
Di kediaman keluarga Smith, Darren kini berada di ruang tengah bersama dengan ketujuh sahabatnya. Disana juga ada para anggota keluarga Smith yang lainnya, kecuali Carissa yang berada di dapur.
"Ren, bagaimana? Apa kita jadi ke rumah sakit?" tanya Willy.
"Ya, jadilah. Bagaimana pun aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah syok wanita murahan itu ketika melihat kalian yang masih hidup," jawab Darren.
"Darren, sayang." Erland memanggil putranya dengan lembut.
Darren melihat kearah Ayahnya. Dan dapat dilihat olehnya, wajah khawatir yang tersirat diwajah sang Ayah.
"Iya, Papa."
"Apa kamu yakin ingin pergi ke rumah sakit, sayang? Papa benar-benar khawatir. Apalagi tadi kamu sempat kambuh!" ucap Erland.
Darren tersenyum manis kearah Ayahnya. "Papa tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan mati sebelum musuh-musuhku hancur."
Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua menjadi khawatir. Mereka tahu bagaimana watak dan sifat Darren. Mereka tidak ingin hal-hal buruk terjadi padanya.
Ketika mereka semua tengah memikirkan hal-hal yang menyangkut kesehatan Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan bunyi ponsel milik Darren.
Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya dan melihat siapa yang sudah menghubunginya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya dan sudah mengetahui siapa yang menghubunginya, Darren pun tersenyum di sudut bibirnya. Lebih tepatnya senyuman menyeringai. Anggota keluarganya dan para sahabatnya yang melihat senyuman langsung menjadi paham.
"Ren," panggil Darel
Darren menolehkan wajahnya melihat kearah Darel.
"Siapa? Apa dia?" tanya Darel.
"Menurutmu?" Darren balik bertanya.
"Cih! Dasar wanita murahan," umpat Darel. Darren tersenyum.
Darren menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya, terutama Qenan, Rehan, Willy dan Darel.
"Apa yang akan kalian lakukan jika bertemu dengan wanita sialan itu?" tanya Darren.
"Kita lihat saja nanti," jawab Rehan.
"Yang jelas aku sudah mempersiapkan kejutan yang sangat menarik untuk wanita sialan itu!" sahut Darel.
"Dan bisa dipastikan wanita itu akan menyesal karena telah mencari masalah dengan kita!" seru Willy.
"Dan juga wanita itu akan menangis, ketakutan dan memohon ampun didepan kita semua!" ucap Qenan.
"Berarti kalian sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Darren.
"Tentu!" seru Willy, Qenan, Darel dan Rehan.
Darren, Axel, Jerry dan Dylan, tersenyum mendengar seruan kompak dari keempat sahabatnya.
"Darren," panggil Darka.
Darren melihat kearah Darka. "Iya, kak Darka."
"Dua hari lagi acara BAKSOS kita. Usahakan kamu dalam keadaan baik-baik saja. Kakak tidak ingin kamu sakit," ucap Darka sembari menatap khawatir adiknya.
"Baik, kak. Kakak tidak perlu khawatir, oke!" Darren tersenyum kearah Darka.
Darren tahu bahwa kakak laki-lakinya itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Mereka semua khawatir akan dirinya.
"Darren, ini minum dulu susunya!" Carissa, sang Bibi datang membawa segelas susu untuk dirinya.
Darren yang melihat kedatangan bibinya yang membawa susu segelas, hanya menunjukkan wajah merengutnya. Mereka yang melihatnya tersenyum gemas.
"Aish, Bibi Carissa. Bisa tidak disaat aku bersama sahabat-sahabatku, Bibi tidak memperlakukanku seperti bayi. Pake dibawakan susu lagi." Darren mengajukan protes pada sang Bibi.
Mendengar aksi protes Darren, mereka semua tersenyum.
"Tidak usah pake acara malu segala, kelinci bongsor. Biasanya juga langsung nyosor jika melihat susu!" sindir Qenan.
Mendengar penuturan dan sindiran dari Qenan membuat mereka semua tertawa di dalam hati.
Mereka hanya bisa tertawa di dalam hati. Jika mereka tertawa keras, ujung-ujungnya sikelinci kesayangan mereka akan mengamuk. Bisa berabe urusannya.
Sementara Darren yang mendengar ucapan dari Qenan menatap tajam kearahnya. Dan jangan lupa bibir yang digerak-gerakin mengeluarkan sumpah serapah untuk Qenan.
"Bulan ini sampai lima bulan kedepan, gajimu aku potong sebesar 75%!" seru Darren.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Darren, Qenan langsung melotot. Dan Qenan langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arah Darren.
Sementara Darren fokus tatapannya ke depan. Dirinya berusaha untuk tidak tersenyum dan menunjukkan ekspresi serius.
"Kenapa tidak 100% saja? Kenapa harus disisakan 25%?" tanya Qenan kesal.
"Oh, jadi ingin dipotong 100%. Oke.. dengan senang hati! Jadi bulan ini sampai lima bulan ke depan saudara Qenan William alias Mingtem sikedelai hitam bekerja tanpa gaji." Darren berbicara dengan wajah serius, padahal di dalam hatinya, Darren ingin sekali tertawa.
Sementara anggota keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang lainnya tertawa akan nasib Qenan.
"Hahahaha."
BUGH
"Aakkhhh."
Qenan melempar bantal sofa tepat ke wajah Darren. Hal itu sukses membuat Darren merengut kesal.
Disaat Darren ingin membalas, Qenan sudah terlebih dahulu membalasnya.
"Jika kau berani protes atau melawan padaku. Bahkan berani mengumpatiku. Maka aku akan mengajukan surat pengunduran diri menjadi sahabatmu!" seru Qenan.
Darren langsung membulatkan kedua matanya dan mengatub bibirnya saat mendengar ucapan dari Qenan.
Sedangkan anggota keluarganya, dan sahabatnya yang lainnya tersenyum geli saat melihat wajah terkejut Darren.
Darren mengalihkan pandangannya melihat kearah Qenan. Sementara Qenan menatap ke depan. Bahkan dengan santainya, Qenan mengambil minuman di atas meja lalu meneguknya tanpa mempedulikan tatapan horor dari Darren.
***
Di rumah sakit, Helena Orlando masih dirawat. Kondisinya saat ini masih belum membaik.
Saat ini Helena sangat kesal dikarenakan panggilannya tidak dijawab oleh Darren.
"Sialan. Berani sekali bajingan itu tidak menjawab panggilan dariku. Kalau bukan karena uang dan balas dendam. Aku tidak akan sudi berdekatan dengan bajingan itu."
"Tunggu saja Darren. Setelah semua kekayaan milikmu menjadi milikku, maka aku akan membuatmu bertekuk lutut didepanku."
Seketika Helena membayangkan jika dirinya berhasil menguasai seluruh kekakayaan pribadi Darren. Dan Darren yang menjadi budaknya.
Ketika Helena sedang memikirkan menjadi seorang wanita yang kaya raya, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang rawatnya dibuka.
CKLEK
"Akhirnya kau datang juga Brenda!" seru Helena.
Brenda adalah teman Helena saat di Australia. Helena dan Brenda sudah berteman selama 4 tahun. Namun sayangnya, selama Helena berteman dengan Brenda. Helena tidak mengetahui siapa Brenda yang sebenarnya. Apakah Brenda tulus berteman dengannya atau justru hanya kepura-puraan saja?
"Bagaimana perjalananmu dari Australia ke Jerman?" tanya Helena.
"Biasa saja." Brenda menjawab sembari mengangkat kedua bahunya.
"Bagaimana?" tanya Helena.
"Apanya?" tanya Brenda balik.
"Aish, kau ini. Masalah Darren," jawab Helena.
"Apa kau yakin rencanamu akan berhasil?"
"Aku sangat yakin, Brenda." Helena menjawab dengan penuh percaya diri.
"Kenapa harus aku? Kenapa bukan kau saja? Bukankah selama ini rencanamu selalu berjalan lancar. Bahkan semua kebusukanmu selama ini masih aman dan belum diketahui oleh Darren." Brenda menatap wajah Helena dengan senyum menyeringai.
"Aku sedikit was-was untuk melanjutkan rencana ini, Brenda! Sepertinya Darren sudah mulai mencurigaiku," ucap Helena.
Brenda menatap Helena datar. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
FLASBACK ON
GREP
Tanpa ada rasa malu, Helena langsung memeluk tubuh Darren dengan erat. Mereka yang melihat hal itu terkejut.
"Darren. Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak membalas pesan dariku? Bahkan kau juga tidak menjawab panggilan dariku," ucap dan tanya Helena.
"Cih! Menjijikkan," batin para sahabat Darren.
"Helena, lepaskan!" seru Darren.
__ADS_1
Helena justru makin mengeratkan pelukannya.
"Aku bilang lepaskan!" teriak Darren.
Namun Helena tidak mempedulikan teriak Darren.
Darren benar-benar muak dan juga risih saat Helena memeluk tubuhnya. Dan pada akhirnya hanya dengan kekerasan yang bisa melepaskan pelukan Helena.
Darren menarik tangan Helena yang memeluk kuat pinggangnya, dibantu oleh Willy dan Jerry. Lalu kemudian Darren mendorong kuat tubuh Helena sehingga tubuh Helena tersungkur di lantai.
"Jika kau ingin tubuhmu disentuh, Lebih baik kau cari laki-laki yang lain saja. Jangan denganku. Aku tidak berselera dengan tubuhmu itu. Kau terlalu murahan dan gampangan," ucap Darren dengan kerasnya sehingga semua orang mendengarnya.
Helena terkejut saat mendengar penuturan dari Darren. Untuk menutup ketakutannya, Helena masih terus mendekati Darren.
Helena berdiri, lalu melangkah mendekati Darren.
"Darren. Kenapa kau bicara seperti itu padaku? Aku benar-benar mencintaimu. Hanya kau laki-laki satu-satunya yang aku kenal. Tidak ada laki-laki lain," sahut Helena yang tangannya ingin meraih tangan Darren, namun Darren sudah terlebih dahulu menghindar.
"Kau pikir aku percaya. Jangan harap. Aku sama sekali tidak mempercayaimu, Helena Orlando," jawab Darren dengan penuh penekanan.
FLASBACK OFF
Setelah mendengar cerita dari Helena. Brenda menatap wajah Helena. Seketika terukir senyuman jahat dari sudut bibirnya saat melihat wajah takut dan juga wajah berharap Helena.
"Baiklah. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Aku akan membuat Darren jatuh cinta padaku dan juga tunduk padaku."
"Terima kasih, Brenda."
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Aku tulus membantumu. Lalu kapan aku menjalankan rencanaku?"
"Aku akan memberitahumu kapan kau akan mulai beraksi. Hari ini bajingan itu akan datang kesini. Beberapa menit yang lalu aku mengirim pesan padanya untuk datang menjengukku."
"Baiklah. Tidak ada lagikan?"
"Ya, tidak ada lagi."
"Ya, sudah. Kalau begitu aku pamit dulu."
"Baiklah."
Setelah mengatakan hal itu, Brenda pun pergi meninggalkan ruang rawat Helena.
Setelah kepergian Brenda, Helena memikirkan rencana selanjutnya untuk membuat Darren benar-benar takluk padanya.
"Jika aku gagal, maka ada Brenda yang melanjutkan rencanaku." Helena berucap dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri yang tinggi.
Ketika Helena sibuk dengan pikirannya, dirinya dikejutkan oleh kedatangan sang Ibu.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Helena?"
Sontak hal itu sukses membuat Helena terkejut. Lalu Helena melihat kearah Ibunya.
"Aish, Mama." kesal Helena.
"Oh iya. Kapan bajingan sialan itu akan datang?"
"Mungkin sebenarnya lagi. Kenapa, Mama?"
"Tidak ada. Mama hanya berharap rencanamu berjalan lancar. Mama ingin melihat bajingan itu hancur," jawab Riana.
"Mama tidak perlu khawatir. Aku sudah mengatur semuanya,"
"Baguslah."
Ketika keduanya sedang berbicara, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang rawat.
CKLEK
Mendengar suara pintu dibuka, Helena dan ibunya melihat kearah pintu. Mereka dapat melihat Darren yang melangkah masuk bersama Jerry, Axel dan Dylan.
Baik Darren maupun ketiga sahabatnya memasang wajah dingin dan datar.
Mereka melangkah mendekati ranjang Helena tanpa mempedulikan ibunya Riana ibunya Helena yang berdiri di samping ranjang Helena yang sedang menatap tajam mereka.
"Sayang," sapa Helena.
Sementara Darren masih menampilkan wajah dingin dan datarnya.
Kini Darren sudah berdiri tepat ditepi ranjang Helena. Sementara Jerry, Axel dan Dylan berada di sampingnya.
__ADS_1