
Atalaric, Mita dan anggota keluarga Radmilo saat ini berada di ruang tengah.
Setelah selesai sarapan pagi, mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah. Mereka kompak ingin membahas Elzaro.
Semenjak keluarga Radmilo berkumpul kembali dengan salah satu kesayangannya, sejak itulah Lino selalu mengurung diri di kamar. Lino akan bicara jika anggota keluarga Radmilo yang terlebih dahulu mengajaknya bicara.
Lino saat ini berada di dalam kamarnya. Setelah selesai sarapan pagi, Lino memutuskan kembali ke kamarnya.
"Sayang. Kita tidak bisa membiarkan Lino seperti ini terus. Mau sampai kapan Lino mengurung diri di kamar," sahut Mita.
"Mama juga sepemikiran dengan Mita. Kita harus ajak Lino bicara. Kita tidak membiarkan Lino seperti ini terus," ucap Deliana selaku ibu dan juga nenek.
"Apa Lino merasa tidak nyaman di rumah ini?" tanya Carol tiba-tiba.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Carol?" tanya Deliana kepada menantunya.
"Aku bicara seperti itu karena melihat sifat dingin dan juga sifat tegas kalian semua. Tambah lagi aturan yang ada di rumah ini. Mungkin saja Lino belum terbiasa atau tidak terbiasa. Selama 14 tahun ini Lino hidup diluar dan tanpa ada aturan sama sekali." Carol berbicara sambil menjelaskan alasannya.
Mendengar perkataan dari Carol membuat mereka semua diam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Carol.
"Ini saranku sih," sela Danira istri dari Gerald Radmilo, putra kedua dari Robert Radmilo dan Deliana Radmilo.
"Apa itu sayang?" tanya Gerald.
"Ada baiknya aturan di rumah ini tidak berlaku untuk Lino. Bagaimana pun Lino baru saja kembali ke rumah ini. Dan kita tidak bisa memaksa Lino harus mengikuti aturan yang ada. Apalagi meminta Lino merubah semua kebiasaannya selama ini." Danira berbicara sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya, terutama wajah Atalaric.
"Tapi kak Danira...." perkataan Atalaric terpotong karena Carol langsung memotongnya.
"Pikirkan perasaan Lino, Atalaric! Apa kau tega memaksakan kehendakmu terhadap putra kembarmu yang baru kamu temui? Jika kau dan kalian semua memaksakan kehendak kalian kepada Lino. Itu sama saja kalian menyakiti Lino. Masalah kalian takut Lino akan disakiti, masalah Lino akan menjadi anak yang salah pergaulan. Aku rasa itu tidak perlu terlalu dipikirkan. Masalah pergaulan diluar sana. Aku yakin Lino tidak akan melakukan hal-hal bodoh yang akan merugikan dirinya sendiri."
"Untuk masalah geng motor yang sempat diucapkan oleh Lino ketika berbicara dengan seseorang di telepon. Kalian jangan langsung berpikir negatif. Tidak semua geng motor itu membawa pengaruh buruk. Ada juga geng motor yang membawa hal-hal positif. Jadi disini intinya, jangan terlalu mengekang Lino. Cukup kita memberikan kepercayaan pada Lino. Setidaknya dengan begitu, Lino akan merasa nyaman bersama kita."
Mendengar perkataan panjang dari Danira membuat mereka sadar akan sikap dingin, tegas dan keras mereka. Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Danira barusan.
Ketika mereka sedang berbicara membahas masalah Elzaro, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara derap langkah kaki dan juga suara orang berbicara.
Dengan kompaknya semua anggota keluarga Radmilo melihat ke asal suara. Dan mereka melihat Elzaro yang menuruni anak tangga sembari berbicara dengan seseorang di telepon.
"Apa yang terjadi, Melky?"
"Markas kita diserang, Lino! Jaket anak-anak Vagos hilang."
"Kenapa bisa? Memangnya tidak ada yang menjaga di markas?"
"Ada. Hanya beberapa saja. Itu pun mereka sudah bergantian jadwal jaga. Dan mereka semua kecolongan. Nggak ada yang tahu bahwa kelompok itu berhasil mencuri jaket geng motor kita."
"Brengsek! Jadi mereka sudah memulai permainannya dengan menyerang markas kita, lalu menuduh geng motor Bruiser yang melakukannya. Lalu mereka menggunakan jaket anak-anak Vagos untuk menyerang geng motor Bruiser. Rencana yang bagus juga."
__ADS_1
"Apa rencana kita, Lino?"
"Seperti yang sudah aku bahas denganmu dan yang lainnya dua hari yang lalu. Kita ikuti permainan bajingan itu dengan kita menyerang geng motor Bruiser. Hanya saja kita tidak membawa banyak anggota. Dengan begitu kita seakan-akan kalah dengan geng motor Bruiser. Jadi....."
"Jadi kelompok bajingan itu akan datang membantu geng motor kita. Dan disaat itulah geng motor Vagos dan geng motor Bruiser menghabisi kelompok itu."
"Yup! Seperti itulah."
"Rencana yang bagus. Baiklah. Aku akan membahas masalah ini lagi bersama yang lain."
"Baiklah, Melky."
Setelah selesai berbicara dengan Melky sahabatnya, Lino pun langsung mematikan panggilannya.
"Kau tidak akan pernah bisa membuat geng motorku bermusuhan dengan geng motor Bruiser. Sekarang ini aku sudah tahu semua kebenarannya. Kaulah yang telah membunuh kakak Gavin. Tapi kau menuduh Darren dan ketujuh sahabatnya yang telah membunuh kakak Gavin. Tunggu saja pembalasan dariku. Aku pastikan kau mati ditanganku."
"Kakak Gavin. Aku akan membalas kematianmu," ucap Lino dan tanpa sadar air mata jatuh membasahi wajah tampannya.
Sementara Atalaric, Mita, Danesh, Nuel dan anggota keluarga Radmilo lainnya menatap sendu Elzaro. Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Elzaro. Baik ketika Elzaro sedang menelpon maupun Elzaro sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Mita berdiri dari duduknya, lalu menghampiri putra bungsunya yang masih berdiri di anak tangga bagian bawah.
Kini Mita sudah berdiri di hadapan putranya. Tangannya mengusap lembut wajah Elzaro itu sehingga membuat putranya itu tersadar.
"Mami," ucap Lino.
Mita kemudian menggandeng tangan putranya itu, lalu membawanya ke ruang tengah. Sedangkan Elzaro hanya pasrah disaat ibunya menggandeng tangannya.
"Selamat pagi, Lino!" seru semua anggota keluarga Radmilo.
Mendengar sapaan dari semua anggota keluarganya membuat Elzaro tersenyum.
"Pagi Papi, Papa Damian, Papa Gerald, Mama Danira, Mama Carol, kakek Robert, Nenek Deliana, kakak Danesh, kakak Nuel, kakak Arkana, kak Mindy, kakak Chandra, kakak Satya, kak Dirly, kak Intan.." Elzaro membalas sapaan dari anggota keluarganya.
Mereka semua tersenyum ketika mendengar balasan sapaan dari Elzaro yang nama mereka satu persatu.
Atalaric mendekati putra kembarnya itu. Dan setelah itu, Atalaric memeluknya.
"Jika ada masalah. Ceritakanlah kepada Papi. Jangan kamu pendam sendiri," ucap Atalaric lembut.
Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Elzaro terkejut. Dan detik kemudian, Elzaro melepaskan pelukannya.
Elzaro menatap wajah tampan ayahnya. "Aku baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun," jawab Elzaro bohong.
Setelah itu, Elzaro menatap satu persatu wajah anggota keluarga Radmilo.
"Jika aku menceritakan masalahku kepada kalian. Belum tentu kalian akan menerimanya dengan baik. Aku tahu sifat kalian seperti apa. Kalian akan melarangku bergaul dengan orang-orang yang selama ini selalu ada di sampingku. Kalian pasti akan menyuruhku bahkan memaksaku untuk menjauhi mereka semua."
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. Mereka adalah keluargaku. Mereka yang selalu menemaniku selama ini."
Elzaro berbicara di dalam hatinya. Dirinya sudah bertekad. Apapun yang terjadi. Sekali pun anggota keluarganya memintanya untuk menjauhi semua teman-temannya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang selalu menemaninya. Elzaro tidak akan pernah mengabulkan permintaan dari anggota keluarganya itu.
Jika disuruh memilih, maka Elzaro akan memilih meninggalkan keluarganya dari pada menjauhi orang-orang yang selama 14 tahun menemainya.
Atalaric menyentuh wajah putranya agar putranya itu menatap matanya. "Lihat Papi, Lino!"
Elzaro seketika menatap tepat di manik hitam ayahnya. Keduanya saling menatap satu sama lainnya.
"Papi minta maaf padamu karena membuatmu tidak nyaman di rumah ini. Sejak kepulangan kamu ke rumah ini, kamu tidak bebas mau melakukan apapun. Papi, kakak-kakak kamu dan kita semua selalu mengawasi kamu. Bahkan Papi dan kami semua selalu melarang kamu untuk berdekatan sama siapapun, kecuali orang-orang tertentu saja. Itu pun kami yang menentukannya."
"Mulai detik ini dan seterusnya. Papi tidak akan melarang kamu untuk melakukan apapun selama diluar rumah. Papi juga tidak akan melarang kamu untuk bergaul dengan teman-teman kamu atau sahabat-sahabat kamu. Papi juga tidak akan meminta kamu untuk meninggalkan mereka. Bagaimana pun mereka keluarga kamu. Mereka selalu menemani kamu. Seharusnya Papi berterima kasih kepada mereka. Bukan malah sebaliknya."
Mendengar perkataan dari ayahnya. Seketika air mata Elzaro jatuh membasahi tampannya. Elzaro tak menyangka atas apa yang barusan diucapkan oleh ayahnya itu.
"Pa-papi... Hiks... Benarkah?" tanya Elzaro disela isakkannya.
"Iya, sayang. Itu benar. Papi melakukan semua ini semata-mata untuk kebahagiaan kamu. Papi ingin kamu nyaman tinggal di rumah ini. Papi juga ingin kamu nyaman bersama kami semua seperti kamu nyaman bersama teman-teman kamu dan sahabat-sahabat kamu."
Atalaric menangis ketika berbicara dengan putranya. Dan ketika dirinya mengatakan itu di depan putranya, hatinya merasakan kebahagiaan luar biasa.
Grep!
Elzaro langsung memeluk tubuh ayahnya. "Terima kasih, Papi! Terima kasih Papi sudah membuka akses aku tetap terus bersama teman-temanku, sahabat-sahabatku dan yang lainnya."
Elzaro kemudian melepaskan pelukannya. Dan setelah itu, Elzaro menatap wajah ayahnya.
"Papi tidak perlu khawatir akan pergaulanku yang keras diluar sana. Selama ini aku dan semua orang-orang terdekatku tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Justru sebaliknya, kami selalu melakukan hal-hal positif. Walaupun kadang-kadang aku dan yang lainnya pernah melakukan hal yang buruk, seperti berkelahi. Itu pun kami lakukan untuk membela diri. Tidak lebih."
"Hanya satu yang aku butuhkan dari Papi, Mami, kakak Danesh dan kakak Nuel."
"Apa itu sayang?" tanya Atalaric dan Mita bersamaan.
"Kepercayaan. Hanya kepercayaan yang aku butuhkan dari Papi, Mami dan anggota keluarga Radmilo. Dengan kalian memberikan kepercayaan padaku, maka aku akan menjaga kepercayaan kalian itu."
"Aku tidak melarang kalian, seandainya kalian masih terus mengawasiku atau memata-mataiku. Tujuan kalian melakukan hal itu karena kalian semua menyayangiku dan peduli padaku. Dan aku tidak keberatan."
Mendengar perkataan dari Elzaro membuat Atalaric, Mita, Danesh, Nuel dan anggota keluarga Radmilo paham. Jika mereka diposisi Elzaro. Mungkin mereka juga akan seperti Elzaro.
Mereka semua tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan Elzaro yang mengizinkan mereka untuk terus mengawasi dan memata-matai dirinya.
"Kami mengerti!" seru semua anggota keluarga Radmilo.
Atalaric membawa putranya untuk duduk di sofa. Begitu juga dengan Mita.
"Sekarang, ceritakan kepada Papi dan kita semua. Apa yang terjadi? Papi dan kita semua yang ada disini mendengar obrolan kamu dengan orang yang bernama Melky di telepon."
__ADS_1
Dan pada akhirnya, Elzaro pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini.