
Semuanya sudah berada di rumah sakit. Baik itu keluarga Smith, sahabat-sahabat Darren, Brenda dan ketujuh sahabatnya. Bahkan ketujuh sahabat dari Erland juga datang bersama anggota keluarga masing-masing.
Ketujuh sahabat dari Erland datang ke rumah sakit bersama anggota keluarga masing-masing itu karena mereka mendapatkan telepon dari putra bungsu mereka.
Baik Erland beserta keluarganya, ketujuh sahabat Erland beserta keluarganya, Brenda dan ketujuh sahabat Brenda saat ini tengah menunggu dengan perasaan takut di depan ruang operasi.
"Mama, kakak Dendra." Jerry memanggil ibu dan kakak laki-laki sulungnya.
Yocelyn dan Dendra secara bersamaan langsung melihat kearah Jerry. Dapat mereka lihat tatapan penasaran di manik coklatnya itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa Darren sampai tertembak? Aku sudah bertanya kepada Rehan dan Darel, tapi mereka belum mau mengatakan apapun."
Apa yang dikatakan oleh Jerry benar jika Rehan dan Darel belum bicara apapun mengenai kejadian yang sebenarnya, terutama Darel.
Saat kejadian dimana Darren tertembak, Darel melihatnya. Darel benar-benar syok saat itu. Sementara Rehan pergi menolong Pandy, sopir ibunya Jerry.
"Jadi aku mohon pada kakak Dendra dan Mama. Tolong ceritakan kronologinya padaku dan kita semua," mohon Jerry.
Mereka semua menatap kearah Yocelyn dan Dendra. Eric yang berdiri di samping istrinya mengusap lembut punggunya. Begitu juga dengan Satria. Pemuda itu juga melakukan apa yang dilakukan oleh ayahnya terhadap kakak laki-lakinya.
"Ada sekitar lima belas orang yang ingin membunuhku." Yocelyn mulai menceritakannya.
Mendengar ucapan dari Yocelyn. Seketika mereka semua membelalakkan matanya masing-masing, terutama Eric, Satria dan Jerry.
"Awalnya mereka ingin menculikku dan akan membawaku ke suatu tempat. Dan di tempat itulah mereka akan melakukan pembunuhan itu. Namun berkat Pandy, aku berhasil kabur. Pandy melindungiku dan menyuruhku lari."
Yocelyn menangis ketika menceritakan kejadian tersebut.
"Ketika aku lari, aku bertabrakan dengan Dendra. Dendra memintaku tetap berada di dalam mobil. Sementara Dendra harus bertarung melawan kelima belas laki-laki itu sendirian."
"Jadi alasan itu Mama menghubungiku?" tanya Jerry yang menatap ibunya yang menangis ketika menceritakan kejadian tersebut.
"Iya, sayang."
"Dan Mama juga yang telah menghubungi Darren. Kebetulan Darren bersama Rehan dan Darel. Mama benar-benar takut ketika melihat kakakmu Dendra bertarung sendirian."
Dendra saat ini masih diam dengan tatapan matanya menatap ke bawah. Dendra duduk di kursi tunggu dengan Satria di sampingnya.
Dendra memejamkan kedua matanya dan detik kemudian kilasan kejadian dimana Darren yang tiba-tiba saja berlari dan menjadikan tubuhnya melindungi dirinya.
Flashback On
"Tidak! Kakak Dendra!" teriak Darren.
Dor!
Darren berlari dan menahan peluru itu dengan tubuhnya agar peluru itu tidak mengenai Dendra.
Melihat apa yang dilakukan oleh Darren membuat Dendra, Yocelyn dan Darel terkejut dan juga syok.
Darel yang berdiri hanya beberapa meter dari Darren menatap syok kearah Darren. Tubuhnya bergetar hebat.
Dan detik kemudian, Darel berjalan mendekati pria yang sudah melukai sahabatnya.
Darel menginjak kuat pergelangan pria itu sehingga membuat pria itu menjerit kesakitan.
Darel mengambil senjata itu, lalu mengarahkannya tepat di kepala pria tersebut.
Darel menembaki secara bertubi-tubi kepala pria itu sehingga membuat kepala pria itu berlubang.
Setelah menembaki pria yang sudah melukai sahabatnya, Darel menatap satu persatu anak buah dari pria itu.
Darel menatap sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk menghabisi semua laki-laki yang saat ini tak berdaya terkapar di tanah.
Darel tersenyum menyeringai ketika matanya menatap satu benda yang tergeletak tak jauh dari hadapannya. Benda itu ada berupa balok kayu.
Darel berjalan untuk mengambil balok kayu itu. Setelah mendapatkannya, Darel berjalan menghampiri para laki-laki itu satu persatu.
"Ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini," ucap Darel.
"Jangan!" teriak mereka bersamaan.
Mendengar teriakan keempat belas laki-laki itu, Darel hanya tersenyum manis sebagai jawabannya.
Darel tidak menghiraukan teriakan dari keempat belas laki-laki itu. Yang Darel ingin lakukan sekarang adalah melenyapkan mereka semua.
Darel melayangkan balok kayu itu ke udara, lalu memukul dengan keras balok kayu itu di kepala keempat belas laki-laki itu secara bergantian sehingga kepala keempat belas laki-laki itu hancur.
Sementara Dendra yang saat ini tengah memeluk Darren sembari tangannya menekan luka tembak itu dan Yocelyn yang melihat kemarahan Darel hanya bisa menangis.
__ADS_1
Keduanya tahu bagaimana perasaan Darel ketika melihat sahabat terbaiknya terluka di depan matanya. Sementara dirinya sebagai sahabatnya gagal mencegah hal itu.
Flashback Off
Seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya ketika mengingat kejadian itu.
"Ini semua salahku. Jika aku tidak lengah, maka hal itu tidak terjadi. Seharusnya aku yang berada di dalam sana. Bukan Darren," ucap Dendra dengan suara bergetarnya.
Mereka semua menangis ketika mendengar perkataan dari Dendra. Hati mereka semua benar-benar sakit ketika melihat Dendra dan juga Yocelyn yang tampak terpukul.
Jerry melangkah mendekati kakak laki-laki sulungnya. Dia benar-benar tidak tega melihat kesedihan pada kakaknya itu.
Jerry berlutut di hadapan kakak laki-laki sulungnya itu. Matanya menatap wajah sedihnya.
"Kakak," lirih Jerry menatap wajah kakak laki-laki sulungnya itu.
Dendra menatap wajah adik laki-laki keduanya. Seketika air matanya kembali mengalir.
"Maafkan kakak, Jer! Kakak sudah membuat sahabat kamu terluka," ucap Dendra lirih.
Seketika Jerry memeluk tubuh kakaknya. Hatinya hancur mendengar untaian maaf dari kakaknya itu.
"Kakak Dendra tidak salah. Darren melakukan itu karena Darren sayang sama kakak. Darren begitu menyayangi kakak dan juga kita semua. Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Darren jika aku melihat salah satu kakak dari ketujuh sahabatku yang sedang terancam."
Jerry melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah basah kakak laki-laki sulungnya itu.
"Kakak tidak lupakan watak dan sifat Darren seperti apa? Darren itu pemuda yang baik, penuh kasih sayang, perhatian, peduli dan rela melakukan apapun untuk orang-orang terdekatnya. Darren itu tidak akan diam saja jika melihat orang terdekatnya dalam bahaya."
Jerry menggenggam erat punggung tangan kakaknya. "Jangan sia-siakan pengorbanan Darren dengan kakak menyalahkan diri kakak. Darren pasti akan sedih. Kita berdoa saja untuk Darren. Semoga Darren tidak terluka terlalu parah akibat tembakan itu."
Jerry melihat kearah ibunya yang saat ini masih menangis di pelukan ayahnya.
"Mama," panggil Jerry.
Yocelyn melepaskan pelukan suaminya dan langsung melihat kearah putra bungsunya.
"Iya, sayang."
"Mama tadi dengar apa yang aku bicarakan sama kakak Dendra?"
"Iya, sayang. Mama dengar."
"Mama jangan sedih dan jangan menyalahkan diri Mama karena telah menghubungi Darren."
"Oh iya! Bagaimana dengan kelima belas laki-laki yang sudah menyakiti Yocelyn dan Darren?" tanya David tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh David, ayah dari Willy. Mereka semua menatap kearah Yocelyn, Dendra Rehan dan Darel bergantian.
Yocelyn dan Dendra seketika melihat kearah Darel yang saat ini masih diam di kursinya.
Bella sang ibu masih setia memberikan ketenangan kepada putranya itu dengan mengusap-ngusap punggungnya. Begitu juga dengan Rehan. Rehan juga sama seperti Darel yang syok melihat kondisi Darren. Namun tak separah Darel
"Mereka semua tewas," jawab Yocelyn dengan suara lirihnya. Yocelyn menatap sendu kearah Darel.
"Siapa yang menghabisi mereka semua?" tanya Hendy.
"Apa ada yang datang membantu?" tanya Aldez
Hening..
Baik Yocelyn maupun Dendra hanya diam. Mereka tidak tahu mau menjelaskannya seperti apa.
Namun tiba-tiba Darel bersuara sehingga membuat semuanya terkejut, termasuk para sahabatnya.
"Aku yang telah menghabisi para bajingan itu semua!"
"Mereka telah berani melukai sahabat sekaligus saudaraku. Jadi aku menghukum mereka semua dengan nyawa mereka."
Darel menangis ketika mengatakan itu didepan anggota keluarganya dan anggota keluarga Darren.
"Sayang," ucap Bella yang langsung memeluk tubuh putra bungsunya.
"Aku gagal melindungi Darren, Mama! Padahal saat kejadian itu, Darren berdiri tak jauh didekatku. Kesalahanku dan kakak Dendra saat kejadian itu adalah karena kita berdua lengah. Sementara Darren tidak. Jadi kita berdua tak menyadari jika pria itu hendak mengarahkan senjatanya kearah kakak Dendra."
"Tapi, Darel! Jika pun kamu dan Dendra sama seperti Darren, tidak lengah. Kejadian itu pasti tetap terjadi. Dan yang menjadi korbannya adalah Dendra. Dan Dendra yang akan berada di dalam ruang operasi itu," ucap Dario.
"Tidak Paman. Ada dua kemungkinan. Pertama, peluru itu hanya menggores lengan kakak Dendra jika hal itu terjadi. Kedua, aku yang akan langsung berlari menghajar pria itu ketika hendak mengarahkan senjatanya kearah kakak Dendra. Karena bagaimana pun pria itu sedang terluka. Dan pria itu tidak melihat posisiku saat itu."
"Dikarenakan Darren panik sehingga tidak bisa berpikir jernih, makanya Darren berlari kearah peluru itu dan menahan peluru itu dengan tubuhnya sehingga Darren yang tertembak. Yang ada dipikiran Darren saat itu adalah kakak Dendra."
__ADS_1
"Jadi ini murni kesalahanku," ucap Darel yang sudah menangis.
Qenan dan Willy menghampiri Darel. Setelah itu, keduanya memeluk tubuh Darel. Dan seketika tangis Darel pecah.
"Maafkan aku... Maafkan aku," ucap Darel disela isakannya.
Jerry, Axel, Dylan dan Rehan menghampiri Qenan, Willy dan Darel. Mereka ikut memeluk Darel.
"Lo nggak salah, Rel! Lo nggak salah," ucap Rehan.
"Yang salah itu adalah mereka. Mereka yang telah melukai sahabat kita," ucap Axel.
"Bukan hanya Darren yang menjadi korbannya. Bibi Yocelyn dan kakak Dendra juga menjadi korbannya, walau mereka tidak terluka." Qenan berucap.
"Dan jangan lupakan Paman Pandy. Dia juga menjadi korban disini," ucap Willy.
"Lo udah melakukan tugas lo sebagai sahabatnya Darren dengan menghabisi mereka semua. Sekarang tugas kita yang lain adalah mencari tahu siapa dalang semua ini," tutur Dylan.
"Kita akan mencari dalang itu sampai berhasil. Itu tugas kita, Rel!" sahut Jerry.
Qenan, Willy, Rehan, Jerry, Axel dan Dylan melepaskan pelukannya. Mereka menatap wajah Darel yang basah karena menangis.
"Kalian benar. Tugas kita selanjutnya adalah mencari tahu siapa dalang yang sudah membayar kelima belas laki-laki itu untuk menyakiti Bibi Yocelyn sehingga mengakibatkan Darren terluka." Darel berbicara dengan wajah dinginnya.
"Hm!" Qenan, Willy, Rehan, Jerry, Axel dan Dylan bergumam bersamaan.
***
Mereka semua saat ini sudah berada di ruang rawat Darren. Mereka semua menatap dengan tatapan sedih kondisi Darren yang terbaring di tempat tidur.
Di tubuhnya dipasang banyak alat medis. Tangannya dipasang infus dan wajahnya dipasang masker oksigen.
Mereka melihatnya merasakan sesak di hati masing-masing.
Yocelyn mendekat ke ranjang Darren dengan berurai air mata. Begitu juga dengan Dendra.
"Sayang, maafkan bibi. Seharusnya Bibi tidak menghubungi kamu."
Agneta mendekati Yocelyn. "Celyn, jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang salah disini. Darren melakukan hal itu karena Darren begitu menyayangimu. Kamu adalah ibu dari sahabatnya."
"Apa yang dikatakan oleh Agneta benar. Darren melakukan itu karena dia sayang sama kamu, Yocelyn. Jadi jangan lagi kamu menyalahkan diri kamu. Kalau Darren dengar, dia pasti marah." Erland juga ikut menghibur Yocelyn.
Erland menatap kearah Dendra. Kemudian tangannya menepuk pelan bahunya. "Paman juga meminta padamu, jangan mengeluarkan kata-kata yang menyalahkan kamu. Darren tidak butuh itu. Yang Darren butuhkan adalah doa dari kamu. Dan juga doa dari kita semua."
Mendengar ucapan dari Erland membuat Dendra menganggukkan kepalanya mengerti.
"Terima kasih Paman Erland."
"Untuk apa?"
"Karena Paman tidak marah padaku."
"Tidak ada alasan Paman untuk marah padamu. Jika kita ada diposisi Darren. Kita juga akan melakukan hal yang sama seperti Darren. Jerry adalah sahabat sekaligus saudara bagi putra Paman. Sedangkan kamu adalah kakak kandung Jerry. Jadi kamu juga saudara dari putra Paman. Jadi putra Paman itu sedang menyelamatkan saudaranya."
Anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren secara bergantian memberikan kecupan sayang di kening Darren. Bahkan mereka membisikkan kata-kata penyemangat di telinga Darren.
Setelah mereka semua selesai, kini giliran Erland dan anggota keluarganya. Mereka juga melakukan hal yang sama seperti anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren.
Lalu terakhir ketujuh sahabat-sahabat Darren. Mereka mengerubungi ranjang Darren. Mereka menangis melihat sahabat kelincinya kembali terbaring di rumah sakit.
"Ren," lirih Darel.
Darel kembali meneteskan air matanya ketika melihat kondisi Darren. Begitu juga dengan Rehan. Keduanya masih syok saat ini.
"Ren, lo harus kuat. Lo nggak boleh nyerah. Kita semua nunggu lo, Ren!" Qenan berucap sembari tangannya mengusap lembut kepala Darren.
"Lo nggak boleh nyerah. Lo harus bangun. Kalau perlu sekarang juga lo harus bangun," ucap Willy.
"Kita semua sayang lo, Ren!" seru mereka semua. Dan tanpa diminta air mata mereka jatuh membasahi wajahnya.
Brenda yang berdiri tak jauh dari ranjang Darren sedari tadi menangis menatap kondisi Darren. Hatinya benar-benar hancur.
Berlahan kakinya melangkah mendekati ranjang Darren. Dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel yang menyadari Brenda yang mendekat. Mereka pun memberikan ruang untuk Brenda.
"Hiks... Ren. Ini gue, Brenda! Lo harus kuat ya. Jangan pernah ninggalin gue. Apapun yang terjadi kita harus terus bersama-sama."
Brenda mengecup kening Darren penuh sayang. Setelah itu, Brenda menatap sedih wajah Darren.
__ADS_1
"Gue cinta sama lo. Selamanya!"
Cklek!