KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Membahas Kondisi Darren


__ADS_3

Saat Willy di dapur, Willy dikejutkan oleh kedatangan seorang pelayan.


"Tuan Willy. Tuan kenapa ada di dapur?"


"Eh, Bibi. Saya ingin memasak makanan untuk Darren."


"Jadi Tuan Darren pulang, Tuan?"


"Ya, Bibi."


"Saya senang sekali tuan Darren pulang. Rumah ini sepi tanpa tuan Darren. Bibi pikir tuan Darren tidak akan pulang lagi kesini."


"Mana mungkinlah, Bibi. Inikan rumahnya. Pastilah Darren akan pulang."


"Ya juga, sih!" jawab pelayan tersebut. "Ya, sudah! Kalau begitu biar bibi bantu, Tuan."


"Terima kasih, Bibi."


Lalu keduanya pun memasak makanan untuk Darren dan juga untuk Willy.


***


[SHOOWROOM BAMXY]


Axel, Dylan dan Jerry tengah sibuk memeriksa atau mengecek ulang semua mobil-mobil yang sudah mereka buat. Dua hari lagi mobil-mobil itu akan diuji coba. Besok adalah acara Pameran Lelang Lukisan. Jadi hari ini Axel, Dylan dan Jerry sengaja menyelesaikan semuanya.


Disaat ketiga sibuk dengan tugas masing-masing, tiba-tiba ponsel milik Dylan berbunyi.


"Siapa?" tanya Jerry.


"Si keledai hitam," jawab Dylan asal.


"Hahaha." Axel dan Jerry tertawa.


"Ya, sudah. Angkat!" seru Axel.


"Ini aku mau angkat," jawab Dylan.


"Loundspeaker," sela Jerry.


Setelah itu Dylan pun menjawab panggilan dari Qenan dan tak lupa meloundspeaker panggilan tersebut.


"Hallo, keledai hitam." Dylan menjawab panggilan dari Qenan langsung dengan nama gelarnya. Sementara Axel dan Jerry tertawa keras.


"Dasar kurus sialan!" teriak Qenan. "Dan kalian berdua Axel, Jerry. Silahkan tertawa sepuas kalian. Jangan salahkan aku jika aku merusak aksesoris mobil kalian," ancam Qenan.


Seketika Axel dan Jerry berhenti tertawa. "Sialan kau, Qenan." Axel dan Jerry mengumpati Qenan.


"Ada apa?" tanya Dylan.


"Aku butuh bantuan salah satu dari kalian. Aku sendirian di kantor."


"Memangnya sianak kelinci dan sijangkung kemana?" tanya Axel seenak jidatnya.


"Willy mengantar Darren pulang. Darren sepertinya kelelahan. Kalian tahu sendirilah bagaimana watak Darren. Darren kalau sudah sibuk dengan kerjaannya, dia lupa diri."


"Lalu bagaimana keadaannya. Dia baik-baik sajakan, Nan?" tanya Axel.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Tapi kayaknya Darren tidak dalam keadaan baik-baik saja. Wajahnya pucat banget, Xel! Aku dan Willy benar-benar khawatir saat melihat wajahnya. Bahkan Darren menolak saat kami ingin membawanya ke rumah sakit."


"Ya, sudah! Aku yang akan ke kantor. Lagian tugasku sudah selesai semua," pungkas Jerry.


"Oh iya!! Qenan, Darren pulang kemana?"


"Ke rumahnya."


"Ya, sudah kalau begitu. Aku akan menghubungi Mamaku untuk langsung ke rumah Darren."


"Baiklah. Kalau begitu aku matikan teleponnya."


TUTT!


TUTT!


Setelah selesai berbicara dengan Qenan. Axel pun langsung menghubungi ibunya dan memberitahu tentang kondisi Darren.


"Hallo, Xel. Ada apa, sayang?"


"Hallo. Ma! Apa Mama sibuk hari ini?"


"Tidak terlalu, sayang. Mama hanya mengecek dan memeriksa beberapa pasien. Kenapa sayang?"


"Darren sakit dan sekarang Darren ada di rumahnya. Willy dan Qenan udah memaksanya untuk ke rumah sakit, tapi Mama tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Darren."


"Baiklah, sayang! Mama mengerti. Mama akan ke rumahnya sekarang. Kebetulan disini ada kakakmu Anshel."


"Terima kasih, Mama! Jangan sampai lupa rumahnya Darren. Bukan rumah keluarganya."


"Iya, iya! Mama tahu. Aish! Kau ini."


"Hm."


Setelah selesai berbicara dengan ibunya. Axel pun mematikan panggilan tersebut.


Anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya sudah tahu tentang Darren. Mulai dari pekerjaan sampai rumah milik Darren. Bahkan jenis pekerjaan dan nama Perusahaannya, mereka juga tahu. Hanya keluarga kandungnya saja yang belum mengetahuinya.


Mereka tahu karena ketujuh sahabatnya ini yang memberitahu keluarga mereka masing-masing. Ditambah lagi Darren yang sering terbuka kepada anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya itu.


Hal itu dimulai saat dirinya merasa terabaikan dan merasa dilupakan oleh Ayah dan kakak-kakaknya. Makanya Darren tidak pernah melibatkan keluarganya dalam urusan pribadinya.


"Ya, sudah! Aku langsung saja ke kantor Accenture. Kasihan si hitam itu kerja sendiri!" seru Jerry.


"Hahahaha." Dylan dan Axel tertawa.


Setelah mengatakan hal itu, Jerry pun langsung pergi meninggalkan SHOOWROOM BAMXY.


***


[KEDIAMAN DARREN]


Darren sudah berada di kamarnya dan kini dirinya sedang tidur.


Setelah selesai makan dan meminum obatnya, Darren langsung disuruh istirahat oleh Willy, Celsea dan Anshel. Darren juga sudah diperiksa oleh ibunya Axel yaitu Celsea Immanuel.


Celsea datang bersama putra keduanya yang bernama Anshel Immanuel. Kebetulan sang putra sedang mengunjunginya di rumah sakit.

__ADS_1


Setelah mendapat telepon dari putra ketiganya itu dan memberitahu tentang kondisi Darren. Celsea ditemani Anshel langsung pergi meninggalkan rumah sakit untuk ke rumah Darren.


Celsea dan Anshel tiba di rumah Darren sekitar dua puluh menit yang lalu. Mereka tiba ketika Darren dan Willy sedang makan. Bahkan Celsea dan Anshel bisa melihat wajah pucat Darren. Rencananya Celsea akan memeriksa Darren disaat Darren selesai makan.


Setelah selesai makan, Celsea langsung membantu Darren untuk menuju kamarnya. Dirinya harus memastikan kondisi Darren sahabat dari putra ketiganya itu baik-baik saja.


Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Darren merasakan sakit di bagian dada kirinya sehingga membuat Celsea panik dan khawatir. Begitu juga dengan Willy dan Anshel.


Karena sakitnya begitu menyakitkan, Darren pun tidak bisa menahannya. Dan pada akhirnya Darren pun jatuh tak sadarkan diri.


Melihat Darren yang tak sadarkan diri. Hal itu sukses membuat Willy, Celsea dan Anshel berteriak ketakutan.


Anshel dan Willy duduk di sofa yang berada di dalam kamar Darren. Sementara Celsea duduk di samping kiri tempat tidur Darren. Tangannya menggenggam tangan Darren, lalu menciumnya.


Setelah itu beralih pada rambut Darren. Celsea mengusap lembut rambut Darren.


"Kenapa jadi seperti ini, Darren? Bibi tidak tega melihatmu seperti ini. Kondisi kesehatanmu makin hari makin menurun. Jika seperti ini terus, Bibi tidak yakin jika kau akan bisa bertahan, mengingat jantungmu bermasalah." Celsea berucap lirih.


Willy dan Anshel yang mendengar penuturan dari Celsea menjadi takut. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Darren. Mereka sudah terlanjur sayang padanya.


Celsea sudah tahu tentang kondisi kesehatan Darren. Selama ini Celsea lah yang selalu memeriksa Darren setiap Darren jatuh sakit. Baik Darren berada di rumah maupun Darren dirawat di rumah sakit. Hanya saja saat Darren jatuh dari motor dan dilarikan ke rumah sakit, saat itu Celsea sedang berada diluar kota sehingga dirinya tidak mengetahui kejadian itu. Dari situlah, anggota keluarganya mengetahui tentang jantung Darren yang bermasalah. Dan hal itu juga membuat Agneta merasakan penyesalan yang teramat besar karena telah teledor dan lalai akan janjinya terhadap sang kakak.


"Bibi," panggil Willy.


Celsea melihat kearah Willy. Celsea dapat melihat gurat kesedihan di pancaran mata Willy. Dirinya juga yakin jika Axel putranya melihat dan mendengar ucapannya mengenai kondisi kesehatan Darren pasti akan merasakan kesedihan yang sama seperti Willy. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ada apa, sayang?" tanya Celsea.


"Apa sudah separah itu kondisi Darren, Bi?"


"Tergantung, Willy!"


"Maksud, Bibi?"


"Jika Darren terus-menerus tertekan akan masalahnya. Kondisi kesehatan Darren lambat laun akan menurun. Apalagi jantungnya. Jika jantungnya terus-menerus kambuh, itu akan mengakibatkan nyawanya bisa terancam."


"Lalu apa yang harus kita lakukan agar Darren tidak tertekan dengan masalahnya. Bagaimana caranya agar kita bisa menjaga kesehatan jantungnya, Bi?"


"Berikan perhatian padanya. Buat Darren selalu tersenyum sehingga Darren melupakan masalahnya."


"Apa ini ada hubungannya dengan keluarganya? Sampai detik ini Darren belum bisa memaafkan kesalahan anggota keluarganya."


"Kemungkinan besar, iya!" jawab Celsea.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan dan masalah yang lainnya, Mama! Masalah Darren bukan terletak pada keluarganya sajakan?" Anshel akhirnya bersuara.


"Kalau untuk pekerjaan atau masalah lainnya. Mama rasa tidak ada masalah, sayang! Buktinya selama ini Darren baik-baik saja. Kau tahu sendirikan, bagaimana kerja keras Darren selama ini. Bahkan Darren tak mengenal waktu lagi jika sudah bekerja."


Baik Willy maupun Anshel mengangguk. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Celsea. Selama ini Darren baik-baik saja, walau mereka juga pernah melihat Darren jatuh pingsan.


"Lebih baik biarkan Darren tetap berada di rumahnya. Jangan biarkan Darren pulang ke rumah keluarganya. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghindari agar jantungnya tidak kambuh lagi."


"Aku setuju, Mama! Lebih baik Darren tetap di rumahnya sendiri dari pada Darren harus kembali pulang ke rumah keluarganya. Jika Darren kembali kesana, itu sama saja mereka akan membunuh Darren secara berlahan-lahan." Anshel langsung menyetujui usul ibunya itu.


"Kita melakukan ini semata-mata untuk kesehatan jantung Darren. Bukan karena kita ingin menjauhkan mereka dari Darren. Apalagi hubungan mereka belum membaik. Dengan kata lain, Darren masih belum memaafkan kesalahan keluarganya," ucap Celsea.


Celsea melihat kearah Willy. "Dan kau Willy. Bicarakan masalah ini pada Axel dan yang lainnya. Setelah itu, baru kalian membicarakannya pada Darren."

__ADS_1


"Baik, Bibi."


__ADS_2