KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Maafkan Papa


__ADS_3

Darka masih terus menanyakan keberadaan Darren yang belum juga datang menjenguknya. Dia benar-benar mengkhawatirkan adiknya itu.


Saat ini yang ada di ruang rawat Darka hanya ada Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya.


Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang pergi untuk mencari Darren yang tak kunjung datang ke rumah sakit. Bahkan Davin dan Andra sudah berulang kali menghubungi ponsel Darren, namun hasilnya selalu gagal. Ponsel Darren sama sekali tidak bisa dihubungi.


Mereka semua sudah mulai ketakutan jika terjadi sesuatu terhadap Darren. Erland berulang kali hampir pingsan karena tidak mendapatkan kabar mengenai putranya.


Kathleen duduk di samping ranjangnya terus memberikan ketenangan kepada Darka sembari menggenggam tangannya.


Sedangkan Elzaro dan kelima sahabatnya duduk di sofa. Sesekali Elzaro menatap kearah Kathleen dan tersenyum kearahnya.


"Alin, kakak senang dan bahagia bisa bertemu denganmu lagi. Secepatnya kakak akan bawa kamu pulang dan mempertemukan kamu dengan Papi, Mami, kakak Danesh dan kakak Nuel," batin Elzaro.


Puk!


Melky menepuk pelan bahu Elzaro. Dia tahu bahwa saat ini Elzaro sangat merindukan saudari kembarnya yang kini ada di hadapannya.


"Sabar. Sebentar lagi kalian akan berkumpul kembali. Setidaknya kau sudah tahu bahwa Kathleen Johnson adalah Kathleen Adelia Radmilo, kembaranmu." Melky berbicara berbisik di telinga Elzaro.


Elzaro seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Melky. "Kau benar Melky. Sebentar lagi aku dan keluarga besar Radmilo akan berkumpul lagi dengan Alin. Untuk saat ini aku hanya bisa melihatnya seperti ini," ucap Elzaro.


"Dan jangan kau lupakan keluarga Johnson. Keluarga itu adalah alasan Kathleen pergi dari rumah. Kau harus cari tahu tentang mereka," ucap Melky


"Tentu. Kau tenang saja. Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mengawasi dan menjaga Kathleen secara diam-diam. Bahkan aku juga menyuruh mereka untuk mengawasi gerak-gerik keluarga Johnson."


"Bagus kalau begitu," sahut Melky.


"Aku mengerti perasaan kamu Darka. Kamu sangat mengkhawatirkan Darren. Aku juga merasakan hal itu. Bagaimana pun aku sudah anggap Darren seperti adik laki-lakiku sendiri."


Darka menatap wajah cantik kekasihnya itu. Tangannya kemudian mengusap lembut wajahnya. "Terima kasih ya karena sudah ikut mengkhawatirkan adikku, Kathleen!"


"Sama-sama. Jika kita menerima dan mencintai seseorang. Berarti kita juga harus meneriman dan mencintai keluarganya. Jangan hanya menerima dan mencintai anaknya atau kakaknya, atau adiknya. Sementara keluarganya dijauhi. Itu adalah sikap yang sangat buruk."


Darka tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan tulus dari Kathleen. Dia benar-benar bersyukur telah dipertemukan dengan Kathleen.


"Aku begitu sangat menyayangi Darren? Darren itu kebanggaanku dan juga kebanggaan keluargaku. Dia begitu berharga untuk kami semua. Apa kamu mau dengar ceritaku?" ucap dan tanya Darka.

__ADS_1


"Boleh. Jika kamu nggak keberatan," jawab Kathleen.


Darka kemudian mulai menceritakan tentang adik laki-laki kesayangannya kepada Kathleen. Sedangkan Kathleen akan menjadi pendengar yang setia. Begitu juga dengan Elzaro dan kelima sahabatnya. Mereka ingin mendengar cerita Darka tersebut.


Darka menceritakan semuanya kepada Kathleen tentang hubungan dia dan keluarganya dengan Darren. Mulai dari dia dan anggota keluarganya yang mengabaikan Darren, tidak ada waktu untuk Darren, jarang memberikan perhatian untuk Darren hingga insiden menusukkan yang dia alami bersama adiknya yang lain dan berakhir keributan besar di dalam keluarga.


Mendengar cerita dari Darka membuat Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya terkejut. Mereka tidak menyangka jika dulu kehidupan Darren sangat menderita. Dan penyebab penderitaan Darren adalah keluarganya sendiri. Keluarganya lebih mempercayai video tersebut dari pada mempercayai Darren.


Darka menatap wajah cantik Kathleen. "Sejak kejadian itu, hidup kami semua jauh dari kata baik-baik saja. Ayahku, ibuku, kelima kakak laki-lakiku dan Gilang setiap hari menangis mengingat kesalahannya terhadap Darren. Mereka juga setiap hari selalu mencari keberadaan Darren. Jika mereka berhasil, mereka akan membujuk Darren untuk kembali pulang ke rumah. Namun usaha mereka semua sia-sia. Tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan Darren."


"Bukan itu saja. Jika mereka di rumah, aku selalu menghindari mereka. Aku sama sekali tidak ingin melihat mereka sekali pun hanya sekedar menyapa. Setiap mereka ingin berbicara denganku, aku selalu bersikap ketus dan kasar. Tidak ada sedikit pun keramahan yang aku berikan kepada mereka. Bahkan setiap harinya aku selalu bertengkar dengan keluargaku. Aku marah kepada mereka. Mereka yang melakukan kesalahan itu. Justru aku ikut mendapatkan dampaknya. Dampak dari kebencian Darren." Darka menangis ketika menceritakan kejadian itu.


"Dan kau pasti ingin tahukan kenapa aku mengatakan bahwa Darren sangat berharga bagiku dan juga keluargaku. Dan juga kebanggaan kami semua?" tanya Darka dengan menatap wajah Kathleen.


"Apa?" tanya Kathleen dengan menggenggam tangan Darka.


"Darren sudah banyak berkorban untuk melindungi kami semua. Padahal saat itu hubungan kami belum membaik. Darren masih membenci kami saat itu. Sebenci apapun Darren terhadap kami, Darren tetap melakukan tugasnya untuk melindungi keluarganya," ucap Darka tersenyum sembari membayangkan bagaimana adik laki-lakinya yang sudah banyak membantu keluarganya.


"Seiring waktu berjalan, berlahan Darren memberikan maaf kepada kami semua. Dan sejak itulah aku dan keluargaku berjanji untuk selalu ada untuknya dan selalu memberikan yang terbaik untuknya."


"Darren itu seperti sebuah kaca. Jika kaca itu sudah pecah, walau bisa disatukan lagi. Kaca itu tidak akan bisa kembali lagi seperti sedia kala. Maka dari itulah aku dan keluargaku bertekad akan selalu menjaganya, melindunginya, memberikan perhatian padanya dan memberikan apa yang dibutuhkannya. Kami melakukan semua itu agar dia tidak kembali terluka. Jika hal itu terjadi, maka akan sulit untuk kami gapai lagi."


Kathleen makin mengeratkan genggaman tangannya di tangan Darka. Dia tahu Darka akan menyampaikan apa.


"Kau pasti mau bilang bahwa Darren memiliki masalah di jantungnya. Iyakan?" ucap dan tanya Kathleen.


Darka langsung menatap wajah Kathleen dan bertanya, "Kau tahu dari mana?"


Kathleen tersenyum. "Dari Papamu."


"Bagaimana bisa? Kapan?"


"Kemarin. Ketika kau dibawa ke rumah sakit. Darren begitu mengkhawatirkan kammu. Dia panik dan juga takut. Apalagi ketika mengetahui bahwa kau banyak kehilangan darah dan harus segera mendapatkan darah. Jika terlambat sedikit, maka..."


Darka langsung memotong ucapan Kathleen. "Lalu apa yang terjadi? Jangan bilang kalau..."


"Iya. Darren ingin mendonorkan darahnya untukmu, namun dicegah oleh ayah kalian. Seketika Darren marah dan menatap tajam ayahnya. Dia mengatakan bahwa di dalam ruangan operasi itu adalah kakak laki-laki kesayangannya. Darren menangis karena tidak bisa mendonorkan darahnya untukmu."

__ADS_1


"Paman Erland memberikan penjelasan kenapa Darren kenapa dia dilarang mendonorkan darahnya untukmu. Dari situlah aku tahu bahwa Darren memiliki masalah di jantungnya."


Darka menatap kearah dimana Elzaro dan kelima sahabatnya berada. "Apa kalian juga tahu?"


"Iya. Kami juga tahu dengan kondisi kesehatan Darren," jawab Elzaro.


Ketika Darka, Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya tengah berbicara sembari membahas Darren. Terdengar pintu ruang rawat Darka dibuka.


Cklek!


Baik Darka, Kathleen maupun Elzaro dan kelima sahabatnya langsung melihat kearah pintu. Dapat mereka lihat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang melangkah memasuki ruang rawat Darka.


Bukan hanya Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang. Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin datang bersama kedua orang tuanya dan kelima kakak laki-lakinya. Sudah dua hari kelimanya tidak datang ke rumah sakit karena ada ujian sekolah. Ketika ujian selesai, mereka pun memutuskan untuk ikut ke rumah sakit.


"Papa," panggil Darka.


"Iya, sayang." Erland menjawab panggilan dari putra keenamnya itu.


Erland saat ini sudah berdiri di samping ranjangnya Darka. Sedangkan Kathleen berdiri di tempat lain. Kathleen memberikan ruang untuk keluarga Darka.


"Mana Darren? Apa Papa berhasil menemukan Darren?"


Erland langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya. Dia benar-benar gagal saat ini menjadi seorang ayah.


"Maafkan Papa. Papa gagal menemukan Darren. Papa gagal," ucap Erland dengan suara lirihnya.


"Papa." Davin mengusap lembut punggung ayahnya.


Mereka semua sedih karena belum berhasil menemukan Darren. Mereka tidak tahu Darren ada dimana.


Ketika mereka semua tengah bersedih memikirkan Darren, mereka mendengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Mereka semua melihat kearah pintu.


Cklek!


Setelah pintu terbuka, masuklah seseorang ke dalam ruang rawat Darka.


"Rehan!"

__ADS_1


"Kakak Rehan!"


Mereka semua berseru ketika melihat Rehan salah satu sahabat Darren yang datang.


__ADS_2