KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekalahan Nicko Dilbara


__ADS_3

Darren bersama anggota keluarganya dan saat ini tengah menikmati makan malamnya. Sedangkan Eriaa masih berada di kediaman Chaim.


Di kediaman Smith bukan hanya ada mereka saja, melainkan juga ada keluarga Radmilo. Keluarga itu menginap disana untuk sekedar memberikan semangat kepada keluarga Smith.


"Ren," panggil Elzaro.


"Iya," jawab Darren disela memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Kapan kau dan yang lainnya memulai membalas Rolando Santa?" tanya Elzaro.


"Nanti malam sekitar pukul 12 malam. Kenapa? Mau ikut?" jawab dan tanya Darren.


"Boleh aku ikut? Setidaknya aku, kelima sahabatku dan kelompokku bisa membantu dan yang lainnya," ucap Elzaro.


Darren menghentikan kegiatan makannya lalu melihat kearah Elzaro. Dia menatap lekat kearah tatapan matanya Elzaro.


"Yakin mau ikut? Kita beraksinya malam loh?" tanya Darren.


"Iya, kenapa? Kau meragukan kemampuanku dan kelima sahabatku?" tanya Elzaro.


Melihat dan mendengar obrolan dari Darren dan Elzaro. Para anggota keluarganya hanya diam dan menyimak saja. Mereka ingin melihat sampai dimana nanti endingnya.


Setelah puas menatap wajah Elzaro. Darren kembali fokus pada makan malamnya.


"Lebih baik nggak usah deh," jawab Darren.


"Memangnya kenapa?" tanya Elzaro penasaran.


"Anak kecil dilarang keluar malam-malam. Nggak baik untuk kesehatan. Besok lo kan sekolah. Jadi harus tidur tepat waktu dan nggak boleh begadang sampai malam. Apalagi keluar rumah," jawab Darren asal.


Mendengar jawaban dan perkataan dari Darren membuat Elzaro seketika membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka jika Darren berbicara seperti itu.


Sementara anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Radmilo tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Sialan lo, Ren! Gue ini udah dewasa bukan anak kecil yang lo pikir. Dan gue juga udah kuliah bukan anak sekolahan lagi," ucap Elzaro kesal.


Darren seketika langsung melihat kearah Elzaro. Darren menatap Elzaro dengan tatapan matanya yang melebar dan sesekali memicing.


"Gue baru tahu kalau lo itu anak kuliahan. Gue pikir lo anak SMP," ucap Darren.


Setelah itu, Darren berdiri dari duduknya. Dia hendak mengambil minuman kesukaannya.


"Sayang, mau kemana? Itu makan malamnya belum habis," tanya Agneta.


"Aku mau mengambil sesuatu, karena Mama melupakannya!" jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Agneta tersadar sesuatu. Matanya seketika melihat kearah dimana Darren duduk.


Setelah menyadari sesuatu, Agneta tersenyum. Melihat Agneta yang tersenyum membuat Erland, putra-putranya, Paman dan Bibinya serta ketiga kakak sepupunya akhirnya juga mengetahui apa yang dilupakan oleh Agneta.


"Darren, sayang! Maafkan Mama yang melupakannya!" teriak Agneta.


"Tak masalah!" Darren balik berteriak dari arah dapur.


Setelah beberapa menit di dapur, Darren kembali ke meja makan dengan membawa sebotol kecil minuman kesukaannya.


"Hahahaha."


Seketika tawa Elzaro pecah ketika melihat Darren yang membawa susu di tangannya.


Mendengar tawa keras dari Elzaro membuat mereka semua langsung paham. Mereka semua, terutama untuk anggota keluarga Smith berusaha untuk tidak tersenyum apalagi sampai tertawa. Jika kedapatan, bisa panjang urusannya.


Sementara Darren mendengus menatap kearah Elzaro. Dia tahu apa yang menyebabkan Elzaro tertawa.


"Kenapa lo?" tanya Darren ketus setelah menduduki pantatnya di kursi meja makannya.


Bukannya menjawab. Justru Elzaro makin memperlihatkan tawanya di hadapan Darren.


"Lo ngatain gue anak kecil. Sekarang sudah terbukti siapa yang anak kecil... Hahahaha!" Elzaro berucap mengejek.


Mendengar perkataan dari Elzaro membuat Darren mendengus dan menatap tajam kearah Elzaro.


"Hei, Ren! Lo udah nggak pantas minum susu. Yang pantas minum susu itu anak kecil. Lo itu anak kuliahan... Hahahaha!"


"Banyak bacot lo," sahut Darren lalu menendang kaki Elzaro dengan kuat di bawah meja makan.


Sementara Elzaro meringis merasakan sakit di kakinya akibat ditendang oleh Darren.


Elzaro menatap tajam kearah Darren. Sedangkan Darren menampilkan senyuman manisnya.


Bagaimana dengan anggota keluarganya? Sudah bisa dipastikan anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat keduanya.


Setelah itu, mereka kembali menikmati makan malamnya yang terhenti akibat perdebatan antara Darren dan Elzaro.


Beberapa detik kemudian, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.

__ADS_1


Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya.


Darren tersenyum ketika melihat nama putri angkat tertera di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi. Darren langsung menjawabnya.


Disaat Darren hendak menyapa terlebih dahulu, dia sudah dikejutkan dengan suara putri angkatnya.


"Hallo, Papa!"


Mendengar suara bahagia putri angkatnya membuat hati Darren benar-benar bahagia.


"Hallo, sayang. Erica lagi apa sekarang?"


"Erica saat ini bersama kakek Zeroun dan Nenek Gloria di ruang tengah."


"Erica sudah makan?"


"Sudah. Baru aja selesai. Kalau Papa, bagaimana?"


"Ini Papa lagi makan bersama Nenek, Kakek dan yang lainnya."


"Papa."


"Iya, sayang?"


"Kapan Erica bisa pulang? Apa masih lama ya pekerjaan Papa dan Papa yang lainnya selesai?"


Mendengar pertanyaan dari Erica membuat Darren langsung terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


Kini Darren berpikir. Sebentar lagi adalah waktu dimana dia, ketujuh sahabatnya akan berhadapan dengan Rolando Santa.


Seketika rasa takut menjalar di pikirannya disertai dengan perasaan yang tidak enak.


Tiba-tiba Darren merasakan perasaan yang tak enak mengganjal di hatinya. Dia merasakan akan terjadi sesuatu ketika nanti berhadapan dengan Rolando Santa. Bagaimana pun dia sangat tahu watak licik seorang Rolando Santa. Rolando Santa itu sama seperti Samuel dulu. Hanya saja cara kerja mereka yang berbeda.


Melihat perubahan wajah Darren membuat Erland, Agneta, para kakak-kakaknya dan semua yang ada di meja makan menatap Darren khawatir.


"Hallo, Papa!"


Tiba-tiba putri angkatnya menyapanya kembali karena tidak mendapatkan balasan darinya.


Darren seketika terkejut dan tersadar dari aksi lamunannya. Dan dia langsung membalas sapaan dari putri angkatnya itu.


"Ach! Iya, sayang! Maafkan Papa."


"Erica sabar dulu ya. Nggak lama lagi Erica akan pulang. Papa janji jika urusan Papa sudah selesai. Papa akan jemput Erica di rumah Paman Ziggy."


"Benarkah?"


"Iya, sayang! Papa janji. Jadi Erica harus berjanji satu hal kepada Papa."


"Apa itu, Papa?"


"Jadilah putri Papa yang baik dan penurut. Erica nggak boleh nakal. Dan doakan Papa dan Papa yang lainnya agar dipermudahkan semua urusannya sama Tuhan."


"Iya, Erica janji akan menjadi anak yang baik dan penurut. Dan Erica selalu mendoakan Papa dan Papa yang lain."


"Good Girls!"


"Papa."


"Iya, sayang!"


"Papa harus janji sama Erica."


"Janji? Janji apa?"


"Papa harus baik-baik saja. Papa harus pulang dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada luka apapun. Begitu juga dengan Papa yang lainnya. Erica mau semua Papa-Papa Erica dalam keadaan baik-baik saja."


Darren terdiam seketika ketika mendengar permintaan dari putri angkatnya itu. Di satu sisi dia memang berjanji jika dia akan baik-baik saja.


Namun disisi lain, dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi ketika tengah melawan Rolando Santa. Di tambah lagi perasaan tak enak yang sudah sejak tadi melanda pikirannya.


Darren berusaha untuk menepis semua perasaan tak enaknya itu demi memenuhi janjinya terhadap putri angkatnya. Dia tidak ingin membuat putri angkatnya itu khawatir akan dirinya.


"Papa janji sama Erica. Papa akan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Dan Papa akan menjemput Erica dalam keadaan tubuh Papa tanpa luka sama sekali. Begitu juga dengan Papa-Papa Erika yang lainnya."


"Terima kasih, Papa! Erica sayang Papa."


"Sama-sama, sayang. Papa juga sayang Erica. Sampaikan salam Papa kepada kakek Zeroun dan Nenek Gloria."


"Baik, Papa!"


Setelah mengatakan itu, baik Darren maupun Erica sama-sama mematikan panggilannya.

__ADS_1


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sudah waktunya Darren, ketujuh sahabatnya beserta kakak-kakak mafianya beraksi.


Di kediaman Nicko Dilbara terlihat sepi dimana semua penghuni sedang tertidur lelap.


Disaat Nicko Dilbara dan penghuni lainnya tertidur lelap, diluar rumah terlihat beberapa orang-orang merusak pintu gerbang rumah milik Nicko Dilbara.


Orang-orang itu adalah kelompok mafia The Crips yang diketuai oleh Ziggy Chaim.


"Kalian!" Ziggy menatap para anggota mafianya. "Masuk ke dalam rumah itu. Dan habisi semuanya tanpa sisa. Kalian cukup sisakan satu orang. Orang itu adalah Nicko Dilbara. Kalian mengerti!"


"Kami mengerti, King!"


"Sekarang, lakukan!"


Setelah mendapatkan perintah dari sang ketua. Para anggota mafia The Crips langsung menyerang rumah milik Nicko Dilbara.


Sementara Ziggy dan dua tangan kanannya yaitu Caleb dan Ruby hanya sebagai penonton. Mereka akan bertindak setelah para anggotanya selesai melakukan pekerjaannya.


Di dalam rumah Nicko Dilbara terjadi keributan dimana para anggota mafia The Crips sehingga membuat beberapa penghuni terjaga dari tidur mereka. Bahkan beberapa dari mereka tak luput mendapatkan serangan dari para anggota mafia The Crips.


Mendengar keributan, suara teriakan serta bunyi senjata api membuat Nicko Dilbara terbangun dari tidurnya.


Nicko beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar dari kamarnya. Dia penasaran apa yang sedang terjadi di lantai bawah.


Saat Nicko tiba di bawah. Seketika matanya membulat sempurna. Dia melihat para pelayan dan penjaganya tergeletak di lantai dengan bermandikan cairan merah kental. Cairan-cairan merah itu mengotori lantai keramik rumahnya.


Nicko juga melihat tiga anggota keluarganya yang tak lain adalah istri dan kedua anaknya juga bernasib sama dengan para pelayan dan para penjaga.


"Tidak! Velly! Lili! Lucky!" teriak Nicko.


Nicko berlari menghampiri ketiganya yang sudah tak bernyawa di lantai.


"Sayang, bangunlah!" Nicko menepuk-nepuk pekan pipi istrinya. Namun sang istri tak kunjung bangun.


Nicko beralih kearah kedua anak-anaknya. Sama seperti apa yang dilakukan kepada istrinya. Nicko juga melakukan hal yang sama kepada kedua anak-anaknya agar kedua anak-anaknya itu bangun.


Namun usahanya sia-sia. Baik istrinya maupun kedua anak-anaknya tak kunjung bangun.


"Aarrgghh!" Nicko Dilbara berteriak.


"Siapa kalian?! Kenapa kalian menyerang rumahku dan menghabisi semua orang di rumahku. Bahkan kalian menghabisi nyawa istri dan kedua anakku!" teriak Nicko dengan menatap tajam dan marah kearah para anggota mafia The Crips.


"Itu karena kesalahanmu yang sudah menghabisi semua orang-orang yang ada di kediaman Mondella termasuk kedua orang tua kandungnya Anin Mondella!" seru Ziggy yang datang bersama dengan dua tangan kanannya.


Mendengar seruan dari laki-laki yang tidak dikenalnya membuat Nicko langsung melihat kearah orang itu.


"Siapa kau?!" teriak Nicko.


"Malaikat mautmu," jawab Ziggy di balik topengnya.


"Aku tidak punya urusan denganmu dan kelompokmu. Kenapa kau mengusik kehidupanku dan keluargaku?!" bentak Nicko.


"Anda memang tidak memiliki urutan denganku dan kelompokku. Tapi anda telah berani mengusik salah satu adik laki-lakiku!" Ziggy berucap dengan menatap tajam kearah Nicko.


"Adik laki-laki? Siapa? Aku tidak mengenali adik laki-lakimu itu!"


"Adik laki-laki dari ketua kami adalah Darrendra Smith!" seru Caleb.


Deg!


Mendengar penuturan dari Caleb membuat Nicko terkejut. Dia tidak menyangka jika Darren adalah adik laki-laki dari seorang ketua mafia The Crips.


Nicko Dilbara sudah tahu sejak lama tentang kelompok mafia The Crips. Dia juga tahu jika kelompok mafia The Crips bersahabat baik dengan empat kelompok mafia yaitu Latin King, Almight Black, Black Guerilla dan Area Boy.


Nicko juga mengetahui bagaimana kekejaman kelima kelompok mafia tersebut jika sudah berhadapan dengan para musuh-musuhnya.


"Bagaimana? Sudah tahu sekarang, kan? Jadi, maksud kedatanganku dan kelompokku adalah untuk mengakhiri permainanmu, Nicko Dilbara! Kau sudah kalah. Kau sudah tidak memiliki anggota sama sekali. Semua anggotamu sudah habis terbunuh oleh para anggota dari rekan-rekanku."


Mendengar ucapan dari sang ketua mafia The Crips membuat Nicko terkejut. Dia tidak menyangka semua usahanya dan rencananya hancur begitu saja."


"Kejadian yang kau alami malam ini, sama persis kejadian yang dialami oleh keponakanmu yaitu Anin Mondella yang sekarang berubah menjadi Erica Darren Smith. Kau dan kelompokmu dengan sangat kejinya menghabisi semua penghuni yang ada di kediaman keluarga Mondella, termasuk kedua orang tuanya Erica. Dan saat kejadian itu, Erica melihat wajahmu dan perbuatan kejimu ketika menyakiti ayahnya."


"Jika kau tidak mengusik kebahagiaan Erica yang sudah bersama adik laki-lakiku. Jika kau tidak serakah. Jika kau membiarkan Erica hidup tenang. Kemungkinan besar istri dan kedua anakmu masih hidup. Dengan kata lain, aku dan kelompokku tidak akan menyerang rumahmu."


"Sekarang semuanya sudah terjadi. Dan semua itu adalah kesalahanmu. Jadi, nyawa dibayar nyawa. Impas bukan?"


Nicko hanya diam mendengar ucapan demi ucapan dari Ziggy. Dia tak menyangka jika keponakannya itu berada di tangan orang-orang besar dan hebat. Bahkan keluarga yang merawat keponakannya itu dilindungi oleh lima kelompok mafia yang terkenal nomor satu di dunia dan di Jerman.


"Kalian! Bawa pria itu ke markas. Kurung dia di ruangan yang biasa kita gunakan untuk memberikan hukuman kepada musuh-musuh kita!"


"Baik, King!"


Setelah itu, beberapa anggota mafia The Crips langsung membawa paksa tubuh Nicko Dilbara untuk dibawa ke markas mafia The Crips. Sebelumnya tubuh Nicko Dilbara sudah diikat oleh dua anggota mafia The Crips.

__ADS_1


"Ayo, pergi!" perintah Ziggy.


Mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman Nicko Dilbara.


__ADS_2