
Melihat Darren yang menatap wajah ibunya Brenda membuat Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel langsung mengerti. Terlihat dari tatapan matanya Darren. Begitu juga dengan Brenda, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.
"Bibi Liana. Boleh aku bertanya sesuatu pada Bibi?" tanya Darren.
"Boleh dong sayang. Kamu mau nanya hal apa sama Bibi?" tanya Liana.
"Aku sudah tahu kalau Bibi Liana hanya anak tunggal. Bibi Liana tidak memiliki saudara kandung."
"Iya, sayang. Bibi putri tunggal di keluarga. Bibi tidak memiliki saudara kandung."
"Apa Bibi Liana memiliki saudara sepupu?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren yang menanyakan masalah saudara sepupu membuat Liana langsung diam seketika.
Melihat keterdiaman ibunya Brenda membuat Darren menatap curiga ibunya Brenda. Di dalam hatinya Darren mengatakan bahwa ibunya Brenda memilik saudara sepupu. Dan Darren bisa pastikan ibunya Brenda memiliki masalah dengan saudara sepupunya itu.
"Mama," panggil Maura.
Namun tidak ada reaksi sama sekali dari ibunya itu. Dan hal itu membuat Maura, Rangga, Barra, Riana, Brenda dan Raya khawatir.
"Mama." kini Barra yang memanggil ibunya dengan menepuk pelan bahu ibunya.
Mendapatkan tepukan di bahunya. Liana langsung menolehkan wajahnya melihat Barra. Dan setelah itu, Liana menatap satu persatu wajah putra-putrinya, ketujuh sahabat dari putrinya Brenda, Darren dan ketujuh sahabatnya Darren.
Tatapan mata Liana menatap satu sosok saja yaitu Darren. Liana dapat melihat dari tatapan mata Darren bahwa Darren ingin mengetahui apakah dirinya memiliki saudara sepupu atau tidak.
"Iya. Bibi memiliki saudara sepupu. Lebih tepatnya satu sepupu laki-laki. Dia kakak sepupu laki-laki Bibi," jawab Liana.
Mendengar jawaban dari ibunya membuat Maura, Rangga, Barra, Riana, Brenda dan Raya terkejut.
"Kenapa Mama tidak pernah cerita kalau Mama masih memiliki saudara?" tanya Riana.
"Mama memang sengaja tidak menceritakannya pada kalian, karena Mama tidak ingin mengingat kejadian itu," jawab Liana dengan disertai air matanya.
Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya langsung berpindah duduk dan mendekati ibunya. Kemudian mereka semua memeluk ibunya.
Mendapatkan pelukan dari putra dan putrinya. Seketika tangis Liana pecah.
"Mama," lirih Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya.
Mereka semuanya menangis melihat ibunya menangis. Ini adalah kali pertamanya ibunya menangis. Terakhir ibu mereka menangis saat mendengar berita kematian ayah mereka.
Setelah puas memeluk ibunya. Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya pun melepaskan pelukannya. Mereka semua menatap khawatir ibunya. Begitu juga dengan Darren, Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.
"Maafkan aku, Bibi Liana! Aku tidak bermaksud membuat Bibi menangis ketika aku menanyakan tentang saudara sepupu Bibi Liana. Aku hanya ingin membantu. Alasan aku menanyakan tentang saudara sepupu Bibi Liana, karena ini ada hubungan dengan kecelakaan paman Antonio."
Mendengar perkataan dari Darren. Baik Liana, Maura, Rangga, Riana dan Raya, kecuali Brenda langsung melihat kearah Darren.
__ADS_1
"Apa kamu sudah tahu pelakunya, Ren?" tanya Rangga.
"Sudah, kak Rangga. Hanya saja aku belum tahu nama dan wajah dari pelaku itu," jawab Darren.
"Lalu apa hubungannya kamu menanyakan tentang saudara sepupunya Mama?" tanya Maura.
"Ini berhubungan, kak Maura!" jawab Darren.
Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya menatap wajah ibu mereka. Begitu juga dengan Darren, Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.
"Tolong kerja samanya, Bibi Liana!" seru Jerry, Axel dan Dylan bersamaan.
"Mama," ucap Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya.
"Charlie Fiedler," jawab Liana dengan wajah dinginnya.
"Laki-laki brengsek itu satu-satunya saudara sepupu Mama," ucap Liana dengan air mata yang mengalir membasahi wajah cantiknya.
Mendengar satu nama yang disebut oleh Liana dan juga melihat tatapan mata Liana yang menyimpan luka dan dendam. Mereka semua menyakini bahwa telah terjadi sesuatu di masa lalu antara Liana dan Charlie. Dan itulah alasan kenapa Liana tidak menceritakan tentang Charlie kepada anak-anaknya.
Maura menyentuh wajah ibunya, lalu memalingkan kearahnya agar dirinya bisa melihat wajah ibunya itu. Begitu juga dengan ibunya agar melihat wajahnya.
"Mama. Sekarang katakan padaku. Apa yang tidak kami ketahuai tentang Mama dan paman Charlie di masa lalu? Tolong jangan sembunyikan apapun lagi dari kami. Kami sudah kehilangan Papa. Kami hanya punya Mama dan kami tidak ingin kehilangan Mama." Maura berbicara sembari menatap wajah ibunya.
"Apa alasan Mama merahasiakan tentang Paman Charlie? Dan kenapa Mama menyebut Paman Charlie sebagai laki-laki brengsek?" tanya Maura.
"Dia... Dia dulu hampir memperkosa Mama disaat hari pernikahan Mama dengan Papa kalian akan diselenggarakan," jawab Liana dengan suara bergetarnya.
Mendengar jawaban dari ibunya membuat Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya terkejut dan juga syok. Begitu juga dengan Darren, Qenan, Willy, Dylan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.
"Ketika bajingan itu ingin melakukan itu pada Mama. Papa kalian datang tepat waktu bersama sepuluh anak buahnya. Dan kalian sudah pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya."
Mendengar cerita dari ibunya membuat Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya mengepal kuat tangan mereka. Mereka benar-benar marah atas apa yang diperbuat oleh Charlie terhadap ibunya.
"Kenapa laki-laki brengsek itu tega melakukan hal menjijikkan itu pada Mama? Bukannya Mama adalah adik sepupunya?" tanya Brenda.
"Karena dia memendam perasaan suka pada Mama. Rasa suka dia bukan antara kakak laki-laki kepada adik perempuannya. Melainkan perasaan suka terhadap lawan jenis. Dia tidak rela Mama menikah dengan Papa kalian. Bahkan dia berulang kali mencoba untuk menggagalkan rencana pernikahan Mama dan Papa kalian. Tapi berulang kali dia gagal. Papa kalian selalu berhasil menggagalkan niatnya."
"Dari mana Mama mengetahui bahwa bajingan itu menyukai Mama?" tanya Barra.
"Dia sendiri yang mengungkapkannya didepan Mama," jawab Liana.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan Mama dengan Papa setelah kejadian itu?" tanya Riana.
"Mama dan Papa menikah di rumah sakit. Setelah keluar dari rumah sakit. Barulah Papa dan Mama mengadakan resepsinya.
"Terus bagaimana dengan laki-laki brengsek itu, Mama?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Mama tidak tahu kabarnya lagi setelah ketahuan melakukan hal menjijikkan itu pada Mama."
Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya kembali memeluk tubuh ibunya. Mereka memberikan ketenangan kepada ibunya yang saat ini terlihat syok, karena harus kembali teringat kejadian itu.
Detik kemudian...
Terdengar ponsel milik Darren berbunyi menandakan panggilan masuk.
Darren mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah di tangannya. Darren melihat nama 'Andrean' di layar ponselnya. Darren langsung menjawab panggilan dari Andrean.
"Hallo, Andrean!"
Sementara yang lainnya memasang telinganya dan mendengar obrolan Darren dengan orang yang bernama Andrean di telepon, termasuk Liana dan putra-putrinya.
"Kau ada dimana?"
"Di rumah Brenda. Kenapa?"
"Berarti kau sudah mendapatkan nama dan wajah dari pelaku atas kecelakaan ayahnya Brenda?"
"Untuk namanya sudah. Tapi aku belum bertanya kepada Bibi Liana seperti apa wajah dari orang itu."
"Siapa namanya?"
"Charlie Fiedler."
"Baiklah. Aku akan menyelidik pria itu. Secepatnya aku akan kabari jika aku mendapatkan informasi terbaru dari bajingan itu."
"Baiklah."
Setelah itu, Andrean langsung mematikan teleponnya. Begitu juga dengan Darren. Darren memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
Darren kembali menatap Liana, Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya.
"Baiklah. Seperti yang aku katakan barusan bahwa pertanyaanku dengan pelaku atas kecelakaan paman Antonio itu berhubungan. Sekarang aku akan beritahu kalian tentang pelaku yang sudah menyebabkan kecelakaan paman Antonio." Darren berbicara dengan penuh penekanan.
Mendengar perkataan Darren membuat Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya menatap Darren. Begitu juga dengan Liana.
"Pelakunya adalah Charlie Fiedler yang tak lain adalah saudara sepupu Bibi Liana sendiri," ucap Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Maura, Rangga, Riana, Brenda dan Raya terkejut dan juga marah. Yang paling marah disini adalah Rangga dan Barra.
"Brengsek!" umpat Rangga marah.
"Aku bersumpah. Bajingan itu akan mati ditanganku," ucap Barra dengan dengan amarah.
"Aku tahu kalian semua marah. Tapi aku minta kepada kalian untuk tetap tenang. Dan bersikaplah seperti biasa. Jangan melakukan apapun terlebih dahulu. Andrean dan tim nya sedang menyelidiki Charlie." Darren berbicara dengan menatap satu persatu wajah keluarga Wilson.
__ADS_1
"Baiklah, Darren!" mereka menjawab secara bersamaan.