KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ide Licik Kathleen


__ADS_3

Di kediaman Johnson terlihat seorang gadis cantik sedang memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Ada dua koper yang saat ini tergeletak di atas kasur.


Gadis itu adalah Kathleen. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan kediaman Johnson setelah dua hari yang lalu mendapatkan sebuah bukti tentang identitas aslinya dan tentang keluarga kandungnya.


Flashback On


Kathleen melangkahkan kakinya menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama Paman, Bibi dan dua sepupunya.


Namun seketika langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan dari sepupu perempuannya.


"Ayah. Sampai kapan Kathleen akan tinggal bersama kita? Aku tidak ingin perempuan benalu itu terlalu lama berada di rumah ini," ucap Safira.


"Iya, ayah. Kak Safira benar. Aku bahkan jijik setiap hari melihat wajahnya yang sok seperti ratu di rumah ini," sela Satria.


Mendengar perkataan dari Safira dan Satria membuat Kathleen tersenyum memyeringai.


"Aku juga setuju apa yang dikatakan sama anak-anak. Sudah waktunya anak sial itu pergi dari rumah ini. Aku juga muak melihatnya. Lagiankan dia bukan keponakan kandung kamu. Bos kamu menitipkan dia sama kamu. Sekarang Bos kamu itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Jadi ngapain juga kamu masih menampung anak sial itu di rumah ini." Donita juga ikut menyuarakan isi hatinya kepada suaminya.


"Tapi sayang. Aku tidak bisa mengusir Kathleen begitu saja dari rumah ini," jawab Nino.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Donita.


"Kamu tidak lupakan kalau rumah ini atas nama Kathleen? Bos Arman membeli rumah ini untuk Kathleen, lalu Bos Arman meminta kita menjaga dan merawat Kathleen dengan syarat kita diperbolehkan tinggal di rumah ini. Semenjak kita tinggal disini, hidup kita jauh dari kata baik. Kita tidak kesusahan lagi seperti dulu."


Mendengar perkataan dari sang Paman membuat Kathleen terkejut. Dia tidak menyangka jika dia telah ditipu selama ini.


"Iya, aku tahu hal itu. Dan aku tidak melupakannya. Maka dari itu kita harus mengubahnya," ucap Donita.


"Maksud kamu?" tanya Nino.


"Kita ubah rumah ini menjadi nama kita. Bukan lagi menjadi nama Kathleen lagi. Bukankah selama ini kita sudah berhasil menipunya dengan mengatakan bahwa rumah ini adalah rumah sewa. Dan dia setiap bulan harus memberikan uang untuk membayar sewa rumah ini. Dan kebetulan uang yang diberikan oleh Kathleen selama ini masih ada padaku. Tidak aku pakai sama sekali. Kita bisa gunakan uang itu untuk membayar pengacara agar bisa membantu kita merubah kepemilikan rumah ini menjadi milik kita."


Mendengar perkataan dari Donita membuat Nino bingung. Dirinya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


"Sayang, dengarkan aku. Bos Arman sudah tidak ada lagi. Lagian kita juga tidak tahu asal usul anak sial itu. Bos Arman hanya mengatakan pada kita bahwa Bos Arman menyelamatkan anak sial itu dari penculikan. Bos Arman juga mengatakan pada kita jika anak sial itu diculik bersama saudara kembarnya. Untuk saudara kembarnya telah berhasil diselamatkan oleh adik perempuannya. Dikarenakan anak sial itu hanya memiliki Bos Arman, jadi ketika Bos Arman sakit keras. Bos Arman meminta kamu untuk menjaganya."


"Percayalah padaku. Semuanya akan baik-baik saja jika anak sial itu pergi dari sini," ucap Donita.


"Oh. Ternyata rumah ini atas namaku. Laki-laki yang bernama Arman itu membelikan rumah ini untukku. Jadi uang yang selama ini aku berikan yang katanya untuk bayar sewa rumah itu hanya akal-akalan mereka saja?"


"Em. Niat banget ingin aku pergi dari rumah ini. Baiklah kalau itu mau kalian. Aku mau melihat bagaimana kehidupan kalian tanpa aku," batin Kathleen.


"Tapi sebelum aku pergi. Aku akan meninggalkan kenang-kenangan untuk kalian," ucap Kathleen dengan senyuman di sudut bibirnya.


Setelah puas mendengar pembicaraan keluarga palsunya. Kathleen memutuskan kembali ke atas.


Setibanya diatas, Kathleen bukan menuju kamarnya melainkan menuju kamar Nino dan Donita.


Kini Kathleen sudah berdiri di depan pintu kamarnya Nino dan Donita. Berlahan Kathleen membuka pintu kamar itu.

__ADS_1


Cklek!


Setelah pintu kamar itu terbuka. Kathleen pun melangkah masuk ke dalam. Di dalam kamar itu Kathleen langsung mencari surat rumah tersebut.


Mungkin nasib baik sedang memihak padanya. Kathleen berhasil mendapatkan surat rumah itu. Kathleen melihat sebentar isinya. Dan benar, di dalam surat itu tertera namanya 'Kathleen Adelia'


Setelah puas melihat isi dari surat rumah itu, Kathleen memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dan sebelumnya Kathleen tak lupa menutup pintu lemari pakaian itu agar keempat manusia iblis itu tidak curiga.


^^^


Kathleen sudah berada di kamarnya. Kini dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan menatap surat rumah di tangannya.


Kathleen memikirkan sesuatu untuk membalas Donita, Nino, Safira dan Satria.


Beberapa detik kemudian, Kathleen pun mendapatkan sebuah ide cemerlang dimana keluarga Johnson akan mengalami kesengsaraan setelah ini.


Kathleen berdiri dari duduknya, lalu mengambil tasnya. Setelah mendapatkan tasnya, Kathleen memasukkan surat rumah itu ke dalam tasnya.


"Aku akan mencari tahu tentang kejadian penculikanku dan saudara kembarku di masa lalu. Aku sedikit melupakan kejadian itu," ucap Kathleen.


Kathleen mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan kamarnya untuk pergi ke kantor.


Kathleen memutuskan untuk langsung pergi. Dia tidak akan ikut sarapan karena pasti ujung-ujungnya akan ada drama panjang yang akan dimainkan oleh Safira dan Satria.


Flashback Off


***


Saat ini Darren, Qenan dan Willy sedang mengerjakan proposal untuk tiga proyek yang akan dikerjakan bulan depan. Baik Darren maupun Qenan dan Willy berada di satu ruangan yaitu ruangan rapat.


Ketika sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba Darren bersuara.


"Nanti sepulang dari kantor kita akan ke markas kakak Noe."


Mendengar perkataan dari Darren. Qenan dan Willy langsung melihat kearah Darren.


"Ada apa?" tanya Qenan.


"Apa ada masalah?" tanya Willy.


"Tidak ada masalah. Justru masalah udah kelar," jawab Darren.


"Terus?" tanya Qenan dan Willy bersamaan.


"Kita kesana untuk melihat para dalang yang sudah mengusik kita dan juga keluarga kita," jawab Darren.


"Jadi maksud kamu para kakak-kakak mafia kita sudah menyelesaikan tugasnya?" tanya Willy.


"Hm." Darren berdehem sambil mengangguk.

__ADS_1


"Apa hanya...." ucapan Qenan terpotong.


"Sama yang lainnya juga," sela Darren melanjutkan ucapan dari Qenan.


"Kalau begitu aku akan menghubungi mereka melalui video call," sahut Willy.


Willy kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi kelima sahabatnya secara bersamaan.


Dan detik kemudian...


"Hallo, jangkung!"


"Hallo, tiang listrik!"


Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan menjawab panggilan dari Willy secara bersamaan dengan menyebut nama gelarnya.


Mendengar sapaan dari kelima sahabatnya secara kompak membuat Willy mendengus kesal.


Sementara Darren dan Qenan tersenyum melihat wajah kesal Willy ketika mendengar sapaan kompak dari kelima sahabatnya yang lain.


"Ada apa?!' tanya Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.


"Kalian sibuk hari ini?" tanya Willy.


"Tidak!" jawab Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan kompak.


"Selesai kalian dengan tugas masing-masing, jangan pulang dulu."


"Kenapa?!" tanya Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.


Melihat kelakuan kelima sahabatnya yang menjawab setiap perkataannya dengan kompak membuat Willy menatap kesal dan melotot ke layar ponselnya.


"Kalian benar-benar menyebalkan ya! Kalian kan bisa menjawab secara bergantian. Dan nggak harus secara bersamaan terus menerus."


"Tidak bisa!" jawab Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.


"Dasar sahabat-sahabat setan!"


"Kau salah satunya!"


Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan kembali menjawab perkataan Willy dengan kompak.


"Ren, kau bicaralah sama lima manusia-manusia yang tak jelas ini!" seru Willy dengan memberikan ponselnya kepada Darren.


Darren tersenyum mendengar perkataan Willy dengan tangannya meraih ponselnya.


"Sabar. Orang sabar disayang setan," ucap Darren.


"Ya. Kau dan kalian semuanya setannya," jawab Willy.

__ADS_1


"Hahahahaha."


Darren, Qenan tertawa. Begitu juga dengan Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan yang berada di seberang telepon.


__ADS_2