
Masih di kampus. Sejam yang lalu Darren dan ketujuh sahabatnya selesai mengikuti tiga materi kuliah. Dan saat ini Darren dan ketujuh sahabatnya berada di lapangan.
"Ren, nanti pulang dari kampus kita langsung ke lokasi pembuatan iklan produk baru perusahaan kita!" seru Qenan.
Mendengar ucapan dari Qenan, Darren melirik sekilas kearah Qenan. Setelah itu, dia kembali menatap layar laptopnya.
"Baiklah," jawab Darren.
Melihat kelakuan Darren membuat Qenan dan sahabatnya yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala.
Ketika Darren dan ketujuh sahabatnya tengah sibuk dengan dunia mereka, tiba-tiba datang beberapa orang mengganggu ketenangannya.
Mendengar derap langkah mengarah kearahnya. Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat ke sumber suara. Terlihat sekitar 8 pemuda telah berdiri di hadapannya.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap dengan tatapan bingung dan penasaran kedelapan pemuda itu.
"Siapa mereka," bisik Qenan di telinganya Axel.
"Mana aku tahu," jawab Axel.
"Apa mereka mahasiswa baru?" tanya Darel kepada Rehan.
Rehan langsung mengangkat bahunya keatas ketika mendengar pertanyaan dari Darel.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel masih menatap kedelapan pemuda itu. Begitu juga dengan kedelapan pemuda tersebut.
"Hallo, Darren!"
Salah satu pemuda yang berdiri paling depan langsung menyapa Darren dengan menyebut namanya.
Mendengar sapaan disertai dengan nama membuat Darren dan ketujuh sahabatnya terkejut.
Darren menatap lekat wajah pemuda yang menyapanya. Seketika tatapan matanya berubah tajam.
Sementara pemuda tersebut tersenyum sinis menatap Darren. Begitu juga dengan teman-temannya.
"Perkenalkan, namaku Darrendra Smith. Putra ketujuh dari Erland Faith Smith!"
Mendengar penuturan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat Darren marah. Dia tidak terima jika ada orang lain yang mencuri identitasnya.
Bukan hanya Darren saja yang terlihat marah. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel juga tampak marah terhadap pemuda yang menggunakan nama asli Darren. Bahkan mengaku sebagai putra ketujuh dari Erland.
Darren mematikan laptopnya. Setelah laptopnya mati, Darren menutupnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Darren seketika berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Merek menatap penuh amarah pemuda yang mengaku sebagai Darren dan sebagai putra ketujuh Erland.
"Gue nggak peduli siapa lo. Satu hal yang harus lo ingat. Nama Darrendra Smith hanya ada satu di dunia ini. Nama itu adalah gue. Dan putra ketujuh dari Erland Faith Smith hanya gue, tidak ada orang lain!"
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan pemuda itu dan teman-temannya. Dan diikuti oleh Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Namun baru beberapa langkah, langkah kaki Darren terhenti. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya karena mendengar perkataan dari pemuda itu.
"Lo harus segera melepaskan semuanya dan menyerahkan semua itu kepada gue, salah satunya adalah keluarga lo! Mulai detik ini dan seterusnya, gue adalah Darrendra Smith. Keluarga Smith sekarang menjadi keluarga gue. Jadi gue minta sama lo. Jangan pernah lo menginjakkan kaki lo di keluarga Smith!" teriak pemuda itu.
Mendengar ucapan dan teriakan dari pemuda itu membuat Darren seketika emosi.
Darren seketika membalikkan badannya untuk menatap pemuda itu. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Mereka menatap tajam kearah pemuda itu.
Darren tersenyum di sudut bibirnya. "Lo nggak ada hak untuk ngatur hidup gue apalagi sampai memberikan perintah kepada gue. Lo bukan siapa-siapa di keluarga Smith. Jadi, lo nggak usah belagu."
"Baru jadi putra palsu di keluarga Smith sudah sombong lo. Apalagi kalau kalau putra benaran!" sindir Rehan.
"Lagian situ jadi putra palsu dari Paman Erland dikarenakan Paman Erland sedang sakit. Jika tidak, mana mau Paman Erland punya anak dekil, bodoh dan penipu kayak lo." Dylan berucap dengan kejamnya.
"Ngarep benar jadi anak orang kaya. Malu kali dong," ejek Jerry.
Mendengar perkataan dari Darren dan sahabat-sahabatnya membuat pemuda itu menatap tak suka Darren. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.
"Gue nggak peduli. Yang jelas saat ini gue adalah Darrendra Smith, putra dari Erland Faith Smith. Jadi gue minta sama lo. Jangan pernah lo balik lagi ke rumah keluarga Smith!" teriak pemuda itu.
Darren melangkah mendekati pemuda itu. Setelah itu, Darren menatap lekat wajah pemuda itu dengan sangat dekat.
"Gue nggak peduli. Selama gue masih hidup. Selama itu pula gue nggak akan pernah pergi meninggalkan keluarga gue. Kalau lo nggak suka kedatangan gue ke rumah keluarga Smith. Lo bisa usir gue di depan keluarga gue. Justru gue mau lihat nyali lo sampai dimana. Dan gue juga mau lihat bagaimana cara lo ngusir gue dari rumah keluarga gue."
Darren berbicara dengan penuh penekanan dan juga ketegasan disertai dengan tepukan-tepukan di pipi pemuda itu. Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya tersenyum meremehkan menatap wajah kesal pemuda itu.
__ADS_1
Setelah puas membuat pemuda itu kesal berapi-api. Darren pun pergi meninggalkan pemuda itu bersama dengan ketujuh temannya. Dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya yang berjalan di belakang, di samping kiri dan kanannya.
"Brengsek!" umpat pemuda itu menatap marah kearah Darren dan ketujuh sahabatnya yang kini sudah menjauh.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Di kediaman keluarga Smith terlihat Davin dan Andra sedang berada di ruang tengah. Keduanya tengah mengerjakan sesuatu.
Baik Davin dan Andra saat ini tengah mengerjakan tugas kantornya yang tidak sempat dikerjakan di kantor.
Saat ini yang ada di kediaman keluarga Smith adalah Davin, Andra, Agneta, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian.
Sementara Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin masih di sekolahnya. Mereka akan pulang sekitar pukul 2 siang. Dan untuk Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka berada di rumah Darren.
Dua hari yang lalu Agneta dan Carissa datang berkunjung dengan membawa makana dan juga cemilan kesukaan Darren. Minggu ini Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin akan menginap di rumah Darren.
Awalnya Agneta dan Carissa sudah berulang kali membujuk Darren agar mau pulang, walau keadaan tak sama seperti dulu karena kondisi sang ayah.
Namun Darren tetap bersikeras untuk tinggal di rumahnya sendiri. Alasan Darren memilih tinggal di rumahnya setelah satu bulan menghilang karena dia tidak ingin menangis ketika melihat ayahnya tertawa dengan keenam kakak laki-laki dan kelima adik laki-lakinya. Dia tidak melihat adegan tersebut.
Mendapatkan penolakan dari Darren membuat Agneta dan Carissa hanya bisa menghela nafasnya. Keduanya tahu alasan Darren tidak ingin pulang ke kediaman keluarga Smith. Dan keduanya pun tidak ingin memaksakan kehendaknya. Jika mereka tetap memaksakan kehendaknya kepada Darren, itu sama saja mereka menyakiti Darren.
Ketika Davin dan Andra tengah sibuk dengan tugas-tugas kantornya, tiba-tiba ponsel milik Davin berbunyi.
Davin melihat kearah layar ponselnya. Dan tertera nama orang suruhannya yang bertugas mengawasi ketiga adik laki-lakinya selama di luar rumah, terutama Darren.
Davin mengambil ponselnya dan langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"...."
"Katakan."
"...."
"Apa? Yang benar?"
"...."
"Baiklah. Terima kasih informasinya."
"...."
Andra yang kebetulan duduk tak jauh dari sang kakak langsung bertanya.
"Ada apa? Siapa yang menghubungi kakak Davin?"
Davin menatap kearah Andra, saudara keduanya. "Anak sialan itu akan berulah di rumah ini."
"Apa yang akan dia lakukan?"
"Kau akan tahu nanti. Jika hal itu terjadi. Kau harus melindungi Darren," ucap Davin.
"Tentu. Dia adik laki-lakiku. Aku tidak akan membiarkan anak sialan itu menyentuhnya apalagi sampai menyakitinya," ucap Andra.
Yang dimaksud anak sialan oleh Andra adalah pemuda yang tiba-tiba datang ke kediaman keluarga Smith dengan mengaku sebagai Darrendra Smith. Pemuda itu juga mengaku baru kembali dari Amerika sehingga membuat Erland langsung mempercayai pemuda itu sebagai putra ketujuhnya.
***
Adrian dan Mathew sedang berada di lapangan basket yang berada diluar. Keduanya sedang bermain bola basket bersama dengan delapan teman sekelasnya.
Baik Adrian, Mathew maupun kedelapan teman-teman sekelasnya begitu hebat dan lihai dalam bermain basket.
Ketika mereka tengah asyik-asyiknya bermain basket. Dan ketika Mathew ingin melemparkan bola basket itu ke dalam keranjang, tiba-tiba datang beberapa orang mengganggu permainan mereka dengan cara merebut bola itu.
Melihat hal itu membuat Adrian, Mathew dan kedelapan teman-teman sekelasnya menatap tak suka beberapa orang itu.
"Mereka lagi," batin Adrian.
"Mau apalagi sih mereka?" batin Mathew.
Beberapa orang itu berlahan melangkah mendekati Adrian dan Mathew sembari menggiring bola.
Dan detik kemudian...
__ADS_1
Orang yang memegang bola itu langsung melempar kuat bola itu kearah Mathew. Orang itu berpikir jika Mathew tidak akan bisa menangkap bola basket itu karena dia melemparnya dengan buru-buru.
Namun diluar dugaan. Mathew justru dengan kecepatan tangannya langsung menangkap dengan sangat cepat bola basket tersebut. Dan jangan lupa senyuman manisnya.
Melihat kecepatan tangan Mathew membuat orang itu menatap syok kearah Mathew. Begitu juga dengan teman-temannya.
"Lebih baik lo pergi dari sini. Dan bawa sekalian para kacung-kacung busuk lo," usir Adrian.
"Lo dan para kacung-kacung itu sangat menggangu disini. Jadi Hus... Hus... Pergi sana!" Mathew berucap dengan kejamnya sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
Mendengar ucapan dan pengusiran yang dilakukan oleh Mathew membuat orang itu dan keempat temannya menatap tajam kearah Mathew.
"Brengsek! Beraninya Lo ngatain kita seperti itu!" bentak orang itu.
Adrian dan Mathew tersenyum melihat kemarahan dari lima orang di hadapannya itu.
"Kenapa? Nggak terima? Mau bertarung lagi? Atau...."
"Mau tidur di rumah sakit lagi." Mathew meneruskan perkataan dari Adrian.
Kelima pemuda yang mengganggu Adrian, Mathew dan kedelapan teman-teman sekelasnya itu adalah kelima pemuda yang pernah dihajar habis-habisan oleh Adrian dan Mathew hingga berakhir masuk rumah sakit.
Kelima teman-temannya itu berada di kelas sebelah. Jika Adrian dan Mathew berada di kelas 2 IPA 1. Sementara kelima teman-temannya itu berada di kelas 2 IPA 2.
Kenapa mereka bermusuhan? Dulu mereka satu kelas ketika duduk di kelas 1 IPA 1. Kelimanya selalu kalah dalam persaingan. Apapun jenis persaingannya, baik itu dalam bentuk pelajaran, pergaulan dan perlombaan. Mereka selalu kalah dengan Adrian dan Mathew. Bahkan mereka juga kalah dalam persaingan dalam kehidupan sehari-hari diluar rumah.
Dikarenakan kelimanya selalu kalah setiap bersaing dengan Adrian dan Mathew sehingga membuat mereka memiliki dendam besar terhadap keduanya. Dan berakhir kelimanya selalu mencari masalah dengan Adrian dan Mathew.
"Jangan sombong lo. Kemarin-kemarin itu kita-kita mengaku kalah."
"Tapi kali ini, kita-kita yakin bisa ngalahin lo berdua."
Dua dari lima pemuda itu langsung menantang Adrian dan Mathew. Mereka benar-benar ingin bertarung melawan kedua Smith bersaudara itu.
"Jadi maksud kalian. Kalian ingin bertarung dengan kita berdua?" tanya Mathew.
"Iya. Kenapa? Lo dan saudara lo itu takut, hah?!" pemuda ketiga.
Adrian dan Mathew tersenyum mendengar perkataan dari mantan teman sekelasnya dulu.
"Tapi kita nggak berminat. Lagian ini di sekolahan. Dan tujuan kita ke sekolah bukan untuk beradu jotos. Melainkan untuk menimba ilmu," ucap Adrian.
"Jika kalian ingin bertarung. Cari saja yang lain. Atau kalian bisa jadikan dinding sekolah ini sebagai Samsatnya," ucap Adrian.
Setelah mengatakan itu, Adrian dan Mathew pergi meninggalkan lapangan basket. Dan diikuti oleh kedelapan teman-teman sekelasnya.
***
Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di ruang Taekwondo. Beberapa menit yang lalu mereka habis latihan.
"Apa rencana lo, Ren?" tanya Axel.
"Untuk saat ini gue nggak akan melakukan apapun. Saat ini aku hanya ingin melihat apa yang dilakukan bocah tengil itu dengan keluargaku, terutama ketika berhadapan dengan Papa." Darren berucap.
"Untuk saat ini yang perlu kita lakukan adalah hanya jadi penonton saja," ucap Darren lagi.
Mendengar ucapan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Ting!
Ting!
Terdengar bunyi notifikasi di ponsel mereka masing-masing. Mendengar bunyi notifikasi tersebut. Baik Darren, Qenan, Willy, Axel maupun Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel langsung mengambil ponselnya dan melihat notifikasi tersebut.
Dan detik kemudian....
"Pacar gue!" seru Dylan.
"Calon istri gue!" seru Rehan.
"Pujaan hati gue!" seru Qenan.
Sementara Darren, Willy, Axel, Jerry dan Darel tersenyum ketika membaca pesan yang dikirim oleh kekasihnya. Mereka sangat bahagia ketika membaca pesan tersebut. Mereka membaca pesan itu dengan begitu menghayati. Tidak seperti Dylan, Qenan dan Rehan yang terlihat norak.
Brenda, Alice, Elsa, Tania, Milly, Felisa, Lenny dan Vania saat ini berada di kota Berlin. Mereka tengah mengadakan bimbingan disana. Hanya mereka yang terpilih oleh pihak kampus untuk tahun ini.
__ADS_1
Brenda dan ketujuh sahabatnya melakukan bimbingan disana selama dua bulan. Dan sudah satu bulan mereka berada di kota Berlin. Tersisa satu bulan lagi.
Setelah membaca pesan dari para kekasih masing-masing, baik Darren maupun ketujuh sahabatnya langsung membalas pesan tersebut. Dan mereka tak lupa menyelipkan doa dan semangat untuk kekasihnya.