KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pengusiran


__ADS_3

Darren kini tengah berada di markas Almight Black milik Enzo. Dirinya kesana tidak sendirian, melainkan bersama ketujuh sahabatnya.


Setiba disana, Darren dan ketujuh sahabatnya disambut oleh dua tangan kanannya Enzo yaitu Lian dan Jason.


Kini Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di ruang yang biasa digunakan untuk berkumpul. Lengkap bersama dengan keempat kakak mafianya yang lain serta para tangan masing-masing.


"Apa yang kau inginkan kali ini, Ren?" tanya Chico membuka pembicaraan.


Chico dan yang lainnya menatap wajah Darren. Dapat mereka lihat bahwa Darren memang membutuhkan sesuatu.


"Ini masalah Erica," jawab Darren.


"Kenapa dengan Erica?" tanya Noe.


"Erica baik-baik sajakan, Ren?" tanya Ziggy.


Darren tersenyum. "Erica baik-baik saja."


"Terus? Apa masalahnya?" tanya Devian.


"Aku ingin kalian menyelidiki keluarga dari kedua orang tua kandung Erica," jawab Darren.


"Apa alasan kamu meminta kami untuk menyelidiki keluarga dari kedua orang tua kandung Erica?" tanya Chico.


"Saat kejadian dimana kedua orang tua kandung Erica dibunuh, ternyata Erica sempat melihat kejadian itu. Bahkan Erica sempat menyebut Paman jahat," ucap Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat kelima ketua mafia dan para tangan kanannya terkejut. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.


"Ren," panggil Jerry.


Darren langsung melihat kearah Jerry. "Erica sudah cerita padaku kemarin malam. Setelah kejadian di Pameran Lukisan itu. Erica tidak keluar kamar sampai makan malam selesai. Dan berakhir aku menemuinya di kamar."


"Kasihan Erica. Dia masih kecil, tapi sudah mendapatkan masalah sebesar ini. Ditambah lagi dia adalah saksi atas kematian kedua orang tuanya," ucap Enzo.


"Alasanku meminta kalian menyelidiki keluarga dari kedua orang tua kandung Erica, kemungkinan salah satu dari dua keluarga itu sebagai pelakunya. Mengingat Erica sempat mengatakan Paman jahat," ucap Darren.


Mendengar perkataan dan juga alasan Darren membuat mereka menyetujui hal itu.


"Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu. Sebelum kamu memintanya kepada kami. Kami sudah melakukannya," sahut Ziggy.


Mendengar perkataan dari Ziggy. Darren langsung melihat kearah Ziggy. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.


"Ma-maksud kakak Ziggy?" tanya Darren bingung.


"Masalah kematian kedua orang tua kandungnya Erica sedang dalam proses penyelidikan," ucap Chico.


"Sejak kedatangan pengasuh Erica dengan membawa Erica ke kampus kamu. Ditambah lagi pengasuh Erica menceritakan apa yang terjadi terhadap majikannya. Sejak itulah kita langsung menyelidiki kasus tersebut." Noe berbicara sambil menatap wajah Darren dan ketujuh sahabatnya.


Mendengar perkataan dan penjelasan dari kelima kakak mafianya. Seketika terukir senyuman di bibir Darren. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.


Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya tidak menyangka jika kelima kakak mafianya sudah terlebih dahulu bertindak.


***


Di kediaman Archey terlihat seorang wanita paruh baya dan putrinya Lusiana tengah bersantai di ruang tengah. Keduanya tampak bahagia dengan ponsel di tangannya.


Ketika ibu dan anak itu tengah tertawa bahagia, April datang menghampiri keduanya.


"Mami," panggi April.


"Ada apa?" tanya sang ibu tanpa melihat wajah April.


"Aku mau keluar sebentar," jawab April.


Seketika wanita itu menghentikan kegiatan dan menatap wajah Aprilia intens.


"Mau kemana, hah?!"

__ADS_1


"Palingan menjalang, Mami!" sahut Lusiana.


Mendengar perkataan kejam dari kakak perempuannya membuat hati April sakit.


Wanita paruh baya itu menatap merendahkan April. Bahkan dirinya membandingkan kecantikan April dengan putri kesayangannya. Baginya, putri kesayangannya itu lebih cantik dibandingkan April.


"Memangnya ada laki-laki diluar sana menyukai perempuan seperti dia?" tanya wanita itu sembari menunjuk kearah April.


"Ada lah Mami! Salah satunya laki-laki yang menyukai tubuhnya itu," jawab Lusiana.


"Kau benar sekali. Mana ada laki-laki yang tulus mencintai perempuan seperti dia," jawab wanita itu.


Tes!


Air mata April jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar perkataan demi perkataan ibu dan kakak perempuannya yang begitu kejam.


Melihat April yang sudah menangis membuat ibu dan anak itu tersenyum sinis.


"Yaelah! Pake nangis segala. Cemen lo," ucap Lusiana.


Ketika wanita paruh baya itu ingin mengeluarkan perkataannya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang yang melangkah masuk menuju ruang tengah.


"Papi, pulang!"


Mendengar suara orang yang mereka kenal. Wanita paruh baya itu dan juga putrinya pun mulai bersandiwara.


Keduanya mendekati April, lalu memeluknya.


"Kamu yang sabar ya. Masih banyak laki-laki di dunia ini. Bukan hanya dia saja. Jadi ngapain kamu menangisi laki-laki nggak guna itu," ucap Lusiana.


"Apa yang dikatakan kakak perempuan kamu itu benar. Kamu tidak perlu membuang air mata kamu buat laki-laki brengsek itu," ucap wanita itu.


"Eheem!"


Mendengar suara deheman. Baik wanita paruh baya itu, Lusiana maupun April langsung melihat keasal suara. Dapat mereka lihat suaminya/ayahnya telah berdiri di hadapannya.


"Sayang."


April langsung berlari mendekati ayahnya dan langsung memeluk tubuh ayahnya itu.


Grep!


Manaf tersenyum ketika putrinya memeluknya. Dirinya berulang kali memberikan kecupan sayang di pucuk kepala putrinya itu.


Setelah puas memeluk putrinya. Manaf pun melepaskan pelukan putrinya itu.


"Papi menyayangimu. Selamanya!"


"Aku juga menyayangi, Papi."


"Boleh Papi minta sesuatu?"


"Silahkan, Papi. Papi mau minta apa?"


"Sekarang kamu pergi ke kamar. Sebelum ada perintah dari Papi. Kamu jangan keluar kamar. Bisa?"


"Baiklah, Papi."


Setelah itu, Aprilia pun pergi menuju kamarnya.


Setelah melihat kepergian putrinya. Manaf mendekati istri dan Lusiana. Dirinya menatap dingin keduanya.


Detik kemudian...


Plak! Plak!


Plak! Plak!

__ADS_1


Manaf memberikan dua tamparan keras dikedua pipi istrinya dan Lusiana.


"Sayang."


"Papi."


Plak!


Plak!


Manaf kembali memberikan tamparan di pipi keduanya.


"Kau benar-benar manusia iblis, Carol! Aku menerimamu dan putrimu Lusiana dalam kehidupanku dan April. Bahkan aku dengan tulus menyayangi Lusiana seperti putriku sendiri."


"Tapi kau!" teriak Manaf sembari menunjuk kearah wajah Carol.


"Di belakangku kau selalu menyiksa putriku. Kau selalu memfitnahnya demi menutupi kebusukan putrimu. Kau bersikap buruk terhadap putriku!" bentak Manaf.


"Dan kau!" bentak Manaf menunjuk kearah Lusiana.


"Kau selalu membully April setiap kali berada di kampus. Kau bahkan dengan kejamnya mengatakan di depan teman-teman kampusmu bahwa April itu seorang anak tiri di keluarga Archey."


"Apa kau sadar akan ucapanmu itu, hah?! Yang anak tiri di keluarga Archey itu adalah kau! Kau bukan putri kandungku. Hanya April lah putri kandungku!" bentak Manaf dengan suara kerasnya.


Mendengar perkataan dan kemarahan dari suaminya/ayahnya membuat Carol dan Lusiana ketakutan. Mereka tidak menyangka jika perbuatannya terhadap April terbongkar.


"Sayang, dengarkan dulu. Aku....,"


Plak!


Manaf kembali memberikan tamparan keras di pipi Carol.


"Aku tidak butuh penjelasan apapun dari perempuan iblis sepertimu. Aku menyesal telah menikah denganmu. Dan aku akan menceraikanmu."


"Lagi pula, percuma saja kau menjelaskannya padaku, karena aku sudah tahu kebusukanmu selama ini. Aku diam hanya ingin memberikanmu waktu dan kesempatan. Aku ingin melihat sampai dimana kau dan putrimu itu bersandiwara di depanku."


Manaf berbicara sambil menatap tajam kearah Lusiana yang kini tengah ketakutan.


"Dan kau. Gara-gara perbuatanmu di acara Pameran Lukisan kemarin. Pemilik perusahaan Micro Sinopec memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan milikku."


"Ingat! Jika sampai terjadi sesuatu dengan perusahaanku. Aku akan buat perhitungan denganmu, ibumu dan keluarga Migael. Aku akan buat kalian semua menjadi gelandangan di jalan!"


Mendengar perkataan dan ancaman dari Manaf membuat Carol dan Lusiana benar-benar takut. Keduanya tahu bagaimana berkuasanya Manaf dan keluarga besar Archey jika ada yang mengkhianatinya.


"Jeff, Regan, Chris, Zamil!" panggil Manaf.


Keempat orang tersebut pun langsung menghadap. Sedari tadi keempatnya memang berada tak jauh dari tuannya.


"Ya, tuan!" seru mereka kompak.


"Bawa kedua manusia iblis ini keluar dari rumahku. Pastikan mereka menjauh dan tidak kembali lagi kesini. Jika mereka memaksa masuk. Bunuh saja."


"Siap, tuan!"


"Dan kalian, kerahkan beberapa orang untuk mengawasi April selama diluar rumah. Jika ada yang berbuat buruk terhadap putriku, siapa pun itu. Hancurkan saja mereka tanpa pengecualian."


"Baik, tuan!"


Setelah itu, keempatnya menyeret paksa tubuh Carol dan Lusiana untuk dibawa keluar dari rumah besar milik Manaf Gustav Archey.


"Sayang, maafkan aku. Tolong jangan usir aku dan Lusiana." Carol memberontak ketika diseret keluar rumah.


"Papi, aku juga minta maaf. Jangan usir kami. Biarkan kami tetap tinggal disini?" Lusiana juga sama seperti ibunya yang memberontak ketika diseret keluar rumah.


"Antar mereka kembali ke keluarga Migael!" teriak Manaf.


"Baik, tuan!"

__ADS_1


__ADS_2