KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Cerita Erica


__ADS_3

Darren saat ini bersama Erica di ruang tengah. Disana juga ada semua kakak-kakaknya Darren. Baik Daren, Davin, Andra, Dzaky maupun Adnan, Gilang dan Darka berharap Erica mau bercerita tentang permasalahannya di sekolah.


Darren mengusap-usap lembut kepala Erica serta menciuminya. Dia terlebih dahulu memberikan kenyamanan kepada putri angkatnya sebelum dia kembali bertanya.


"Jika Erica sayang sama Papa. Tolong ceritakan semuanya sama Papa. Jangan ada yang Erica tutupi dari Papa dan dari semua anggota keluarga Smith."


Erica masih diam. Dia tidak tahu apakah harus jujur atau bohong. Atau memilih diam. Saat ini Erica benar-benar bingung.


Melihat putri angkatnya tetap diam.


membuat Darren menghela nafas pasrahnya. Detik kemudian, Darren mendapatkan ide cemerlang untuk membuat putrinya itu mau bicara.


"Baiklah jika itu mau Erica. Untuk apa Papa disini. Lebih baik Papa pergi!"


Setelah mengatakan itu, Darren beranjak dari duduknya. Kemudian Darren melangkah pergi meninggalkan ruang tengah.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka terkejut ketika mendengar ucapan dan melihat kepergian Darren.


"Papa!"


Erica langsung menahan tangan ayahnya itu sehingga membuat ayahnya berhenti berjalan. Tanpa Erica serta yang lainnya tahu, Darren tersenyum.


Erica berjalan maju untuk melihat wajah ayahnya. Dia menangis.


"Papa!"


Darren menatap wajah putrinya. Dia berusaha untuk tidak tersenyum ketika melihat wajah sedih putrinya.


"Kenapa?"


"Jangan pergi!"


"Memangnya kenapa Erica melarang Papa pergi? Bukannya Erica sudah tidak sayang lagi dengan Papa."


"Erica sayang sama Papa. Erica sayang sama Papa!"


"Kalau Erica sayang sama Papa. Kenapa Erica diam saja ketika Papa bertanya tentang tiga wanita yang sudah memaki, membentak dan memarahi kamu ketika di sekolah? Kenapa Erica milih diam dari pada menceritakannya sama Papa atau sama anggota keluarga lainnya?"


Deg..


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren yang mana Darren mengatakan bahwa Erica dibentak, dihina dan dimarahi oleh tiga orang wanita di sekolah.


Erica seketika menundukkan kepalanya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari ayahnya. Dia menangis.

__ADS_1


"Jika Erica tidak ingin Papa pergi. Ceritakan semuanya sama Papa. Apa alasan mereka melakukan hal itu kepada kamu. Apa permasalahannya?"


"Erica milih diam atau memilih menceritakan semuanya sama Papa. Semua keputusan ada sama Erica."


Darren kembali melangkahkan kakinya bersamaan tangannya melepaskan tangan Erica yang memegang tangannya.


"Papa, jangan pergi! Baiklah, Erica akan ceritakan semuanya. Tapi Papa jangan pergi... Hiks," ucap Erica disertai isakannya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren. Akhirnya usahanya mengerjai putrinya membuahkan hasil.


Ketika Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan berada di markas The Crips milik Ziggy sudah bicara banyak dengan Ziggy mengenai Erica. Hanya saja Ziggy sama seperti Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya yang mana tidak mengetahui penyebab yang sebenarnya. Erica tidak mengatakan alasan dia menyerang tiga teman sekolahnya sehingga membuat orang tua dari tiga temannya itu marah.


Dan untungnya pihak sekolah yaitu kepala sekolah dan wali kelasnya Erica bersikap bijak dalam menyelesaikan masalah anak didiknya. Mereka tidak mengambil keputusan sebelah pihak dengan memercayai dan mendengar keluh kesah dari wali murid tiga anak didiknya itu.


Kepala sekolah masih mempending masalah tersebut sampai Erica mau mengaku atau dengan kata lain Erica menjelaskan pokok permasalahannya.


Sementara untuk rekaman cctv yang ada di sekolah, kepala sekolah dan para guru mendapatkan kabar bahwa rekaman saat kejadian dimana Erica dan ketiga temannya itu ribut tidak ada alias hilang.


Darren kembali duduk di sofa dengan dirinya memeluk tubuh putrinya. Tangannya kemudian mengusap-usap lembut pipinya dan menghapus air mata putrinya.


"Sekarang ceritakan semuanya sama Papa!"


Flashback On


Erica saat ini berada di ruang seni. Erica sedang melukis gambar orang tuanya. Pertama Erica menggambar wajah kedua orang tua kandungnya. Selesai itu, Erica menggambar wajah kedelapan ayah angkatnya.


Ketika bertemu dengan Darren dan menjadi putri angkatnya Darren, kehebatan melukis Erica semakin baik dimana Erica mendapatkan guru hebat dalam bidang melukis secara Darren ahli dan jago dalam melukis.


Alhasilnya Erica sudah seperti Darren yang hebat dalam melukis. Dia bisa melukis apa yang ingin dia lukis.


Ketika Erica selesai dengan lukisan-lukisannya itu, Erica tampak bahagia dengan hasilnya. Sepulang sekolah, Erica akan memperlihatkan lukisan itu kepada keluarganya terutama kepada para Ayahnya.


Brak..


Pintu ruang Seni dibuka secara paksa. Setelah itu, masuklah tiga murid perempuan ke dalam ruangan tersebut.


"Wah! Lihatlah siapa yang ada disini!" seru murid pertama.


"Dan coba lihat! Sedang apa dia?!" tanya murid kedua sembari mengambil paksa satu lukisan milik Erica.


Detik kemudian...


"*Hahahaha!" ketiga murid itu tertawa keras*.

__ADS_1


"Si anak pungut ini sedang menggambar wajah para ayah angkatnya!" seru murid ketiga.


"Malang sekali hidupnya. Punya ayah angkat saja bangga," ejek murid kedua.


"Seharusnya bangga itu ketika memiliki orang tua kandung," ejek murid pertama.


"Mungkin saja dia tidak punya orang tua kandung karena diakan anak tak dianggap," ucap murid ketiga.


"Bisa juga dia itu anak dari hasil hubungan terlarang kedua orang tuanya lalu kedua orang tuanya membuangnya," ucap murid ketiga itu lagi.


"Hahahaha."


"Kau benar. Cobalah lihat dia menggambar wajah sepasang suami istri dan delapan laki-laki. Apa dengan dia menggambar wajah mereka semua, kita dan semua teman-teman sekolah kita akan memuji dia. Cih! Aku rasa hal itu tidak akan terjadi!" ucap kejam murid pertama.


"Sekali anak pungut tetaplah anak pungut. Status tidak akan berubah jadi anak kandung," ejek murid kedua.


Sreeekkk..


Murid ketiga itu langsung merobek-robek hasil lukisan milik Erica.


Melihat apa yang dilakukan oleh teman, murid pertama dan murid kedua juga ikut merobek-robek semua lukisan milik Erica.


Setelah melakukan semua itu, ketiga murid-murid tersebut pergi meninggalkan ruang Seni itu.


Erica yang sejak tadi berusaha diam dan sabar, walau sejak tadi dia menangis mendengar ucapan hinaan yang dilontarkan oleh ketiga temannya tidak terima.


Seketika Erica berlari keluar bertujuan mengejar ketiga temannya itu. Dia marah dan dia dendam.


Duagh..


Duagh..


Duagh..


Bruukkk


Bruukkk..


Bruukkk..


"Aakkkhhh!" ketiganya berteriak kesakitan bagian punggungnya akibat tendangan dari Erica.


Iya, Erica memberikan tendangan di punggung ketiga temannya itu sehingga membuat ketiga temannya itu tersungkur di lantai sehingga membuat ketiganya berteriak kesakitan. Bukan hanya sakit di bagian punggung, melainkan sakit di bagian dagu karena dagu mereka menghantam lantai.

__ADS_1


Selain Erica yang diajarkan lebih mahir lagi dalam melukis, Erica juga diajarkan sedikit ilmu bela diri oleh Darren. Bela diri yang diajarkan oleh Darren kepada Erica adalah pukulan dan tendangan, baik ketika diserang maupun ketika menyerang.


Flashback Off


__ADS_2