang-buang waktuku, Ricko Arachi! Cepat katakan padaku dimana kedua anak kembarku!" teriak Atalaric.
"Hahahahaha. Aku tidak akan pernah menyerahkan kedua anak kembarmu itu sebelum kau mengabulkan keinginanku."
Mendengar perkataan dan tawa keras dari Ricko membuat Atalaric menjadi marah besar.
Tanpa pikir panjang lagi dan persiapan. Atalaric menyerang secara membabi buta kearah Atalaric.
Dan terjadilah pertarungan kelompok Atalaric dan kelompok Ricko. Baik kelompok Atalaric maupun kelompok Ricko saling memberikan pekulan dan tendangan yang mengakibatkan kelompok dari Ricko banyak yang kalah.
__ADS_1
Tanpa Atalaric ketahui bahwa adik laki-laki dari Ricko membawa keluar putra kembar dari Atalaric yang dalam keadaan terikat.
Lino melihat bagaimana ayahnya itu bertarung. Bahkan Lino juga melihat ayahnya yang berulang kali mendapatkan pukulan dan tendangan dari musuh ayahnya.
"Papi," ucap Lino dengan mulut yang dilakbat.
Dan detik kemudian..
Dor! Dor!
Terdengar empat tembakkan beruntun mengenai seseorang. Dan hal itu membuat Lino seketika menangis.
"Hiks... Pa-papi..." isak Lino ketika melihat ayahnya terkapar di lantai. Begitu juga dengan ibunya.
Adik laki-laki Ricko memberikan tembakkan beruntun kearah Atalaric dan Mita sang istri sehingga membuat keduanya terkapar tak berdaya di lantai.
Flashback Off
Seketika air mata Lino jatuh membasahi wajahnya ketika mengingat kejadian naas itu.
"Pa-papi," ucap Lino dengan suara bergetarnya.
Mendengar perkataan lirih dan suara bergetar dari pemuda di hadapannya membuat pria paruh baya dan pemuda tampan itu terkejut dan merasakan sesak di dada masing-masing.
"Elzaro Adelino, putra bungsu Papi. Ini Papi, sayang!"
Mendengar perkataan dari pria paruh baya yang ada di hadapannya membuat Lino antara percaya dan tidak percaya.
Lino ingin percaya, tapi dirinya menyaksikan bagaimana kondisi terakhir kedua orang tuanya tertembak. Namun disini lain, Lino ingin sekali memeluk tubuh orang yang berdiri di hadapannya itu.
Melihat putranya yang menangis membuat hatinya sesak dan juga tidak tega. Berlahan pria itu berjalan menghampiri Lino. Pria paruh baya itu juga menangis. Begitu juga dengan pemuda tampan itu.
"Lino, ini Papi. Papi kandungmu. Papi datang kesini ingin membawamu pulang," ucap pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu adalah Atalaric, ayah kandung Elzaro Adelino.
Lino menggelengkan kepalanya antara percaya dan tidak percaya.
"Anda bohong. Jika anda adalah ayah saya. Lalu siapa? Siapa yang meninggal saat kejadian penculikan 14 tahun yang lalu?" tanya Lino dengan isak tangisnya.
Mendengar perkataan dari Elzaro membuat Atalaric dan putra sulungnya terkejut. Mereka berpikir bahwa kejadian 14 tahun yang lalu, Elzaro melihat kejadian itu dan berpikir bahwa ayahnya telah meninggal.
"Lino, sayang! Dengarkan Papi. Memang saat kejadian itu Papi sama Mami kamu memang mengalami luka tembak. Tapi kami selamat dari kejadian itu. Tuhan memberikan kehidupan baru kepada kami," ucap Atalaric dengan berlinang air mata. Begitu Danesh, kakak laki-lakinya.
Air mata Lino makin deras mengalir membasahi wajah tampannya. Dirinya terkejut ketika mendengar perkataan dari pria yang ada di hadapannya ini.
"Percayalah sama Papi, sayang! Ini Papi. Papi masih hidup. Papi dan juga Mami kamu selamat dari luka tembak itu. Papi tidak berbohong padamu," ucap Atalaric memohon kepada putra kembarnya.
"Iya, Lino. Papi sama Mami masih hidup," ucap Danesh yang menatap wajah adik laki-lakinya dengan wajah basahnya.
Lino hanya diam di tempat. Namun air matanya masih setia mengalir.
Melihat putra/adik laki-lakinya menangis membuat Atalaric dan Danesh menjadi tidak tega.
Dan detik kemudian..
Grep!
Atalaric seketika memeluk tubuh Lino dengan erat. Air mata Atalaric kembali jatuh.
"Hiks... ... Papi... Papi... Hiks," isak Lino di dalam pelukannya.
"Lino... Hiks. Papi rindu kamu, sayang! Papi benar-benar bahagia bisa melihatmu dan memelukmu," ucap Atalaric.
Danesh yang melihat ayahnya yang berhasil memeluk adik laki-lakinya. Dirinya pun ikut ke dalam pelukan tersebut. Danesh tak kalah menangis ketika memeluk tubuh adik laki-lakinya yan selama ini dirindukan.
__ADS_1