KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Beruang Kutub


__ADS_3

Darren bersama Gilang saat ini berada di sebuah cafe. Mereka tidak hanya berdua, melainkan bersama seorang gadis cantik yang tak lain adalah Kayana.


Sebelum pulang ke rumah, Gilang membawa adiknya ke suatu tempat. Gilang melakukan hal itu untuk ingin menyenangkan hati adiknya itu.


Gilang tahu bahwa adiknya masih dalam suasana buruk, walau beberapa menit yang lalu sudah kembali ceria bersama ketujuh sahabatnya dan ditambah lagi kejahilan darinya.


Setelah selesai mengajak adiknya bersenang-senang. Gilang membawa adiknya itu ke cafe.


"Eemm... Darren," panggil Kayana.


"Hm." Darren hanya berdehem sambil menikmati jus pokatnya dan tatapan matanya menatap ke layar ponselnya.


Gilang yang melihat kelakuan adiknya ketika ada yang memanggilnya hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam.


"Terima kasih bantuan kamu melalui Gilang. Berkat kamu, aku tidak diganggu lagi sama pria tua itu," ucap Kayana.


"Hm." Darren berdehem lagi sambil kepalanya manggut-manggut.


Melihat reaksi dari Darren membuat Gilang mendengus. Gilang menatap wajah Kayana. Begitu juga dengan Kayana.


Setelah itu, keduanya kembali menatap kearah Darren yang saat ini masih fokus sama jus pokatnya dan tatapan matanya ke layar ponsel miliknya.


"Darren," panggil Gilang.


"Ada apa?" tanya Darren tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya.


"Lihat kakak dong, Ren!"


Seketika Darren langsung melihat kearah kakak laki-laki kesayangannya dan mematikan ponselnya.


"Ini aku udah lihat kakak Gilang yang paling tampan, paling ganteng dan paling pendek di keluarga Smith."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Kayana tertawa pelan. Sementara Gilang menatap tajam adiknya itu.


"Kakak serius Darrendra Smith," ucap Gilang kesal.


"Aku juga serius Gilang Aditya Smith," jawab Darren yang tak kalah menjawab perkataan kakaknya itu.


"Huff!" Gilang menghembuskan nafas kasarnya.


Seketika Darren tersenyum lebar ketika melihat wajah pasrah kakaknya itu.


Darren mengalihkan perhatiannya kearah Kayana. "Aku ikhlas bantuin kamu. Alasan aku bantuin kamu karena kamu benar-benar orang baik. Kamu bukan perempuan jahat yang hanya ingin memanfaatkan kakakku."


Mendengar ucapan tulus dari Darren membuat Kayana tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka jika adiknya Gilang begitu baik dan mempercayainya.


"Dan maaf soal kata-kataku saat pertemuan pertama kita itu. Aku bersikap seperti itu dikarenakan aku memang tidak pernah membawa perempuan manapun ke rumahku. Dan ketika aku sudah memiliki kekasih. Kekasihku itu adalah satu-satunya perempuan yang aku bawa ke rumah setelah anggota keluargaku."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Kayana mengangguk paham. Dia tidak masalah dan dia juga tidak marah akan sikap Darren saat pertemuan pertama itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku tidak marah sama sekali. Apalagi tersinggung. Kamu berhak melakukan hal itu kepada orang asing yang masuk ke rumahmu. Aku kalau ada di posisi kamu mungkin akan melakukan hal yang sama," ucap Kayana.


Darren tersenyum mendengar ucapan dari Kayana. "Terima kasih."


***


Di kediaman keluarga Smith dimana semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah, kecuali Darren dan Gilang.


"Ini sudah pukul 5 sore. Kenapa Gilang dan Darren belum juga pulang?" tanya Agneta khawatir sambil matanya menatap jam dinding.


"Mungkin sebentar lagi Mama. Kita tunggu saja," ucap Davin berusaha menenangkan ibunya.


"Tapi ini tidak biasanya mereka pulang telat, Davin!"


"Ya, sudah. Aku akan menghubungi Gilang," ucap Davin.


"Dan aku yang akan menghubungi Darren," sela Andra.


"Jangan lupa panggilannya di loundspeaker," ucap Erland.


"Baik, Papa!" Davin dan Andra menjawab bersamaan.


Setelah itu, Davin dan Andra menghubungi kedua adiknya menggunakan ponsel masing-masing.


Dan beberapa detik kemudian..


"Aku bukan Gilang. Aku Darrendra Smith, putra bungsu dari Erland Faith Smith dan aku adik laki-laki serta kakak laki-laki yang paling tampan sejagat raya dan di dalam keluarga Smith."


Mendengar perkataan yang terlalu pede dari Darren membuat Davin dan yang lainnya membelalakkan matanya. Mereka tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu.


"Kamu dan Gilang ada dimana sekarang? Kenapa belum pulang juga? Ini sudah jam berapa?" tanya Davin.


"Sejak kapan kakak Davin jadi seperti Mama? Apa jangan-jangan posisi Mama dan kakak Davin sudah bertukar posisi?"


Bukannya jawaban yang didapatkan oleh Davin. Justru pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya yang menurutnya menyebalkan itu.


"Kamu dimana? Gilang dimana?" tanya Davin lagi.


"Di hatimu," jawab Darren.


"Hahahahaha!"


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin seketika tertawa keras mendengar jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh kakak laki-laki kesayangannya itu.


"Jawaban yang terakhir ini benar-benar jawaban yang benar dan tepat. Hahahaha...," ucap Melvin disertai tawa khasnya.


"Darren, kakak serius. Kamu dan Gilang dimana sekarang?"


Davin sudah benar-benar kesal akan ulah jahil adik laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Aku sedang berada di dalam mobil dan sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang super bawel di seberang telepon."


"Hahahaha."


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin kembali tertawa. Mereka benar-benar salut dan bangga akan sikap jahil kakak laki-lakinya itu.


"Untuk si bantet, aku tidak tahu dimana dia. Mungkin sekarang ini dia sudah terdampar di dunia kurcaci."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Erland, Agneta dan semuanya tersenyum dan juga geleng-geleng kepala.


Sedangkan Gilang yang sedang nyetir mendengus ketika mendengar ucapan seenak jidat dari Darren.


Tak!


"Aww!" Darren meringis ketika mendapatkan jitakan dari Gilang.


"Kenapa kakak Gilang menjitak kepalaku? Kalau aku Amnisea, bagaimana?"


Mendengar pertanyaan dari Darren seketika membuat Gilang menatap sekilas wajahnya dengan alis ditautkan. Begitu juga dengan Davin dan anggota keluarganya yang masih mendengar pertengkaran kecil Darren dan Gilang di seberang telepon.


"Dari mana kamu belajar kata terbalik itu? Sejak kapan Amnesia berubah menjadi Amnisea?" tanya Gilang kesal sembari fokus menyetir. "Makin kesini bukannya pintar malah makin bodoh," ucap Gilang.


Darren seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan kejam dari kakak laki-lakinya itu.


"Bodoh- Bodoh begini. Aku adalah seorang CEO sukses," jawab Darren.


Davin dan anggota keluarganya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan demi ucapan dari Gilang dan Darren di seberang telepon.


"Woi, masih ada kami disini! Dan kami masih mendengar pertengkaran kalian disini!" teriak Andra.


Mendengar teriak Andra membuat Gilang dan Darren yang sedang berdebat di seberang telepon langsung terdiam.


Dan detik kemudian...


"Ngapain teriak-teriak segala sih beruang kutub? Sengaja ya agar pendengaranku rusak?"


Andra seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan kejam dari adiknya itu.


Sementara anggota keluarganya tertawa nista mendengar ucapan dari Darren yang menyebut Andra si beruang kutub.


"Dasar siluman...."


Tutt..Tutt..


Tutt..


Belum selesai Andra mengucapkan kata-katanya. Darren sudah terlebih dahulu mematikan panggilannya.


"Benar-benar ya tuh anak," ucap Andra kesal.

__ADS_1


__ADS_2