KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kata Manis Tapi Menyelekit


__ADS_3

Di suasana pagi hari dimana semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah, kecuali Gilang. Gilang saat ini berada di kamarnya bersama Darka.


"Bagaimana kuliah kamu, sayang?" tanya Erland kepada putra bungsunya dari Belva.


"Lancar, Papa!" jawab Darren.


"Oh iya! Kamu udah rapi aja padahal hari ini jadwal kuliah kamu nanti siang," ucap Dzaky yang melihat adiknya sudah berpenampilan rapi.


"Kalau mau ke perusahaan Accenture, nggak mungkin. Kan kamu sendiri yang bilang kalau kerjaannya udah selesai. Hanya sisa-sisa saja. Itupun para karyawan kamu yang menyelesaikannya," ucap Adnan.


Mendengar ucapan dari Dzaky dan Adnan membuat Darren tersenyum sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


Erland, Agneta dan yang lainnya yang melihat senyuman Darren, hati mereka menjadi hangat.


"Ada apa sih, sayang? Kasih tahu dong. Jangan buat Papa dan yang lainnya penasaran," ucap dan tanya Erland.


"Aku mau ke perusahaan Micro Sinopec," jawab Darren.


"Perusahaan Micro Sinopec?" tanya mereka kompak.


"Iya," jawab Darren.


"Apa perusahaan kamu menjalin kerja sama juga dengan perusahaan Micro Sinopec?" tanya Tristan.


Mendengar pertanyaan dari Tristan. Semuanya langsung menatap wajah Tristan.


"Kamu kenal sama perusahaan Micro Sinopec itu, sayang?" tanya Evan.


"Kenal, Papa. Bahkan ada sekitar 30 perusahaan besar yang bekerja sama dengan perusahaan itu."


"Perusahaan Micro Sinopec itu adalah perusahaan yang baru lima tahun berdiri. Tapi perusahaan tersebut sudah mampu merebut posisi dan menjadi perusahaan terkaya dan terkenal nomor 5 di dunia dan di Jerman. Perusahaan Micro Sinopec berhasil menyalip perusahaan milik keluarga Montana." Tristan menjawab pertanyaan ayahnya sembari menjelaskan sepak terjang dari perusahaan Micro Sinopec.


Tristan menatap wajah adik sepupunya itu dengan tatapan kagum.


"Kamu beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan Micro Sinopec. Secara perusahaan Accenture dan perusahaan Micro Sinopec itu sama-sama perusahaan terkenal. Jika perusahaan Accenture berada di urutan satu. Sementara perusahaan Micro Sinopec berada di urutan kelima." Tristan berbicara dengan menatap kagum Darren.


"Tapi sayangnya...." perkataan Tristan terhenti.


"Ada apa, kakak Tristan?" tanya Darren.


"Ada apa, sayang?" tanya Carissa.


"Aku berulang kali mengajukan berkas kerja sama dengan perusahaan Micro Sinopec. Tapi berulang kali berkas kerja sama dariku dilempar dan dibuang begitu saja," jawab Tristan.


"Apa?!" teriak mereka.


"Tiga hari yang lalu, aku kembali mencoba mengajukan kerja sama lagi. Tapi lagi-lagi ditolak secara kasar."


Mendengar jawaban dari Tristan membuat mereka semua terkejut, terutama Darren. Darren benar-benar marah kakak sepupunya diperlakukan semena-mena di perusahaannya.


"Apa kakak Tristan ingin menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan Micro Sinopec itu?" tanya Darren.


"Dari dulu kakak ingin sekali bekerja sama dengan perusahaan itu, Ren! Tapi selalu ditolak."


"Apa berkas kerja sama itu masih ada sama kakak Tristan?" tanya Darren.


"Ada, di kamar!"


"Boleh aku lihat."


"Tunggu sebentar kakak akan ambilkan."


Setelah ini, Tristan pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya.


Tak butuh lama, Tristan datang dengan membawa map merah di tangannya.


Tristan duduk kembali di tempatnya semula. Setelah ini, Tristan memberikan map itu kepada Darren.


"Ini, Ren!"


Darren menerima berkas dari tangan Tristan. Setelah ini, Darren membuka dan membacanya.


Selesai membaca isi dari berkas yang dibuat oleh kakak sepupunya itu membuat Darren marah.

__ADS_1


"Berani sekali kalian menolak kerja sama dari kakak sepupuku dengan isi berkas yang begitu memuaskan dan tulisan rapi seperti ini. Tunggu saja hukuman dariku," batin Darren.


Darren menatap wajah Tristan, kakak sepupunya itu. "Mulai besok perusahaan TR LifTan sudah resmi menjadi rekan kerja perusahaan Micro Sinopec!" seru Darren dengan langsung menandatangi berkas itu.


Mendengar perkataan dan melihat Darren yang menandatangani berkas itu membuat mereka semua terkejut. Terutama Tristan. Tristan menatap tak percaya Darren.


"Ren," ucap gugup Tristan.


"Sudah waktunya kalian tahu," sahut Darren tersenyum.


"Seperti yang aku katakan beberapa menit yang lalu jika aku ingin ke perusahaan Micro Sinopec. Aku kesana bukan untuk kerja sama atau hal lainnya. Aku kesana karena perusahaan Micro Sinopec itu adalah perusahaan milikku juga."


Mereka kembali dibuat terkejut akan pengakuan Darren mengenai perusahaan Micro Sinopec.


"Sayang, kamu...." perkataan Erland terpotong.


"Perusahaan Micro Sinopec beneran milikku, Papa! Usia perusahaan Micro Sinopec itu dibawah tiga tahun usia Showroomku yang lama," ujar Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka benar-benar kagum akan kepintaran dan kejeniusan Darren.


Mereka semua tidak menyangka jika Darren yang mereka anggap dulu hanya seorang anak yang manja dan hanya berstatus pelajar sudah memiliki lima usaha sekaligus. Mulai dari perusahaan Accenture, Galeri, Perusahaan Lokomotif/mobil, Shoowrom dan perusahaan Micro Sinopec.


Ketika mereka semua tengah menatap bangga Darren, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi.


Detik kemudian...


"Hei, nona. Tunggu! Saya belum mempersilakan nona masuk!" panggil pelayan perempuan itu.


Mereka semua melihat kearah seorang perempuan yang sudah berdiri tak jauh dari hadapan mereka semua.


"Valen," ucap pelan Darren.


"Maafkan saya, tuan."


"Tidak apa-apa. Bibi kembali saja ke dapur."


"Baik, tuan muda Davin."


Pelayan itu pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju dapur.


Sementara gadis itu tidak mempedulikan tatapan tak suka seluruh anggota keluarga Smith.


Gadis itu melangkah dengan angkuh menuju sofa. Setelah tiba disana, gadis itu dengan tidak tahu malunya langsung menduduki pantatnya.


Melihat hal itu membuat semua anggota keluarga Smith menatap marah.


"Tidak ada sopan santunnya kamu. Kamu masuk tanpa izin. Dan sekarang, belum dipersilahkan duduk. Kamu langsung duduk begitu saja," tegur Agneta.


"Yaelah! Udah terlanjur juga kali. Ngapain dipermasalakan," jawab gadis itu.


Mendengar jawaban dari Valen membuat anggota keluarga Smith benar-benar marah.


"Ngapain lo kemari?" tanya Darren ketus.


"Ngapain lagi kalau bukan untuk bertemu dengan calon suamiku," jawab Valen dengan santainya.


"Apa maksudmu, hah?! Siapa yang kau sebut calon suami?! Keluarga Smith tidak menerima wanita menjijikkan sepertimu!" bentak Andra.


"Calon suamiku itu adalah Gilang Aditya Smith. Dan untuk kalian yang tidak mau menerimaku. Itu urusan kalian. Yang jelas aku adalah calon menantu di keluarga Smith. Jadi mau tidak mau, kalian harus menerimaku."


Valen berbicara dengan gaya angkuh dan sombong. Bahkan cara berbicaranya pun tidak ada sopannya sama sekali.


"Sekarang tolong panggilkan Gilang. Katakan padanya bahwa calon istrinya sudah datang," ucap Valen dengan menatap remeh wajah anggota keluarga Smith.


Darren menatap penuh amarah kearah Valen. Dirinya tidak terima anggota keluarganya diperlakukan buruk seperti itu.


Bukan hanya Darren. Davin dan yang lainnya juga tidak terima akan sikap dari perempuan yang mengaku calon istri Gilang.


"Kau," ucap Darren dengan menatap marah kearah Valen.


"Jangan memancing amarahku. Aku katakan baik-baik padamu. Pergi dari rumahku sekarang juga."


Mendengar ucapan dan ancaman dari Darren membuat Valen tak takut sama sekali. Bahkan Valen masih setia duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Aku kesini ingin bertemu dengan Gilang. Jadi aku tidak akan pergi sampai bertemu dengan Gilang," jawab Valen.


"Jika wanita menjijikkan ini tidak mau pergi. Biarkan Mama saja yang mengusirnya," sahut Agneta.


Setelah itu, Agneta langsung menarik tangan Valen dan menyeretnya untuk dibawa keluar.


"Lepaskan aku wanita sialan!" teriak Valen dengan menarik tangannya.


Setelah terlepas, Valen langsung mendorong kuat tubuh Agneta.


Bruk!


"Mama!"


"Sayang!"


"Kak Agneta!"


"Bibi!"


Mereka semua terkejut ketika mendengar perkataan dan melihat Valen yang berani mendorong Agneta.


Mereka semua menatap nyalang Valen. Mereka benar-benar marah akan sikap kurang ajar Valen terhadap Agneta.


Plak!


Darka melayangkan satu tamparan keras di wajah Valen.


"Itu untuk ibuku yang sudah kau dorong hingga jatuh," sahut Darka.


Valen menatap Darka. Dirinya tidak terima ditampar dan direndahkan seperti ini.


"Kau berani menamparku, hah?!" bentak Valen.


"Jangankan tamparan. Kalau aku mau membunuhmu hari ini juga aku akan lakukan," jawab Darka.


Darka melihat kearah ibunya. Dirinya benar-benar khawatir saat ini.


"Mama tidak apa-apa?" tanya Darka.


"Mama tidak apa-apa, sayang! Kamu nggak usah khawatir, oke!"


Tanpa Darka ketahui. Valen diam-diam ingin menyerang Darka. Namun sayangnya sepasang mata sedari tadi tak lepas menatap dirinya, walau yang lainnya sempat fokus kearah Agneta.


Ketika sedikit lagi tangan Valen hendak mendorong tubuh Darka yang saat ini memunggunginya. Darren dengan cepat menarik kuat rambut Valen sehingga menimbulkan pekikan kuat dari mulutnya.


"Aakkhhh!"


"Mau menyakiti kakakku, hum!"


Darren menarik kuat rambut Valen dan membawanya keluar rumah.


Setiba di depan pintu, Darren langsung mendorong kuat tubuh Valen sehingga tersungkur di lantai.


"Jika lo ingin tetap menunggu kakak gue, silahkan! Tapi nunggunya disini saja. Tidak perlu di dalam. Di dalam itu untuk orang-orang terhormat. Bukan buat orang rendahan dan tak tahu malu kayak lo. Biar nanti gue kasih tahu kakak Gilang bahwa ada cewek dari hutan rimba yang ingin ketemu sama dia. Dan gue bakal nyuruh kakak Gilang buat langsung nyamperin lo disini. Jadi pelayan gue nggak perlu repot-repot buatkan minuman untuk lo. Dan rumah gue juga terhindar dari kotoran."


Mendengar ucapan demi ucapan pedas dari Darren membuat Valen mengepal kuat kedua tangannya. Dirinya tidak terima akan hinaan yang diberikan oleh Darren.


Sementara anggota keluarganya tersenyum puas ketika mendengar kata-kata indah yang keluar dari mulut Darren, apalagi para kakak-kakaknya dan kelima adik laki-lakinya.


Mereka semua tahu bagaimana tutur kata Darren jika berbicara dengan orang yang tidak disukainya.


Setelah mengatakan itu, Darren dengan santainya melenggang masuk ke dalam dan diikuti oleh anggota keluarganya di belakang.


"Syukurin."


"Rasain."


"Makan tuh."


"Emang enak."


"Cari masalah mulu sih lo."

__ADS_1


"Hahahahaha."


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan mengejek kearah Valen dan disertai dengan tawa keras mereka.


__ADS_2