
"Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?" tanya Darren kepada salah satu anggotanya.
"Sudah, Bos! Apa yang Bos minta. Kami sudah menyiapkan semuanya."
"Lengkap semuanya kan?"
"Lengkap, Bos! Kamu sudah beberapa kali mengecek dan mendatanya."
"Bagus. Terima kasih. Kalian memang bisa diandalkan."
Darren saat ini berada di markas Bruiser. Dia datang ke markas untuk mengecek semua barang-barang yang diminta olehnya kepada anggota Bruiser.
Ketika Darren sedang sibuk dengan anggota Bruiser, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan ketujuh sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabat Brenda.
"Ren, sudah dari tadi?" tanya Rehan ketika melihat Darren yang sedang memeriksa dan mengecek barang-barang yang telah dipesan oleh para anggota Bruiser.
Darren yang mendengar pertanyaan dari Rehan melihat Rehan sekilas. Lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Tidak. Baru beberapa menit yang lalu," jawab Darren.
"Apa sudah lengkap semuanya?" tanya Jerry.
"Sudah. Tinggal berangkat saja," jawab Darren setelah selesai mengecek dan memeriksa satu persatu barang-barang yang dimintanya itu.
Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya, ketujuh sahabatnya Brenda. Dan terakhir wajah cantik kekasihnya.
"Kalian bagaimana?"
"Sama seperti lo. Kita juga sudah siap!" jawab kompak mereka semua.
"Ini."
Mereka secara bersamaan menunjukkan tas kecil dimana isi tas itu adalah seratus buah amplop yang berisi uang pecahan $20 sebanyak lima lembar.
Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya selalu kompak memberikan sumbangan uang dalam jumlah yang sama besar.
Ketika Willy hendak memberikan tas itu kepada Darren. Darren sudah terlebih dulu bersuara.
"Bukankah kalian juga ikut dalam kegiatan bakti sosial dengan uang pribadi kalian?" tanya Darren.
"Iya," jawab kompak ketujuh sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabat Brenda.
"Kalau begitu. Kalian langsung saja bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dengan disertai niat kalian," ucap Darren.
"Jadi, kalian tidak perlu memberikan tas itu kepadaku," ucap Darren lagi.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua tersenyum. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Disini mereka yang berniat untuk membantu Darren. Jadi, mereka juga yang harus bekerja sendiri dengan membagikan uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan.
__ADS_1
"Baiklah," jawab kompak mereka.
"Kapan kita bagikan, Ren?" tanya Lenny.
"Eemm... Habis dari kampus. Kita ke kampus dulu. Selesaikan semua tugas-tugas kita disana. Setelah itu, baru kita melakukan tugas mulia ini."
"Baiklah."
"Oh iya, Ren!" seru Rehan
"Iya, Han! Ada apa?"
"Terus bagaimana dengan anggota organisasi kita. Secara mereka juga ingin ikut dalam kegiatan bakti sosial ini."
Darren terdiam sejenak ketika mendengar perkataan dari Rehan. Dirinya bingung harus mengambil keputusan apa.
Sementara Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, Felisa dan Elsa langsung mengerti akan keterdiaman Darren.
"Ren," panggil Axel
Seketika Darren pun tersadar dari lamunannya. Dan tatapan matanya menatap wajah Axel.
"Nanti saja kita bahas ketika di kampus. Lagian aku buat kegiatan bakti sosial ini khusus buat Papa. Bukan kegiatan dari kampus. Aku bukan tidak mau melibatkan mereka. Hanya saja ini sedikit sensitif. Aku tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi ketika kegiatan tersebut."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Serta Brenda, Alice, Elsa, Tania, Felisa, Milly dan Lenny seketika mengerti. Mereka semua paham akan kecemasan Darren.
Bukan hanya Darren saja yang takut. Mereka juga sama seperti Darren. Mereka juga tidak ingin terjadi sesuatu ketika mereka tengah melakukan tugas mulianya.
Darren menatap para anggota Bruiser. "Untuk dua puluh orang yang sudah aku tunjuk tadi. Bersiap-siaplah. Kemungkinan sekitar pukul 1 siang kita akan melakukan kegiatan itu. Kalian langsung cabut aja dari Markas. Kita bertemu di jalan Casablanca."
"Baik!" seru ke dua puluh anggota Bruiser.
"Bagaimana dengan panti asuhannya, Ren?" tanya Brenda.
"Aku sudah dapat empat panti asuhannya. Setelah selesai dengan kita membagi-bagikan amplop itu. Kita baru mendatangi panti asuhan tersebut," jawab Darren.
"Baiklah!"
Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabatnya beserta para kekasihnya pun pamit untuk pergi ke kampus.
***
Di sebuah perusahaan terkenal nomor dua di dunia yaitu perusahaan DV. Perusahaan milik David ayah dari sahabatnya Darren yaitu Willy.
David saat ini berada di ruang kerjanya. Dia tampak sibuk dengan beberapa berkas di atas meja.
Ketika David tengah sibuk dengan berkas-berkasnya sembari tatapan matanya menatap ke layar laptopnya membaca beberapa laporan disana. Seketika David dikejutkan dengan suara ponsel miliknya.
__ADS_1
David yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya itu. Dia melihat nama tangan kanannya di layar ponselnya tersebut.
Tanpa membuang-buang waktu, David langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Rommy! Bagaimana hasil pencariannya?"
"Saya dan beberapa anggota saya sudah berhasil mendapatkan dimana jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh tuan Erland, tuan!"
Mendengar kabar tersebut membuat David sedikit merasakan kebahagiaan. Setidaknya dari kabar ini, David bisa mendapatkan kondisi sahabat terbaiknya itu.
"Dimana? Katakan!"
"Pesawat itu jatuh di sebuah hutan yang bernama Hutewald Halloh. Jarak hutan ke kota memakan waktu sekitar sehari semalam."
"Bagaimana kondisi pesawat itu ketika jatuh?" tanya David.
"Rusak parah, tuan. Apalagi bagian depan pesawat. Dan untuk bagian badan pesawat terbelah menjadi dua. Untuk kondisi para penumpang, saya belum mendapatkan informasi apapun, tuan!"
"Tidak apa-apa. Mendapatkan kabar lokasi jatuhnya pesawat itu sudah membuat saya sedikit lega. Setidaknya kita tahu kalau pesawat itu masih di berada di negara Jerman dan belum pergi meninggalkan negara ini. Kita masih memiliki harapan untuk mengetahui kondisi mereka."
"Benar, tuan. Semoga semuanya selamat."
"Iya, semoga."
"Ya, sudah kalau begitu. Saya tutup teleponnya, tuan!"
"Baiklah."
Setelah itu, Rommy selaku tangan kanannya David langsung mematikan panggilannya.
"Erland, aku berharap kau berhasil menyelamatkan diri. Kau pria yang kuat. Aku yakin kau pasti akan memilih bertahan," batin David.
"Jika kau berhasil selamat. Dan keadaanmu baik-baik saja. Segeralah pulang. Keluargamu menunggumu di rumah, terutama putra bungsumu Darren. Dia berharap kau kembali," batin David lagi.
***
Davin saat ini berada di sebuah cafe. Beberapa menit yang lalu, Davin baru menyelesaikan proyek bersama dengan dua perusahaan.
Davin tampak bahagia saat ini karena proyek yang dia kerjakan dengan dua perusahaan itu berjalan dengan sangat baik. Baik perusahaan ER maupun kedua perusahaan itu sama-sama mendapatkan keuntungan sama besar.
Setelah bertemu dengan dua perusahaan itu dan membahas proyek kerjasama mereka. Davin tidak langsung pulang ke rumah. Dia memutuskan untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak dengan menikmati secangkir teh hangat dan sedikit makanan pembuka.
"Papa. Aku berhasil melanjutkan tugas Papa yang sempat belum Papa selesaikan. Semuanya berjalan dengan sangat baik. Ini semua berkat bimbingan Papa."
"Papa. Aku berharap Papa baik-baik saja diluar sana. Aku percaya bahwa Papa berhasil menyelamatkan diri dari kecelakaan pesawat itu."
Davin berbicara di dalam hatinya ketika mengingat ayahnya. Hatinya benar-benar sakit ketika mengingat dimana terakhir kalinya dia dan adik keduanya yang mengantarkan kepergian ayahnya dan melihat ayahnya menaiki pesawat yang bukan pesawat yang tertulis di tiket yang sudah dipesan oleh ayahnya itu. Bahkan Davin juga mengingat bagaimana kecewanya adik ketujuhnya terhadap dirinya.
__ADS_1
Ketika Davin tengah asyik dengan dunianya, tiba-tiba datang seseorang mengganggunya.
"Davin!"