
Di kediaman keluarga Smith tampak ramai dimana ketujuh sahabatnya Darren dan kelima kakak mafianya berada di ruang tengah.
Sementara untuk Brenda dan ketujuh sahabatnya ditunda kepulangan mereka dari kegiatan kampusnya diluar kota. Mereka kembali satu minggu lagi.
Kelima kakak mafia Darren yang juga kelima kakak mafianya ketujuh sahabatnya sudah tahu perihal kondisi Darren yang tiba-tiba saja diserang sakit kepala luar biasa tadi pagi. Mereka mendapatkan kabar mengenai kondisi Darren dari Rehan.
Rehan menghubungi Noe dan memberitahu Noe kondisi Darren. Lalu dari Noe diinformasikan kepada keempat sahabatnya.
"Sekarang bagaimana kondisi Darren, Paman Erland?" tanya Devian.
"Darren sedang tertidur di kamarnya karena mungkin lelah menangis dan juga berteriak akibat rasa sakit di kepalanya," jawab Erland.
"Apa separah itu, Paman Erland?" tanya Ziggy.
"Iya, Nak Ziggy! Ini pertama kalinya bagi kami melihat dan mendengar kesakitan Darren," ucap Erland.
"Sejak kami mengetahui bahwa Darren memiliki masalah di jantungnya. Sejak itu pula kami tidak pernah melihat Darren yang kesakitan seperti tadi pagi," ucap Adnan.
"Bahkan Darren menarik-narik rambutnya hingga rontok dan juga Darren membentur-benturkan kepalanya ke dinding karena rasa sakit di kepalanya itu," ucap Dzaky.
Mendengar perkataan dari ayah dan kedua kakak laki-lakinya Darren membuat Enzo, Noe, Devian, Ziggy dan Chico sedih. Mereka tidak menyangka jika Darren mengalami hal seperti ini.
"Baiklah, Paman. Kalau begitu kami akan ke kamar Darren!" seru Chico.
"Ya, silahkan!" seru Erland sembari menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Setelah itu, Chico dan keempat sahabatnya beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya Darren. Mereka kemudian melangkah menuju kamar Darren yang ada di lantai dua.
^^^
Ziggy membuka pintu kamar Darren. Setelah pintu terbuka, Ziggy melangkah masuk ke dalam kamar Darren dan diikuti oleh keempat sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Darren di belakang.
Setelah mereka berada di dalam kamarnya Darren. Mereka melihat Darren tengah melamun dengan tubuhnya menyandar di kepala tempat tidur. Mereka semua menatap Darren dengan tatapan sedih.
Ziggy dan yang lainnya melangkah mendekati ranjang Darren. Setelah berada di dekat ranjang Darren, beberapa dari mereka naik ke atas tempat tidur Darren. Dan beberapa nya lagi memilih duduk di samping ranjang Darren dan di sofa.
"Hei, Ren!" Enzo menyapa Darren yang sedang melamun.
Darren yang mengenali suara tersebut langsung mengalihkan perhatiannya melihat keasal suara.
Seketika Darren tersenyum ketika melihat kelima kakak-kakak mafianya dan ketujuh sahabatnya terbaiknya.
Melihat Darren tersenyum membuat hati mereka benar-benar nyaman.
"Apa kabar?" tanya Ziggy.
"Baik," jawab Darren.
"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Noe.
"Untuk saat ini, tidak ada? Nggak tahu kalau nanti," jawab Darren dengan wajah lesu dan sendu.
Mendengar jawaban dan melihat wajah sendu Darren membuat mereka merasakan sesak di dadanya.
"Kakak ada kabar baik untuk kamu," sahut Enzo.
Darren menatap wajah Enzo dengan tatapan matanya yang berbinar. Dia tidak sabaran untuk mengetahui kabar tersebut.
Enzo tersenyum ketika melihat reaksi dari Darren ketika dia mengatakan bahwa ada kabar baik untuknya.
"Kabar baik apa kakak Enzo? Buruan beritahu aku," ucap Darren.
"Ini mengenai Rolando Santa," sahut Enzo.
"Kenapa dia? Apa dia....?"
"Keinginan kamu terpenuhi," pungkas Devian.
Darren menatap bingung kearah Devian. Sementara Devian dan yang lainnya tersenyum melihat wajah bingung Darren.
"Rolando Santa memutuskan untuk berhenti dari bisnis kotornya. Dan Rolando juga memutuskan untuk berdamai dengan kamu dan ketujuh sahabat-sahabat kamu," ucap Chico.
Mendengar ucapan dari Chico membuat Darren menatap lekat wajah Chico.
"Benarkah itu, kakak Chico?"
"Hm!" Ziggy, Noe, Enzo, Devian, dan Chico menggumam secara bersamaan sembari menganggukkan kepalanya.
Darren tersenyum ketika mendengar kabar mengenai Rolando Santa yang berhenti mencari masalah dengannya dan ketujuh sahabatnya.
"Aku sudah yakin dari awal kalau kamu masih memiliki hati yang baik, Rolando! Kamu nggak bersungguh-sungguh untuk membalaskan kematian ayahmu kepadaku dan ketujuh sahabatku," ucap Darren pelan.
Darren menatap kearah Ziggy. Dia ingin menanyakan tentang Nicko Dilbara.
Ziggy yang mengerti tatapan mata Darren langsung tersenyum. "Apa kamu ingin mengetahui kondisi terakhir Nicko Dilbara, hum?"
Darren langsung mengangguk-anggukkan kepalanya brutal.
Ziggy terkekeh. Begitu juga dengan Noe, Enzo, Devian dan Chico.
__ADS_1
"Dia ada di markas The Crips. Apa kau ingin menemuinya?" ucap dan tanya Ziggy.
"Iya. Aku ingin menemuinya sembari memperkenalkan bahwa aku adalah ayah dari keponakannya," sahut Darren.
Noe menatap wajah Darren intens. Ada satu pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Darren.
Menurut Noe, hari ini di kamar Darren adalah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.
"Darren," panggil Noe.
Darren langsung melihat kearah Noe. "Iya, kakak Noe!"
"Boleh kakak bertanya sesuatu padamu?" tanya Noe.
"Silahkan. Kakak Noe mau nanya apa?"
"Eemm... begini, Ren! Apa kamu pernah mengalami kecelakaan sehingga membuat kepala kamu terbentur?"
Mendengar pertanyaan dari Noe membuat Darren diam seketika. Dia mendadak gugup ketika salah satu kakak mafianya bertanya hal seperti itu.
Melihat keterdiaman Darren membuat Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico menatap curiga padanya.
Sementara Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel telah mengetahui bahwa Darren pernah mengalami kecelakaan. Itu pun mereka tahunya ketika kedatangan Erica ke kampus.
"Ren," panggil Noe yang melihat Darren yang hanya diam.
Darren menatap wajah Noe. "Iya. Aku pernah mengalami kecelakaan. Dua kali kecelakaan mobil," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Noe, Chico, Enzo, Ziggy dan Devian terkejut. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
"Kapan kejadian itu?" tanya Devian.
"Kecelakaan pertama saat memasuki semester tiga. Saat itu aku baru pulang dari rapat dengan beberapa rekan kerja. Dan yang menolongku adalah ayahnya Erica."
"Ayahnya Erika membawaku ke rumahnya dan merawatku disana."
"Terus, kecelakaan yang kedua kapan?" tanya Chico.
"Saat aku pergi meninggalkan keluargaku. Sehari aku tinggal di rumahku sendiri. Besoknya aku tidak fokus membawa mobil dan berakhir kecelakaan.
"Ren! Apa ini ada hubungannya dengan kamu menghilang selama satu minggu. Bahkan nggak ada kabar sama sekali dari kamu," ucap dan tanya Jerry.
"Iya. Aku dirawat di rumah sakit selama empat hari. Hari kelima aku sudah dalam keadaan baik-baik saja. Di hari keenam aku mau pulang tapi tidak diperbolehkan oleh dokter yang menanganiku dan orang yang menolongku. Alasannya adalah mereka ingin benar-benar yakin kalau aku baik-baik saja. Hari ketujuh, barulah aku diizinkan pulang."
"Kenapa kamu nggak ngabari kita?" tanya Axel menatap marah kearah Darren.
Mendengar cerita mengenai kecelakaan yang menimpa Darren membuat mereka semua merasa bersalah. Mereka gagal melindungi Darren sehingga dua kali Darren mengalami kecelakaan.
"Dari dua kecelakaan. Kecelakaan mana yang lebih parah kamu alami?" tanya Ziggy.
"Kecelakaan kedua. Mobil yang aku kendarai terbalik sehingga membuat tubuhku benar-benar mati rasa. Apalagi bagian kepalaku. Sakitnya luar biasa. Seketika penglihatanku buram. Dan aku tidak ingat apa-apa lagi," jawab Darren.
Hati mereka merasakan sakit ketika mendengar perkataan Darren yang mengatakan bahwa mobil yang dikendarainya terbalik.
"Astaga, Ren!" lirih Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan. Mereka menangis mendengar cerita dari Darren.
"Ketika kamu telah sadar. Apa kamu masih ingat perkataan Dokter saat menangani kamu?" tanya Enzo.
"Aku lupa. Tapi aku hanya ingat, Dokter itu memintaku datang menemuinya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Terutama Dokter itu ingin melakukan CT scan kepadaku."
"Apa kamu memenuhi keinginan Dokter itu?" tanya Noe.
"Tidak! Aku lupa. Saat itu pekerjaan kantorku menumpuk, materi kuliahku juga banyak. Ditambah dengan tugas-tugasku sebagai ketua organisasi."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
"Mendengar cerita dari kamu. Kakak menyimpulkan bahwa sakit kepala yang kamu rasakan itu ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa kamu. Kemungkinan ada masalah di kepala kamu akibat dari kecelakaan tersebut," sahur Noe.
"Kakak setuju apa yang dikatakan oleh Noe. Itulah kenapa Dokter yang menangani kamu itu memintamu menemuinya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan melakukan CT scan," ucap Enzo.
Mendengar ucapan dari Noe dan Enzo membuat Ziggy, Devian dan Chico menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
"Ren! Ada baiknya kamu periksalah ke Dokter. Jika kamu tidak mau Dokter lain. Kamu bisa temui Bibi Celsea. Kamu ceritakan semuanya kepada Bibi Celsea," saran Devian.
"Jika kamu melakukan CT scan di rumah sakit. Dan hasilnya keluar. Setidaknya kita semua tahu penyebab sakit di kepala kamu itu," ucap Chico.
Mendengar penuturan dari Devian dan Chico membuat Darren seketika terdiam. Di dalam hatinya, Darren membenarkan apa yang dikatakan oleh Devian dan Chico.
Darren menatap satu persatu wajah kelima kakak-kakak mafianya dan ketujuh sahabatnya. Darren tersenyum menatap mereka semua.
"Baiklah. Aku akan memeriksa keadaan ke rumah sakit. Aku akan menemui Bibi Celsea."
Mendengar ucapan dari Darren. Mereka semua tersenyum bahagia. Mereka semua bisa bernafas lega ketika mendengar janji Darren yang akan memeriksakan dirinya ke rumah sakit.
"Kakak Ziggy," panggil Darren.
"Ada apa, hum?"
"Bagaimana kabar Erica?"
__ADS_1
"Dia baik-baik saja. Besok Mommy sama kak Wilona akan mengantarkan Erica pulang ke rumah ini."
"Terima kasih sudah menjaga Erica," ucap Darren.
"Tidak perlu berterima kasih. Kamu sudah kakak anggap sebagai adik laki-lakinya kakak. Berarti Erica adalah keponakan perempuan kakak," jawab Ziggy.
"Keponakan kami juga!" seru Noe, Enzo, Devian dan Chico.
***
Di kediaman Chaim dimana Erica sedang bersama dengan Gloria dan Wilona di ruang tengah. Ketiganya sedang bersenda gurau bersama.
Sejak Erica menginap di kediaman Chaim. Suasana rumah itu terlihat ramai seolah-olah banyak penghuni. Padahal di rumah itu hanya ada mereka bertiga dan tiga laki-laki lainnya yaitu Zeroun, Farraz dan Ziggy.
Baik Gloria maupun Wilona sangat senang menjaga dan merawat Erica. Apalagi Erica anaknya supel, ceria dan bisa membuat hati seseorang yang tadinya sedih berubah menjadi bahagia.
"Nenek! Apa benar besok Nenek akan antar Erica pulang?" tanya Erica.
"Iya. Kenapa? Erica nggak percaya?" tanya Gloria menggoda Erica.
"Bukan nggak percaya. Kan kemarin Paman Ziggy mengatakan kepada Erica bahwa Paman Ziggy yang akan antar Erica pulang," jawab Erica.
Mendengar jawaban dari Erica. Gloria dan Wilona tersenyum. Kemudian keduanya memberikan ciuman di masing-masing pipi Erica karena gemas.
"Kenapa kamu nggak jadi anaknya Bibi Wilona saja sih!" seru Wilona.
"Maafkan Erica, Bibi Wilona! Erica akan tetap setia sama kedelapan Papa-Papa Erica yang paling baik dan paling tampan. Hati Erica nggak akan pernah berpaling ke lain hati."
"Hahahaha!"
Gloria dan Wilona langsung tertawa ketika mendengar perkataan dari Erica.
"Ih, kamu ini ya! Siapa yang ngajarin kamu berbicara seperti itu?" tanya Wilona gemas akan sikap lucu Erica.
"Nggak ada. Itu kata-kata versinya Erica. Real tanpa foto copyright," jawab Erica dengan wajah super polosnya.
Seketika Wilona langsung memeluk tubuh kecil Erica. Wilona memeluk gemas tubuh Erica.
Setelah itu, Wilona memberikan ciuman di kedua pipinya berulang kali.
Ketika Gloria, Wilona dan Erica sedang bersenda gurau bersama. Zeroun dan Farraz pulang.
"Kami pulang!" teriak keduanya.
Mendengar teriakkan Zeroun dan Farraz membuat Gloria, Wilona dan Erica langsung melihat kearah dua laki-laki tampan yang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
"Kakek, Paman Farraz!" Erica menyapa keduanya.
"Hallo, cantik!" sapa Zeroun dan Farraz bersamaan.
Erica kemudian berlari menuju arah dapur. Ada sesuatu yang ingin diambil oleh Erica.
"Jangan lari-lari, sayang!" teriak Gloria.
Tak butuh lama, Erica datang dengan membawa dua gelas air putih di tangannya dengan menggunakan napan.
Melihat Erica yang membawa dua gelas air putih membuat Gloria, Wilona, Zeroun dan Farraz tersenyum bahagia.
"Ini untuk kakek dan Paman Farraz. Kakek dan Paman pasti haus."
Zeroun dan Farraz tersenyum lalu mengambil gelas berisi air itu. Baik Zeroun maupun Farraz langsung meneguk habis isi gelas itu.
"Segarnya!" seru Zeroun dan Farraz bersamaan.
"Terima kasih ya, sayang!" ucap Zeroun dan Farraz bersamaan.
"Sama-sama kakek, Paman!"
Zeroun dan Farraz memberikan ciuman masing-masing di pipi Erica.
"Paman Ziggy belum pulang?" tanya Erica ketika tidak melihat keberadaan sang Paman satunya.
"Sepertinya belum, sayang!" jawab Zeroun.
"Mungkin sebentar lagi. Kenapa? Udah kangen sama Paman Ziggy, hum?" tanya Farraz sembari menggoda Erica.
"Kangen iya. Sekalian Erica mau nanya sama Paman Ziggy."
"Mau nanya apa?" tanya Zeroun penasaran.
Mendengar ucapan dari Eriva. Gloria dan Wilona tersenyum karena Erica belum percaya jika mereka yang akan mengantarkannya pulang ke kediaman keluarga Smith.
Zeroun menyikut lengan istrinya. "Ada apa?"
"Erica masih belum percaya bahwa aku dan Wilona yang akan mengantar dia pulang," jawab Gloria.
"Erica tahunya kalau Ziggy yang akan mengantarkan dia pulang," sela Wilona.
Mendengar jawaban dari ibunya/istrinya, putrinya/adik perempuannya membuat Zeroun dan Farraz tersenyum.
__ADS_1