
Agneta menatap nyalang kearah Riana dan kedua laki-laki yang berdiri di belakang Riana. Dan salah satunya memegang punggung karena masih terasa sakit akibat tendangan dari Darren.
"Pasti kalian yang melakukan hal buruk kepada putra-putraku kan!" teriak Agneta sembari menunjuk kearah dua laki-laki itu.
"Kalau memang kami yang melakukannya. Kau mau apa, hah?!" bentak pria itu
"Putra-putramu itu harus kami singkirkan agar kami bisa masuk kesini dan segera melakukan tugas kami!" bentak pria yang satunya.
"Kami datang kesini ingin membunuh putramu itu!" teriak Riana dengan menunjuk kearah Darren.
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka seketika memggeram marah dan menatap tajam kearah ibunya Helena dan kedua laki-laki itu.
"Apa alasan kalian ingin membunuh adik kami, hah?! Yang kami tahu, adik kami tidak pernah mengusik kalian!" bentak Darka.
"Hahahahaha."
Baik Riana maupun kedua laki-laki tersebut tertawa keras ketika mendengar perkataan dari Darka.
"Hei, apa kau sadar dengan perkataanmu barusan? Kau mengatakan bahwa adikmu itu tak melakukan kesalahan. Justru adikmu itu telah melakukan kesalahan besar karena telah menyakiti adikku sehingga adikku koma di rumah sakit!" bentak salah satu Pamannya Helena.
"Hahahahaha."
Kini Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka yang tertawa. Mereka tertawa karena menurut mereka apa yang barusan dikatakan oleh salah satu Pamannya Helena adalah kata-kata lucu.
"Jadi alasan kalian ingin membunuh adikku hanya karena adikku telah melukai pria brengsek itu, hum?" tanya Andra dengan nada mengejek.
"Jaga ucapanmu itu. Jangan beraninya kau menyebut adikku dengan kata berengsek!"
"Oooppss! Sorry!" Andra langsung menutup mulutnya seakan-akan dirinya benar-benar takut.
Ketika Dzaky dan Adnan ingin menyerang kedua pria itu. Darren sudah terlebih dahulu bersuara.
"Kakak Dzaky, kakak Adnan."
Dzaky dan Adnan langsung melihat kearah Darren. Dan dapat dilihat oleh keduanya, Darren menggelengkan kepalanya.
Dzaky dan Adnan yang mengerti langsung menuruti keinginan adiknya itu.
"Baiklah, Darren!"
Setelah itu, tidak ada yang bersuara. Mereka semua menatap tajam kearah Helena, Ibunya Helena dan kedua Pamannya Helena.
__ADS_1
"Jadi balas dendam keluarga Orlando masih berlanjut sampai sekarang, hum!" seru Darren dengan menatap meremehkan kearah Helena, Ibunya Helena dan kedua Pamannya Helena.
"Aku pikir dengan apa yang telah terjadi dengan keluarga kalian akan membuat kalian jera. Ternyata pikiranku salah. Kalian malah makin menjadi-jadi," ucap Darren.
Darren menatap wajah Helena yang kini juga menatapnya. "Dan kau Helena," ucap Darren dengan menekan disetiap kata. Darren benar-benar marah saat ini.
"Kau menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan padamu. Aku sudah memberikan nasehat padamu jika kau memiliki rencana. Maka batalkan rencana itu. Tapi kau tetap melanjutkan rencana tersebut."
"Bahkan aku juga sudah memperingatimu ketika kau memintaku untuk berpura-pura jadi pacarnya Darren. Tapi kau tetap mempertahankan niatmu itu," sela Brenda dengan menatap tajam Helena.
"Kau tahu Helena. Aku sebenarnya sudah tahu sejak lama jika kau pacaran dengan Darren. Dan jujur aku sangat bahagia ketika mendengar Darren sudah punya pacar. Dan pacarnya itu adalah kau yang tak lain adalah temanku sendiri, aku merasakan kebahagiaan dimana sahabatku memiliki kekasih. Namun kebahagiaanku hilang begitu saja. Rasa bahagia aku itu berubah menjadi dendam yang begitu besar padamu. Kau mau tahu kenapa?"
Mendengar perkataan dari Brenda. Helena hanya diam. Dirinya tak berniat untuk menjawabnya.
Melihat Helena yang hanya diam dan tak berniat untuk menjawab perkataannya membuat Brenda marah.
SREEKK!
"Aakkhh!" teriak Helena merasakan sakit di kepalanya.
Brenda dengan kalapnya menarik kuat rambut Helena sehingga membuat kepala Helena mendongak ke atas. Dan disertai dengan teriakannya.
Sedangkan Darren tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Brenda.
"Ini yang aku suka darimu, Brenda!" Darren berbicara di dalam hatinya.
"Kau tahu Helena. Aku benar-benar bahagia Darren pacaran denganmu, karena aku berpikir kau adalah gadis yang baik. Dan aku percaya kau akan membuat Darren bahagia. Bahkan aku menaruh kepercayaan besar padamu kalau kau akan selalu setia kepada Darren dan tidak akan pernah mengkhianatinya."
Brenda menatap penuh amarah Helena dengan tangannya kembali menarik kuat rambut Helena sehingga membuat Helena kembali berteriak.
Riana selaku ibunya Helena tak terima dan ingin memukul Brenda. Ketika tangannya ingin menyentuh Brenda. Darren langsung menangkap tangannya. Dan dengan kasarnya. Darren langsung mendorong kuat Riana sehingga tersungkur di lantai.
"Aku mendapatkan informasi dari salah satu orang kepercayaanku tentang apa yang kau lakukan selama ini di belakang Darren. Kau berpacaran dengan Darren, tapi kau juga berhubungan dengan banyak laki-laki diluar sana. Kau mendekati laki-laki tersebut demi uang. Setelan kau mendapatkan semuanya. Dengan kejinya kau mencampakkan mereka semua. Tapi tidak dengan Darren. Kau justru mempertahankan Darren karena Darren berasal dari keluarga yang kaya raya. Darren itu lebih kaya. Sementara laki-laki yang kau goda diluar sana berada dibawah Darren."
Mendengar cerita dari Brenda membuat keluarga Smith terkejut. Mereka tidak menyangka jika gadis bernama Helena melakukan hal sekeji itu.
"Ketika mendengar kabar Darren yang pergi meninggalkan keluarganya dan memilih tinggal sendiri. Kau langsung memutuskan hubungan dengan Darren. Kau tidak ingin memiliki hubungan dengan Darren karena Darren sudah tidak memiliki apa-apa. Dan kau kembali setelah mendapatkan kabar bahwa Darren memiliki segalanya. Bahkan apa yang dimiliki Darren melebihi dari yang dimiliki oleh keluarganya."
SREEKK!
"Aakkhhh!"
__ADS_1
Brenda kembali menarik kuat rambut Helena dengan matanya menatap tajam Helena.
"Kau tak lebih dari perempuan murahan, Helena Orlando!" bentak Brenda. "Aku merelakan Darren pacaran denganmu. Bahkan aku tidak peduli hatiku sakit dan hancur melihat orang yang aku cintai sejak dulu memilih perempuan lain menjadi kekasihnya. Aku rela menahan semua rasa sakit ini. Asal orang yang aku cintai itu hidup bahagia!" teriak Brenda.
"Aku merelakan Darren bersamamu karena Darren sudah cukup menderita selama ini. Darren tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya. Dan ketika Darren bertemu denganmu. Setidaknya Darren mendapatkan kebahagiaannya kembali. Darren benar-benar bahagia saat bersamamu. Tapi apa yang sudah kau lakukan! Kau menipunya, kau mengkhianatinya dan kau juga memanfaatkannya!"
Brenda mengeluarkan semua kesedihan dan perasaannya selama ini di depan Helena. Brenda mengatakan semua itu sembari menangis. Brenda bahkan tidak sadar apa yang sudah diucapkannya barusan. Bahkan Brenda tidak menyadari bahwa di dalam ruang rawat Darren bukan hanya ada dirinya dan Helena. Melainkan di dalam ruang rawat Darren itu juga ada anggota keluarga Darren dan ketujuh sahabat-sahabat Darren.
Mereka semua terkejut akan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Brenda. Dan mereka juga melihat Brenda menangis ketika mengatakan semua itu.
Bagaimana dengan Darren? Justru Darren yang paling terkejut. Dirinya terkejut ketika mendengar fakta bahwa Brenda selama ini mencintanya.
"Brenda," batin Darren dengan menatap wajah Brenda.
"Helena, kau tahu. Diluar sana banyak gadis-gadis cantik yang ingin menjadi kekasihnya Darren, salah satunya adalah aku yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Aku ingin menjadikan Darren kekasihku bukan sahabatku. Tapi aku tidak mau egois. Menjadi sahabatnya saja aku sudah bahagia. Apalagi kalau menjadi kekasihnya. Mungkin kebahagiaanku berlipat-lipat. Hanya aku sahabat perempuan satu-satunya di dalam hidup Darren. Dan hal itulah yang membuatku sampai detik ini mempertahankan Darren menjadi sahabatku, walau nyatanya hatiku meminta lebih."
"Dan kau!" tunjuk Brenda tepat di depan wajah Helena. "Kau adalah wanita terbodoh yang pernah aku kenal di dunia ini. Kau menyia-nyiakan Darren. Kau mencampakkan Darren yang saat itu benar-benar mencintaimu hanya demi ambisimu dan juga kesenanganmu. Bahkan aku juga dapat informasi bahwa Darren akan melamarmu!"
Darren terkejut ketika mendengar perkataan Brenda. Dirinya tak menyangka jika Brenda mengetahui niatnya saat itu ingin melamar Helena. Bukan hanya Darren saja yang terkejut. Ketujuh sahabat-sahabat Darren tak kalah terkejutnya ketika mendengar apa yang keluar dari mulut Brenda.
Setelah mengatakan itu, Brenda melepaskan tangannya di rambut Helena. Dan detik kemudian, Brenda mendorong kuat kursi roda Helena kearah dinding sehingga kursi roda tersebut membentur dengan sangat kuat.
BRUUKK!
Brenda jatuh terduduk di lantai. Dan pada akhirnya, isak tangisnya pun pecah.
"Hiks... Kau benar-benar jahat Helena. Kau benar-benar jahat."
Agneta mendekati Brenda, lalu mengangkat tubuh Brenda agar berdiri. Setelah itu, Agneta langsung memeluk tubuh Brenda yang saat ini bergetar.
"Bibi... Hiks," isak Brenda.
Darren berlahan melangkah mendekati Brenda yang saat ini tengah dipeluk oleh ibunya.
Agneta yang melihat tatapan mata putranya melihat kearah Brenda langsung mengerti. Agneta kemudian melepaskan pelukannya.
Dan detik kemudian...
GREP!
Darren menarik tubuh Brenda dan langsung membawa tubuh Brenda ke dalam pelukannya.
__ADS_1