KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menceritakan Tentang Keluarga Jessica


__ADS_3

Darren bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda saat ini sudah berada di kelasnya. Sesuai yang disepakati bersama. Setelah selesai mengikuti dua materi kuliahnya, mereka akan langsung ke rumah Brenda. Dan mereka juga akan menginap disana. Begitu juga dengan Alice, Elsa, Vania, Felisa, Milly, Tania dan Lenny. Mereka juga akan menginap di rumah Brenda. Bagaimana pun Brenda adalah sahabat mereka.


Darren saat ini masih sedikit merasakan sakit di kepalanya. Walau sakitnya tidak sesakit yang biasa dirasakan olehnya. Namun tetap saja membuat Darren tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Darren bahkan berulang kali mengurut keningnya untuk sekedar menghilangkan rasa sakit itu.


Melihat gerak-gerik dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap Darren khawatir. Mereka berpikir bahwa saat ini Darren tengah menahan sakit di kepalanya.


"Ren, kamu nggak apa-apa?" tanya Jerry.


"Aku nggak apa-apa, Jer!" Darren menjawab pertanyaan dari Jerry dengan tangannya masih mengurut keningnya.


"Kamu lagi nggak bohongkan, Ren?" tanya Dylan.


"Ayolah, Ren! Jika kamu merasakan sakit di kepala kamu. Katakan pada kita. Jangan bilang kamu nggak apa-apa," ucap Rehan yang menatap khawatir Darren.


Mendengar perkataan dari Rehan. Darren langsung mengalihkan perhatiannya untuk menatap Rehan.


"Tuh kan. Sudah aku duga. Kamu pasti sedang sakit!" seru Darel.


"Lihatlah wajah kamu. Pucat!" ucap Dylan.


"Dasar keras kepala," omel Qenan.


"Sok tegar," omel Willy.


Darren membelalakkan matanya ketika mendengar omelan-omelan dari Willy, Qenan, Rehan, Darel dan Dylan.


Sedangkan ketujuh sahabat-sahabatnya berusaha menahan tawa melihat wajah terkejut dan wajah syoknya Darren. Jika mereka tertawa, bisa-bisa mereka bakal kalah dengan sikap keras kepala Darren.


"Nggak usah menatap wajah kami seperti itu," sahut Willy.


"Kami tahu bahwa wajah kami tampan. Bahkan ketampanan wajah kami ini mengalahkan ketampanan wajah kamu itu," sahut Qenan.


Mendengar perkataan dari Willy dan Qenan membuat Darren mendengus. Setelah itu, Darren membuang wajahnya melihat ke depan.


"Ren," panggil Axel.


"Hm." Darren hanya berdehem.


"Kamu sakitkan?" tanya Axel.


"Iya, kepalaku. Tapi hanya sedikit. Kalian nggak usah khawatir," jawab Darren.


"Aku antar ke ruangan kesehatan ya," ucap Jerry.

__ADS_1


"Nggak. Aku nggak butuh kesana," jawab Darren.


"Tapi, Ren. Wajah kamu pucat. Kamu harus istirahat barang sejenak," ujar Rehan.


"Jawaban aku tetap nggak," jawab Darren.


"Hah." Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel hanya bisa menghela nafas pasrahnya akan sikap keras kepala Darren.


"Dasar keras kepala!" seru Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel bersamaan.


"Biarin," jawab Darren.


***


Di kediaman keluarga Chaim dimana terlihat sepasang suami istri dan tiga orang anaknya tengah berkumpul di ruang tengah.


Mereka adalah kedua orang tua dari Ziggy Chaim, Farraz Chaim selaku putra pertama, Wilona Chaim putri kedua dan Ziggy Chaim putra ketiga.


Mereka saat ini tengah membahas masalah video yang didapat dari salah satu tangan kanannya Ziggy.


Ketika mereka melihat video yang isinya keluarga Jessica yang mendatangi kampus untuk bertemu dengan Darren sehingga berakhir kedua orang tua Jessica meninggal dengan cara yang sangat mengerikan.


"Coba saja mereka bicara baik-baik kepada Darren. Pasti mereka tidak akan mengalami hal buruk itu," ucap Wilona.


"Mereka itu tidak akan pernah bisa bersikap baik kepada siapa pun. Lebih tepatnya, keluarga Jessica itu alergi yang namanya bersikap baik, bersikap lemah lembut kepada setiap orang. Mereka lebih suka bersikap sombong, arogan dan bersikap kasar kepada siapa pun. Sikap mereka akan bertambah dua kali lipat jika lawannya itu levelnya lebih rendah dibawah mereka." Ziggy berbicara sembari menjelaskan tentang watak asli keluarga besar Jessica.


"Jessica dan ketujuh teman-temannya dikenal mahasiswi yang memiliki attitude buruk di kampus. Mereka suka membully teman-teman kampusnya. Yang menjadi sasaran empuk mereka itu adalah mahasiswi yang mendapatkan beasiswa. Ketika kehadiran Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Jessica dan ketujuh teman-temannya kalah saing dan kalah debat setiap kali berhadapan dengan Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya," ucap Ziggy.


"Benarkah, Ziggy?" tanya Wilona.


"Benar, kak Lona!"


"Apa yang dilakukan oleh Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu ketika kelompok Jessica gangguin mereka?" tanya Farraz.


"Mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya membalas setiap apa yang diucapkan oleh Jessica dan ketujuh teman-temannya. Selama Jessica dan ketujuh teman-temannya tidak main fisik. Selama itulah Brenda dan ketujuh sahabat-sahabat hanya akan bersikap santai menghadapi Jessica dan ketujuh teman-temannya."


"Terus apa alasan Jessica yang saat itu berniat ingin membunuh Brenda dengan meletakkan bom di bawah mobil Brenda?" tanya Farraz.


Mendengar pertanyaan dari Farraz membuat Gloria, suaminya Zeroun Chaim dan Wilona terkejut.


"Benarkah itu sayang?" tanya Zeroun menatap wajah putra bungsunya.


"Benar, Papa. Aku datang ke kampus itu karena dapat panggilan dari Jerry. Setelah aku sampai di kampus, Darren langsung memperlihatkan video disaat Jessica meletakkan sebuah bom di bawah mobilnya Brenda," jawab Farraz.

__ADS_1


"Nggak anak... Nggak orang tuannya. Sama saja. Sama-sama memiliki sikap buruk kepada siapa pun. Egois, sombong, arogan dan mau menang sendiri," ucap Wilona.


"Dan satu lagi. Mereka itu tidak mau mengakui kesalahan. Sekali pun salah. Bagi mereka itu wajar. Nah, jika orang lain yang berbuat salah kepada mereka. Mereka langsung membalas orang tersebut," sahut Ziggy.


"Dasar keluarga gila," ucap Wilona emosi.


"Bagaimana keadaan Darren sekarang? Mama yakin saat melakukan hal itu kepada ibunya Jessica. Keadaan Darren pasti tidak baik-baik saja. Dan Mama juga yakin bahwa saat Darren melakukan hal itu kepada ibunya Jessica, emosi Darren tak terkendalikan."


"Mama benar. Emosi Darren memang tak terkendalikan saat melakukan hal itu kepada ibunya Jessica. Darren tidak lagi memikirkan akal sehatnya. Yang ada di pikiran Darren saat itu adalah melenyapkan perempuan yang sudah menghina kedua orang tuanya dari dunia ini," ucap Ziggy.


"Bahkan Darren hampir menghabisi adik laki-laki dari ibunya Jessica dengan cara yang sama karena pria itu juga sempat menghina kedua orang tua Darren. Tapi digagalkan oleh Qenan, Willy, Jerry dan Axel."


"Wajarlah Darren melakukan hal itu. Anak mana yang akan diam saja jika kedua orang tuanya dihina di hadapannya. Jika aku diposisi Darren, aku juga bakal melakukan hal yang sama seperti Darren," pungkas Farraz.


"Papa," panggil Ziggy.


"Iya, sayang."


"Darren tidak terjerat hukumkan?" tanya Ziggy kepada ayahnya.


Zeroun tersenyum menata wajah putra bungsunya. "Tidak, sayang. Darren tidak akan terjerat hukum apapun. Bukan Darren saja. Untuk keluarga Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan untuk keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren terbebas dari jeratan hukum jika mereka melakukan pembunuhan. Pembunuhan yang mereka lakukan tidak berdasarkan niatan atau kesengajaan. Mereka melakukan itu untuk membela diri dan melindungi keluarga mereka."


Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Ziggy tersenyum bahagia. Ziggy memang sudah tahu bahwa ayah dan kakak laki-lakinya memberikan kebebasan hukum kepada kedelapan adiknya beserta anggota keluarganya. Kedelapan adiknya itu beserta anggota keluarganya terbebas dari jeratan hukum jika sewaktu-waktu mereka melukai dan menghabisi orang.


***


Di kediaman Wilson terlihat seorang gadis cantik tengah duduk manis di sofa ruang tengah. Dirinya saat ini tengah bermain game di ponselnya. Beberapa menit yang lalu, salah satu sahabatnya yaitu Alice mengirim sebuah pesan dan mengatakan bahwa Alice dan sahabat-sahabatnya yang lain akan datang ke rumahnya.


Mendapatkan pesan dari Alice yang mengatakan bahwa Alice dan sahabat-sahabatnya yang lain mau datang membuat Brenda langsung tersenyum bahagia. Bahkan kebahagiaan Brenda bertambah ketika Alice mengatakan bahwa dirinya dan yang lainnya akan menginap di rumahnya.


Alice tidak mengatakan bahwa Pamannya Charlie beserta keluarganya akan datang. Alice juga tidak mengatakan kepada Brenda bahwa Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya akan datang dan menginap di rumahnya juga.


"Cie-cie. Yang lagi senyam senyum berkirim pesan sama pacar!" seru Riana yang datang bersama ibunya, Maura, Rangga, Barra dan Raya.


Mendengar seruan dari kakak perempuannya. Brenda langsung menatap kakak perempuannya itu.


"Sok tahu. Aku lagi main game. Wleee!"


Brenda menjawab perkataan dari Riana sembari mengejek kakaknya itu.


"Alah. Bohong," jawab Riana.


"Nggak percaya? Ini lihat," balas Brenda lalu menunjukkan permainan gamenya kepada Riana.

__ADS_1


Riana yang melihat permainan game di layar ponselnya Brenda langsung wajahnya berubah kecut. Niat awalnya Riana ingin menggoda adik perempuannya habis-habisan. Namun niatnya udah gagal duluan.


Sementara Liana, Maura, Rangga, Barra dan Raya tersenyum melihat interaksi Brenda dan Riana.


__ADS_2