
Di kediaman Wilson dimana semua penghuni sudah pada bangun. Semuanya sudah dalam keadaan bersih dan rapi. Hanya satu orang yang belum bangun dari tidurnya. Orang itu adalah Brenda Wilson.
Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Ketika mereka ingin memulai sarapan paginya. Raya yang tidak melihat keberadaan salah satu kakak perempuannya langsung bersuara.
"Mama, kak Brenda belum bangun! Masa kita sarapan paginya tanpa kak Brenda sih," ucap dan tanya Raya.
Mendengar seruan dan ucapan Raya. Liana langsung memperhatikan sekitarnya. Begitu juga dengan Maura, Rangga, Barra dan Riana.
Dan benar, mereka tidak melihat keberadaan Brenda bersama mereka di meja makan.
"Aish, tuh anak!" kesal Rangga.
"Biarkan aku yang membangunkan Brenda," sahut Barra.
Setelah itu, Barra beranjak dari duduk dan berjalan menunju kamar adik perempuannya di lantai dua.
^^^
Barra sudah berada di dalam kamar Brenda. Ketika Barra masuk ke dalam kamarnya Brenda. Barra melihat bahwa adik perempuannya itu masih tidur dengan keadaan seluruh tubuhnya yang ditutupi selimut.
Barra mendekati ranjang Brenda. Setelah berada di tepi ranjang adik perempuannya itu, Barra langsung menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
Barra membangunkan adik perempuannya itu dengan lembut. Namun yang di bangunkan tetap tak kunjung bangun juga sehingga membuat Barra menggelengkan kepalanya kesal.
Brenda bukan gadis yang susah dibangunkan jika sudah tidur. Justru Brenda itu paling gampang membangunkannya.
Pagi ini Brenda telat bangun, karena Brenda tidur sekita pukul 1 pagi. Brenda mengerjakan tugas-tugas kampusnya. Ada sekitar 5 tugas yang diberikan oleh 5 dosen yang berbeda. Yang lebih parahnya adalah semua tugas tersebut harus dikumpulkan besok. Serentak!
Alasan itulah membuat Brenda yang belum bangun sampai detik ini. Tubuhnya benar-benar lelah.
"Brenda, ayo bangun." Barra berbicara sambil tangannya menggoyang-goyang pelan tubuh adik perempuannya itu.
"Nanti dulu, Mama! Aku masih ngantuk," jawab Brenda sambil menarik selimut dari bawah ke atas.
Mendengar ucapan dari adik perempuannya membuat Barra tersenyum dan juga sedikit kesal.
"Brenda Wilson. Bangun sekarang!"
"Ih, Mama! Aku masih ngantuk. Lima menit lagi ya," mohon Brenda.
"Bangun atau kakak siram kamu," ucap dan ancam Barra.
Mendengar ucapan dan nada suara tersebut. Seketika Brenda membuka kedua matanya, lalu langsung menduduki tubuhnya.
Brenda melihat di hadapannya ternyata adalah kakak laki-lakinya bukan ibunya. Dan seketika, Brenda memberikan senyuman termanisnya.
"Hehehe. Kakak Barra," ucap Brenda.
"Tidur kaya kebo. Susah sekali banguninnya," sabut Barra kesal.
"Aish! Baru kali ini doang aku bangunnya telat. Dan baru kali ini juga aku dibangunin. Itu pun sama kakak Barra. Biasanya juga aku bangun sendiri," jawab Brenda dengan bibir yang dimanyunkan.
__ADS_1
Mendengar protes dari adik perempuannya dan juga wajah manyunnya membuat Barra tersenyum.
"Oke, oke! Kakak minta maaf. Sekarang katakan pada kakak. Kenapa kamu bangunnya telat. Tidak seperti biasanya?"
"Ini semua gara-gara lima dosen sialan itu. Mereka dengan kompaknya memberikan tugas kepada mahasiswa dan mahasiswinya. Tugas yang mereka berikan banyak sekali. Mending tugasnya dikumpulkan dihari yang berbeda dan dengan waktu yang panjang. Justru kelima dosen itu memberikan waktu sampai besok pagi. Tepatnya pagi ini. Makanya tadi malam aku menyelesaikan semua tugas-tugas itu."
"Jam berapa kamu tidurnya?"
"Jam 1 pagi."
Barra terkejut ketika mendengar jawaban dari adik perempuannya.
"Ya, sudah! Sekarang kamu mandi dan bersiaplah ke kampus. Kamu nggak maukan sampai telat ke kampus?"
"Baik, kakak Barra."
"Segeralah turun jika sudah selesai."
"Baik, kakak Barra."
***
Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di sebuah markas yang mereka bangun sejak mereka duduk di bangku SMP. Dengan kata lain markas itu telah berdiri selama 8 tahun.
Markas itu diberi nama BRUISER yang artinya jago dalam berkelahi. Darren sebagai ketuanya. Sedangkan ketujuh sahabatnya menjadi penanggung jawabnya. Maupun itu wakil, sekretaris, bendahara. Apapun namanya. Tetap mereka bertujuh yang bertanggung jawab atas markas.
Darren meminta ketujuh sahabatnya untuk datang ke markas BRUISER. Dan tak lupa Darren juga meminta ketujuh sahabatnya itu untuk menyuruh semua anggotanya berkumpul disana.
Ketika Rehan bertanya ada hal apa harus disuruh ke markas. Darren hanya mengatakan ada hal penting yang akan disampaikan.
Kemampuan yang dimiliki para anggota Darren adalah ilmu bela diri (menguasai tiga jenis ilmu bela diri yaitu taekwondo, karate dan Muay Thai), memanah, menembak, membuat racun, merakit bom, ahli komputer (dalam bidang apapun), merakit senjata api dan sniper (jarak jauh dan dekat).
Kini Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di markas BRUISER. Lengkap dengan 50 anggotanya.
"Ada apa, Ren?" tanya Darel.
"Apa ada masalah?" tanya Dylan.
Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya yang juga menatap dirinya.
"Kalian masih ingat dengan geng motor bernama VAGOS?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren. Baik Qenan, Willy, Axel maupun Dylan, Jerry, Rehan dan Darel mencoba mengingat nama geng itu.
Detik kemudian...
"Iya. Kami ingat!" seru mereka bersamaan.
"Kenapa kamu menanyakan geng itu? Bukankah geng itu sudah musnah?" tanya Willy.
Mendengar ucapan dari Willy. Darren kembali menatap ketujuh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Geng itu kembali muncul dengan pemimpin baru," sahut Darren.
Mendengar penuturan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel terkejut.
"Ren, kamu....." perkataan Jerry terpotong.
"Aku serius. Dan aku sedang tidak bercanda," ucap Darren penuh penekanan.
"Kalau itu beneran. Kamu dapat informasi dari mana? Siapa yang ngasih tahu kamu?" tanya Qenan.
"Huff!"
Darren menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Aku ditelepon langsung oleh pemimpin baru itu," jawab Darren.
Lagi-lagi mereka dibuat terkejut akan jawaban dari Darren. Mereka tidak habis pikir jika geng motor VAGOS yang sudah musnah 4 tahun yang lalu kini kembali muncul kepermukaan.
"Kapan dia menghubungi kamu, Ren?" tanya Darel.
"Tadi pagi ketika aku tengah bersiap-siap ingin ke kampus. Dia mengatakan akan menuntut balas akan kekalahan geng motornya. Dan juga membalas kematian ketua mereka yang dulu," jawab Darren.
"Bukan itu saja. Dia tak terima jika geng motor kita terkenal di seluruh dunia, terutama di kota Berlin. Semua orang-orang yang ada di dunia ini sangat menghormati geng motor kita yang dikenal ramah dan baik."
Mendengar penjelasan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel benar-benar marah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rehan.
Darren menatap satu persatu ketujuh sahabatnya dan juga ke 50 anggotanya.
"Untuk saat ini jangan menggunakan jaket nama geng motor kita. Jika kalian ingin keluar. Pake jaket biasa saja," jawab Darren.
Mendengar ucapan dari Darren, semua anggotanya langsung menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Baik, Bos!"
"Jika jaket kalian ada bersama kalian saat ini. Ada baiknya kalian tinggalkan saja di markas ini. Kalian simpan jaket itu di lemari yang biasa menyimpan alat-alat lainnya," sahut Qenan.
"Kebetulan kami membawanya, Bos!" seru semua anggota.
"Bagus. Simpan jaket kalian itu," ujar Dylan.
"Baik, Bos!"
Setelah itu, semua anggota tersebut berdiri dan melangkah menuju lemari. Sesampai di lemari itu, mereka pun menyimpan jaket tersebut.
Kini semua anggota sudah kembali duduk di tempat semula setelah menyimpan jaket mereka masing-masing.
"Selanjutnya, bawalah satu senjata kemana pun kalian pergi. Apalagi ketika kalian pergi sendirian.
"Baik," jawab semua anggota BRUISER.
__ADS_1
Setelah selesai membahas masalah mengenai geng VAGOS yang kembali muncul. Darren dan ketujuh sahabatnya memutuskan untuk ke kampus.
Sedangkan para anggota sebagaian pergi patroli. Dan sebagian berada di markas.